
"Lah, harus sekarang to Mik butuhnya gus Isya?" Tejo baru saja mau main sepak bola, mendadak ada jadwal.
Aisyah mengangguk, ini pun dia mendapatkan kabarnya mendadak dan sangat membutuhkan bantuan dari Ukaisyah.
Walah, gimana ini? Tadi, nggak ada jadwal, udah mau main bola, eh ada jadwal ngajar. Lama-lama, gus Isya jadi pengajar aja loh, lebih mantep!
Tejo komat-kamit sembari berjalan ke rumah Ukaisyah, terpaksa dia pun mengurungkan niatnya untuk bermain sepak bola meskipun sudah memakai seragam lengkap sampai sepatunya.
Sementara itu, di kamarnya Ukaisyah dan Arun masih melanjutkan latihan yang mereka mulai. Ciuman yang semula kaku, kini berubah saling bisa membalas, bahkan yang tadinya berada di sebelah ranjang, keduanya sudah berbaring dengan posisi Ukaisyah setengah menindih Arun.
Kesadaran mereka sudah terampas, dengan sadar Ukaisyah sudah membacakan doa berhubungan suami istri bila memang nanti kelepasan agar tak terlupa doa khusus tersebut.
"Gus ..." Arun menggeliat merasakan tangan Ukaisyah mulai meraba-raba bahu dan sekitar pinggangnya, dia yang memulai, dia yang gemetaran sekarang karena Ukaisyah sudah terlalu gelap.
"Mas saja, panggil saya itu!" bisiknya kembali menciumi wajah dan menurun pada leher Arun, parfum yang Arun kenakan sangat candu untuk dia hirup dan habiskan.
Arun bukannya patuh, lidahnya sudah terbiasa dengan panggilan 'Gus', jadi mau diminta Ukaisyah ganti dengan apa saja, tidak bisa, apalagi sekarang tak bisa berpikir jernih.
"Ruun ... Saya boleh gigit leher kamu?"
"Heh?" Arun menjauhkan wajah Ukaisyah dari lehernya, sudah enak merem melek, eh mau digigit. "Gus drakula atau bukan? Masa iya drakula bisa baca doa," katanya.
Mata Ukaisyah sudah sangat gelap, dia seperti tak butuh jawaban, hanya saja tetap dia terbiasa bertanya-tanya. Tanpa menjawab Arun, bibir Ukaisyah sudah kembali mendarat di leher putih itu, mencium lama dan menyesapnya sedikit sehingga Arun mendesis karena ulahnya, bekas merah pun mulai bergentayangan di sana.
Kalau tahu begini bisa ganasnya, Arun tidak akan berani-berani memancing, dia sendiri sekarang yang tak bisa bergerak, Ukaisyah menindih kedua kakinya.
"Sakit, Gus!" katanya menggosok leher. "Ini diapakan?"
Ukaisyah menatap nanar bekas merah di leher Arun, jelas itu karena sesapan bibirnya, apalagi. Walau Arun merengek sakit, dia tetap suka saja.
Akhirnya, buat bekas merah di leher perempuan, istriku.
"G-gus ..." rengeknya lagi, apa to ini?!
Tangan Ukaisyah bergerak turun, ingin membuka satu kancing Arun agar lebih turun lagi ciumannya.
Namun,
"ASSALAMU'ALAIKUM, GUS!" teriak Tejo, daritadi salam halusnya tak dijawab-jawab. "Duuuhh, ini pada ke mana to!"
__ADS_1
Srek!
Ukaisyah dan Arun saling menjauh, memutus benang saliva yang terajut, duduk dengan wajah memerah karena malu, tapi masih bisa bergandengan.
"Gus-"
"Biar saya temui, kamu di sini saja!"
"Tunggu!! Kancingnya, Gus!" ucap Arun memperbaiki kancing baju Ukaisyah yang dia buka tadi. "Ini tanganku lancang loh, hehehe, nggak mau kalah Gus yang buka sendiri!"
Ukaisyah melipat bibirnya, malu.
"Saya tinggal sebentar, jangan ke luar!" titahnya.
Arun mengangguk, sebelum Ukaisyah ke luar kamar, dia pastikan penampilan Ukaisyah lagi lebih dulu, terutama bekas basah di wajah laki-laki itu.
Setelahnya, Arun pun bukan hanya menutup pintu kamar, melainkan menguncinya. Dia berlari ke depan cermin besar, melihat penampilannya sendiri.
Lah!
Rambutnya agak berantakan, bibirnya bengkak nan basah, lehernya ada lima bekas merah. Pantas saja tadi terasa sakit, ternyata benar Ukaisyah menjadi drakula, Arun menggosoknya pelan, tapi saat dia sentuh sedikit perih, benar-benar tidak salah dia memilih suami, ganas.
"Kok aku malah bayangin tangannya nyampe di sini ya, emangnya aku udah siap suara merintihnya?" gumam Arun merapihkan bajunya. "Wong aku belum siap, jangan sampe pas dipegang bukit kenyalnya, terus aku bersuara kuda, bisa batal nafsunya si gus!"
Sejak tadi Ukaisyah merasa banyak orang yang melihatnya, termasuk Tejo, melihat dalam artian lama sekali sehingga dia pun merasa risih.
Tunggu!
Tejo mengerutkan keningnya, kemudian dia bergeleng kecil sambil memukul keningnya ringan berulang kali
"Kamu kenapa?" tanya Ukaisyah sejujurnya penasaran, dia melihat baju dan semua yang melekat di tubuhnya tidak ada yang ganjil, pantas dan layak.
Tejo melirik, lalu menunjuk bibir Ukaisyah. "Maaf loh, Gus. Tapi, ini buat yang udah biasa liat Gus ya, pasti bingung kayak saya!"
"Bingung di mana?"
"Anu ..." Tejo menunjuk lagi bibir Ukaisyah. "Gus, kalau Gus nggak pernah merokok atau mengonsumsi apapun yang bisa bikin bibir gelap, saya percaya dan sudah melihat bibir Gus itu ya wajar merah muda begitu, tapi ini kok merah banget ini, Gus lagi panas dalam atau gimana kok sampe merah meradang?"
"Astaghfirullah!"
__ADS_1
"Waduh, apa, Gus?" Tejo membekap mulutnya. "Apa, Gus? Sakit?"
Bukannya menjawab, Ukaisyah kembali mencari di mana dia bisa menemukan kaca, setidaknya memastikan benar warna bibirnya terlewat perhatian.
Akh!
Ukaisyah meremat jemarinya sendiri, bisa-bisanya terlewat.
Tadi, sudah dia bersihkan, tapi saat hendak pergi bersama Tejo, dia bertemu Arun dan mencium bibir itu lagi, tidak tahunya berpindah warna.
"Jadi, sakit apa, Gus?"
"Nggak, nggak ada yang sakit." Ukaisyah gugup. "Jo," panggilnya.
"Ya, Gus?"
"Kamu udah hafal juz 3 kan?" tanyanya kemudian diangguki Tejo. "Dengerin hafalan saya, ayo!"
"Loh, ndak salah apa, Gus?!" Tejo mendekap dadanya sendiri. "Gus lebih hafal dari saya yang pasti, ngawur to, Gus!"
"Kok ngawur?! Udah, bantu saya!"
Ukaisyah tetap mendesak Tejo seperti itu, sekarang dia paham kenapa diusia mudanya lebih banyak dibina ilmu dan ilmu, karena kalau sudah terkena yang nananya rasa dalam hati, akan sangat sulit konsentrasi, maunya diisi kabar pemilik hati saja. Dia berulang kali bersyukur karena rasa itu dikenalkan saat perjalanannya belajar sudah se jauh ini sehingga kalaupun lupa, dia masih bisa dengan mudah mengingatnya kembali.
Larut malam Ukaisyah baru kembali, seperti hampir seharian dia ada di luar rumah. Dengan perasaan berdebar-debar tak karuan, kakinya melangkah pelan, urusan masjid sudah selesai, rangkuman untuk santri dan perlengkapan yang mereka butuhkan juga sudah selesai, tinggal urusan rumah.
Klek!
"Loh, aku nggak bawa kunci to," katanya merogoh saku baju dan tasnya, Ukaisyah pun mengetuk pintu tiga kali, sebelum akhirnya ada suara langkah kaki berlari dari dalam. "Jangan lari, nanti kamu jatuh!"
Pintu itu pun terbuka, yang di dalam hanya mengintip karena tak memakai jilbab.
"Aku kira Gus nggak pulang, nginep, hehehe ..." katanya kembali mengunci pintu.
Ukaisyah tersenyum, lalu matanya menangkap bekas merah di leher Arun, dengan segera dia menghentikan istrinya meskipun jantungnya berdebar tidak karuan.
"Gus-"
"Ini sakit?" tanya Ukaisyah menyentuh bekas merah yang dia buat tentunya di leher Arun.
__ADS_1
"Kalau dipegang perih dikit tadi, sekarang enggak, Gus. Ini-" Arun terbelalak. "Walah, Gus ... Ini kenapa kok nangis? Nangisi apa to?"
Untung ndak pake baju haram, lah ini nangis Gus.e, loh!