
Arun menautkan jemarinya. "Gus, kalau pulang bulan madu, terus aku belum kasih kabar hamil gimana? Gus kecewa ndak? Terus, umik sama yanda gimana?"
Ukaisyah meletakkan kembali bukunya, pembahasan seperti itu sangat sensitif bagi perempuan, apalagi mereka yang sudah menikah berbulan-bulan, belum menerima kabar baik dari upaya mereka hampir setiap malam. Tetapi, mempunyai suami yang memahami permasalahan itu lebih mahal dibandingkan sekadar cinta, sebab cinta saja itu tuntutan.
"Dengarkan baik-baik, Sayang!" pinta Ukaisyah melunakkan hati yang sudah kalang kabut dibuatnya dengan masalah kehamilan, dia menggunakan nada terlembutnya dan semoga yang dia ucapkan memang terbaik di telinga sang istri. "Saya mengajak kamu liburan ini bukan untuk menghasilkan anak, ada pun nanti kamu hamil, itu bonusnya. Tujuan utama saya liburan ndak lain ingin menikmati waktu berdua dan mensyukuri cinta yang telah Allah titipkan ke kita, sebelum menikah kita ndak saling mengenal, inilah waktunya kita pacaran selayaknya mereka di luar sana, tapi diikatan yang halal. Dan saat saya berhubungan dengan kamu, tujuan saya ndak lain karena ingin semakin menumbuhkan cinta diantara kita. Jadi, bisa kamu ambil kesimpulan di sini bahwa menikah itu ibadah terpanjang, bukan soal anak atau lainnya, tapi bagaimana sikap kita diberbagai macam ujian nantinya. Saya ndak bisa mencegah kamu berpikir senaturalnya seorang wanita, yang perlu kamu tau, cepat atau lambat, ada atau ndak, insyaAllah rumah tangga kita tetap bahagia," tuturnya sangat jelas, membuat Arun mengerti satu per satu, mulai dari alasan perhatian dan kenikmatan yang kerap mereka kejar.
Arun menjatuhkan kepalanya di bahu Ukaisyah, kedua tangannya pun melingkar di pinggang suaminya itu.
"Tolong dengarkan saya dalam hal ini karena pasti banyak ucapan orang di luar sana yang bisa membuat kamu goyah. Jadi, cukup kamu mendengarkan saya, ndak ada yang berubah apa pun kondisinya. Bisa, Sayang?"
"Iya, Gus. Lah, aku mendadak mikir kan di sini Gus sering pengen, takutnya nanti Gus nagih anak," jawabnya melirik kecil Ukaisyah dari bawah.
"Ya Allah ... Saya pengen ya karena kamu menggoda sekali," kata Ukaisyah menarik karet baju Arun. "Saya buka mata sampai mau tidur, mata saya terus dilihatkan kulit kamu, bagaimana saya bisa lewatkan itu kira-kira?"
"Hehehe ...."
"Kok ketawa, hem? Kamu satu-satunya perempuan yang saya liat utuh, Run. Jadi, ndak ada alasan buat saya ndak tergoda sama kamu karena di mata saya hanya kamu!"
Arun meleleh seperti lilin yang dibakar semalaman. "Ya Allah, Gus ... Udah, udah, ini aku bakal jadi tulang lunak lama-lama. Udah, Gus! Gus itu kalau memuji bikin aku terangsa—"
"Hei, hayo!" Ukaisyah menutup lembut bibir Arun dengan pipinya. "Saya masih harus memberi catatan di buku itu, jangan membahas yang panas dulu atau buku itu saya tutup dan kita mulai yang lain!"
"Ah-hahahaha ... Ampun, Gus, ampun! Silakan kerja dulu, aku tiduran aja sambil nonton ya," kata Arun menyerah.
__ADS_1
Ukaisyah mengangguk. "Sambil jaga hafalannya, Sayang," ucapnya berbisik, lantas diangguki Arun.
Keduanya kembali sibuk dengan rutinitas masing-masing, besok mereka akan pulang, kalaupun mau ke luar, Ukaisyah akan mengajak nanti malam untuk makan malam romantis. Berulang kali Ukaisyah melirik Arun yang matanya menonton tv, tetapi mulutnya sibuk mengulang hafalannya, dia pun memberikan kecupan jauh sebelum mengakhiri tugasnya, lalu bergabung di ranjang.
"Besok kalau sudah pulang, saya hanya ketemu kamu pagi dan malam saja, saya mau puas-puasin meluk kamu," bisik Ukaisyah sudah mendekap Arun.
"Hehehe, bilang aja mau itu!"
Ukaisyah tersipu malu, ada-ada saja.
***
Mereka sudah ads di perjalanan pulang, seperti berangkat kemarin, mereka pun pulang naik kereta, ada penawaran diantar sampai pondok, tetapi Ukaisyah melegakan keinginan Arun untuk naik kereta saja karena istrinya itu suka melihat pemandangan selama perjalanan, lagipula mereka akan jarang melewatkan hal itu.
Namun, biasanya Arun akan banyak bicara dengannya, sejak pagi Arun cenderung diam, kalaupun berbicara hanya sekadarnya, gelak tawa yang biasanya meledak, juga hari ini terdengar beberapa kali saja.
Ukaisyah akan merasa sangat bersalah kalau ternyata diamnya Arun karena kelelahan melayaninya di ranjang, tangannya pun terangkat untuk mengusap pipi mengembang Arun, membuat gadis itu menoleh sembari melebarkan kelopak matanya.
"Ada apa, Gus? Mau nyamil sesuatu?"
Ukaisyah menggelengkan kepalanya. "Saya yang ingin tanya kamu kenapa dan ada apa, dari pagi kamu lebih banyak diam, apa ada yang salah dari saya? Kalau benar saya salah dan menyusahkan kamu, silakan beritahu saja, jangan dipendam!"
"Lah, ndak ada yang salah dari Gus kok. Aku ndak mendam apa pun, Gus. Beneran!" jawab Arun menghadap utuh suaminya.
__ADS_1
"Tapi, kamu ndak seperti biasanya. Kamu lebih banyak diam, apa lagi hafalan?"
"Salah satunya iya iya itu, tapi aku cuman ndak tau kenapa kok ndak enak aja," jawabnya.
"Kamu kecapekan pasti gara-gara saya ya?" lagi, Ukaisyah sudah merasa bersalah sekali pada istrinya. "Apa kamu mau turun di stasiun terdekat terus kita naik mobil?"
"Loh, loh! Ndak, Gus. Ndak apa, cuman kayak pengen tidur aja, ndak tahu kok ngantuk. Tenang, Gus, tenang!" Arun mengusap lengan suaminya, lalu mengambil tangan Ukaisyah dan mencium punggung tangan itu lembut. "Tenang, aku ndak apa, cuman ndak enaknya itu pengen merem aja, Gus. Ngopi aja gimana?"
Ukaisyah mengangguk. "Kamu tunggu di sini, saya jalan ke gerbong makanan—"
"Jangan, Gus! Di sini aja, habis ini bakal lewat yang jualan makan minum. Kalau Gus ke sana nanti mbak-mbaknya ngelirik semua, tunggu sini aja!"
Ukaisyah tersenyum. "Kamu cemburu ke saya?" jantungnya sudah berdebar-debar karena sang istri menunjukkan rasa cemburunya, apalagi saat Arun mengangguk, ingin rasanya Ukaisyah bersorak.
Tak lama, kereta makanan pun tiba, yang mengantar kebetulan perempuan semua, Arun melirik kecil suaminya yang sudah menundukkan pandangan. Semua pesanan Arun yang mengurus, setelahnya baru dia melihat Ukaisyah mengangkat kepala sedikit, lalu menoleh dan tersenyum padanya.
"Gus, ndak harus mengabaikan mereka kok, aku cemburu, tapi ndak sampe begitunya," kata Arun takut menekan Ukaisyah.
"Bukan karena kamu cemburu, lalu saya seperti itu. Sudah menjadi kewajiban kami para laki-laki untuk menundukkan pandangannya dari wanita yang bukan mahram, begitu pun sebaliknya. Sebelum menikah, saya sudah membiasakannya karena saya ndak ingin yang halal tergantikan dengan yang haram. Kecuali, saat darurat, itu pun masih harus dengan pembatasan tertentu. Sayang, maaf kalau saya ingin pandangan saya hanya penuh sama kamu ya," jelas Ukaisyah membuat Arun mabuk kepayang. "Hehehe, kamu masih ngantuk?"
"Iya, kopinya ndak menarik, Gus!"
"Yasudah, tidur saja di bahu saya sini!" tawarnya lebih dekat. "Kopinya ditaruh situ saja—"
__ADS_1
"Baunya ndak enak, Gus. Minum aja, habisin!"
"Tapi, saya ndak terlalu suka kopi, ini kesukaan kamu loh. Tumben ndak suka," balas Ukaisyah, tetapi Arun tidak peduli, dia memejamkan matanya sembari bersandar di bahu Ukaisyah, mau tidak mau kopi itu Ukaisyah habiskan sesuai perintah. Puaiittt banget! Gulanya lupa!