JODOH JATUH DARI LANGIT

JODOH JATUH DARI LANGIT
Poligami?


__ADS_3

Arun tidak masuk ke kamarnya yang dua hari ini mereka tempati bersama sejak dirinya sakit, gadis itu menutup pintu kamar dan melarang Ukaisyah masuk. Dan Ukaisyah tahu bahwa tanpa izin Arun, dia tidak akan bisa memasuki kamar itu, dia juga tak akan memaksakan kehendak sedang Arun masih sangat marah padanya.


Tapi, marah kenapa? Salahnya di mana? Apa karena dia tidak menyampaikan pesan langsung dan melalui Wati?


Setelah mandi dan menjalankan kebiasaannya, Arun tak kunjung ke luar kamar, padahal Ukaisyah senantiasa menunggunya di depan dan membuka pintu kamarnya, siapa tahu dia melihat Arun ke luar dan mereka bisa bicara.


"Run, boleh saya bicara sama kamu?" Ukaisyah mengetuk pintu kamar itu, tapi tak ada jawaban. "Yasudah, saya ke luar sebentar, nggak lama!"


Tidak ada jawaban, Ukaisyah lantas ke kamarnya mengambil jaket dan kunci motor. Tadi, dia meminta kunci motor khusus untuk dirinya dan Arun, dia akan memakai motor yang berbeda saat ke luar dengan Arun dan Tejo.


Mendengar itu, perasaan Arun semakin kesal saja, dia bukan tipe yang suka berdiam diri seperti ini, kalau dia marah, dia lebih suka mengibarkan bendera perang dan langsung menyerang, maka itu kakinya melangkah ke luar kamar, membuka pintunya dengan gerakan kasar.


"Mau ke mana? Nemuin siapa? Mau apel ke nangningnung?!" tanyanya memberondong.


Ukaisyah menurunkan resleting jaketnya. "Mau beli martabak yang ada di ujung gapura desa, kata bu Ajeng itu kesukaanmu. Terus itu, nangningnung siapa?"


"Nggak tahu!"


"Jangan begitu! Kamu boleh marah ke saya, tapi jelaskan dulu salah saya di mana," kata Ukaisyah menatap lekat Arun, ngomong-ngomong karena sakit itu, dia jadi berani menatap utuh gadis manis banyak tingkah dan bicara ini. Jujur saja, Arun itu menarik dan tidak bosan dilihat.


Bukannya menjawab, Arun justru masuk ke kamar lagi dan kembali sudah memakai jilbab panjang lagi masker menutupi sebagian wajahnya, tak lupa memasang kaos kakinya dan tentu memakai baju panjang nan lebar.


"Jawabnya di jalan aja, aku ikut ya, awas nolak!" katanya melotot pada Ukaisyah.


Ukaisyah mengangguk, gadis ini memang galak, tapi perhatiannya tulus. Tidak apa-apa, justru menjadi warna untuk kehidupan Ukaisyah sendiri. Mereka ke luar pondok berboncengan, Tejo sempat melihat itu, tak lupa dia senyum-senyum menggoda Ukaisyah, kalau saja boleh, akan dia abadikan foto dua orang itu.


Sebelah tangan Arun melingkar di perut Ukaisyah, cukup membuat Ukaisyah sedikit kehilangan fokusnya dalam mengemudi, seperti ada getaran besar di dadanya setiap kali mereka dekat lagi bersentuhan.


"Kalau saya boleh tahu, kenapa tanganmu sekarang pegangan begini?" tanya Ukaisyah lembut.


"Ya, biar nggak ada nangningnung liatin Gus! Kenapa? Emangnya Gus keganggu? Nggak suka?"


"Bukan begitu, boleh saja, kamu berhak itu. Yang saya bingungkan, siapa nangningnung yang kamu maksud? Saya sering denger kamu ngomel gitu, tapi saya nggak paham," jawabnya sembari membuka benang kusut diantara keduanya.

__ADS_1


Arun lantas menjelaskan siapa yang dimaksud itu, gadis yang sempat membuat Ukaisyah terbelalak saat mereka melihat video pernikahan juga tepatnya mereka bertemu hari ini yang kemudian Arun hubungkan dengan masa lalu yang dipunya Ukaisyah.


Ukaisyah berhenti sebentar. "Jadi, kamu sudah tahu soal itu? Akhir-akhir ini, kamu mikirin itu?"


"Iya," jawab Arun melengos.


"Maaf, saya nggak cerita ke kamu karena itu nggak penting saja dan hal yang terjadi jauh sebelum kita bertemu. Tapi, yang terjadi setelah saya menikah dengan kamu, pasti saya buka. Nanti, setelah pulang dari beli martabak, saya kasih tahu kamu sesuatu, tadinya pulang mau kasih tahu, tapi kamunya sudah marah," jelas Ukaisyah, lalu kembali melajukan motornya ke tujuan awal.


Sebenarnya tidak sabar, tapi Ukaisyah ini bisa dipercaya, jadi dia memilih tenang dan menunggu sampai mereka di rumah.


***


"Gus terima dikasih surat ini?"


"Jangan marah dulu!" Ukaisyah meminta Arun duduk, walaupun menikah tanpa cinta, tapi kalau pasangannya diganggu, tentu marah. "Dengarkan! Tadi, pesuruhnya yang nitipin ke saya, saya juga nggak tahu dan nggak mau tahu ada wanita itu atau enggak. Surat ini saya terima untuk menghargai pesuruhnya saja yang bisa dimarahi kalau nggak amanah. Dan, ini belum saya baca, saya nggak tahu isinya, saya mau kamu yang baca supaya kamu tahu seharian ini saya kenapa. Emangnya, isi surat itu apa?"


Arun menjauhkan kertas itu dari Ukaisyah, menepis tangan Ukaisyah yang hendak meraih tangannya.


"Surat ini urusan Arun, urusan wanita. Aku cuman tanya sama Gus ya ... Gus suka sama cewek ini?"


"Kalau dia ngasih surat lagi?"


"Saya kasih kamu lagi."


"Kalau dia mau jadi istri keduanya Gus?"


"Saya nggak minat poligami."


Pipi Arun memerah, dia naikkan maskernya.


"Aku juga nggak suka ya, kalau Gus mau nikah lagi, cerein aku dulu, baru silahkan mau nikah sampe patah burungnya ya nggak apa!" kata Arun melirik kecil.


"Saya nggak suka perceraian dan nggak pernah berpikir ke sana."

__ADS_1


Duuhhh, pie to? Arun jadi salah tingkah.


"Jadi, Gus nggak akan terpikat sama nangningnung lain? Nggak masalah hidup sama aku? Nggak masalah tidur kepisah dan nggak dapat hak suami?" cerca Arun sangat ingin tahu.


Ukaisyah diam sejenak, lalu tersenyum pada Arun. "Allah yang menggenggam hati hambanya, tapi saya meminta untuk nggak tertarik pada selain istri saya. Dan meminta terus agar hubungan kita semakin membaik setiap harinya. Allah juga yang menggenggam hati istri saya dan saya, nggak ada yang tahu ke depannya bagaimana, yang jelas saya selalu meminta agar saya dan kamu semakin membaik setiap harinya," jawabnya begitu panjang, yang mendengarkan hampir ketiduran.


Arun mengangguk, dia mencuci tangannya lebih dulu, meneguk air putih dan melakukan kebiasaan yang Ukaisyah ajarkan sebelum tidur, lalu kembali lagi ke ruang tengah di mana Ukaisyah baru saja menerima panggilan dari Tejo.


Surat itu entah diremat Arun atau bagaimana, yang pasti dia kembali ke depan Ukaisyah dengan tangan kosong.


"Gus mau ke mana?"


"Ini, Tejo mau pakai motor yang biasanya, saya bedakan untuk sama kamu dan dia. Sebentar!" jawab Ukaisyah ke luar rumah, Arun menungguinya, belum masuk kamar. "Sudah malam banget, kamu harus tidur, ayo istirahat!"


Arun mengangguk, dia pun berjalan ke kamarnya yang berhadapan dengan kamar Ukaisyah. Hatinya tak tenang hingga larut malam, Arun pun diam-diam masuk ke kamar Ukaisyah dan berbaring di samping laki-laki itu.


Aku nggak gatel kok, Gus. Cuman, nggak bisa tidur!


Pukul 3 dini hari, Ukaisyah terbiasa bangun untuk salat dan mengaji hingga shubuh. Tapi, saat dia membalikkan tubuhnya menghadap ke kiri, rasanya aneh, gulingnya tidak keras, gulingnya pun tak dicuci dengan sampo rambut.


Perlahan Ukaisyah membuka mata, loh! Dia pejamkan lagi, takutnya mimpi. Tapi, saat dia buka, masih sama, dia pun mengucek matanya.


Istrinya atau kuntilanak?


Deg!


"Audzubillahiminassyaithonirrojiim!" katanya menyembur ubun-ubun.


Purfftrr


"Duuuhhh ..."


"Run?" Ukaisyah mendekap dadanya sendiri.

__ADS_1


"Ini bocor apa, Gus?" balas Arun setengah sadar. "Apa ya ini air surga buat meredakan api neraka?"


__ADS_2