
"Ada apa to, Gus?" tanya Arun tak sabaran.
Ini sudah sampai menjelang pagi, bahkan mereka siap untuk salat shubuh bersama, tapi Ukaisyah tak kunjung menjelaskan apa yang terjadi semalam sampai ibunya masuk kamar dengan wajah panik.
"Gus!"
"Iya, saya jelaskan. Tapi, janji ya kamu nanti nggak akan ketawain saya ... Janji dulu!" kata Ukaisyah meraup wajahnya, malu sekali.
Arun mengangguk, dia pun duduk di samping Ukaisyah dengan penuh rasa ingin tahu, menatap suaminya lekat meskipun dia tahu sekali pipi Ukaisyah sudah memerah.
"Jadi, semalam saya terus memikirkan izin berpelukan yang kamu berikan. Saya, saya belum pernah melakukan itu, kecuali pada bunda dan Humairah, itu pun Humairah saat masih sama-sama kecil. Saya ... Saya ndak tahu harus bagaimana, jadi saya cari tipsnya di google, terus-" matanya melirik Arun, lalu menunduk lagi. "-Em, saya coba praktekkan itu sama tiang depan kamar sampe ibu tahu," sambungnya.
Purrfftt ...
Janji hanya tinggal janji, sebab Arun tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan suaminya. Jadi, dia gadis pertama yang akan dipeluk oleh Ukaisyah, sampai-sampai harus mencari tips agar pelukan itu terasa nyaman, bukan sekadar pelukan biasa tanpa sebuah rasa.
Arun berguling ke kanan dan kiri, kedua kakinya sampai lemas tak bisa diajak berdiri, perutnya pun kram.
"Kan, kamu ingkar janji, kamu ketawain saya!" Ukaisyah menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Jangan ceritakan aslinya ya, biar kalau ibu membahas seperti yang ibu pikirkan, yang ini biar kamu dan saya saja yang tahu, ya Run!"
Arun mengangguk, tapi dia tetap tertawa hingga Ukaisyah bangkit dari duduknya untuk segera pergi ke masjid, pasti ayah mertuanya menunggu karena mereka sudah janjian.
Namun, saat dia hendak memutar handle pintu, tubuhnya dibuat berhenti dan menegang, ada dua tangan kecil berkulit putih yang melingkar di sepanjang pinggang dan perutnya, lalu terpaan nafas hangat menampar punggungnya perlahan.
Ukaisyah menunduk, melihat benda apa yang melilit perutnya itu, lalu dia pun berbalik, bola matanya gentar dan berkaca-kaca. Pertama kali yang dia lihat, senyuman Arun, tangan gadis itu pun masih melingkar di pinggangnya.
"Kayak gini yang Gus cari tutorialnya?"
"Iy-iya."
"Nggak perlu cari di internet, Gus bisa ngajak ngomong aku, terus latihan bareng," katanya.
__ADS_1
"Tapi, saya takut kamu ndak nyaman."
"Justru nggak nyaman kalau mendadak Gus meluk dan kaku, pastinya aku kaget dan nggak nyaman. Gus kan pacarnya aku sekarang, jadi boleh kerjasama mesra-mesraan!" Arun melirik kedua tangan Ukaisyah. "Bales lah pelukannya!"
"Hah, iya!"
Ukaisyah mengangkat kedua tangannya, lalu dia lingkarkan di sekitar bahu Arun karena gadis itu lebih pendek darinya. Seperti air es mengalir di dadanya, dingin yang menyejukkan. Nalurinya pun mulai bermain, ia turunkan wajahnya hingga berada di antara bahu dan leher Arun, dia pun tersenyum tipis.
"Kamu nyaman?"
Arun mengangguk, sangat terasa sekali debaran jantung Ukaisyah, seakan-akan bertemu dengan jantungnya juga. Dia memejamkan mata saat keduanya terlepas dan Ukaisyah kembali pada candunya mencium kening Arun, kali ini cukup lama keduanya bertatapan, sebelum diakhiri oleh kecupan kening lagi oleh Ukaisyah.
"Ayah pasti sudah menunggu, kamu salat di rumah sama ibu ya," katanya berdebar-debar.
"Iya, Gus."
Hanya itu, sebab Arun juga salah tingkah sendiri dengan aksinya yang berani itu. Saat pintu kamar tertutup, dia berlari naik ke ranjang, membungkus tubuhnya dengan selimut, tiba-tiba saja dia menggigil seperti ini, astaga.
Ini kenapa kayak aku yang doyan banget to sama gus Isya?! Tapi, kalau dia nggak dipancing gitu, gus malah peluk tiang, malah bikin orang jantungan.
***
Ukaisyah sedikit tersentak mendengar ucapan sang ayah mertua, mengenai kebiasaan Arun yang terkadang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, seperti merokok bersama adik-adiknya.
"Tapi, Yah ... Sejak tinggal di sini, saya ndak pernah melihat itu, kalaupun saya pulang larut, ndak ada bau rokok sama sekali. Lagipula, di sini dia ndak bisa beli rokok karena ndak ada yang jual," kata Ukaisyah yakin sekali.
"Ayah berharap begitu, cuman siapa tahu dia diam-diam, tapi kalau emang beneran udah lepas, Gus. Alhamdulillah, Ayah kepikiran, apalagi kalau dia sampe tahu bakal ada balapan lagi akhir bulan ini, timnya dia. Arun ngobrol nggak masalah itu?"
Deg!
Ya Allah, apa aku terlalu egois hanya dengan membahas bersama Arun urusan rumah tangga dan mengaji sampai aku tidak memperhatikan kebiasaannya di masa lalu yang bisa aja mempengaruhi dia?
__ADS_1
Ukaisyah bergegas kembali ke rumah karena ayah dan ibu mertuanya tak bisa lama meninggalkan dua anak kembar itu, jadi cukup semalam saja sudah membuat hati mereka tenang, apalagi melihat menantunya begitu baik pada sang putri.
"Gus nggak berangkat ke masjid sama mas Tejo?" tanya Arun sembari membereskan piring kotor.
"Kamu senang kalau saya ndak ada di rumah?"
Arun menghentikan gerakannya, lalu dia bergeleng, bukan itu maksudnya.
"Kalau boleh tahu, apa kegiatan kamu waktu saya ndak ada di rumah?"
"Katanya Gus bebas yang aku mau, ya aku salat, terus rebahan, nontonin hape, drama sama ceramah, nyuci, lipet baju, nyapu, nyanyi-nyayi sambil jogetan. Balik lagi salat, terus rebahan lagi, gitu ... Bingung mau ngapain lagi, toh keluar juga nggak bisa kalau nggak diizinin," jawabnya sambil berekspresi, jogetan tadi yang mengejutkan Ukaisyah, bisa-bisanya bergoyang seperti itu di depan matanya, kan terpancing joget juga. "Emangnya, Gus mikir aku ngapain?"
"Maaf, saya terlalu sibuk dan hanya membahas hal baru sama kamu. Saya teringat kebiasaan yang susah payah kamu tinggalkan-" Ukaisyah menjeda sebentar. "-Apa kamu tersiksa meninggalkan itu semua?"
Arun paham, kebiasaan lamanya tentu bertentangan dengan yang sekarang, bahkan terkadang kakinya gatal ingin memijak pedal, tangannya juga ingin memutar gas lalu melesat, belum lagi bibirnya. Tapi, dia berusaha menahan diri dan patuh, kalau bosan dan sebal, dia akan mengomel pada tembok.
"Emangnya Gus bolehin saya rokokan, balapan, tawuran, adu-aduan lagi?"
"Tidak," jawab Ukaisyah. "Saya ndak mengizinkan kamu merokok, demi kesehatan kamu tentunya. Tawuran dan adu-aduan juga ndak baik, balapan sebenarnya bagus kalau ndak ada judi di dalamnya. Tapi, karena itu kesukaan kamu sekali, saya temani kamu ke sana, hanya melihat, ndak ikut main atau taruhan, sebentar!"
"Beneran, Gus?" Arun menggoyangkan bahu Ukaisyah. "Aku boleh nonton para turunan kampretttt itu balapan?"
"Hei, mereka anak dari seorang bapak yang baik, jangan disebut sembarangan, hayo!" tegur Ukaisyah lembut.
Arun terkekeh. "Biasanya gitu, tapi aku mau, kangen Gus liatnya!"
"Liat siapa? Motor, alur atau mereka yang balapan?"
Eh!
"Kamu perempuan sendiri di sana, yang kamu liat pasti laki-la-"
__ADS_1
"Gus cemburu, hem?" Arun mengejar Ukaisyah ke dapur. "Guuuuuusss, Gussssss terbakar cemburu, hah? Jawab to, Gus!"
Telinga Ukaisyah sampai memerah, lebih baik dia ke masjid saja bersama Tejo.