
Halimah mencengkram kuat tepian kursinya, dia kira Arun akan menangis sesenggukan karena mendengar balasan darinya, yang terjadi justru sebaliknya, dia yang tercekik berulang kali karena Arun mempunyai banyak kosa kata untuk membalas ucapan pedasnya itu.
"Kamu orang desa biasa, ndak pernah tahu pondok, ndak hafal Quran, keturunanmu mana bisa sebaik suamimu!" katanya lagi.
"Walah, kamu itu makanya to kalau hidup itu sering jalan-jalan, aku baca dan pernah denger gus Isya baca surah di Quran yang Allah menyuruh kita untuk jalan-jalan untuk melihat bukti keagungan juga bekas murkaNya. Telinga juga dipake, Nangningnung Halimah ... Banyak anak kyai besar dan ning tersohor udah hafal sampe ndak bawa kitab aja bisa baca, tetap masuk penjara gara-gara narkoba sama pelecehan. Kok omonganmu kejauhan mikir anak orang desa apa bisa bagus, ya jelas bisa, kan bikinnya pake doa, ndak asal grusuk-grusuk jadi, gimana to kamu belajar selama ini? Kelewat atau waktu bagian pembahasan itu kamu tidur? Tapi, ya wajarlah kamu ndak tahu bikinnya gimana dan doanya, kan kamu belum merasakan, aku udah loh, doa bareng gus Isya. Huuuuummm, walah keramas sampe sampo habis, akhirnya keramasan pake sabun mandi, beneran!"
Kampret, kutu kupret!
Halimah menghentakkan sebelah kakinya dan berdiri, tetapi sebelum dia pergi, Arun memberikan pesan untuk gadis yang dikenal santun itu.
"Jangan kamu buat ayahmu malu, Nangningnung! Gini-gini, aku waktu tawuran, ndak pernah ayah tahu, kasihan loh kalau tahu, malunya itu loh!" kata Arun semakin membuat Halimah kesal. "Terus, jangan nunggu suamiku, soalnya dia ndak nunggu kamu ee ya!"
Kupret!
Tidak mungkin Halimah berucap memaki seperti itu di sini, bila tak sengaja ada yang mendengarnya, bisa-bisa julukan baik dan santun untuknya akan hilang. Halimah lebih dulu kembali ke dalam, tetapi sama saja, dia tidak mengakui kesalahannya dan membiarkan keluarga Ukaisyah pulang dengan tuduhan hampa.
Sepanjang perjalanan pulang, Ukaisyah memandang wajah Arun berulang kali, entah apa yang membuat istrinya sumringah begitu setelah berbicara dengan Halimah, bahkan Arun tak langsung menceritakan hal itu padanya. Di rumah pun, Arun langsung membuatkan dia minuman, lalu mengganti baju di kamar, Ukaisyah masih menunggu, perang apa yang tadi dikibarkan oleh istrinya itu.
"Gus," panggilnya membiarkan rambutnya terburai.
Ukaisyah hampir saja menyemburkan minuman yang baru dia teguk, ini masih terang benderang, sedangkan Arun memakai piyama dinas malam yang tentu saja dibelikan oleh ibu mertua.
"Kam-kamu mau ke mana?"
"Ke mana lagi, ya masa aku ke pasar atau ke depan pake modelan gini. Aku mau godain Gus lah, tergoda ndak?" tanyanya berjalan mendekat.
"Iy-iya, kamu satu-satunya yang bisa menggoda dan membuat saya tergoda. Tapi, kalau saya boleh tahu, kenapa mendadak kamu berdandan begini, padahal masih terang?" Ukaisyah membiarkan Arun duduk ke pangkuannya meskipun dia panas dingin juga karena sangat dekat dengan miliknya di bawah sana. "Ada hal yang mengganggu hati kamu?"
__ADS_1
Istri akan kuat di depan siapa saja, tetapi tidak di depan suami mereka. Arun pun begitu, dia kuat dan mandiri, tetapi dia tidak mau seperti itu di depan suaminya, dia akan menjadi si paling butuh kalau di depan Ukaisyah.
"Tadi, nangningnung itu bahas soal banyak gus yang kawin lagi soalnya istri pertama mandul atau ndak hamil-hamil, Gus! Lah, aku ya kepikiran to, aku ya belum hamil loh!" katanya mengadu sendu.
Ukaisyah tersenyum. "Saya yakin kamu punya jawaban di depan dia tadi, tapi kalau kamu berkata ini ke saya, maka jawaban saya ... menikah itu untuk beribadah dan semakin dekat dengan Allah, bukan ingin anak dan kekayaan, itu bonus, akan sia-sia kalau ada anak, tapi ndak taat karena itu hiburan dari Allah akankah kita lupa kalau sudah diberi mainan. Yang penting lagi, saya dan kamu baru berhubungan beberapa hari ini, kalau mendadak kamu langsung hamil, saya yang kaget, hamil itu seperti yang kamu tahu, ada prosesnya, benar atau ndak?"
"Bener, Gus!"
"Tuh kamu tahu, ndak bikin sekali terus jadi, saya yakin kamu tahu dan pernah mendengar pembahasan ilmu itu di bangku sekolah, iya?"
"Iya, Gus. Yaudah, bikin berkali-kali aja, Gus, gimana?"
Ukaisyah mencubit dan menarik hidung Arun, dia tahu istrinya hanya bercanda karena hidup tidak hanya tentang kebutuhan biologis, ada aspek lain yang harus mereka kerjakan juga.
"Aku ganti baju dulu ya, Gus!"
"Kan cuman goda sama ngadu, udah ada jawaban, jadi ya—"
"Saya bantu ganti bajunya, saya bisa loh!" kata Ukaisyah lantas berdiri, melirik kamar mereka. "Saya ada kajian satu jam lagi, bantu kamu ganti baju ndak akan selama itu, ayo saya bantu!"
Arun terkekeh. "Walah, ngibul, Gus!"
Keduanya pun tertawa, yang terjadi setelahnya tentu seperti itu, membuat baju kusut dan banjir keringat.
***
"Jo, udah banyak yang hadir?"
__ADS_1
"Udah, Gus, alhamdulillah. Tumben Gus terlambat, tadi ada masalah serius ya Gus habis dari pondok sebelah, ahay!" Tejo melipat bibirnya yang hendak tertawa lebar.
Ukaisyah menggelengkan kepalanya, bukan semakin membuat dugaan Tejo mereda, justru melihat tetesan air dari rambut Ukaisyah yang turun ke baju, membuat pikirannya melayang ke mana-mana, belum menikah bukan alasan untuk tutup telinga saat ada ilmu yang dibagikan, lagipula perbekalan menikah sudah sering dibahas di pondok saat kajian. Tejo menyengir kuda sambil berdehem berulang kali.
"Kayaknya, desa ini ndak akan kekeringan, Gus," katanya.
"Aamiin, semoga selalu subur dan mudah panen," balas Ukaisyah berbeda dengan maksud Tejo, pikirannya lurus dan tidak menduga yang aneh-aneh.
"Aamiin, walaaah suegerrrr ya, Gus. Saya jadi ragu toko klontong depan masih ada stok perlengkapan mandi ndak ya?"
"Memangnya, persediaan untuk santri dan abdi habis?" lagi-lagi Ukaisyah sangat lurus, tidak searah dengan pemikiran Tejo. "Jo, kalau udah tinggal sedikit, harusnya kamu udah data dan belanja, jangan sampe kehabisan!"
"Udah kalau itu, Gus. Yang belum di rumah Gus itu, stok sampo sama sabun aman ndak, Gus?" Tejo kabur sebelum Ukaisyah mengomel begitu sadar arahnya ke mana. "Ampun, Gus!"
Lagi-lagi Ukaisyah hanya bisa menggelengkan kepalanya, lalu saat dia berjalan masuk pondok utama, sempat berhenti di depan cermin besar, kemudian dia tersenyum. Membantu istrinya ganti baju sampai rambutnya basah dan segar seperti ini, pantas saja Tejo heboh.
"Sya," sapa sang bunda.
"Eh, iya, Nda. Bunda ikut kajian ini?"
"Iya, boleh untuk perempuan kok, Arun ndak kamu ajak, hem? Jemput aja, Sya!"
Waduh! Istrinya masih terkapar.
"Arun tadi—"
"Kak, mbak Arun ajakin dong! Aku mau pilih khimar bareng sama mbak Arun, please!" potong Humairah merayu.
__ADS_1
"Iy-iya, sebentar ya, aku telpon dulu!" dia udah mandi belum ini?