
Ini bukan kali pertama bagi Arun duduk di boncengan seorang laki-laki, dia biasa bersama ayah dan kedua adik nakalnya itu. Akan tetapi, ini jelas yang pertama untuk Arun bersama Ukaisyah, sosok laki-laki yang katanya orang-orang, menikah itu sudah jodoh. Begitu juga dengan Ukaisyah, dia mungkin pernah membonceng adik dan ibunya, tapi untuk gadis yang menjadi istrinya dan mungkin nanti memiliki hatinya, ini kali pertama.
Tangan Arun menggantung, maju mundur ingin berpegangan, kalau nggak pegangan nanti dikira nggak jaga suamj, terus kalau pegangan nanti dikira Arun gatel sama suami. Arun masih terus berperang dengan batinnya, sementara Ukaisyah sudah mulai menjalankan sepeda motor yang biasa dia gunakan bersama Tejo itu.
"Jalannya kurang bagus, kamu bisa pegangan saya," kata Ukaisyah berdehem beberapa kali, dia sendiri bingung mau apa, takut juga dikiranya tak peduli pada Arun, sedang pasangan di luar sana yang dia dengar selalu meletakkan tangan si gadis di pinggang lelakinya.
Ukaisyah melirik kecil, perlahan tangan Arun mulai terlihat dan maju lagi maju sampai tertahan di batas pinggangnya. Gadis itu tampak ragu-ragu menempelkan tangannya sedikit ke paha Ukaisyah, berulang kali terlihat seperti Arun tidak berpegangan dengan benar.
"Kenapa berhenti?" tanya Arun melihat ke sekelilingnya, mereka tidak salah jalan.
Tapi, siapa sangka, tangannya yang menggantung itu Ukaisyah tarik dan benarkan posisinya sehingga melingkar sempurna di pinggang sampai sebagian perut depannya.
Degdeg!
Jantung Arun seakan diperas, dia hampir saja tidak bisa bernafas dan sesak, apalagi disaat punggung tangannya bersentuhan dengan telapak tangan hangat Ukaisyah.
Plak!
"Aduh!" pekik Ukaisyah lantas menoleh, gadis itu menatapnya tajam. "Kenapa?"
"Gus mau nyari kesempatan buat nyentuh aku, kan?" tuduhnya menelisik.
"Ya Allah," kata Ukaisyah menyebut, lalu dia menunjuk ke depan. "Jalan di sana jauh lebih parah, terus di depannya lagi ada ayahmu lagi ngobrol sama warga. Di sini, kamu paham maksud saya?"
Eh!
Arun membuang wajahnya, melirik Ukaisyah kecil. "Awas aja kalau nyari kesempatan!"
"Iya," balas Ukaisyah kembali menghadap depan, motor itu pun kembali melaju.
Awalnya, dia kira Arun tidak akan mau lagi dan memilih salah paham dengannya. Tapi, tangan gadis itu perlahan masuk ke saku bajunya begitu melewati jalanan yang memang kurang bagus, kalau tidak seimbang, bisa saja jatuh. Gadis itu berpegangan kuat sekali pada pinggang Ukaisyah, bahkan merematnya.
Sekarang, entah siapa yang mencari kesempatan, nyatanya Arun berpegangan erat pada Ukaisyah dan wajah gadis itu menempel di punggung tegap Ukaisyah.
Ukaisyah?
Jangan tanya dia bagaimana, dia banjir keringat, tubuhnya bergetar kecil. Tidak salah kalau orang tuanya melarang anak-anak mereka berpacaran, ternyata se dahsyat ini bila berada di dekat lawan jenis.
"Loh, Gus Isya ... Sini-sini! Sendirian?" Arya tersenyum lebar melihat kedatangan menantunya.
__ADS_1
Ukaisyah memiringkan tubuhnya sedikit, tampak Arun yang tengah bersembunyi di sana, Arun kira masih ada di jalanan kasar.
Ekhem!
Arun berjengit, dia membuka matanya sedikit, lebih tepatnya mengintip.
Waduh!
"Udah mau sampe, Nak ... Asik banget pegangan Gus Isya sampe gitu, takut ilang?" goda Arya membuat Arun lantas melepaskan pegangannya dan melompat turun.
"Ih, enggak ya, Gus ini yang minta aku pegangan, alesan lagi jalan desanya jelek!" jawab Arun mengkambinghitamkan Ukaisyah.
"Emmm, masa ... Kok Ayah liat-"
Arun tidak akan membiarkan ayahnya ini banyak bicara, dia bergegas memeluk laki-laki itu dan mengajaknya segera ke rumah, dia rindu rumahnya.
Jadi, ide ke peternakan itu hanya basa-basi Ukaisyah saja, lebih tepatnya dia ingin mengajak Arun ke rumah Arya untuk melepas rindu.
"Heh, suamimu diajak!"
"Males!"
***
Kedatangan Ukaisyah di rumah ini tentu bukan seperti tamu biasa, dia memang hanya menantu, tapi sejak tadi Ajeng heboh membuat ini dan itu agar menantunya betah di rumah, ditambah lagi sabar dengan keras kepala Arun yang masih saja suka berbicara ketus.
Jadwal kerja hari ini, Ukaisyah serahkan pada kakaknya, dia tidak mungkin mendadak mengajak Arun kembali sedang gadis itu masih menikmati waktunya bermain dan bercanda bersama kedua adik kembarnya itu.
"Gus, kalau capek, rebahan dulu di kamarnya Arun!" kata Arya, daripada Ukaisyah terganggu dengan istrinya yang heboh dan diabaikan Arun.
"Iya, Yah, saya di sini saja sambil periksa lembar soal," jawab Ukaisyah menunjukkan pesan yang baru masuk ke emailnya.
Arya membulatkan bibirnya membentuk huruf O, lalu dia pun manggut-manggut, dua laki-laki itu larut dalam kesibukannya sendiri, hanya berhenti saat salat dan makan, bahkan kesempatan ada Ukaisyah di sini, mereka bisa mengaji bersama.
Tidak terasa malam pun tiba, sejak siang tadi, Ukaisyah belum mandi, selepas salat maghrib, tubuhnya mulai tidak nyaman. Ragu-ragu Ukaisyah meminta tolong pada Arun, tapi bila dia meminta tolong mertuanya, itu lebih tidak sopan.
"Ru-run," panggilnya bersuara pelan.
Arun yang sedang asik bermain games dengan adiknya tidak mendengar itu, masih asik bermain. Ukaisyah merangkak mendekat, jujur saja memang itu kamar Arun yang juga menjadi kamarnya, tapi dia dan Arun belum bisa dibilang baik-baik saja, Ukaisyah tidak mau Arun menganggapnya lancang dengan masuk dan mandi di kamar gadis itu.
__ADS_1
Tangan Ukaisyah hendak menepuk bahu Arun, tapi bersamaan dengan itu, Ajeng lewat di depannya. Ukaisyah kembali menarik tangannya, cengar-cengir sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Lagi, dia hendak menepuk Arun, pelan tangannya bergerak untuk sampai ke sana. Tapi, lagi-lagi Ajeng lewat menoleh padanya sambil menyengir kuda.
"B-Bu Aj-"
"Run ... Itu loh suamimu nungguin!" celetuk Ajeng.
Ah!
Ukaisyah meraup wajahnya dengan tangan yang hampir menyentuh bahu Arun, pipinya sontak memerah malu, dia pun tidak berani menatap kedua adik ipar dan ibu mertuanya.
Sedangkan, Arun membalikkan tubuhnya cepat, kedua alisnya terangkat menatap Ukaisyah yang menunduk.
"Kamu itu daritadi suamimu mau ajakin kamu ke kamar kok diem aja main games, udah sana temenin, kasihan duduk terus, ayo!" titah Ajeng sumringah.
Tidak, bukan itu!
Ukaisyah ingin menggelengkan kepalanya, tapi percuma saja.
"Kok malah diem aja, udah sana temenin Gus Isya ke kamar!" titah Ajeng lagi membuat Arun dan Ukaisyah salah tingkah. "Udah toooo ... Malam ini nggak balik pondok ya nggak apa, sekali-kali tidur di sini, Run, Gus!"
"Iy-iya, Bu Ajeng." Ukaisyah menggigit bibir bawahnya, dia menunduk begitu Arun menatapnya tajam sambil komat-kamit.
Sungguh, dia bisa menjawab apa saja pada para santri di pondok dan beberapa rekan kerja di kota, tapi entah kenapa dia tidak terlalu bisa menjawab bila itu Arun meskipun hanya tatapan gadis itu saja.
"Ayo loh, Run!"
Arun lantas berdiri, mau tidak mau dia pun mengajak Ukaisyah ke kamar.
"Gus, mau apa to?" tanyanya menutup pintu kamar.
"Mandi," jawab Ukaisyah masih menyembunyikan malunya.
"Mandi ya mandi aja, kenapa mau dianterin?!"
"Ini kan kamar kamu, kalau saya masuk sembarangan nanti kamu mikir saya-"
"Kamarku ya kamar Gus juga kan!" eh, Arun berbalik, menutup wajahnya.
__ADS_1