
Astaga, benar beberapa hari ini mereka tidur di kamar yang sama, tapi sebelumnya berbeda dan barang mereka juga ada di lemari yang terpisah ruangnya.
Sebentar lagi, kedua orang tua Arun akan datang dan menginap, sebisa mungkin mereka tidak menemukan kejanggalan. Ukaisyah memindahkan semua isi lemarinya, apapun yang berhubungan dengan dia harus segera pindah ke kamar Arun.
"Gus, ayah sama ibu di mana?"
"Masih di pondok utama, ketemu sama yanda dan bunda," jawab Ukaisyah menyapu bersih kamar yang dia tempati itu. "Run, baju saya-"
"Iya, jadikan satu lemari aja, kan sebelah kiri itu masih kosong. Apa kurang?"
"Cukup," jawab Ukaisyah sama sekali tak menyangka akan seperti ini, mereka dijadikan satu kamar tanpa melibatkan perencanaan mereka sendiri, takdir bekerja di luar ekspektasi keduanya. "Oh ya, nggak apa kan kalau beberapa perlengkapan saya ada di meja rias kamu?"
"Iya, Gus. Udah jadikan satu aja, lagian loh kita kan udah pacaran, setahuku ya anak pacaran jaman sekarang itu milikmu ya milikku, gitu!" jawabnya terkekeh.
Ukaisyah melipat bibirnya ke dalam, ada-ada saja, beruntung mereka pacaran setelah menikah. Setelah selesai semua, kembali lagi mereka memastikan tak ada yang tertinggal, termasuk baju kotor yang ada di keranjang baju kamar kedua, sudah Arun gabung ke keranjangnya.
"Gus, nanti kalau waktu cuci-cuci, kan nggak mungkin dipisah bajunya. Kita berdua aja, Gus nanti yang jemur!"
"Iya, saya ikut kamu saja!" balas Ukaisyah pasrah, urusan rumah dia serahkan semua pada Arun, wanita itu memang ratunya rumah tangga, biar saja.
Tak lupa, Arun buatkan minuman segar dan mengambilkan nasi beserta lauknya.
"Gus, aku cuman goreng ini telur, nggak apa ya?"
"Alhamdulillah, yang penting masih ada yang bisa dimakan. Nanti, untuk orang tua kamu, kita terserah ibu aja, kamu nanti ngobrol sama ibu, kalau mau beli juga nggak apa, mau masak bareng, masak aja. Sini, kita makannya jadi satu aja!" ajak Ukaisyah menepuk sisi kosong di sebelahnya.
"Gus mau makan sepiring berdua?"
"Iya, tangan kamu biar nggak kotor, jadi saya aja yang suapin pake tangan ya ... Cobain, katanya kalau sama kekasihnya suap-suapan itu nikmat banget!" Ukaisyah mengambil nasi sedikit, dia kepal bersama lauk, lalu menyuapkannya ke mulut Arun. "Bismillah," ucapnya.
Arun mengunyah sambil memejamkan mata, ini hanya telur dadar biasa, tapi disuapi begini rasanya seperti makan telur dadar yang di restoran-restoran itu. Yang menarik perhatiannya lagi membuat dia malu, Ukaisyah juga menyuapkan nasi ke mulutnya sendiri dengan tangan itu, tangan yang mungkin ada bekas bibirnya Arun.
__ADS_1
Keduanya tampak sangat lahap, bahkan bukan hanya sepiring berdua, melainkan juga memakai gelas yang sama.
"Gus, bekas mulutku ada minyaknya!" Arun menahan Ukaisyah yang hendak minum di bekas bibirnya.
"Kan minyak dari mulut kamu, justru jadi vitamin buat saya," katanya lantas minum, membuat Arun salah tingkah. "Kamu pakai lipstik rasa?"
"Heheheh, iya, kerasa masihan, Gus?"
Ukaisyah mengangguk, seperti ada strawbery di lidahnya, ternyata seperti ini lebih nikmat. Tidak perlu lagi membeli buah strawbery di pasar, di bibir istrinya saja bisa.
Mereka pun masih sempatnya malu-malu, walaupun Ukaisyah laki-laki, tapi dia tak bisa menutupi rasa malunya karena keberanian yang dia mulai hari ini.
"Saya jadi ketagihan nyium kening kamu, jangan marah ya!" katanya segan.
Arun berkedip cepat, ini mereka mau menyambut Arya dan Ajeng yang sudah menuju rumah bersama Wati dan Tejo, tapi masih bisa membahas dan bahkan mencium kening Arun sekali lagi.
"Aku belum keramas loh Gus, emang nggak bau?"
Apa mau Gus buat aku keramas? Duuuhhh ...
***
Kali pertama keluarga Arun datang dan menginap di lingkungan pondok, terutama juga di rumah yang ditempati Arun dan Ukaisyah setelah menikah. Sebagai ibu, Ajeng pasti sudah berjalan dari ujung ke ujung untuk menyidak Arun, melihat kebersihan dan bagaimana anaknya itu menata rumah ini, membuat suami nyaman dan merasa bisa melepas lelah setelah bekerja seharian.
Tak lupa dia ke bagian belakang di mana baju yang masih setengah kering itu dijemur, Ajeng perhatikan dan pastinya mengomel kalau Arun salah menempatkannya.
"Run, namanya jemur baju gamis gini ya nggak perlu kamu kasih cantolan, takutnya dia keberatan terus patah, bisa kotor lagi, tinggal kamu lebarin aja, terus dijepit kanan kiri, lebih cepet kering, kamu ya nggak takut najis. Ayo ganti!"
"Iya," jawab Arun pasrah.
Sementara itu, Ukaisyah menemani Arya menikmati kopi di ruang tamu, mereka membahas banyak hal, terutama urusan pondok yang memang menjadi tanggung jawab menantu Arya itu.
__ADS_1
"Arun udah mau ikut majelis, Gus?"
"Alhamdulillah dua kali ikut, Yah. Ini ada niat lagi, cuman nunggu yang memang bener bisa ikut, ada yang khusus laki-laki saja. Ayah kalau ada waktu, boleh sekali ikut, nanti sama Tejo bisa," jawab Ukaisyah sembari tersenyum, dia tentu tidak bisa fokus pada mertua saja, sebab dia pasti berkeliling.
"Iya, nanti kalau anak-anak bisa, Ayah ajak semuanya. Ohya, Gus ... Arun nggak bikin masalah kan di sini?"
Ah, karena kecupan di kening itu, kendala yang menumpuk dan sempat ditakutkan hilang seketika, dia justru fokus pada kebaikan ke depannya.
"Gus!"
"Eh, ya?" Ukaisyah gelagapan.
"Walah, kok ngelamun! Hahaha ... Saking banyaknya ulah Arun sampe sungkan ya, Gus? Ayah minta maaf ya, dia pasti bikin kamu harus ekstra sabar," kata Arya merasa lucu dengan ekspresi wajah Ukaisyah.
Ukaisyah hanya mengangguk kecil, kok bisa loh malah mikir keningnya Arun, sadar Sya, sadar!
Beruntung kamar kedua di rumah ini masuk kategori lulus rapih dan bersih, tadi Arun bersama ibunya lebih dulu melihat, bahkan kondisi kamar mandi dinilai bagus meskipun handuk Ukaisyah ketinggalan di sana dan harus Arun pindahkan.
"Ya, kan kalau mandinya barengan nggak bisa, Yah, Bu ... Kadang Gus Isya harus buru-buru, jadi mandi di kamar ini," kata Arun beralasan.
Ajeng terkekeh. "Namanya pengantin baru ya, pengennya mandi aja terus sampe kepala pusing kena air dingin. Nggak apa, yang penting urusan kamar dan pondok bisa selaras meskipun harus mandi cepet-cepetan, hehehe ..."
Ukaisyah hanya tersenyum, sebagai laki-laki dewasa tentu dia tahu arti keramas yang ibu mertuanya katakan itu. Biarlah mereka menganggap bagaimana, yang menjalani hubungan ini tidak lain dirinya dan Arun, dia yakin nanti akan ada di tahap itu, suatu hari nanti.
"Gus, maaf loh, tadi itu ibu ngira kalau aku sama Gus udah buatin mereka cucu, jadi ngelantur ngomongnya gitu," kata Arun menarik Ukaisyah ke kamar, dia tidak enak.
"Nggak apa, wajar. Jangan diambil pusing, suatu hari nanti pasti seperti yang ibu katakan, kita nikmati saja prosesnya ya ..."
"Emang Gus udah kepikiran ke sana?" tanya Arun melirik kecil. "Aku nggak mau ya kalau nafsu aja, aku mau kalau pake cinta!"
Ekhem!
__ADS_1
Kode?!