
"Salatnya berapa rakaat, Gus?" tanya Arun antusias.
Jujur, dia tidak tahu langkah-langkahnya dan apa saja yang dianjurkan untuk sebuah kata malam pertama. Dia juga tidak bisa membenarkan atau menyalahkan penuturan suaminya, yang dia pegang hanya satu bahwa Tuhannya tidak akan salah memberikan dia sebuah petunjuk dari seorang hamba yang dipilihkan untuknya.
Arun mengikuti apa saja yang Ukaisyah tuturkan, mulai dari mengambil wudhu untuk salat bersama, setelah itu berdoa dengan se tulus hati hingga keduanya larut dalam rasa syukur yang luar biasa dan tanpa terasa menitihkan air mata.
Pernikahan ini tidak terduga sama sekali, bahkan bisa dibilang prosesnya cukup aneh dan penuh praduga paksa, banyak omongan miring dari luar dan dalam, tapi mereka menjalani pernikahan ini seolah-olah tidak ada orang lain, hanya keduanya yang fokus bersama orang yang mendukung.
Ukaisyah mencium kening Arun lama sebelum akhirnya menggendong Arun ke ranjang, melepaskan mukenah yang masih terpasang sehingga penampilan Arun kembali menggoda. Ukaisyah itu rapih, jadi melipat mukenah Arun lebih dulu beserta sarungnya sehingga mereka benar-benar memakai baju yang cukup mudah dibuka.
"Run, sekali lagi saya tanya kamu. Apa benar, kesempatan berharga ini kamu berikan pada saya dan kamu meminta pada Allah agar hatimu percaya?" tanya Ukaisyah memposisikan tubuhnya setengah menindih Arun, mengunci kedua kaki Arun dengan sebelah kakinya.
"Iya," jawabnya.
Ukaisyah tersenyum. "Setiap hubungan badan akan selalu memakai nafsu, tapi saya melakukan ini bukan karena nafsu saja, melainkan karena Allah telah menganugerahkan cinta di hati saya untuk kamu ... Kamu berharga buat saya, kamu satu-satunya yang saya perhatikan, saya-saya mencintai kamu," ucap Ukaisyah, lalu mendekatkan wajahnya sehingga bibir mereka bertemu.
Sekali lagi doa itu Ukaisyah ucapkan agar malam ini penuh dengan keberkahan dan ridha dari Sang Pencipta.
Debaran di dada Arun semakin kencang saja, rasa-rasanya ada yang mau meledak luar biasa, dia pun tidak kuasa menatap mata Ukaisyah yang menatapnya lekat seperti elang yang siap menyambar mangsanya.
"Guuus ..." Arun mendongak begitu bibir Ukaisyah menyapa leher putihnya, kedua tangannya meremat sprei kuat-kuat, rasanya menyengat luar biasa.
Perlahan Ukaisyah merayapkan tangannya yang bebas, dari satu titik ke titik sensitif lainnya, merayap pelan hingga menimbulkan rasa geli, tubuh Arun menggeliat, apalagi saat jemari Ukaisyah membuka kancing baju tipisnya satu per satu.
Dan, dia sentuh dua bulatan indah lagi menawan itu, Arun mengerang kalah dan frustasi, bibirnya dibungkam, sedang yang lain dipermainkan perlahan lagi dalam.
Ukaisyah seperti orang kelaparan, tubuhnya memanas dan matanya gelap, benar-benar ingin menghabisi mangsanya. Dia berulang kali bersyukur karena hal seperti ini baru dia rasakan setelah menikah, begitu candu dan halal untuk dia ulangi lagi.
"Gus, Gus juga dibuka bajunya ini!" katanya setengah sadar, meraba baju Ukaisyah. "Nggak adil, Gus. Aku aja yang dibuka, Gus juga buka baju!"
"Iy-iya."
__ADS_1
Krak!
Ukaisyah membukanya kasar, bersamaan dengan itu seperti ada cahaya yang terpancar terang membuat Arun terpejam singkat seakan silau.
Putih dan bersih sekali, dia sampai kalah. Dan lagi, badan Ukaisyah tidak buruk, mengalahkan aktor-aktor di drama yang pernah Arun lihat.
"Hilooo .... Guuuuss, pengen pegang ini!" katanya mengulurkan tangannya menyentuh dada dan perut Ukaisyah, laki-laki itu mengerang begitu jemari Arun menyentuh kulitnya. "Gus, tempelin sini, Gus!"
Ukaisyah patuh, dia turunkan tubuhnya sehingga bagian atas mereka bertemu, dingin bercampur hangat ada di sana membuat mereka memejamkan mata dengan nafas memburu. Tangan Arun meraba setiap sisinya, lalu berhenti di pipi Ukaisyah untuk mereka saling tatap, kemudian berlari melingkar di leher Ukaisyah memberi isyarat bahwa yang lebih boleh dilakukan.
Tangan besar nan lembut Ukaisyah yang tadinya berhenti di dekat lengan, kini mulai merayap turun, membawa turun celana pendek Arun beserta celananya sendiri, menyisakan bagian dalam yang sangat tipis bagi Arun, desakan dan tekanan dari bagian inti keduanya mampu meluluhlantakkan pertahanan masing-masing seakan tak sabar menyatu.
"Dia udah sembuh ya, Gus, jadi bisa mengeras, hah?"
"Hah?" Ukaisyah hampir menyemburkan tawa, dia menarik selimut sehingga menutupi sebagain tubuh mereka yang saling menindih. Dia lebarkan kedua kaki Arun agar bisa masuk ke celahnya, mulai menggesekkan inti mereka dan mengulang doa tadi. "Saya boleh melakukannya?"
Arun mengangguk, urusan nanti dia mau bagaimana, sekarang malunya nanti dulu, dia ingin sekali, bahkan dia sudah merasa sangat-sangat basah.
Dia buat Arun merasa nyaman dan melupakan sedikit sakitnya dengan pagutan bibir yang begitu lembut lagi memabukkan. Sementara, di bawah sana dirinya terus bergerak mendesak dan menerobos masuk, mengambil jeda sebentar saat Arun mendesis kesakitan.
"Gu-gus," panggilnya.
"Maaf ya, sebentar!"
Arun mencengkram kuat lengan Ukaisyah, tidak ingin memberontak, tapi tubuhnya reflek seperti itu, kepalanya mendongak saat seutuhnya Ukaisyah ada di dalam dirinya. Mereka terdiam sejenak, saling menatap satu sama lain, keringat mereka menetes dan bertemu, Ukaisyah mencium kening Arun setelah sebelumnya mereka sama-sama tersenyum malu-malu.
Katanya, saling memandang saat berhubungan itu bisa menjadikan mereka lebih menikmati dan merasa begitu dicintai, karenanya mereka tersenyum malu.
"Saya boleh-"
"Boleh, Gus. Boleh gerak, tapi tanganku pegangan ini ya, jadi kayak aku yang kontrol gerakan Gus, hehehe ..."
__ADS_1
Ukaisyah mengangguk, dia mengucap Bismillah Pelan, sebelum menarik mundur sedikit, kemudian mendorong, begitu terus sambil memainkan temponya sesuai naluri yang bermain. Dia dekap erat Arun saat semakin menajam, begitu juga dengan Arun yang cengkramannya semakin menguat, bahkan mulutnya terbuka tanpa bisa mengeluarkan suara apa-apa, selain nafasnya yang tersendat.
"Gus, Gus, ini-ini ... Ini," ucapnya seperti ada yang mau meledak dari dirinya.
Sebagai laki-laki, Ukaisyah paham, dia pun juga merasakan yang sama. Gerakannya pun semakin lebih cepat dan cepat, bibirnya kembali mengucapkan doa di tengah kesadaran yang semakin menipis.
Dia tatap wajah Arun lekat-lekat, sebelum akhirnya hentakan kuat itu diberikan, menghangatkan rahim Arun yang bergetar kejang.
"Gus!"
Ada yang mengalir basah dan katakan itu bukti perasaan dalam dari keduanya.
Kembali Ukaisyah cium kening Arun dan ditahan. "Kenapa?"
"Jangan ditarik dulu, Gus, biarin dulu, lucu rasanya!" kata Arun malu-malu, mengusap keringat di wajah suaminya.
Ukaisyah tertawa, miliknya sudah berubah ukuran, itu mungkin yang Arun bilang lucu.
"Kita cuci dulu, terus wudhu ya. Baru minum," kata Ukaisyah.
"Habis itu boleh tidur, Gus?"
"Boleh, saya bantu cuci dan wudhu dulu, sini!" Ukaisyah membalutkan handuk besar yang telah disiapkan, lalu menggendong Arun ke kamar mandi.
"Harus cuci sama wudhu dulu, Gus?"
"Iya, kamu boleh mandi besar sebelum shubuh, tapi sekarang cuci dan wudhu dulu, begitu pun hal yang dilakukan dan diajarkan Rasulullah, diriwayatkan oleh Sayidah Aisyah. Kamu yang cuci dulu ya," jelasnya.
Arun mengangguk. "Iya, Gus," ucapnya bergegas. "Gus mau liat, hem? Nanti, pengen lagi loh!"
Hem, mulai ....
__ADS_1