
Arun membuka lemari pakaian besar yang berada di kamarnya, lemari yang dibagi untuk berdua karena sampai hari ini Ukaisyah belum memindahkan baju ke lemari lain, lagi Arun pun merasa cukup-cukup saja.
Setelah menata baju yang baru dia setrika, walaupun suka dan tahan di luar rumah, bukan berarti dia tidak bisa melakukan tugas rumah. Sedikit demi sedikit dia melatih dirinya lebih bisa lagi.
"Aku pake baju apa ya buat nyambut dia pulang?" gumam Arun terlalu pusing, ingin bertanya pada ibunya, tapi dia malu, nanti ibunya pasti heboh membahas ini dan itu sampai ingin cucu, belum lagi ayahnya. "Gus ngomel nggak kalau aku pake celana pendek sama baju ketat nerawang gitu?"
Ah, kan dia mau menggoda, menyiapkan diri untuk dimangsa suaminya sendiri, menghalau godaan setan di luar sana untuk suami tampannya.
"Kamu bikin aku melunak kayak tulang lunak muda loh, Gus. Rasanya itu ya pengen mecel cewek yang liat kamu, ya meskipun kamu nggak liat seh, tapi aku ya degdegan kalau ketarik, namanya setan!" gumamnya lagi, lalu mengambil kotak kado dari ibunya. "Lah ini, emang ibu itu paling tahu anaknya, udah dibeliin jaman baru nikah, sekarang berfungsi juga. Hahaha, liat nanti gimana gus pulang terus ketemu aku pake baju seksi?!"
Arun menata rapih kamarnya, memakai wewangian dan mempersiapkan dirinya seindah mungkin, bahkan dia mencuci rambutnya dua kali agar harum dan ringan saat Ukaisyah menyentuhnya.
Setiap kali berlenggak-lenggok di depan cermin, pipinya memerah, tapi dia ulangi terus beberapa kali sampai dia yakin bahwa penampilannya memang sudah sangat pas lagi baik.
"Gus masih lama?" gumamnya mengintip dari jendela ruang tamu, belum ada tanda-tanda suaminya pulang, bahkan masih sepi di depan sana. "Tandingnya apa sampe lewat waktu salat?"
Eh, tapi tidak mungkin karena di sini sangat amat ketat dalam urusan salat dan membaca alqur'an.
Setelah menunggu hampir setengah mengantuk, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, terdengar suaranya dari luar yang pasti itu Ukaisyah sedang berbicara dengan Tejo. Arun pun berlari ke ruang tamu, tapi dia berada di balik gorden, siap-siap saja kalau ternyata Ukaisyah mengajak Tejo mampir sebentar.
"Yaudah, Gus. Kalau begitu, besok pagi boncengan sama saya saja!"
"Iya, sekarang kamu bisa istirahat, assalamu'alaikum," balas Ukaisyah.
"Wa'alaikumsalam, Gus."
Hari ini, bukan hanya menonton dan mengawasi pertandingan saja, ternyata dia harus ikut turun ke lapangan karena ada santri yang membutuhkan bantuan, sedang di tim lain juga dibantu pengajar.
Ukaisyah tersenyum karena tim yang bersamanya menang, itu bisa dia pamerkan pada sang istri.
Tok, tok, tok ...
"Assalamu'alaikum," ucapnya salam.
Arun tersenyum, menjawab dari balik gorden. "Wa'alaikumsalam, Gus ... Masuk ya, nggak aku kunci, Gus!"
__ADS_1
Ukaisyah memutar pegangan pintu itu, benar tidak dikunci, mulutnya hampir saja menegur sang istri karena hal ini sudah menjadi aturannya, rumah harus dikunci selama dia tidak ada di rumah. Walaupun ini lingkungan pondok, tetap saja kejahatan tak memandang tempat dan waktu.
Klek,
"Kamu kenapa ndak dikunci, kalau misal ada yang datang dan masuk, tapi itu bukan saya gimana? Saya-"
"Tapi, aku buka waktu denger suara Gus, sebelumnya aku kunci," sambar Arun, Ukaisyah belum melihatnya.
"Tetap saja, tunggu saya mengetuk. Kalau sudah diketuk, kamu boleh-" bibir Ukaisyah terkatup, melihat apa yang tersaji di depan matanya itu, penampilan yang mampu membuat isi kepalanya berubah menjadi kosong.
Arun melirik kunci pintu yang sudah terpasang dengan benar, artinya dia bebas melakukan apa saja.
"Gus, cantik nggak?" tanyanya berlenggak-lenggok.
"Kam-kamu?"
Arun mengibaskan rambutnya semakin mendekat dan tersenyum lebar di depan Ukaisyah. Kedua tangan indah itu dia letakkan di atas bahu Ukaisyah.
"Gus, kok malah melotot itu loh?! Cantik ndak?"
Brak!
***
Ukaisyah pingsan?
Tidak, dia menendang kursi kayu begitu kencang dengan sebelah kakinya. Si kursi kayu yang tak berdosa sama sekali dan tidak tahu salahnya di mana, tiba-tiba harus menjadi korban dari keterkejutan seorang suami yang dilanda dilema.
Ingin menyerang atau memastikan dulu niat istrinya itu. Dan lagi, bagaimana dia saat ini belum mandi, tubuhnya masih kotor dan bau keringat.
"Kamu cantik, menarik, ndak bosenin, penuh trik dan cerdik!" kata Ukaisyah merengkuh pinggang itu, entah lari ke mana rangkuman materi dan hafalannya, sekarang pikirannya hanya terpusat pada Arun saja. "Say-saya mau mandi dulu, tubuh saya kotor, bisa kam-kamu nunggu saya? Atau mood kamu hilang kalau saya mandi lebih dulu?"
Arun menelisik mata Ukaisyah. "Gus keringetan karena main di lapangan?"
"Iya."
__ADS_1
"Ooo, Gus tadi tebar pesona?"
"Tidak, ndak ada santriwati atau pengajar wanita di sana, semua laki-laki."
"Masa? Nggak percaya!" Arun hendak memberontak, tapi Ukaisyah cekal. "Aku nggak suka ya Gus gitu, udah ah, nggak jadi godain!"
"Jangan!" cegahnya. "Saya suka kamu godain saya ... Sumpah, saya ndak tebar pesona, saya turun ke lapangan karena tim satunya dibantu pengajar, jadi saya harus bantu tim yang-" bibir Ukaisyah dibungkam, awalnya dia terbelalak kaget, tapi setelahnya dia pun ikut memejamkan mata dan hanyut dalam ciuman itu.
Sebentar, kemudian Arun lepas.
"Gus mau lanjut ndak?" tanyanya, Ukaisyah butuh waktu untuk tersambung ke sana, harap dimaklumi kalau dalam hal seperti ini, dia butuh proses. "Mau lanjut ndak ke yang lebih? Mau ndak?"
"Ma-mau!" jawab Ukaisyah cepat.
Arun hendak lepas, tapi lagi-lagi Ukaisyah menahan pinggang dan tangan Arun.
"Walah, ini mandio dulu, Gus. Katanya mau mandi, Gus mandi dulu, aku tunggu di kasur, gimana?"
Gluk!
"Sungguh?" panas, aku laparrr!
Arun mengangguk, berkedip genit sambil memanyun-manyunkan bibirnya.
"Run ..." panggilnya.
"Apa lagi to, Gus? Buruan mandi, aku tunggu di kasur!"
Ukaisyah menelan salivanya berat. "Kam-kamu sudah cinta sama saya?"
Dia ingat, Arun pernah mengatakan bahwa dalam berhubungan, tidak akan mau kalau hanya nafsu saja, melainkan harus melibatkan cinta. Dan seingatnya, Ukaisyah telah mengungkapkan isi hatinya, sedang Arun belum, jadi dia butuh validasi.
"Walaaaahh ... Lah, kalau aku belum cinta ya ndak mungkin to Gus dandan gini, ini udah susah payah loh aku siap-siap, keramas sampe dua kali. Masa Gus nggak paham to ... Ayo to Gus, buruan mandi!" jawab Arun meloncat kecil, lalu lari ke kamar. "Buruan Gus!"
Ukaisyah mengangguk mantap, sebelum dia mandi, dia sempatkan membuka buku catatannya, nyatanya dia benar-benar kosong.
__ADS_1
"Mandi, wudhu, salat sunnah dua rakaat, doa bersama, cium wajahnya, ndak boleh terburu-buru, bikin istri nyaman dulu, ndak boleh langsung nyerang, terus-"
"GUUUUUUUSSSSS ... YA ALLAH!"