
Kontrasepsi?
Ukaisyah menjauhkan ponselnya, lebih tepatnya karena sang istri kembali dengan sebelah tangan menyiku di pinggang, dimintanya ponsel itu agar menempel ke telinga Arun.
"Kepalamu kontrasepsi! Awas kamu ya kalau berani main cewek, Mbak nggak akan tinggal diam, pulang langsung Mbak bawa ke tukang sunat, biar dihabisin, itu nggak main-main!" ancam Arun membuat Ukaisyah semakin terkejut, bisa-bisanya sang istri langsung paham dan mengancam. "Denger nggak kalian!"
"Denger, Mbak. Bercanda doang sama Mas Isya kok!"
Arun mengembalikan ponsel itu ke tangan Ukaisyah, lalu dia kembali memilih barang, berganti Ukaisyah yang mengabsen setiap pesanan dari keluarga istrinya itu, ngomong-ngomong pesanan ibunya yang paling banyak karena ingin memberi beberapa orang terdekat. Ukaisyah kembali berjalan di samping Arun setelah mencari susah payah di mana istrinya itu, baru beberapa menit bersama sudah hilang lagi, entah Ukaisyah yang tidak kuat berjalan atau memang dia tidak bisa menandingi hobi wanita satu itu, berbelanja.
Setibanya di depan kasir, baru di sana Ukaisyah dengan mudah menemukan istrinya itu, dia pun berdiri tepat di samping Arun, membawa penuh wibawanya sampai yang mengantri pun melirik Ukaisyah, tak heran bila ada kasir muda yang sampai melembutkan pelayanannya agar mendapatkan perhatian dari Ukaisyah. Tetapi, tidak melihat bukan berarti dia buta dengan keadaan sekitar, Ukaisyah paham dikiri orang yang kebingungan oleh orang lain, karenanya sebelah tangan Ukaisyah mengusap kepala Arun.
"Pakai kartu yang saya kasih tadi saja, Sayang!"
Deg!
Semua mata terbelalak mendengarnya, termasuk kasir muda yang sedang melayani Arun, sedangkan Arun merona-rona dipanggil begitu di depan umum.
"Iya, Gus Sayang, iya. Ini mau aku keluarin kartunya," jawab Arun ingin balas dendam agar Ukaisyah malu juga, benar saja pipi Ukaisyah memerah. "Pinnya Gus aja!"
"Kamu saja, kartu itu sudah saya berikan ke kamu, jadi hak kamu!"
__ADS_1
"Ya Allah, suami baik. Murah rejeki ya, Gus!"
Ukaisyah tersenyum. "Aamiin, Sayang."
Hancur, semua harapan yang dibangun tinggi oleh beberapa orang tadi seketika hancur karena sebutan Arun bahwa Ukaisyah itu suaminya, bahkan kasir muda yang membantunya tadi sudah tak melebarkan senyum sama sekali, pelayanannya sontak berubah, yang tadinya lembut sekali, kini kembali cepat-cepat agar antrian tak mengular. Memang tidak sepenuhnya dibenarkan memamerkan kemesraan di depan umum, tetapi untuk beberapa keadaan diperbolehkan agar tak ada fitnah nantinya. Ukaisyah merengkuh bahu Arun begitu selesai, semua belanjaan Arun ada di tangannya satu lagi, sedangkan yang lain dibiarkan pada troli, mereka berjalan ke luar dengan begitu mesranya.
"Gus, aku pengen makan ice creamnya yang tadi!"
"Iya, kamu ambil saja. Kalau takut leleh, itu ada box khusus di belakang, kamu bisa pakai, Sayang.'
Arun batal menjilat esnya, belum apa-apa es di tangannya saja mau meleleh karena panggilan itu.
"Hah? Kenapa memangnya?"
"Loooooohhhh, bergetar aku Gus kalau dipanggil gitu, pengen ngesot!"
Ukaisyah tergelak kencang, dia paham apa yang dikatakan Arun yang tak lain berhubungan dengan cumbuhan keduanya yang dipenuhi kasih sayang. Setelah memastikan ice creamnya aman, Arun meminta pergi ke suatu tempat lagi, hari ini agendanya di luar penginapan, jadi sebelum dia dikurung habis di kamar, lebih baik dia nikmati udara segar itu.
***
Kabar absennya Ukaisyah dari rutinitas pondok terdengar hingga ke luar pondok, asumsi-asumsi mulai timbul dan terkumpul, pernikahan paksa yang tak dilandaskan cinta itu menjadi tolak ukur keberhasilan dalam berumah tangga. Alasan bulan madu dijadikan bahan pembahasan dari satu kepala ke kepala lain, menganggap hal itu agar mereka semakin dekat dan tak jadi berpisah karena status mereka berbeda, bahkan mulai menarik kesimpulan kehidupan keduanya yang jelas berbeda.
__ADS_1
Mana ada gus di pondok mau dengan gadis desa biasa yang tidak ada prestasi di bidang agama sama sekali? Mana ada gadis desa yang sejak kecil tak mengenal pondok, bisa betah hidup di lingkungan pondok? Yakin apa kalau mempunyai anak, nanti anaknya akan dididik akar agama, ibunya saja tidak paham benar?
Baskara menggelengkan kepalanya pelan, ada-ada saja akal pikiran orang menyimpulkan kehidupan orang lain, sedangkan yang dibicarakan tidak sedang dalam masalah, mereka sedang berlibur untuk menyegarkan pikiran dan bisa melihat lagi bersyukur akan nikmat yang Allah berikan, melihat betapa indahnya ciptaan Allah dan lainnya, mereka seenaknya menganggap liburan itu sebagai wadah pembahasan apakah akan berpisah atau tidak, bahkan ada yang membahas Arun yang belum ada kabar hamil, menganggap Arun tak layak memberikan keturunan bagi Ukaisyah dan pondok itu.
"Kenapa Yanda kesal gitu?"
"Ndak berhenti masalah terus datang ke rumah tangga Isya dan Arun, orang-orang terus saja membuat gosip yang ndak enak. Yanda kepikiran Arun, Bun. Keluarganya Arun juga, kasihan mereka terus dapat omongan buruk, padahal sebagian besar warga di desa ini juga dapat penghasilan dari bekerja di pak Arya," jelas Baskara sembari memijat pelipisnya.
Aisyah tersenyum. "Ujian itu yang membuat Isya dan Arun kuat, yang dikira ndak bisa cinta, sekarang Isya malah ndak bisa jauh dari istrinya, Arun sendiri cepat sekali menyesuaikan diri, dia jadi istri yang patuh dan menjaga benar suaminya. Yanda tenang saja, biar orang mengatakan apa pun, yang penting saat mereka pulang, kita dengan hangat merangkul keduanya, keluarga kekuatan mereka," tuturnya selembut wajahnya itu.
Baskara mengangguk, tidak ada manusia yang tak diuji, kurang tepat kalau mereka senang tak diuji, sebab itu lebih banyak sebagai ungkapan rasa cinta dan rindu Allah pada diri hamba-Nya.
"Apa Arun pernah mengeluh masalah anak, Bun?"
Aisyah diam sebentar. "Seingatku, Isya ndak pernah bercerita begitu. Arun orangnya ringan, ndak terlalu dipikir pusing. Yanda tahu ndak kalau anaknya kyai Saleh debat sama Arun? Arun pinter balesnya tanpa menyakiti, yang pasti cerdas, dia pakai ilmu dan logika, ndak melibatkan perasaan pribadi, jadi dia ndak lemah loh," ungkapnya.
Ya, urusan dengan Halimah memang waktu itu cukup rumit, dia tahu tentang ajakan Arun berbicara berdua dengan Halimah, tetapi tidak tahu apa yang dibicarakan.
"Semua wanita yang sudah menikah itu pasti memikirkan dan terpikirkan kapan rahim mereka diisi dengan bayi kecil, tapi ada atau ndak bukan jadi ukuran wanita itu bahagia dan berhak dibahagiakan. Istri mempunyai hak, sama dengan suami. Yanda ingatkan Isya tentang hal itu, membahagiakan istri bukan harus menunggu ada anak atau istri itu sempurna, tapi membahagiakan istri itu kewajiban dan harus!" ucap Aisyah menyentuh hidung Baskara, orang tua yang selalu membuat anak-anak mereka atau keluarga muda lainnya cemburu.
"Tentu saja, aku ndak akan segan-segan mukul Isya kalau dia kasar sama Arun!" kata Baskara lengkap dengan ancamannya.
__ADS_1