
Brak!
Buku yang ada di pangkuan Ukaisyah pun melayang dan terjatuh saking terkejutnya, tidak ada salam atau ketukan, mendadak Arun menendang pintu kamar dan setengah membantingnya agar tertutup rapat.
"Gus hari ini libur ya, besok kalau Gus mau ngajar ngaji atau undangan ke ponpes atau pepes lain, aku mau ikut!" katanya semakin membuat Ukaisyah terbelalak.
ponpes pepes? Ikut kenapa?
Dia lepaskan jilbab panjang yang sudah membuat kepalanya basah itu, lalu duduk menghidupkan kipas angin asal-asalan, dibiarkannya rambut panjang itu terburai dan berterbangan. Panas, ini gawat, dia harus mempunyai strategi agar tidak ada gadis-gadis lain yang ingin menikah atau dinikahi oleh Ukaisyah, walaupun dia sendiri masih bingung dengan hatinya. Intinya, tidak boleh, mau cinta atau tidak, dia tidak akan pernah sudi ada istri kedua dan selanjutnya.
"Run-"
"Apa sih?" balasnya menoleh dan menatap Ukaisyah tajam.
Bukan masalah Arun datang mendadak lagi atau mungkin keinginan Arun mengikuti semua kegiatan Ukaisyah. Tapi, ini loh, Ukaisyah sedang berada di kamarnya, kamar yang memang dipisahkan dari Arun karena permintaan gadis itu sendiri.
Dan sekarang, yang Arun tendang dan banting tadi pintu kamar Ukaisyah, gadis itu masuk ke kamarnya, kamar yang Arun sendiri berkata tak akan masuk ke sana karena belum cinta pada Ukaisyah.
"Kamu masuk ke kamar saya," kata Ukaisyah pelan, bukan mau mengusir, tapi dia hanya tidak mau Arun salah paham dan mengira dia memaksa untuk satu kamar.
Deg!
Arun memutar bola matanya ke seluruh penjuru kamar, lahdalah!, benar ini bukan kamarnya, dia masuk ke kamar Ukaisyah seperti mangsa yang tengah menyerahkan diri.
Gadis itu lantas bangkit dari duduknya, mengambil cepat jilbab yang dia buang sembarangan tadi. Jadi, dia marah-marah sampai membanting pintu tadi, ini bukan kamarnya.
Lah, kan emang gus Isya nggak sekamar, kok bisanya loh aku ngira dia di kamarku, Gusti!
"Run-"
"Ak-aku ke sini nggak niat apa-apa ya, jangan mikir aku mau nyerang Gus! Cuman mau ngomong tadi, bakal aku ikutin Gus ke mana-mana!" katanya lagi-lagi suka sekali memotong ucapan Ukaisyah. Diletakkannya jilbab itu ke bahu, lalu berputar arah untuk segera ke luar dari kamar Ukaisyah.
Namun, Ukaisyah menahannya, sambil menahan sedikit rasa sakit dan hanya bisa berjalan pelan, anggap saja dia memuliakan tamu yang datang ke gubuknya.
__ADS_1
"Duduk dulu, kita bicara baik-baik!" katanya.
"Ini udah baik-baik loh, emang aku bawa pasukan tawuran sampe nggak baik-baik?"
"Bukan begitu, kamu datang tadi seperti orang emosi sekali. Coba, kamu cerita ke saya, apa ada yang ganggu kamu waktu ngobrol sama bunda? Atau mungkin ada ucapan yang nggak kamu suka sampai kamu memutuskan hal tadi?" tanya Ukaisyah mengajak Arun duduk dulu, kebetulan di kamarnya ada dua kursi dan satu meja kecil. "Saya selalu ingin menjaga agar hubungan kita nggak ada salah paham, selalu saya jelaskan sama kamu. Sekarang, saya juga nggak mau salah paham, saya tahu ikut kegiatan saya bukanlah hal yang kamu sukai sekarang, bahkan kamu sering bosan, tapi kalau kamu mau ikut, saya nggak melarang dan senang. Tapi, kasih tahu dulu alasannya!" Ukaisyah geser botol air mineral ke dekat Arun.
Malulah!
Arun meremat jemarinya sendiri, dia tadi ya kenapa bisa sampai menendang pintu segala, sekarang si raja anti salah paham ini jadi mengintrogasinya, ya meskipun senang mendengar Ukaisyah tidak menolaknya untuk ikut.
"Ya, ada aja alasannya, urusan perempuan. Gus kan laki-laki, jadi nggak perlu tahu. Pokoknya, Gus cuman iya aja kalau aku ikut!" jawabnya membuat Ukaisyah semakin penasaran.
"Yasudah, silakan kalau kamu mau berkenan ikut. Tapi, kalau waktu itu saya bilang jangan, kamu harus di rumah ya," balas Ukaisyah menerima, wanita memang begitu, suka bermain tebak-tebakan.
"Kenapa emangnya?" awas mau ngelamar nangningnung!
"Ya, ada beberapa acara yang khusus laki-laki, saya nggak mungkin membawa kamu ke sana dan saya juga nggak mau kamu jadi pusat perhatian di sana," jawab Ukaisyah jujur.
Selesai berbicara, Arun tidak langsung ke luar, dia ambilkan obat untuk Ukaisyah dulu, obat anti nyeri dan antibiotik yang dia beli berdasarkan info di internet.
"Terima kasih," ucap Ukaisyah.
Arun tak menjawab, dia pergi dari kamar itu dan masuk ke kamar depan begitu saja.
Ini kenapa sama wanita?
***
Suara benda-benda saling bertabrakan dan beradu begitu nyaring dari dapur rumahnya, sengaja Ukaisyah tak menerima tamu satu pun termasuk Tejo, dia menunda sampai esok hari saat dia membaik atau mungkin Tejo bisa memberitahunya dari pesan saja.
Selepas salat maghrib, biasanya Ukaisyah memang tidak ada di rumah, dia akan berdiam di masjid sambil mengkaji atau mungkin menyelesaikan beberapa urusannya. Sekarang, karena dia di rumah, dia jadi tahu ada perang kecil di dapur yang telah disiapkan untuk menjadi istana Arun.
"Kamu lagi apa?" tanya Ukaisyah yang ingat betul kalau Arun tidak suka memasak, kalaupun hari-hari lalu, gadis itu hanya menggoreng sekadarnya saja, bukan masak banyak seperti orang hajatan.
__ADS_1
"Masak loh, Gus. Kan, aku di dapur ya masak, nggak mungkin kalau aku mandi!"
Iya sih,
Tapi, bukan itu maksud Ukaisyah, dia berjalan pelan sambil menjinjing sedikit sarungnya, memperhatikan cara masak Arun dan apa saja yang gadis itu buat sampai dapur berantakan.
"Orang tua kamu mau ke sini?"
Hish!
Arun berdesis sebal, melirik Ukaisyah pun hanya sekilas saja.
"Gus duduk aja, nanti kalau udah, kita makan bareng!" katanya mencoba sabar, pasti Ukaisyah itu banyak tanya, namanya agar mereka tidak salah paham.
Kita makan bareng?
Ah, Ukaisyah pasti salah dengar ini, dia pun masih berdiri di belakang gadis itu.
"Gus, duduk aja to!" paksanya melirik meja makan. "Sana loh! Aku selesain ini dulu!"
Sepertinya tidak bisa membantah, tapi dia kan penasaran, takut saja sakitnya menjadi beban untuk Arun, sedang sejak awal dia sama sekali tak ingin mendesak atau memaksa gadis itu, biarlah berjalan seperti seharusnya, biar waktu yang mendekatkan mereka.
Namun, berdirinya Ukaisyah di sana cukup mengganggu Arun, gadis itu meletakkan alat masak di tangannya, lalu berbalik.
"Sini loh, Gus! Gus ini ngerti nggak sih disuruh duduk itu gimana, hem?! Sini, duduk!" titahnya mendorong Ukaisyah yang tak bisa bergerak cepat, dorongan dari Arun justru membuatnya tak seimbang hingga saat dia duduk di kursi, tubuhnya menarik Arun untuk duduk juga.
Ugh!
"Ya Allah ..." sebutnya lirih sambil memejamkan mata.
Itu, itu terduduki.
"G-Gus!" Arun meringis. "Anu ..."
__ADS_1