
Dalang dari semua masalah hari ini membuat Ukaisyah hampir tidak percaya, tetapi tidak ada yang tahu isi hati setiap orang dan bagaimana cara orang itu mengendalikan dirinya, terkadang rasa kalut dan kecil membuat orang berbuat nekat, apalagi kalau sudah terbiasa dianggap dan merasa tinggi.
"Gus mikirin apa to?" tanya Arun usai mengganti bajunya dengan yang lebih terbuka, tadi suaminya itu ingin segera pulang karena katanya sudah tidak tahan menahan gejolak cemburu. "Apa masalah tadi belum selesai?"
Ukaisyah tersenyum, disajikan pemandangan indah dari istrinya, siapa yang tidak tergoda lagi terhibur, seburuk-buruknya anggapan orang tentang Arun, sungguh buruk bila Arun beranggapan dirinya baik, sedangkan selama ini yang Ukaisyah tahu Arun tidak pernah menilai dirinya sendiri itu baik, tetapi berusaha menjadi lebih baik setiap harinya.
"Sudah, saya hanya memikirkan tugas kamu nanti. Kalau berat, kamu boleh menolak permintaan yanda," kata Ukaisyah menjawab lembut.
"Berat itu kalau ndak ada Gus di sana, kalau Gus ikut ya gampang!"
"Kenapa kalau ada saya?" balas Ukaisyah terheran, dia ingin jawaban pasti dari istrinya itu.
Malu-malu Arun menjawab. "Ya ... aku ndak tahu harus gimana dan takutnya mereka ndak ada kontrol kalau Gus ndak ikut. Di sini aku ndak punya pemahaman luas tentang agama, Gus. Jadi, meskipun aku bisa bicara sama temen yang lain, bisa jadi omong kosong kalau aku ndak tahu dasarnya, aku butuh Gus di sana. Kita kan suami istri yang harus saling melengkapi, Gus. Tapi, kalau Gus keberatan juga ndak apa, aku ndak akan ikut," jelas Arun membuat Ukaisyah senyum-senyum.
Penyakit merasa itu memang susah sekali dihindari, tetapi bila orang bisa menghindarinya, tampak sempurna meskipun tidak merasa sempurna. Ukaisyah senang dengan perangai Arun, menyadari di mana kekurangannya dan tidak merasa sok bisa pada sesuatu yang mungkin saja Arun bisa, hanya bukan wilayahnya.
"Saya akan dampingi kamu, tapi ... Jangan sering kontak mata sama mereka!"
"Iya, Gus. Mata mereka ndak seindah punya Gus lah, hehehe ... Ngomong-ngomong, ini jadi ndak Gus minta pajak cemburu?" Arun menjinjing sedikit daster malamnya.
Ukaisyah membuang nafas kasar dan meraup wajahnya. "Jadi," jawab Ukaisyah lantas menarik tubuh Arun dan membawanya ke ranjang.
Bila malam itu mereka masih sama-sama kaku lagi canggung, berbeda dengan malam ini, baik Ukaisyah dan Arun saling pandai membalas sehingga mereka mendapatkan kepuasan yang luar biasa. Dan seperti yang Ukaisyah katakan tadi, bukan hanya sekali, melainkan ada bonus tambahan sebagai bumbu pemanisnya.
__ADS_1
Arun mengerjap kecil menahan kantuk yang mulai mendera hebat, entah dia yang salah melihat atau memang itu nyata. Tubuhnya terasa sangat lelah sekali, bahkan selesai mandi langsung ingin berbaring dan tidur hingga waktu shubuh nanti. Sedangkan, Ukaisyah bukannya datang ke ranjang, laki-laki itu melebarkan sajadahnya dengan memakai baju salat yang baru Arun siapkan untuk salat shubuh berjamaah nantinya, entah berapa kali salam Arun hitung dari gerakan suaminya itu, yang pasti sudah lebih dari dua, Ukaisyah tidak tampak lelah sama sekali.
"Kenapa kamu ngeliatin saya gitu?" tanya Ukaisyah setelah memanjatkan doa dan hendak mengaji.
"Gus ndak capek?" pertanyaan sederhana dari Arun yang jawabannya sudah sangat pasti, dia saja lelah, apalagi suaminya yang bergerak tanpa henti.
"Capek kenapa?" balas Ukaisyah sengaja menggoda.
"Ya tadi, kan Gus setor banyak. Nggak capek?" jawab Arun malu-malu, dia bertanya lagi untuk memastikan.
Alih-alih menjawab, Ukaisyah justru mendekat dan memilih mencium pipi Arun, membuat Arun terbelalak dengan aksi spontan suaminya itu.
"Gus!"
Arun mengangguk, dia sudah mulai ikut salat sunah sebelum shubuh, perlahan seperti yang Ukaisyah katakan, semua butuh proses. Dan selama masih ada niat dalam hati, pasti akan dimudahkan segalanya. Arun mengambil tangan Ukaisyah dan menciumnya.
"Gus, doakan selalu ya ... Makasi udah sabar," kata Arun tersenyum.
"InsyaAllah, saya yang terima kasih karena kamu udah mau sabar di kebiasaan baru ini dan bersuamikan saya. Sekarang, apa boleh saya lanjut mengaji?"
"Iya, boleh, Gus. Nanti, bangunin ya, Gus!"
"Ya, baca doa!" balas Ukaisyah mengusap kepala Arun, lalu bergegas melanjutkan kebiasaannya itu.
__ADS_1
Suami tidak lebih tinggi dari istri, begitu sebaliknya meskipun surga istri atas ridha suaminya. Tidak berhak sombong seorang suami, begitu juga istri meskipun istri memegang pintu surga dari anak-anaknya kelak. Keseimbangan itu harus ada dan sudah sepatutnya Ukaisyah berterima kasih pada Arun karena hadirnya membuat Ukaisyah lebih bermanfaat, lagipula tidak mudah menjadi istri yang seharian harus mengurus rumah dan dirinya, menjadi ibu rumah tangga itu jauh lebih berat dibandingkan kerja di luar rumah.
***
"Yanda mau menemui kyai Saleh?" Ukaisyah menghela nafasnya, dia merasa gemas sebenarnya karena anak kyai Saleh menjadi dalang dari keributan kemarin, sampai membawa nama baik keluarga Arun meskipun tidak terlalu parah, tetapi keluarga Arun sudah mendapatkan banyak tekanan sejak mereka mau menikah.
"Iya, kalau kita berbicara dengan Halimah saja rasanya tidak pantas meskipun sudah ada buktinya. Kita lebih baik bicara langsung ke kyai Saleh agar ndak ada lagi kasus seperti ini. Istrimu mulai adaptasi dan menyamankan diri, kasihan kalau harus dijatuhkan dan menjadi jauh dari sesuatu yang sudah lurus, bagaimana?"
Ukaisyah tak berpikir lagi, di posisi Arun itu tidaklah mudah, tidak semua orang bisa beradaptasi dan menyamankan diri sendiri, sedang telah hidup bertahun-tahun dengan kebiasaan yang berlawanan. Arun itu istrinya, sosok yang harus dia lindungi dan bela dalam semua kondisi yang tentunya tetap di jalan yang benar. Di sini, Arun sama sekali tidak pernah menyerang siapapun, termasuk Halimah. Jadi, kalau sampai Halimah berani mengganggu hidup Arun, Ukaisyah tidak akan tinggal diam.
"Gus mau ke pondoknya kyai Saleh yang ada nangningnung?" tanya Arun meletakkan kembali jaket Ukaisyah, tidak akan dia izinkan pergi.
"Iya, saya sama yanda ke sana, ada urusan yang harus kami selesaikan, Run."
"Urusan apa? Kan, Gus udah bilang berulang kali ndak mau poligami, apa ini trik biar ada drama sebelum aku dipoligami?" Arun cemberut, kalau sampai Ukaisyah mengangguk, akan dia cekik suaminya itu, biar saja.
Ukaisyah terkekeh, ketegangannya lenyap begitu saja karena ucapan sang istri.
"Kamu ini bicara apa to? Siapa yang mau poligami dan siapa juga yang mau menduakan istri seperti kamu, Run?" Ukaisyah membungkuk sehingga tingginya sejajar dengan Arun.
Arun melengos. "Jaman sekarang orang sukanya obral cinta, Gus. Cewek udah menyerahkan semuanya, si cowok malah mainin," ucapnya.
"Apa menurut kamu, saya tipe yang suka main-main?" balas Ukaisyah menatap Arun serius.
__ADS_1