
Arun masih saja menolaknya, bukan masalah pondok atau pekerjaan yang sekarang mulai Arun geluti, tapi lebih ke kata maaf yang harus Arun katakan pada Ukaisyah.
Sejak sore tadi, ayahnya meminta untuk datang ke pondok, tidak mengaji tidak masalah, asalkan meminta maaf pada Ukaisyah, ucapan Arun tadi cukup membuat orang menilai Arun tidak tahu sopan santun.
"Ayah malu loh kalau tingkahnya kamu gitu, Run. Selama ini, Ayah sama Ibu ajarin kamu semua hal yang baik, apa yang kamu suka selalu kita dukung. Tapi, kamu selalu punya jalan sendiri, kalau misal kita ada kurangnya, kamu bisa koreksi, kita belajar bersama. Ayah tutup telinga udah sama yang di luar rumah, orang bilang kamu tawuran atau apa, yaudah itu anak muda. Oke, Ayah paham, Run, tapi mau nakal kayak gimana, harusnya tetap tahu sopan santun, tahu tempat kalau mau bicara, nggak semua sama kayak keluarga yang biasa ke sini. Nak ... Ayah ini orang buruk, tapi sejak menikah dan punya kamu, Ayah bertekad menjadi sebaik mungkin, supaya kamu pun menjadi baik. Kamu anak Ayah perempuan satu-satunya, Ayah pun mau kamu punya pasangan yang baik dan pasangan baik itu mahal dapetnya, kamu harus menata diri, Nak!" tutur Arya mengajak putrinya duduk berdua, sudahlah memang masa mudanya dulu buruk, tapi ayah mana yang mau anak gadisnya buruk juga.
Arun masih memikirkan lagi apa yang ayahnya katakan, ketakutannya tak bisa dia sampaikan, hal wajar bila orang tuanya cemas dengan masa depan yang akan dia hadapi. Tidak mungkin lelaki baik mau dengan gadis galak seperti dia, apalagi kalau tahu dia suka tawuran dan merokok. Tapi, beribu ketakutan itu selalu menemukan alasannya, seolah membenarkan apa yang dia lakukan.
"Arun belum ketemu yang bisa hentiin Arun, Yah!" katanya begitu saja meskipun sebenarnya dia belum menemukan yang bisa menjamin dia tidak takut ada perpisahan atau karma buruk untuknya di masa depan. "Belum ada alasan untuk itu, Ayah doakan aja!"
Ini yang bagus dari Arun, tidak lupa dia meminta doa pada ayah dan ibunya untuk sebuah masalah yang akan atau sedang dia hadapi, sekalipun dia tidak bisa terbuka akan masalah itu. Intinya, dia meminta orang tuanya mendoakan yang terbaik.
Inginnya berhenti dari semua kekacauan yang ada, terkadang hatinya juga tergerak melihat gadis sebayanya memakai pakaian feminim, tampil lembut, tapi kehidupan yang keras ini seakan menuntut Arun seperti ini, dia merasa dalam bahaya dengan tampil lemah lembut. Bisa jadi, orang tak akan segan mencelakainya saat dia sendirian.
"Ayah sama Ibu minta maaf ya sempat terpengaruh sama omongan orang-orang yang bahas kamu kapan nikah, Ayah minta maaf karena jodoh bukan kamu yang atur, seharusnya Ayah lebih bijak lagi, maafin Ayah nggak?" Arya menyenggol lengan putrinya.
Arun melesakkan wajahnya di dada sang ayah, kalau bisa selemah itu, dia akan menangis, akan tetapi sejauh ini dia berusaha untuk selalu kuat di depan semua orang.
"Tapi, emang harus mikir mulai sekarang sih urusan jodoh. Nantilah, kalau Arun udah siap!" gumamnya, lalu beranjak kembali ke kamar.
Ajeng menyarankan Arya untuk tidak membahas hal itu lagi, lagipula anak mereka masih muda, biarkan Arun fokus membantu mereka mengurus peternakan dan penjualan, mereka masih bisa terus mendoakan.
__ADS_1
***
Sebenarnya, Arun tidak terlalu memikirkan soal jodoh, tapi karena terus ditanya dan dibahas, mau tidak mau dia memikirkan hal itu. Kepalanya tidak pernah se pusing ini memikirkan masalah, sudah balap motor, sudah adu ayam, sudah merokok habis banyak, tetap saja dia merasa kacau. Jodoh memang rumit sekali, mungkin kalau dia hidup di kota, tidak banyak orang membahas ini, tapi karena dia tinggal di desa, masalah nikah masih menjadi perbincangan yang hangat.
"Doa waktu hujan katanya mudah dikabulkan, yaudah aku berdoa, biar kabul, terus nggak pusing lagi. Dikira enak apa pusing gini, hah!" Arun menengadahkan kedua tangannya, air hujan itu pun tertampung di sana, gadis itu mulai berdoa.
Ya Allah, semua orang pada bahas jodoh, orang tuaku juga pengen aku nggak telat nikah kayak mereka. Ayah apalagi takut kalau aku kelamaan nikah, nanti dapet orang jelek. Arun gimana, kan Arun nggak tahu nikah sama siapa, selama ini juga temennya Arun main juga nggak kepikiran buat nikah sama Arun. Jangankan mau nikahin Arun, ngomong suka sama Arun aja itu urusan menang taruhan.
Katanya kan doa terkabul, yaudah kabulin, cariin Arun jodoh, temuin, terus nikahin. Ndak usah ribet-ribet!
Hujan semakin deras saja, gadis itu berteduh di salah satu gubuk yang ada di tepi sawah, memang biasanya Arun kalau istirahat juga sering di gubuk seperti ini, orang yang punya mudah sekali mengenalinya dan membiarkan dia begitu saja.
Arun baru menyadari ada orang lain di gubuk itu setelah menoleh ke kanan dan melihat ada bayangan jemari seseorang, jantungnya seketika berhenti berdetak, dia lantas berdiri dan melotot melihat siapa yang ada di hadapannya.
"Asstaghfirullah!" ucap Ukaisyah segera berbalik.
Arun menutup cepat kedua matanya yang nyaris lepas, baru saja dia melihat tubuh seorang pria.
"Maaf, tapi saya lebih dulu di sini. Kamu bisa ke luar, tolong!" pinta Ukaisyah sembari mengancingkan bajunya cepat. "Tolong!"
Arun mengangguk cepat, kakinya bergegas bergerak dan ke luar dari gubuk itu. Tapi, di luar gubuk itu sudah banyak orang, termasuk Tejo yang hendak menjemput Ukaisyah, ada beberapa warga dan pekerja pondok.
__ADS_1
Mereka semua terdiam, apalagi saat melihat Ukaisyah juga ke luar dari sana membawa baju ganti kotornya tadi, rintik hujan seakan mendesak mereka berada pada situasi yang tak diinginkan.
"Nggak salah, bapaknya tukang goda, anaknya juga pasti!"
"Iya, nggak mungkin kalau Gus Isya yang godain, kan Gus tadi lagi bantu kerja, terus cewek ini pasti yang dateng-dateng goda!"
Arun menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak, kalian jangan asal ngomong ya!"
"Mana ada yang mau ngaku gitu!"
"Iya, Gus ... Dia pasti udah ngintipin Gus itu, hukum aja, kita juga udah males sama dia dan adiknya, sok kuasa, hukum aja, Gus!"
"Iya, merusak citra anak gadis desa, hukum aja, Gus! Tuntut keluarganya!"
Kondisi semakin tak terkendali, Tejo dan Ukaisyah berusaha menenangkan, tapi tak ada yang bisa mengalahkan suara warga. Kabar itu dengan cepat tersebar, Arun berusaha untuk menjelaskan, tapi rasanya percuma.
Dia dibawa ke balai desa, menunggu orang tuanya datang dan orang pondok untuk memutuskan hukumannya.
"Ayah ..."
Satu yang dia ingat, jabatan ayahnya bisa lengser karena kejadian ini. Tak apa kalau dia yang bersedih, tapi jangan orang tuanya.
__ADS_1