JODOH JATUH DARI LANGIT

JODOH JATUH DARI LANGIT
Perubahan Ukaisyah


__ADS_3

 "Ndak apa, Gus. Loh, ini beneran ndak apa, malah ini enak!"


 Ukaisyah terbelalak, dia yang serius melakukan pemeriksaan, yang diperiksa sebaliknya, bercanda tanpa henti, terus memancingnya yang sudah terpancing.


 "Kena jilbab sakit ndak?"


 "Ndak, Gus. Udah dibilangin nggak sakit ya nggak. Nanti, malah ndak mau buat bekas lagi, aku yang susah!"


 "Kenapa susah?"


 Arun berdecak, lalu dia berbisik. "Kan, enak, Gus!"


 Lah!


 Wajah Ukaisyah sontak memerah, dia mencubit kecil pinggang Arun, lalu menatap tangannya, sudah berani macam-macam sekarang sampai mencubit pinggang Arun pun bisa.


 "Gus, laper ndak?"


 "Kamu belum makan?" Ukaisyah duduk lagi, kakinya sudah dia luruskan tadi.


 "Aku nanya, Gus. Kalau laper ya aku buatin, kan aku belajar melayani ... Biasanya, Gus kan buat materi, ini kenapa kok udah di kasur aja?"


 Ah, iya. Kenapa ya?


 Ukaisyah menekan keningnya, baru beberapa hari saja dekat dengan Arun, ada banyak hal yang dia lupakan, lebih tepatnya Ukaisyah harus mengatur waktunya lagi agar baik istri hingga urusan pribadi dan pondok bisa mendapatkan porsinya dengan baik.


Bisa dikatakan, dia dan Arun berada pada lingkaran perasaan yang sama lagi baru bagi keduanya. Jadi, untuk segala sesuatunya pasti dekat dengan yang namanya salah paham, harus ada waktu untuk mereka berbicara berdua dalam setiap harinya.


"Kamu tidur saja, kalau nunggu saya, bisa lama selesainya," kata Ukaisyah sembari menyesap kopi buatan Arun.


"Iya, Gus, iya. Ini cuman buatin kopi, biar Gus bisa selesaiin fokus gitu, terus misal mau salat malam, Gus nggak ngantuk, nanti jatuh bahaya!" balas Arun sembari mengibaskan rambutnya, terlihat bekas merah di leher yang tentu saja mampu menggetarkan dada Ukaisyah.


Dan setelah itu, seenaknya dia berbalik tanpa menoleh, melangkahkan kakinya sengaja dilambatkan, sedikit dia pantulkan sehingga rambut bisa bergerak naik turun bersamaan pinggul.


Huh, seperti ini menikah dengan gadis muda, genit sekali.


Ukaisyah menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, lalu kembali fokus melakukan hal yang memang biasanya dia lakukan selama ini sebagai penanggung jawah pondok dan urusan pribadinya. Untuk Arun, yang terpenting sudah mau salat wajib lengkap, mengaji perlahan lagi, untuk yang sunnah-sunnah, akan perlahan juga dia biasakan bersama agar tak ada yang namanya memaksa.

__ADS_1


"Gus," panggilnya, susah sekali kalau berdua diminta memanggil 'mas'. "Gus!"


"Iya?"


"Doain aku supaya tergerak hatinya bisa ikut salat sunnah dan puasa sama Gus ya," pintanya sambil menarik selimut.


Ukaisyah mengangguk, kalau tadi dia menangis karena melihat bekas merah di leher Arun, sekarang dia ingin menangis karena ada yang meminta doa lewat bibirnya untuk sebuah kebaikan, sedang itu gadis yang telah menjadi istrinya.


Ya Allah, Engkau baik sekali, dari diriku yang hina ini, Engkau sisikan denganku seseorang yang bahkan meminta doa lewat bibirku kepada-Mu Yang Maha Agung lagi Lembut. Ampunilah kami dan bimbing kami, aamiin.


"Run," panggilnya menyadari Arun masih terjaga disaat dia telah salat dua rakaat.


"Iya?"


"Saya boleh nyium pipi kamu?" tanya meminta izin.


"Loh, kan Gus mau salat lagi, mau ngaji lagi. Emang boleh? Nanti, Gus wudhu lagi loh, airnya dingin banget, malah sakit nanti, gimana?" Arun menurunkan selimutnya, rambut Arun sudah sedikit berantakan.


"Rasulullah pernah mencium Sayyidah Aisyah sebelum ke masjid dan Rasulullah tetap salat setelahnya tanpa memperbarui wudhu lagi," katanya mendekat, membungkuk di samping ranjang.


Berbicara dengan Arun akan selalu diselipkan pengetahuan, tapi risikonya ya seperti ini karena Arun kadang bisa serius, kadang banyak sekali candanya.


Mungkin malam ini Ukaisyah hanya terlelap sekitar dua jam, setelahnya dia sibuk dengan kebiasaan-kebiasaan yang memang sudah dia terapkan sejak lama hingga waktu shubuh.


"Bangun! Kamu salat di rumah sendiri ya, saya ada kegiatan di masjid setelah salat shubuh ini, ndak apa ya?"


"Iya, mana tangannya, salim dulu!" jawab Arun beranjak duduk, dia tidur lama ternyata.


Bukan hanya mengulurkan tangan dan membiarkan Arun bersalaman lagi mengecup, tapi Ukaisyah juga mencium kening hingga pipi Arun.


"Bau loh, Gus. Kan, aku ileran, kok malah dicium pipinya!" omelnya protes.


Ukaisyah tak menjawab, dia berlalu ke luar sambil tersenyum.


Ya, kalau hati sudah mengenal cinta, aroma tidak enak pun jadi enak.


***

__ADS_1


"Kemarin ya, gus Isya kayak orang kebingungan, linglung gitu, sekarang dari awal masuk masjid sampai kajian, walah ... Aku sampe lupa loh senyum berapa kali, santriwati yang ada di lantai dua, sampe rebutan nonton! Mereka ngomong ke aku, kalau ada kesempatan mau jadi istri kedua dan seterusnya gus Isya, Ti!"


Wati menghentikan kunyahan kacangnya. "Jangan-jangan lagi jatuh cinta sama mbak Arun, lagi kasmaran, makanya suasana hati berubah-ubah!"


"Lah, iya to?" Tejo menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Beneran apa kalau bisa bikin gus Isya aneh gitu, aku ya mau jatuh cinta loh, Ti!"


"Masalahnya, siapa yang mau sama kamu? Santriwati ya mikir kalau nguber kamu, Jo!" kata Wati membuat Tejo melengos.


Kajian mulai petang itu berjalan lancar, bahkan ilmu yang didapat para santri pun lebih banyak lagi paham, intinya tetap menjaga kestabilan santri, kajian banyak boleh, tapi pondok menyediakan jamuan sehingga yang namanya penyakit bosan dan ngantuk itu pergi. Ukaisyah berpikir, jangan sampai orang yang berniat belajar itu merasa bosan, setiap wadah ilmu harus sigap mencari solusi mengikuti perkembangan jaman tanpa meninggalkan syariat.


"Gus!"


"Kamu mau ke mana, Jo?"


"Loh, kok mau ke mana to, Gus?! Kan, ini kita mau liat pertandingan sepak bola santri, Gus apa iya lupa?"


Ukaisyah mengerjap, iya juga, dia lupa yang itu, pantas saja sejak semalam seperti ada yang kurang. Yang tadinya mau membeli sesuatu di luar bersama Arun, dia tunda dulu, sebab ini sudah termasuk janji. Tapi, kabar tetap Ukaisyah sampaikan. Dia meminta Tejo berjalan lebih dulu agar dia bisa menelpon Arun.


"Wa'alaikumsalam, Gus. Ada apa?"


Ukaisyah tersenyum. "Saya tadinya mau pulang, tapi masih ada kegiatan di lapangan, santri-santri tanding sepak bola, kayaknya saya pulang masih lama. Hanya mau ngabarin itu, saya takut kamu nunggu mau makan bersama," katanya meremat ponsel kuat-kuat, untuk pertama kali berbicara dengan Arun lewat telepon, gemetar sendiri.


"Walah, iya, Gus. Ndak apa, aku juga lagi nganu ..."


"Nganu apa?"


"Hehehe, nganu, Gus ... nobar latihan balapan di hape, ada temen yang ngerekam, Gus. Kan, baru nonton sama Gus pas lombanya akhir bulan," jawabnya terkekeh.


"Yaudah, tapi jangan terlalu lama ya ... Em, saya cemburu kalau kamu liat yang latihan di sana, semuanya laki-laki!" kata Ukaisyah bernada lembut meskipun hatinya kedutan.


Arun tertawa. "Iya, Gus, iya. Lagian, mereka nggak seganteng Gus kok, mereka kalah jauh, ahay! Rrraawwrrr!!"


Lah, malah jadi macan!


Ukaisyah menutup wajahnya yang memerah, Gimana ini Ya Allah, aku demam!


"Aku ini heran, gus Isya ini sebenernya kenapa kok berubah lagi!" gumam Tejo hendak menyusul gusnya.

__ADS_1


__ADS_2