
Oh!
Ukaisyah kira Arun akan menjerit, berlari, histeris, gemetaran, berkeringat dingin. Minimalnya, gadis itu menjauh darinya dan pergi ke kamar satu lagi untuk berdiam diri.
Tapi, tidak. Semua dugaannya dipatahkan oleh Arun. Bukan Arun yang panas dingin dan ingin kabur, melainkan dirinya yang kini kedua tangannya diikat oleh Arun karena banyak bergerak menghalanginya.
"Gus, ssshhtt!" pintanya menekan jari telunjuk di depan mulut. "Diem dulu, biar meresap salepnya, diem!"
Bukan, bukan itu. Ukaisyah memberontak kecil bukan karena efek dari salep yang diberikan pada miliknya, tapi karena Arun meniup tipis di sini. Dan sebagai laki-laki normal dengan kadar gairah stabil, tentu saja takut terpancing yang justru nanti membuat Arun kecewa.
Tadi, setelah Ukaisyah bertanya apakah Arun tidak takut, gadis itu mengangguk dan melompat lebih dekat pada Ukaisyah, kedua tangannya menahan tangan Ukaisyah dulu, baru dia menurunkan sedikit sarung lebar itu. Arun menurunkan dan memberikan salep seperti Ukaisyah ini bayi, bahkan gadis itu tidak terkejut sama sekali melihat penampakan di depannya, berbeda dari Ukaisyah yang sudah ingin lari karena pertama kali ada gadis yang melihat bagian pribadinya.
"Ini ya biasa loh, Gus!" katanya ringan.
"Bi-biasa apa? Kamu pernah melihat punya siapa?" balas Ukaisyah berharap bukan hal buruk yang dia dengar, maksudnya kenakalan Arun masih sesuai anggapan normalnya.
Arun menyelipkan anak rambutnya ke balik telinga, sambil menutup sarung itu dia menjawab. "Adeknya Arun itu cowok semua, dari kecil ya karena jarak Arun sama mereka itu cukup jauh lah, jadi ya aku bantuin ibu buat nolongin mereka. Ya, jelas aku tahu loh Gus modelan gini, jaman mereka sunat aja aku ya bantuin ganti perban!"
Loh!
Ukaisyah memegang dadanya, hampir saja jantungnya mau lepas.
"Kok kaget to Gus? Emangnya, Gus sama kakak dan adeknya nggak gitu?"
"Eng-enggak."
Arun tertawa. "Kalau aku ya juelas liatnya, Gus. Adek-adekku itu modelannya aja sok jagoan di luar, tapi sama aku nurut kok, anak buah. Yang begini jelas aku pernah liat, kasih obat juga. Tapi, besar punya Gus sih!"
Loh!
Lagi, Ukaisyah memegang dadanya, kalau seperti ini terus, jantungnya benar-benar bisa lepas dan melompat ke luar, nafasnya saja sudah setengah-setengah.
Kedua tangan Ukaisyah lantas menutup di atas sarung, dia seperti anak gadis yang takut diajak malam pertama para suami mereka, kalau begini, hafalannya bisa hilang.
__ADS_1
"Gus!"
Ukaisyah terhenyak. "Iy-iya?"
Arun berpikir sejenak, dia kembali duduk ke samping Ukaisyah, benar-benar berperan sebagai dokter pribadi yang perhatian.
"Gus, dulu Aldo sama Aldi kalau diobatin gitu yang ada mereka nangis, terus kayak ulet gitu perkututnya. Eh, aku baru liat ini dan membuktikan sesuai sama pelajaran di sekolah dulu dan yang biasa temen-temen bahas kalau burung manusia juga bisa bangun, hahahaha ... Jadi besar ya, Gus?!"
Bruk!
"GUS!" teriaknya kebingungan.
Ukaisyah jatuh pingsan dengan kedua bola mata berputar ke atas, semua yang Arun katakan seperti balon meletus tepat di depan wajahnya.
"Gus, kenapa to?" tanyanya setelah memperbaiki posisi Ukaisyah, menepuk ringan kedua sisi pipi suaminya itu agar sadar.
Dan saat dia melihat betapa dekat si tangan dengan kulit Ukaisyah, Arun tersadar, dia lantas mundur sambil meremat rambutnya sedikit.
"Kok aku yang malah pegang-pegang dia to?!" gumamnya gigit jari. "Gimana ini kalau Gus Isya mikir macem-macem, duh!"
Ukaisyah melipat kedua tangannya ke depan dada, mengangguk-angguk atas permintaan maaf Arun karena sikap dan ucapan vulgarnya itu, ngomong-ngomong dia pingsan dua kali sebelum akhirnya bisa stabil begini.
"Saya juga minta maaf, nggak seharusnya saya biarkan kamu begitu. Tapi, sungguh saya nggak memanfaatkan kondisi apapun, saya syok, jadi nggak bisa melawan. Kalaupun saya melarang kamu, bukan karena nggak mau memberikan hak kamu sebagai istri saya. Tapi, saya memikirkan perasaan kamu, saya mau ada ruang saya di hati kamu dan bukan pemaksaan," katanya setelah banyak kata terkejut yang dia alami hari ini.
"Iya, Gus. Janji, nggak akan liat punya yang lain-"
"Memangnya, mau liat punya siapa lagi? Ada yang menawarkan diri ke kamu? Siapa?" potong Ukaisyah untuk pertama kalinya.
Lah iya loh, dia ini sudah buka-bukaan di depan Arun tadi meskipun efek syok akan kecepatan Arun menanganinya, masa iya mata istrinya harus melihat yang lain, cukup dia saja.
Arun memalingkan wajahnya malu. "Gitu banget to, Gus, hehehe ..."
Dua hari Ukaisyah tidak ke luar rumah sama sekali hingga kondisinya benar-benar membaik, entah memang lebih tepat Arun yang mengobati atau apa, yang jelas dia dengan cepat membaik karena keberanian Arun meskipun dia sendiri ketar-ketir.
__ADS_1
Tapi, hikmah dari sakit yang dia derita, hubungannya dengan Arun sedikit membaik dan bisa dikatakan maju. Mereka lebih banyak berbicara, tidak saling diam dan kalau butuh saja mendekat. Arun juga banyak ke dapur lagi berada di kamar Ukaisyah meskipun belum apa-apa yang lebih, sebatas saling menjaga saja.
"Saya ada urusan sama Tejo, kamu ndak perlu antar ke depan, pasti dia sudah nunggu di sana," katanya merapihkan penampilan, dia sudah merasa baik dan bisa beraktivitas kembali.
"Kenapa emangnya kalau aku ke depan, Gus?"
Ukaisyah membalikkan tubuhnya, belum sempat menjawab, Arun sudah menyambar lebih dulu.
"Ooo, Gus takut dibandingkan gitu? Hahaha, ya nggak bisa to Gus, kan aku nggak mungkin melorot, terus liat ngawur gitu! Membayangkan juga nggak bisa, kan aku belum merasakan, jadi nggak-"
Ukaisyah menarik tangan Arun hingga gadis itu berada sangat dekat di depannya, pandangannya lurus ke bawah tepat pada kedua bola mata Arun.
"Iy-iya, iya, nggak akan ngomong ngawur!" katanya meminta ampun, kemarin dia sudah janji loh, tapi kelepasan.
"Nggak semua orang bisa menahan diri, kalau kamu nggak menjaga, bisa-bisa mereka sembarangan ke kamu," kata Ukaisyah sembari melepaskan tangan Arun perlahan. "Kamu boleh galak dan garang seperti waktu masih sering tawuran di luar rumah, lebih baik gitu. Kalau yang begini-begini, di dalam rumah saja, di depan saya!"
Gusti!
Arun tidak mampu berkedip, juga menggerakkan bibirnya, Ukaisyah mengultimatum banyak sekali setelah aksi memberi salep itu, dia merasa dijadikan barang penting oleh Ukaisyah hingga satu orang pun tak boleh merusaknya.
Pintu itu segera Arun kunci dari dalam, melepaskannya agar nanti saat pulang Ukaisyah bisa membuka dari luar. Walah, kok aku jadi banyak omong ke dia sih?!
Di depan sana, Tejo suka cita melihat gus kesayangannya ini, dua hari tak bertemu seperti sudah berabad-abad.
"Gus, sakit apa to Gus? Saya ini udah nggak minat kerja loh kalau Gus nggak ada!" Tejo terharu, bisa-bisanya menempel ke lengan Ukaisyah. "Kangen, Gus!"
"Heh!" balas Ukaisyah, ada-ada saja memang Tejo ini, tapi mereka sudah bekerjasama lama.
Srettt ...
Arun menarik gordennya rapat lagi, melihat Ukaisyah sangat dekat dengan Tejo membuatnya berpikir. Enggak, normal lah, kan kemarin kena tanganku langsung bangun, katanya normal kalau gitu, ya to?
Setelah memastikan rumahnya tertutup rapat, Ukaisyah lantas bergegas pergi bersama Tejo, banyak urusan yang menunggunya.
__ADS_1
"Gus, ngomong-ngomong sakit apa kemarin, kok nggak panggil dokter?" tanya Tejo menggoda. "Ekhem, apa udah ada dokter pribadinya, Gus?"
"Kamu ini apa to?!"