
"𝘕𝘥𝘢". Panggil si kecil yang terbangun dari tidurnya. Menatap bundanya yang sedang bekerja di balik meja itu.
Ellina yang tengah mengecek laporan dari karyawan pun menoleh pada sang putra yang memanggilnya. Dia tersenyum simpul, melihat Damian yang sedang mengucek ngucek matanya dengan tangan mungil nan berisi itu.
Ellina bangkit, meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri putranya. Meraih tubuh mungil yang langsung naik ke pangkuannya.
" kenapa bangun hm? Ini masih lama". Ucap ellina pelan di pada sangat putra semata wayang.
Damian baru tidur beberapa menit yang lalu. Sekitar sepuluh menitan, dan kini pria kecil itu kembali terbangun. Biasanya Damian tidur satu hingga dua jam.
"𝘕𝘪𝘯 𝘥𝘶𝘭 𝘯𝘪".
" dami ingin tidur di pangkuan bunda?" tanya ellina dan sontak saja Damian mengangguk.
"Yaudah. Dami nya turun dulu. Bunda ambil pekerjaan nanti bunda disini kerjanya sambil dami tidur disini oke?!"
Damian kembali mengangguk. Turun dari pangkuan bundanya dan membiarkan ellina mengambil pekerjaan di atas meja.
Setelahnya saat ellina sudah kembali duduk, Damian langsung naik kembali pada pangkuan bundanya. Tidur di sana dengan elusan lembut di kepala dan punduknya.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Damian kembali tertidur dengan pulasnya. Ellina kembali bekerja setelah Damian tertidur.
Ting!
Notifikasi pesan masuk ellina berbunyi. Sontak saja ellina mengambil gawainya dan melihat siapa yang menghubungi nya.
"𝘙𝘢𝘵, 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘰𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘣𝘶 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘬𝘦 𝘬𝘢𝘧𝘦. 𝘚𝘰𝘳𝘦 𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵𝘢𝘯"
Ternyata ibu rina yang menghubungi nya. Memberitahu jika pemilik kafe akan datang sore ini.
"Wina. Bisa kamu ke ruangan saya sekarang?"
"Kenapa bu? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Wina.
"Win, sore ini pemilik kafe akan datang. Bisakah kau cek beberapa hal? " tanya ellina.
Wina mengangguk tentu saja. "Baik bu. Apa yang bisa saya cek? "
"Kau cek kondisi kafe serta semua karyawan. Laporan stok barang serta keuangan kau juga cek dan nanti berikan padaku. Bilang pada semuanya untuk bersiap siap menyambut pemilik kafe ini" intruksi ellina yang di angguki oleh sang karyawan.
__ADS_1
"Baik bu. Kalau begitu saya permisi mengerjakan" izin Wina.
Setelah mendapat anggukan dari sang atasan Wina kembali mengerjakan pekerjaan yang atasannya perintahkan.
Sekitar dua jam berkas laporan yang diminta sudah ada di tangan ellina. Wina kembali bekerja sedangkan ellina mulai mengecek berkas itu. Supaya dapat dia laporkan pada pemilik kafe nanti.
Saat sore mendatang semua sudah siap berdiri di posisi masing masing. Menyambut pemilik kafe dengan rapi dan hormat. Saling berjejeran di depan pintu. Si kecil damian ikut menyambut, pria kecil itu berdiri di samping bunda nya dengan tangan yang memegang ujung jari telunjuk sang bunda.
Brum
Brum
Mobil putih bergengsi parkir di depan kafe. Semuanya menduga jika itu adalah mobil yang dikendarai sang pemilik kafe yang sudah mereka kenal.
Dan benar saja, begitu pintu terbuka tampaklah seorang wanita muda dengan pakaian yang sangat elegant keluar. High heels setinggi lima cm dengan has yang hanya menyampir di bahunya membuat aura wanita itu semakin berkarisma.
Semuanya menunduk hormat pada sang pemilik kafe yang sudah mereka kenal. "Selamat sore Ibu boss". Dengan kompak mereka menyapa.
Berbeda dengan ellina yang mematung, tak percaya dengan yang di lihatnya sekarang. Tubuhnya tiba tiba lemas dengan jantung yang berdebar. Dia terdiam, mematung hebat tak bisa berkata.
__ADS_1
" prisilla". Lirihnya pelan tak percaya.