
Hari ini adalah tepat dua tahun usia Damian. Di rumah keluarga damarta di adakan acara pesta untuk merayakan hari jadi sang cucu keluarga damarta. Tak banyak yang di undang hanya segelintir keluarga besar trah dra serta keluarga para menantu keluarga itu. Termasuk orang tua prisilla.
Saat para orang tua tengah menyiapkan makanan dan memperhias tempat Damian sendiri malah asik bermain balon bersama ayahnya. Keduanya asik meniup dan memecahkan balon di pinggir kolam renang. Ayah dan anak itu terlihat begitu bahagia.
"Hahaha ayah lucu banget!" teriak damian tertawa kencang melihat wajah ayahnya yang tertimpa air.
Bruss!
Keduanya masuk ke dalam. Kolam renang yang telah penuh dengan balon berwarna putih biru. Tema ulang tahun damian adalah langit. Damian sangat menyukai langit bahkan hampir setiap hari pria kecil itu menatapnya.
Arion memangku sang putra di pundaknya. Lalu bermain pelan di dalam kolam renang itu. Acara yang di adakan di mulai malam hari. Saat puas bermain keduanya naik dengan handuk yang di bawakan oleh ellina. Ellina membuntal tubuh kecil Damian yang basah menggunakan handuk yang di bawanya. Sedang kan untuk suaminya dirinya hanya menyodorkan nya.
Setelah sedikit kering ayah dan anak itu naik ke atas untuk membersihkan diri. Damian butuh tidur siang sebentar sebelum sore tiba mereka sudah harus siap siap.
"Semuanya sudah siap el?" tanya sangat mami yang baru datang dengan hebohnya.
"Sudah mi hampir selesai. Tinggal menyiapkan sedikit cemilan untuk anak anak yang datang nanti." jawab ellina.
"" oh ya udah, mama mau cek sebentar. Kamu bersih bersih gih, udah capek pasti. Istirahat aja, biarin mami dan bibi yang urus nanti" perintah mami rasti berlalu untuk mengechek kesiapan acara.
Saat malam menjelang angggota keluarga dan para tamu mulai berdatangan. Ellina buru buru menyiapkan penampilan sang putra. Dirinya tadi ketiduran sebentar akibat terlalu lelah menyiapkan acara untuk putranya. Dan sekarang keteteran menyiapkan menampioan sang putra.
"Sini sayang sebentar. Bunda rapihin penampilan kamu dulu". Ujar ellina pada Damian. Merapikan pakaian yang di kenakan putranya dan memakaikan dasi pita kecil yang cocok.
" itu kamu kak, dasinya benerin bisa gak?" tanya ellina kesal melihat penampilan suaminya yang masih sedikit kacau. Ditambah dirinya terburu buru belum menyiapkan diri.
"Sini, aku bantuin aja". Putus ellina gemas dengan tingkah arion.
" tidak perlu, aku bisa sendiri. Kamu pergilah bersiap sebentar lagi acara di mulai." tolak arion lalu berkaca dan membenarkan dasi yang di kenakannya.
Gerakan ellina yang hendak menghampiri suaminya terhenti. Entah kenapa dirinya merasa jika sekarang sikap suaminya berbeda. Tepatnya setelah perdebatan mereka beberapa waktu lalu.
Arion benar benar tak pernah lagi mengingkari kesepakatan mereka. Bahkan untuk sekedar menyentuh tangannya pria itu tak pernah lakukan sebelum dia izinkan. Entah bagaimana tetapi ellina merasakan aura beda dari suaminya. Dan itu menyentil sedikit hatinya.
"Ayo boy kita keluar. Biarkan bunda bersiap". Ajak Arion pada sang putra setelah penampilan nya sempurna.
Damian mengangguk, mengaitkan tangannya pada tangan sang ayah dan keluar dari kamar untuk membiarkan bunda nya bersiap.
__ADS_1
Bukan tak mau dengan tawaran ellina, Arion hanya tak ingin merepotkan nya saja. Dirinya mencoba membuat ellina nyaman terlebih dahulu terhadap pernikahan ini.
Tak ingin berpikir lebih ellina memilih untuk bersiap. Acara sudah hampir di mulai tetapi dirinya belum menyiapkan diri.
Meski buru buru, penampilan ellina tetapi cantik menggunakan gaun yang senada dengan milik putra dan suaminya. Wanita itu turun untuk bergabung dengan anggota keluarga lainnya.
Acara di mulai dengan berdoa bersama terlebih dahulu. Lalu peniupan lilin hingga pemotongan kue. Semua berjalan lancar dan hidmat.
" bunda mau sama ayah". Pintar Damian.
Mereka baru saja menyelesaikan makan malam bersama dan tengah berkumpul di ruang keluarga. Untungnya rumah milik damarta bak istana. Jadi muat untuk menampung seluruh anggota yang datang.
"Mau sama ayah? Yaudah ayo cari ayahnya". Ujar ellina dan mulai mencari suaminya bersama sang putra.
Di sisi lain arion tengah mengobrol dengan salah satu anggota keluarga besarnya.
" mana alena?" tanya arion pada sang sepupu.
"Katanya kak alena ada sedikit kerjaan, jadi bakalan telat". Jawab adik sang sepupu.
"Ini?" tanya arion memastikan. Bintang mengangguk kan kepalanya.
"Jangan yang ini. Mending ini aja yang baru". Ujar arion menyodorkan toples berisi camilan yang sama.
" gak mau, pengen yang itu. Gak papa bekas kak arion juga". Kekeh bintang menatap camilan di tangan arion dengan menelan ludah.
"Yaudah n-"
"****!"
Belum sempat arion memberikan camilan nya pada bintang, dia di buat mematung adegan di depannya. Dimana alvaro, sang sepupu sekaligus kakak bintang mendengus sambil mengambil satu camilan yang sama di dalam dengannya dari toples. Menjepit nya menggunakan bibir dan meraih tengkuk bintang dan memberikan biskuit itu menggunakan mulut nya. Intinya mereka kis sing menggunakan biskuit.
"Gak usah nyusahin bisa?" ujar alvaro tajam. Menatap adiknya yang masih mematung dengan biskuit di mulutnya.
Sontak arion menelan ludah dengan tangan berisi biskuit yang dia tarik kembali.
"Sans bro, kejam banget lo". Ujar arion akhirnya terkekeh melihat tingkah laku tak senonoh pada adiknya sendiri.
__ADS_1
" diem lo, gue bunuh?!" ancam alvaro tak santai. Tentu saja membuat arion mengacungkan kedua tangannya seolah tak berani.
Keributan mereka berhenti saat alena, adik pertama alvaro datang dengan sebuah kado di tangannya.
"Hai kak, apa kabar? Damian mana?" tanya alena. Langsung menabrak tubuh bidang arion memberi sebuah pelukan serta memberi kecupan pelan di pipinya. Mereka sudah akrab dari kecil jadi tak heran jika interaksi keduanya bisa di bilang cukup romantis sebatas keluarga.
"Baik. Damian bersama bundanya, bagaimana kabarmu?" tanya arion balik senang sekali melihat adik sepupunya yang satu itu. Sudah lama tak bertemu membuatnya rindu dengan alena yang kini kuliah di aussie.
Kejadian itu terlihat jelas di mata ellina yang tengah mencari sang suami. Tiba tiba saja matanya berkaca kaca dengan sesuatu yang berdenyut di tubuhnya, tepatnya di hati.
"Sana, samperin ayahnya. Bunda mau ke belakang sama oma." ucap ellina pelan pada sang putra. Membiarkan putranya pergi ke tempat ayahnya.
"Ayah!"
Damian berlari dan langsung meminta di pangkuan oleh sang. Arion pun memangku putranya yang baru datang.
"Kenalan sama aunty". Titah arion pada Damian.
" halo aunty, aku Damian. Putla ayah alion". Ujar Damian dengan bahasa cadelnya.
"Hai Damian, ganteng banget kamu mirip ayah. Panggil aunty, aunty alena". Alena tersenyum dan mengusap kepala sang keponakan.
" aunty alena". Panggil Damian.
"Ih pinter banget kamu. Nih, kado dari aunty buat Damian. Selamat ulang tahun ya". Alena memberikan kado yang telah di siapkan nya.
" Telima kasih aunty ". Ucap Damian sambil tersenyum. Membuat mereka di sana mengulas senyum melihat kepintaran Damian.
" sama siapa kesini boy?" tanya arion sambil mendudukan Damian di atas pahanya.
"Sama bunda". Jawab Damian dengan lugas.
" terus bunda nya ke mana?"
"Tadi ngantelin sampe situ. Katanya mau kebelakang sama oma". Tunjuk Damian pada tempat di mana bunda nya mengantarkannya.
Melihat tempat yang di tunjukan Damian arion tampak berpikir. Kenapa tak menghampiri nya dan lebih memilih Damian sendiri yang ke sini? Apa ellina melihat interaksinya dengan Alena hingga membuatnya pergi?
__ADS_1