
"Ngapain lu kesini?" tanya Arion dengan judes. Melihat adiknya yang masuk ke dalam ruangannya.
"Santai dong kak, jangan nyolot gitu. Lagian kata ronnie lo tiba tiba marah marah gak jelas. Lo kenapa? " tanya leo. Duduk santai di depan sang kakak.
Arion mendengus, sekertaris nya itu tidak bisa sekali dipercaya. "Gak. Gue gak papa". Jawab Arion nyolot.
"Ck, udahlah sono lo pergi". Usir arion dengan teganya.
" lo kenapa sih kak? Lagi ada masalah sama ellina?" tanya leo penasaran.
Benar yang di katakan ronie tadi, kakaknya ngereog. Tak biasanya arion seperti ini, kalau pun iya pasti sedang ada masalah. Wajarlah tempramen pria itu lumayan tinggi.
Mendengar nama istrinya di sebut arion menghembuskan napasnya frustasi. "Gue gak tahu kalau ellina keras kepala. Pernikahan kita udah satu bulan tapi gue belum bisa bikin dia luluh". Pada akhirnya arion mencurhatkan isi hatinya pada sangat adik laki laki.
Leo menempuk bahu arion pelan. Posisinya dirinya berdiri di samping pria itu dengan satu tangan di saku celana.
" yang sabar aja. Lo nya jangan asal nubruk kak, banyakin sabar" nasihat leo.
Arion berdecih pelan. Asal nubruk apanya nyentuh nya aja belum. "Lo kalo bener mau ngasih solusi yang bener. Kalau gak keluar sana gak butuh gua". Nyolot arion.
__ADS_1
Leo terkekeh pelan mendengar gerutuan sangat kakak. " iya iya, gue cuma mau bilang ellina memang awalnya kan gitu sulit banget di deketin. Harus kita yang pinter pinter biar bisa luluhin. Tapi sekalinya luluh dia tuh gak bisa lepas. Coba deh lo usaha lebih keras lagi. Kesalahan lo sama dia yang besar yang bikin dia jadi kayak gitu sama lo. Intropeksi diri aja lo, anggap ini sebagai karna atas kelakuan bejat lo".
Setelah mengatakan itu leo keluar dari ruangan di rektur. Dia berharap pernikahan kakaknya tidak akan berakhir lagi. Meski tidak di dasari cinta, semoga saja mereka bisa saling menerima nantinya.
Arion termenung. Ucapan leo seakan jadi tamparan untuk dirinya. Memang benar dulu saat ellina baru masuk ke dalam rumah gadis itu sangat sulit untuk akrab. Sekitar enak bulan baru dia bisa luluhkan gadis kecil yang masuk ke rumah nya itu. Tetapi tak bertahan lama, dirinya malah membenci gadis itu tanpa alasan yang jelas. Alasan utamanya adalah karena nadia.
Baru saja hendak kembali bekerja ponsel miliknya berbunyi. Arion merogoh sakunya dan terlihat nama sang mami di sana.
"Halo mi ada apa?"
"Ar kamu kesini sekarang yah? Tadi Damian jatuh. Mami serlok". Ujar mami rasti dengan napas memburu lalu mematikan ponselnya secara sepihak.
Arion terperanjat. Langsung saja dia raih kunci mobilnya dan berlari kuat. Tak lupa melemparkan pekerjaan nya pada ronie.
Setelahnya tak memperdulikan kondisi arion membawa mobil dengan ugal ugalan. Padahal kondisi jalan cukup ramai. Tapi tak peduli dengan hal itu arion lebih peduli pada kondisi sang putra.
Sampai di rumah sakit arion buru buru mencari ruangan yang sudah di beritahukan maminya tadi di room chat
Ellina yang sedang menyuapi makan sang putra terkejut mendengar dobrakan di pintu rumah rawat. Atensinya menoleh dan menajam saat melihat arion masuk dengan terburu buru.
__ADS_1
"Sayang Damian kenapa? Sakit apa? Parah?" tanya arin beruntun secara spontan. Mengecek seluruh tubuh sang putra yang terduduk di atas berangkar.
Ellina mendengus pelan mendengar kata sayang dari mulut pria brengsek di depannya. Lebay cibir nya. " Damian tidak papa. Dia hanya terluka kecil karena jatuh dari pohon mangga di rumah". Jawab ellina tanpa menatap arion.
Arion menghela napas lega. Tersenyum tipis pada sang putra lalu mengecupi seluruh wajahnya dan dia peluk tubuh putranya. Dia khawatir, sangat, saking khawatir nya jantungnya hampir copot mendengar Damian masuk rumah sakit.
Tadi Damian memang memanjat pohon mangga yang ada di pekarangan rumah mereka. Damian yang tak hati hati membuatnya jatuh dari pohon itu. Meski tak tinggi memang tetapi karena kekhawatiran sang mami yang ngotot meminta di cek ke RS akhirnya ellina menurutinya. Apalagi dalam memiliki riwayat kecelaan hingga membuat mami rasti panik. Dari pada tak di turuti taukan kalau ibu ibu itu bagaimana? Cerewet.
"Ayah. Ayah jangan khawatil, Damian baik baik aja kok. Cuma sakit dikit kalena jatuh. Nih". Ucap Damian menunjuk kakinya yang terluka di tutupi hansaplast kecil bergambar dinosaurus.
Arion mengangguk dengan senyum merekah. " syukurlah. Lain kali hati hati jika bermain". Menoel pelan hidung sang putra dengan gemas.
Damian mengangguk terlebih dahulu menjawab ucapan ayahnya laku membuka mulutnya untuk menerima suapan.
"Lain kalau jangan buat ayah khawatir boy." peringat arion. Damian menyimpan sebelah tangan mungilmya di pelipis. Seolah siap dengan apa yang di ucapkan
"Damian tidak papa, hanya terluka kecil saja. Kamu aja yng lebay terlalu mengkhawatirkan nya. Damian itu kuat, hal kayak gini sudah terbiasa." jelas ellina.
Tak bermaksud menenangkan arion hanya mengungkapkan kekuatan putranya saja.
__ADS_1
Mengukir senyumnya Arion lirik pelan sang istri yang dengan telaten menyuapi putra mereka. "Ya Damian memang kuat. Seperti bundanya". Ujar arion dengan sedikit nada menggoda.
Ellina rak menghiraukan nya dan memilih pokus menyuapi damian. Hingga mami rasti datang dengan makanan di tangannya mereka makan siang bersama di rumah sakit.