
"Sayang ganti baju dulu, baru tidur". Peringatan ellina pada Damian yang hendak tertidur.
Damian kembali bangkit. Menurut pada sang bunda yang memintanya untuk berganti pakaian. Damian sudah mandiri. Menyimpan baju kotor ke tempatnya dan memakai baju baru dengan rapi.
Kemudian menggosok gigi serta membasuh mukanya bersama sang ayah yang masih di kamar mandi. Ellina sudah mengajarkan Damian untuk menggosok gigi dan membasuh mukanya sebelum tidur dari kecil.
" bunda, ayo tidul". Ajak Damian menarik ellina ke atas ranjang.
Ellina menggiring Damian dan Membaringkan nya di atas kasur. Seperti biasa dia menceritakan dongeng sebelum tidur. Damian sudah tak lagi menyusu sebelum tidur tetapi selalu meminta di ceritakan dongeng sebelum tidur.
Dengan tepukan pelan di paha dan usapan lembut di tangan sang putra Damian tertidur dengan pulas.
"Ellina aku ingin berbicara padamu" ujar arion yang baru keluar dari walk in kloset.
"Tinggal bicara saja." ucap ellina ketus.
Arion mendekat dan duduk di ujung ranjang. Di mana ellina baru saja menyimpan buku cerita di nakas.
"Kenapa tadi tak menghampiriku?".
Ellina mengernyit. Menatap suaminya dengan bingung. " menghampirimu? Apa maksud mu?" tanya ellina tak mengerti.
"Tadi, saat aku sedang berbicara dengan keluarga om candra kamu kenapa gak ikut Damian menghampiri aku. Kata Damian tadi katanya kamu ikut kesana cuma tiba tiba balik lagi dan membiarkan Damian sendiri yang datang." jelas arion mengingat kejadian tadi.
Ellina membulatkan mulutnya. "Oh, tidak papa. Aku cuma ada keperluan dengan mami". Jawab ellina dengan ketus. Dirinya kembali mengingat kembali kejadian dimana suaminya di kecup wanita lain. Hatinya tiba tiba panas mengingat itu.
" kamu melihat interaksi aku dan alena tadi?" tanya arion. Dirinya tiba tiba curiga dengan perubahan sikap ellina yang semakin dingin.
__ADS_1
"I-interaksi apa? Aku gak tahu". Elak ellina. Memalingkan wajahnya kesamping mencoba menutupi kebohongannya.
" kamu serius? Jujur el kamu lihat gak aku sama alena?" tuntut arion. Tak percaya dengan jawaban ellina yang tampak ragu.
"Enggak! Emang nya kenapa? Kamu suka sama dia? Yaudah terserah. Gak peduli aku". Tiba tiba nada ellina meninggi. Terdengar sewot di telinga arion dan membuat pria itu menahan senyumnya.
" beneran enggak? Jujur aja kamu lihat gak?" arion memang jahil. Malah semakin menggoda ellina.
"Aku bilang enggak ya enggak! Kamu ngeyel banget kalau di bilangin." kekeh ellina menutupi kebohongan nya.
Arion tersenyum pelan melihat wajah ellina yang memerah sembari memalingkan wajahnya.
"Iya aku percaya. Yaudah dengerin aku sekarang bisa?" nada bicara arion melembut.
"Dari tadi juga di dengerin". Ujar ellina ketus.
Arion menghela napasnya. Perempuan kalau cemburu beginikah?
"Tapi kalau kamu gak suka nanti aku larang dia kayak gitu lagi. Maaf kalau itu menyinggung hati kamu". Ujar Arion pengertian.
Dia tak mau jika ellina salah paham dan mengakibatkan keretakan kembali pada rumah tangganya. Baru saja kemarin mereka berbaikan masa sekarang harus kembali bertengkar. Arion sangat menghindari hal itu.
Ellina menoleh. Tertegun dengan ungkapan Arion. Dirinya tak menyangka jika pria itu akan dengan detail menceritakan kejadian tadi yang dirinya sendiri sudah lihat tanpa meminta.
" kenapa aku harus gak suka? Terserah kamu lah itukan hidup kamu". Ucap ellina. Dari nada bicaranya memang melembut namun masih ketus.
"Kamu kan istri aku. Wajar kalau kamu gak suka, kamu berhak buat ngelarang aku." bujuk arion.
__ADS_1
"Terus kamu maunya gimana sekarang?"
"Nggak gimana gimana. Aku cuma minta kamu jangan salah paham soal aku dan Alena. Kami cuma sebatas sepupu gak lebih." ucap Arion.
Ellina mencebikkan bibirnya. "Siapa juga yang salah paham." gumam ellina yang masih dapat di dengar Arion.
Pria itu tersenyum melihat wajah istrinya yang memerah dari samping.
"Udah kan bicaranya? Aku ngantuk, mau tidur". Ujar ellina sambil memperbaiki posisi tubuhnya. Bersiap siap untuk tidur.
" good night." ujar Arion sebelum ikut naik ke atas ranjang dan berbaring di sisi Damian. Seperti biasa pria itu memeluk tubuh mungil Damian yang tertidur.
Satu jam berlalu nyatanya ellina tak bisa tidur. Dirinya sudah berkali kali memejamkan matanya tetapi tak matanya mengantuk.
Pikirannya melayang pada percakapan tadi. Entahlah bagaimana hatinya menghangat mendengar pengakuan Arion. Meskipun ia menepis berkali kali perasaannya tetap
saja hatinya menghangat setiap kali mendengar perkataan atau perlakuan hangat dan manis Arion padanya.
"Good night". Gumam ellina tanpa sadar membalas ucapan suaminya tadi. Dan setelahnya dia tertidur tanpa sadar.
Saat pagi menjelang Arion di buat gembira dengan keberadaan satu set pakaian kerja miliknya. Yang tentunya di siapkan oleh sang istri. Bolehkah dia berharap lebih dengan tanda ini?
Ellina yang merasa keterlaluan dengan sikapnya memutuskan menyiapkan pakaian untuk sang suami. Sebagai tanda maaf tanpa ucapan. Tanpa sadar ellina mulai membuka hati dan mencoba menerima keberadaan Arion di sisiNya.
Tanpa berhenti tersenyum Arion memakai pakaian nya dengan riang. Bahkan terdengar siulan merdu dari mulutnya seolah menggambarkan isi hatinya saat ini.
Wajah kebahagiaan Arion itu rupanya di sadari oleh anggota keluarga lainnya. Mereka saling melirik dan melempar senyum satu sama lain. Seolah bertanya ada apa dengan putra sulung nya.
__ADS_1
" wajah mu kenapa ar? Sepertinya bahagia sekali. Apa baru saja mendapat jackpot?" tanya papi dion dengan nada candaan. Merujuk pada hal yang wajar di lakukan pria berpasangan halal.
"Mungkin". Jawab Arion pelan. Tersenyum tipis sembari menatap istrinya yang tengah menyuapi sang putra makan.