
"Jadi bagaimana rat? Ceritakan kisah kamu bisa disini dan sudah menikah? Kenapa kamu gak cerita sama aku sih rat?" omel mbak fitri. Dirinya merasa tak di anggap oleh teman satu kostnya dulu.
Ellina menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Bukan begitu mbak. Aku gak maksud buat nutupin tapi emang pernikahan nya juga dadakan". Jawab ellina meringis malu.
" ya sudah ceritakan sekarang. Aku ingin mendengarnya". Titah fitri dengan nada kesalnya.
Pada akhirnya ellina menceritakan kisah nya bisa disana sekarang. meski tidak semua ia cerita kan karena itu menyangkut sesuatu masa lalunya yang berbohong. Mereka berada di sebuah kafe yang cukup dekat dengan perusahaan T.A company milik keluarga damarta.
"Setelah mbak fitri menikah, tak lama dari sana bu rina meminta aku buat pindah kerja ke jakarta. Aku gak bisa nolak dan akhirnya aku bekerja di kafe keponakannya. Waktu ketemu pemilik nya aku terkejut ternyata dia sahabat aku waktu sma. Dari sana aku ketemu orang tua aku dan tinggal dengan mereka". Jelas ellina.
Mbak fitri menyimak. Mendengarkan kisah temannya yang sekarang tinggal di jakarta. Satu tangannya memegang erat putranya yang di ajak bermain oleh damian.
" benarkah? Aku tidak menyangka sekali rat. Terus cerita kamu bisa nikah gimana?" tanya fitri menuntut.
Ellina terdiam sebentar. Bingung dan gelisah bagaimana cara menjelaskannya terhadap mbak fitri. Apalagi dulu dia berbohong telah menikah dan memiliki damian dengan suaminya yang telah pergi. Yang nyatanya sekarang dia menikah dengan ayah anaknya sendiri.
"A-aku menemukan pria yang mengerti diriku dan damian. Karena tak ingin berlama lama kami langsung ke pernikahan saja". Ujar ellina berbohong. Yang nyatanya jauh sekali dari realita.
" benarkah? Syukurlah. Semoga pernikahan mu langgeng yah rat dan bahagia terus bareng si ganteng damian ". Harap fitri menoel pipi damian yang asik mengajak ngobrol putranya.
FYI fitri dan ellina itu berbeda agama. Meski begitu toleransi keduanya begitu terjalin baik. Tak saling membedakan karena berbeda keyakinan.
" Terima kasih mbak. Oh ya ini siapa yang ganteng ini namanya?" ellina bertanya sembari mengajak putra mbak fitri bermain.
"Namanya afriza". Jawab fitri.
" uuh lucu banget si kamu. Jadi keinget dulu waktu damain masih jadi bayi". Ujar ellina. Melihat bayi yang begitu gempal itu mengingat kan nya dulu pada damian saat masih kecil. Sangat menggemaskan.
"Berapa umurnya mbak? " kembali ellina bertanya.
"Baru mau masuk enam".
" bunda bayinya lucu banget'. Ujar damian yang tak kalah gemas dengan bayi tampan di gendong an fitri. Apalagi dari tadi bocah itu melempar senyum manisnya.
"Iya, lucu banget yah". Balas ellina mengelus kepala damian pelan yang sibuk mengajak berbicara afriza.
" bunda pengen bayi". Celetuk damian tiba tiba mampu membuat ellina tertegun.
Dia menatap kaku sang putra. Wajahnya memerah apalagi saat mbak fitri melihatnya dengan senyuman aneh. Sangat mencurigakan.
"Bayi? Iya nanti kita beli bayinya ya". Ujar ellina mengulas senyum malu.
__ADS_1
Mata damian berbinar. " benarkah? Kapan bunda?" tanya nya terdengar antusias.
"Y-ya nanti kalau ayah sudah pulang". Sungguh ellina mem alasan dengan asal.
Dia berusaha mengalihkan perhatian damian dengan mengajak bayi afriza berbicara hingga bocah itu tertawa tawa.
Obrolan mereka cukup lama sekitar dua jam. Ellina memutuskan pulang saat mbak fitri telah lebih dulu pergi bersama suaminya yang menunggu di mobil tadi. Katanya mereka mau ke dokter untuk konsultasi. Ellina juga mendapat alamat rumah mbak fitri karena wanita itu yang memberitahunya. Katanya siapa tahu ellina mau mampir kesana.
"Opa". Teriak damian menghampiri paling dion yang sigap menangkapnya.
" cucu opa sudah pulang? Bawa apa ini?" tanya papi dion melihat cucunya yang memegang sesuatu.
"Ini cilok". Ujar damian sembari mengeluarkan makanan berbentuk bulat itu.
" opa mau?" ujarnya sembari menusuk satu cilok dan menyodorkan nya ke depan mulut sambil kakek.
Sontak papi dion membuka mulutnya. Dan dengan senang hati damian menyuapi opanya itu.
"Enak gak opa? Ini kesukaan damian loh". Ujar damian sembari memasukan satu cilok ke dalam mulutnya.
Sembari mengunyah papi dion mengangguk. Tersenyum pada cucunya yang sedang mengunyah itu. Terlihat menggemaskan dengan pipi gembul nya yang baik turun.
Setelah membersihkan dirinya sendiri dan sudah siap ellina memandikan damian yang diantarkan oleh opanya. Tak lupa wajahnya yang penuh dengan kecap dari cilok yang di belinya di pinggir jalan sebelum mereka kembali ke rumah.
Damian yang ternyata sudah mengantuk tertidur pulas setelah di mandikan. Bocah itu terlihat begitu damai ketika tidur berbeda sekali dengan saat dia bangun. Aktif dan tidak bisa diam.
Karena Damian tidur ellina memilih mengobrol di belakang bersama mami serta prisilla yang datang.
Sekedar info leo dan prisilla sudah pindah dari rumah mami rasti dan papi dion. Katanya supaya bisa lebih mandiri. Meski begitu mereka sering sekali ke rumah mami rasti atau mama rania. Dalam seminggu bisa dua kali meski tidak sampai menginap.
"Jangan terlalu bekerja berat berat. Mami akan kirimkan art buat membantu beberes di rumah kamu sil. Kamu lagi hamil istirahat aja". Ujar mami rasti.
Dirinya khawatir dengan kondisi menantunya. Mendengar jika rumah yang mereka tempati tidak kecil dan belum ada art di sana membuatnya berinisiatif untuk membawa art. Kasihan jika prisilla harus beres beres rumah sebesar itu apalagi dia lagi hamil.
Prisilla menatap mami nya dengan terharu. " Terima kasih mi". Ujarnya yang di angguki mami rasti.
Sore hari prisilla pulang karena leo yang sudah datang menjemputnya. Leo semakin protektif semenjak kehamilan pertama istrinya.
Begitupun dengan leo Arion pulang berbarengan dengan sang adik. Bedanya leo di sambut hangat oleh istrinya sedangkan dirinya tidak.
Meski begitu Arion tak terlalu kecewa karena putranya datang menyambutnya dengan begitu hangat. Bahkan sampai dia ikut menemaninya mandi di kamar mandi.
__ADS_1
"Ayah belikan aku bayi". Celetuk Damian tiba tiba. Matanya penuh dengan harapan.
Arion seketika menoleh, terkejut dengan permintaan putranya. Pikirnya adalah Damian meminta di berikan adik bayi, Damian masih belum bisa membaca huruf R dengan jelas.
Setelah memakai baju dia membawa putranya duduk di perutnya. Damian pun dengan senang hati duduk di atas perut ayahnya.
Mereka menoleh saat mendengar suara pintu terbuka, menampilkan ellina yang masuk dengan penampilan khas dari dapur.
" bunda belikan aku bayi". Pintar Damian tiba tiba.
Ellina yang hendak berlalu seketika berhenti di tempat. Terkejut dengan keinginan putranya. Dia merutuki dirinya yang lupa memperingati Damian. Kenapa juga anaknya itu masih ingat?
"Nanti kalau ada kita beli". Ujar ellina berlalu ke walk in kloset untuk mengganti pakaian yang kotor terkena noda.
Percayalah wajah dan tubuhnya sudah panas dan memerah. Malu sekali dengan permintaan putranya.
" yey nanti kita beli di mana ayah?" tanya Damian senang mendengar jawaban bundanya.
Arion yang mengerti sontak mengikuti alur cerita. "Di pasar". Jawabnya.
" kapan kita kesana nya?" seolah tak ingin berhenti Damian terus bertanya.
"Kalau ayah tidak bekerja". Jawab Arion.
" yah masih lama dong". Tiba tiba damian tertunduk sedih.
Karena tak tega melihatnya Arion pun mencoba menenangkan nya. "Kalau bukan hari ayah libur bayi nya suka belum ada. Biasanya bayi nya ada kalau ayah sedang libur bekerja". Ujar Arion mencubit pelan lengan damian.
Damian tak merasa kesakitan justru dia mengangguk dan bermain dengan ayahnya. Arion senang karena Damian sudah tak sedih lagi.
Malamnya setelah Damian tidur Arion hendak mengajak ellina berbicara soal permintaan Damian. Kiw kiw< siapa tahu mau di ajak.
Tetapi dirinya terkejut dengan sikap ellina yang tiba tiba berubah entah karena apa.
" el aku ingin bicara sama kamu". Ujar Arion. Dia belum tidur karena menunggu istrinya.
Ellina yang baru saja naik ke tempat tidur tak memperdulikan nya dan tidur di samping Damian. "Besok aja aku ngantuk". Jawab ellina dengan ketus.
Arion menatap istrinya dengan heran. Apa yang terjadi? Apa dirinya membuat salah hingga sikap ellina kembali berubah.
Karena tak ingin menelan kecewa terlalu lama Arion memilih untuk tidur sembari memeluk putranya. Semoga tidak ada permasalahan lagi di antara mereka.
__ADS_1