
"Tadi itu Damian lagi main sama mami karena istri kau lagi mandi. Waktu mami lagi bawa camilan Damian naik ke pohon, terus pas mami balik lagi Damian udah jatuh. Mami panik dan langsung bawa Damian ke rumah sakit. Takut kenapa napa". Penjelasan mami rasti mengenai kejadian tadi.
Mereka tengah berada di perjalanan pulang ke rumah karena Damian tak sampai harus di rawat. Karena keheningan di mobil arion berinisiatif meminta Sang mami menceritakan kronologi kecelakaan Damian tadi. Tak mungkin dia meminta istrinya bercerita sedangkan sejak tadi gadis itu pokus saja pada gawainya. Membuat arion merasa tak lebih penting dari benda pipih itu.
Posisinya sekarang dirinya menyetir dan ellina di kursi sampingnya. Sedangkan mami rasti di belakang bersama si tampan Damian.
" kamu gak ke kantor lagi ar?" tanya mami rasti.
"Nggak mi. Pekerjaan udah di beresin sama ronnie". Jawab arion.
Sekarang sudah sore dan sebentar lagi juga jam pulang. Dia sudah mempercayakan soal pekerjaan pada ronnie. Sang sekertaris yang setia.
" mami mau mampir dulu ke sesuatu tempat?" Tanya arion pada sangat mami. Menoleh lewat central mirror di mobilnya dan tersenyum pada sangat putra yang di balas oleh damian.
"Mami sih kayaknya tidak deh. Mau beli makanan juga di rumah pasti bi inah sudah masak".
Setiap jadwal pulang pulang kantor dia memang menyuruh bi inah untuk selalu menyiapkan makanan tanpa di minta.
"Kalo kamu, mau mampir dulu tidak?" tanya arion lembut. Pada sangat istri yang cuek bebek terhadap situasi.
Ellina menoleh sebentar lalu menggeleng. Dirinya sedang malas dan ingin cepat cepat pulang saja.
Meski tak mendapat jawaban yang di harapkan arion tetap berusaha menyemangati dirinya sendiri. Semakin hari semakin kesini sikap istrinya masih cuek saja. Membuatnya harus berusaha menguatkan diri lagi.
"𝘚𝘢𝘣𝘢𝘳 𝘢𝘳𝘪𝘰𝘯." 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯𝘯𝘺𝘢.
Setelah sampai tanpa menunggu sang suami ellina masuk lebih dulu bersama damian dan mami rasti.
Arion menghembuskan napasnya kasar. Melihat sikap sangat istri yang kadang membuatnya frustasi. Dia raih botol minum yang ada di dasbor mobilnya dan meneguk nya hingga tandas dalam satu kali tegukan. Mencoba mendinginkan kepalanya yang sudah seperti akan pecah menghadapi sikap sangat istri.
Ia keluar dengan menghentakan pintu mobilnya keras. Hingga begitu terdengar jelas sampai ke dalam rumah.
__ADS_1
"Aku mau mandi". Ujar arion begitu tiba di dalam Kamarnya.
" ayah mau mandi?" tanya Damian kecil. Arion tersenyum lalu mengangguk.
"Mau mandi baleng ayah nda". Damian melompat lalu meminta izin pada bundanya yang tengah duduk di atas ranjang.
Ellina tersenyum lalu mengangguk. Membiarkan Damian di bopong oleh arion ke kamar mandi untuk mandi bersama.
Ellina melepaskan tasnya lalu menyimpan nya di nakas. Meregangkan tubuhnya yang sudah sangat pegal dari tadi. Ellina sempat terkejut tadi saat arion datang. Padahal pria itu sedang bekerja di kantor.
Sembari menunggu jagoan nya mandi ellina memilih membersihkan wajahnya dengan kapas yang dia basahi dengan micellar wather.
Terdengar tawa yang bersahutan dari kamar mandi. Ellina sempat menoleh pelan memastikan, apa yang di lakukan putranya hingga begitu tertawa begitu terdengar.
Setelah menghentikan bajunya ellina memainkan ponselnya sebentar sebelum kamar mandi terbuka hingga menampilkan Damian yang terbungkus handuk putih di gendongan arion yang hanya mengenakan handuk di pinggangnya.
Ellina memalingkan wajahnya, mendinginkan pipinya nyangka terasa panas. Bagaimana tidak di depannya arion yang hanya menggunakan handuk di pinggang. Tubuh atasnya terpampang jelas serta perutnya yang seperti sawah itu. Tak lupa air yang bercucuran dari rambut pada tubuh itu. Membuatnya terlihat sangat seksi.
"Sini pakai baju sama bunda". Ajak ellina berjongkok di depan Damian. Memupuk mupuk pelan tubuh Damian agar kering menggunakan handuk yang di pakainya.
"Nda kenapa bulung ayah besal tidak sepelti bulung damian?"
Blush!
Ellina terdiam. Pertanyaan putranya sungguh di luar nalar. Ellina melirik arion yang berdiri di belakang putranya. Sialnya pria itu melemparkan senyum menggodanya. Tatapan pria itu seolah mengartikan sesuatu. Dan ellina sangat mengerti sebagai wanita.
Menunduk dalam, ellina berusaha mendinginkan kembali pipinya yang memanas. Dapat di pastikan wajahnya semerah tomat yang sudah masak.
"Ekhm! Sa-sayang nanti jika Damian besar b-burung Damian juga bakal besar". Ellina berusaha memberi sedikit pengertian meski dengan kaku dan terbata bata.
" benalkah? Punya ayah besal sekali nda, aku juga mau". Ucap Damian kecil.
__ADS_1
Semakin memerah pula pipi ellina. Bolehkah dia menghilang sekarang? Melihat tatapan mengejek arion membuat nya semakin malu. Sangat malu bahkan!
"Iya nanti bakal sebesar punya ayah". Bujuk ellina dengan pelan. Takut kedengaran oleh pria yang masih stay berdiri.
Namun soalnya arion tak tuli. Dia mendengarnya bahkan sangat jelas. Senyum tak bisa di tahan pria itu. Kenapa anaknya sangat pintar?
"Benal nda?"
"Benar. Sekarang Damian pakai baju dan segera makan cair cepat gede".
Tak ingin terjebak ellina langsung membawa Damian ke dalam ruang ganti bocah itu. Ingat ruang ganti Damian dan dirinya berbeda.
Tak lama terdengar jelas tawa arion dari dekat ranjang. Ellina semakin ingin menenggelamkan diri. Dia memainkan baju Damian bahkan dengan tremor. Dalam hati dia merutuki dirinya sendiri.
"𝘉𝘰𝘥𝘰𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵 𝘴𝘪𝘩 𝘦𝘭, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵. 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘦𝘩". 𝘉𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘦𝘭𝘭𝘪𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘣𝘶.
" nda kenapa? Sakit? Tangan nda gemetel". Tanya Damian khawatir dengan bundanya yang sejak tadi gemetar.
Ellina menggeleng. "Enggak sayang. Bunda sehat, tangan bunda gemeter karena pegel aja. Ayo sekarang pakai celananya".
Di luar sana arion tergelak melihat muka istrinya yang memerah seperti tomat. Lucu sekali, kenapa istrinya se menggemaskan itu.
Sepertinya dia harus mengajari Damian banyak hal. Supaya bisa menjadi senjatanya meluluhkan ellina, tak mungkin kan ellina menolak permintaan Damian.
Arion masuk ke dalam ruang ganti dan mulai melepaskan handuk di pinggangnya. Menampilkan tubuh polos atletis miliknya. Seperti orang gila arion tersenyum sambil sesekali menggeleng. Teringat dengan wajahnya istrinya yang memerah.
Sontak saja arion menunduk. Melihat miliknya yang memang tak bisa di bilang kecil karena nyatanya memang sebesar itu.
"Dasar burung besar! Bikin muka orang merah saja". Rutuk arion pada batangnya.
...****************...
__ADS_1
happy Reading semuanya 💐💐💐💐