jodohku kakak angkatku

jodohku kakak angkatku
part 46


__ADS_3

Entah hanya merasa atau menang begitu kenyataannya. Makan malam malam ini begitu tegang. Tidak ada percakapan apapun di antara mereka. Hanya dentungan sendok dan piring serta celotehan damian yang makan di kursi khusus samping ellina.


Diam diam arion melirik pada damian, bahkan tak segan untuk memperhatikan nya. Terkadang matanya tak sengaja bersifat apa dengan bocah tampan itu. Namun hanya sebentar karena damian mengalihkan perhatiannya.


Entahlah, kenapa dadanya tiba tiba berdenyut hebat. Seperti ada sesuatu yang menekannya dengan kuat. "𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘶𝘵𝘳𝘢𝘬𝘶? "


"El, kamu akan tetap bekerja? " tanya papi dion akhirnya mengakhiri ketegangan itu.


Ellina mengangguk. "Aku akan tetap bekerja. Prisilla sudah mempercayakan kafenya padaku, aku tak ingin lepas tangan begitu saja". Jawabnya.


" oh. Yasudah sesenang nya kamu aja". Ucap papi dion.


Selesai makan mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Kecuali ellina yang sedang menidurkan damian terlebih dahulu. Seperti biasa damian tak bisa tidur tanpa menyusu lebih dahulu.


Ellina tak menyangka jika kamarnya masih sama seperti sebelum dia pergi. Padahal sudah dua tahun tak di tempati.

__ADS_1


Selesai menidurkan damian hingga pulas ellina turun ikut bergabung bersama keluarganya. Sedikit terkejut jika ternyata arion pun ikut bergabung di sana.


Ellina duduk di samping leo yang tengah asik menonton berita. Perasaannya tak enak saat ini apalagi dia tak sengaja melirik arion yang ternyata tengah menatapnya.


Rasa takut tiba tiba menyerang dirinya. Kala ingatan tentang ancaman arion menari nari di pikirannya. Membuat hati ellina cemas dan tak tenang.


Saat merasa mengantuk ellina memilih untuk pergi dari sana. Dia pamit dan berlalu untuk menyusul putranya yang tertidur.


Tanpa ellina sadari ternyata arion diam diam mengikuti ellina tanpa suara. Saat ellina hendak masuk ke kamarnya arion mencekal tangan ellina. Membuat gadis itu menoleh dan menepis nya.


"Kita perlu bicara!" ujar arion tegas.


Dia hendak kembali masuk namun urung saat mendengar pertanyaan arion.


"Apa damian putraku?" tanya arion cepat. Dadanya sudah bergemuruh saat menanyakannya.

__ADS_1


Ellina menatap arion tajam. "Dia bukan putramu. Dan dia tidak ada hubungannya denganmu! " sergah ellina tajam lalu berbalik.


"Jika bukan putraku lalu putra siapa?" arion mencekal kembali tangan ellina yang lagi lagi ellina tepis kuat.


" apa urusannya denganmu? Mau dia putra siapapun itu bukan urusanmu. Jadi jangan pernah mengganggu nya!" peringat ellina tegas dan tajam. Lalu berlalu dan segera menutup pintu kamarnya tak lupa ia kunci.


Buru buru dia hampiri damian yang sudah tertidur dengan pulas. Bayi tampannya itu tampan tenang sekali saat tidur. Ellina mengusap pelan pipi damian dan dia kecup kening putranya halus.


Dadanya berdebar kencang saat arion menanyakan damian putranya. Hatinya benar benar tak tenang dengan tubuh yang menggigil. Dia gemetaran bukan main. Tanpa sadar ellina mengeluarkan air matanya.


Dirinya masih sakit hati atas perbuatan pria itu yang menyuruhnya melenyapkan anaknya padahal itu adalah darah daging pria itu sendiri. Dan sekarang arion datang dan menanyakan jika damian putranya?


Ingin sekali ellina tertawa namun bukannya tertawa justru ellina menangis sembari memeluk bayi tampan nya. Dia terisak saat mengingat kembali betapa sakitnya ucapan arion kala itu.


Arion berdiri di depan pintu kamar ellina dan mungkin juga anaknya? Dia mematung dengan degup jantung yang begitu terdengar.

__ADS_1


Entah kenapa dia tak mempercayai ucapan ellina yang mengatakan jika damian bukan putranya. Justru naluri nya mengatakan jika damian adalah anaknya yang dia suruh lenyapkan.


Tanpa sadar tubuh arion linglung. Melihat betapa tampan damian dan begitu mirip sekali dengan dirinya, arion sangat yakin jika damian adalah putra nya. Mau bagaimana pun ellina menolak namun kenyataan tak dapat di ubah. Arion akan cari cara untuk mencari tahu tentang damian.


__ADS_2