
Ellina mondar mandir di depan ruang rawat Damian. Sudah satu jam lamanya pintu itu tak kunjung terbuka juga membuatnya khawatir hingga mengigit kuku jari jarinya. Tubuhnya sudah panas dingin dan perasaan sudah tak menentu. Sedih, marah, khawatir semua ya bercampur jadi satu.
Arion yang melihat kekhawatiran ellina sebenarnya ingin sekali menenangkan nya. Membawanya ke pelukan lalu dia bisiki kata kata yang menenangkan. Namun itu tak mungkin, mengingat hubungan nya dengan adik angkat nya itu tak baik.
Ceklek
Pintu terbuka menampilkan dokter dengan jas putihnya yang sudah tak lagi bersih. Buru buru ellina menghampirinya begitu juga arion.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya ellina berusaha tenang meski raut wajahnya begitu kentara khawatir.
Siapa yang tidak khawatir saat nyawa anaknya sedang di pertaruhkan?
"Anak ibu kekurangan darah. Setok kami sudah habis di berikan tetapi masih kurang satu kantung lagi". Jelas dokter itu.
" ambil golongan darah saya dok". Usul ellina cepat.
"Pasien memiliki golongan apakah golongan darah ibu sama?" tanya dokter pria itu.
Seketika ellina menggeleng lemah. Golongan darahnya A dan damian AB yang artinya tidak cocok dengan milik nya.
"Golongan darah saya A dok". Lirih ellina dengan berkaca kaca.
" golongan darah saya AB dok. Ambil punya saya saja". Tawar arion cepat.
Dokter itu mengangguk. "Mari ikuti saya. Kita harus cepat". Ujarnya.
Arion mengangguk dan mengikuti dokter pria itu. Sebelum pergi pria itu menatap ellina sekilas dengan tatapan yang sulit di artikan.
Begitupun ellina yang sudah pasrah akan takdirnya. Kini yanga ada di pikiran nya adalah menyelamatkan Damian tak peduli jika harus mengorbankan pengorbanan nya selama ini. Dirinya harus menurunkan egonya sedikit supaya nyawa putranya selamat.
Ellina terduduk dengan kaki yang mengetuk ngetuk lantai. Orang tuanya sudah dia hubungi tadi dan sedang menuju ke sini.
__ADS_1
" ellina bagaimana keadaan damian?" tanya mami rasti dengan napas yang ngos ngosan.
Dirinya serta suami dan anaknya baru datang. Mendengar damian kecelakaan mereka yang baru sampai di pekarangan rumah kembali memutar balik dan menuju kesini. Napasnya masih memburu karena khawatir dengan kondisi damian.
" belum tahu mi. Masih di tangani dokter". Jawab ellina lesu bahkan nada suaranya bergetar.
Perempuan itu menyugar rambutnya kebelakang sembari menahan tangisnya. Dirinya khawatir dan takut sekarang, bagaimana jika Damian tak selamat?
Tahu kondisi putranya mami rasti langsung meraih tubuh rapuh ellina kepelukan nya. Mendapat pelukan hangat sontak air mata ellina jatuh seketika. Tangisnya begitu deras hingga tubuhnya bergetar di dalam pelukan mami rasti. Membayangkan Damian tiada rasanya hidup ellina sudah tak ada lagi artinya. Dia merasa gagal menjadi seorang ibu.
"Gimana keadaan damian mi? Kalau damian gak ada gimana?" tanya ellina dengan lemas.
"Sstt! Jangan bicara seperti itu el. Berdoa saja, kita yakin damian pasti akan selamat". Tegur papi dion tak suka dengan pertanyaan ellina.
" maafin ellina mi, ellina sudah gagal jadi seorang ibu. El gagal jagain damian". Lirih ellina lagi. Dadanya semakin sesak hingga rasanya dia akan mati sekarang. Tubuhnya masih sangat lemah hingga saat ini.
Mami rasti menggeleng cepat. Dirinya jadi ikut menangis melihat kesedihan putrinya dan kondisi cucunya saat ini.
"Tidak sayang jangan bicara seperti itu. Kamu sudah berhasil jadi ibu terbaik, kamu gak pernah gagal. Buktinya damian tumbuh dengan sangat baik". Ucap mami rasti berusaha menenangkan ellina.
" Damian kuat El, sama kayak bundanya. Jangan sedih, Damian pasti bakal sembuh dan kembali sehat". Kata kata menenangkan dari leo lumayan membuat ellina tenang. Dirinya mengangguk sembari menghapus air matanya. Bibirnya mencoba memberikan senyuman meski sangat tipis.
"Makasih kak, mi, pi". Ujar ellina merasa terharu.
Mereka semua tersenyum dan mengangguk. " gak perlu terimakasih. Kita semua keluarga" ujar leo.
Satu jam menunggu akhirnya dokter pria tadi keluar dari ruangan Damian. Ellina bangkit dan langsung memburunya. "Bagaimana keadaan Damian sekarang dok? " tanya ellina cepat.
Dokter itu tersenyum. "Syukurlah putra anda berhasil operasi dan sudah melewati masa kritis". Ujar dokter itu membuat mereka mengucapkan puji pada Tuhan.
" syukurlah". Sahut mereka bersamaan.
__ADS_1
"Apakah boleh saya menjenguknya?" tanya ellina.
"Untuk sekarang biarkan Damian beristirahat dengan tenang. Setelah semuanya stabil kalian boleh menjenguknya ke dalam". Jawab sang dokter.
Dia memberi tahu jika Damian sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Jadi mereka bisa menunggu Damian dengan leluasa.
Setelah memberi tahu kondisi pasien nya dokter itu pamit untuk melakukan pekerjaan selanjutnya.
Ellina berbalik dan langsung menubruk tubuh ibunya. Meluapkan rasa leganya karena Damian selamat. Dirinya berkali kali mengucapkan puji syukur hingga menangis bahagia.
" sayang kamu pulang dulu gih, biar mami dan papi yang jagain Damian di sini. Kamu pasti perlu mandi dan mengisi perut". Titah mami rasti perhatian.
Ellina menggeleng tegas. "Tidak mi aku disini saja menunggu Damian sadar". Ujar ellina tak dapat di tolak. Dirinya akan menunggu hingga putranya sadar.
Tak dapat menolak keinginan ellina mereka akhirnya memutuskan untuk ke ruang rawat Damian. Meski hanya dari luar tapi ellina dapat melihat Damian dari kaca di ruangan itu.
Tubuh mungilnya yang masih kecil penuh dengan selang kecil yang menempel di hidung serta tangannya. Membuat rasa bersalah nya kembali mencuat. Rasa gagal menjadi seorang ibu kembali hadir. Hampir saja ellina menangis jika tak buru buru mendongak. Dia tak boleh lemah, dia harus kuat demi anaknya.
Mereka yang sedang menunggu Damian menoleh saat melihat arion menghampiri mereka. Dengan wajah datar dan dingin.
" kamu dari mana saja kak?" tanya mami rasti. Dari tadi dia tak melihat keberadaan putra sulungnya di sana.
Mendengar pertanyaan mami nya arion menatap ellina. Tentu saja tubuh ellina panas dingin. Bagaimana jika arion mengatakan yang sebenarnya?
"Aku ada urusan mendadak tadi". Jawab arion dengan ekspresi yang masih datar. Dalam hati dirinya menyunggingkan bibir. Melihat ekspresi terkejut ellina setelah mendengar jawaban nya.
" bagaimana keadaan damian?" tanya arion.
Tadi setelah selesai donor darah arion hendak langsung kembali. Namun urung saat tubuhnya lemas hingga tak mampu berdiri tegak. Akhirnya dirinya memutuskan beristirahat sebentar untuk mengembalikan energinya.
"Damian sudah membaik dan sedang di rawat. Tinggal menunggu stabil supaya bisa di jenguk". Jawab leo mewakili ellina.
__ADS_1
" syukurlah". Ucap arion lega mendengar puteranya sudah membaik.
Arion maju beberapa langkah hingga berdiri tepat di depan ellina. Pria itu meraih tangan kanan ellina. "Ada yang harus kita bicarakan, sekarang!" ujar arion penuh penekanan.