
"Ukhh...."
"Ahhh....."
"Emm... nikmat sekali"
"Yaa.. lebih kuat Leona..emm..!"
"Haish.. sudah tau kekuatan tanganku hanya segini. Kenapa kau selalu meminta aku yang melakukannya?" protes Leona.
"Hey, pijatan mu itu lebih nikmat dibandingkan tangan mereka. Tenaganya memang kuat, tapi kepalaku malah semakin pusing!"
"Haha.. bilang saja kau sudah kecanduan pijatanku, Merry."
"Ya, kau benar Leona. Kau memang karyawan favoritku." ucap Merry sambil menutup mata menikmati setiap pijatan yang Leona lakukan di kepalanya.
"Bundaaa..!"
Seorang gadis kecil berusia empat tahun yang menggendong tas dipunggungnya berlari mendekati Leona.
"Hai sayang, kau sudah pulang?"
Leona membungkuk dan mencium kedua pipi gadis kecil itu.
"Maaf ya sayang, bunda tidak bisa memelukmu. Tangan bunda penuh dengan krim."
"Tante Merry lagi di krimbat ya?"
"Iya Shofia sayang, kepala tante pusing sekali. Jadi tante minta di creambath. Bagaimana sekolahmu hari ini nak?"
"Tadi Fia menggambar sama nyanyi terus dapet bintang." jawab Shofia lantang dengan wajah imutnya.
"Waah, Fia emang pinter!" puji Merry dengan mencubit hidung Shofia dan ia tertawa.
"Pulanglah dulu sayang, ganti baju sama bibi Frida ya." titah Leona pada putrinya.
"Oke bunda!"
Melihat Shofia yang tiba-tiba berbalik dan kembali padanya membuat Leona bingung.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Leona dengan mengerutkan keningnya.
"Bunda, kata ibu guru nanti bunda harus k sekolah!"
Sejenak Leona terdiam.
"Bunda?"
"I..iya sayang, nanti bunda ke sekolahmu ya."
Lantas, Shofia pun pergi menuju pintu belakang untuk pulang kerumahnya yang ada di belakang salon tempat Leona bekerja.
"Ada apa Leona, kenapa melamun? Jangan bilang kalau kau belum membayar sekolah Shofia?" selidik Merry yang melihat perubahan ekspresi karyawan kesayangannya.
"Ah, tidak Merry bukan itu. Biaya pendidikan Shofia selalu aku dahulukan." jawab Leona lemah.
"Lalu?"
Leona terlihat berfikir dan terduduk lesu. Namun Merry tidak memaksanya untuk segera menceritakan apa yang sedang Leona fikirkan.
"Sebenarnya.. aku sudah tau kenapa guru Shofia memintaku untuk datang."
"Kenapa?"
"Itu karena... mereka membutuhkan akta kelahiran Shofia. Dan aku tidak memilikinya."
Selama ini tidak pernah ada yang tau siapa ayah dari Shofia. Leona seakan menutup rapat tentang ayah gadis kecil itu. Maka untuk menghindari anggapan wali kelas lain yang mengatakan Shofia anak yang lahir diluar nikah, pihak sekolah meminta menyegerakan bukti kalau Shofia lahir didalam sebuah pernikahan.
"Jadi harus bagaimana Leona?" Merry ikut khawatir. Dan Leona hanya mengangkat kedua bahunya karena merasa buntu.
"Aku harus pulang menemui bibi Frida dulu, minta Loli untuk menyelesaikan creambath mu ya?"
"Ya, pulang lah. Jangan pikirkan aku!" Merry menepuk bahu Leona pelan sebelum ia beranjak pergi untuk mencuci tangan.
"Bibi Frida?" Leona mencari keberadaan pengasuh setia yang menemaninya selama ini.
Atas belas kasihan Merry mereka tinggal di sebuah kontrakan kecil di belakang salon miliknya.
__ADS_1
"Leona?" wanita paruh baya itu menemuinya setelah menidurkan Shofia.
"Apa Shofia sudah tidur siang?" tanya Leona sambil menarik salah satu kursi meja makan dan mendudukinya.
"Iya, baru saja. Kamu sudah tau guru Shofia memintamu datang ke sekolah?"
"Iya aku tau, dan aku bingung." jawab Leona dengan memijit pangkal hidungnya.
"Ini memang sulit, membuat akta kelahiran haruslah ada buku nikah dan kartu keluarga. Sedangkan kau tidak mau mengungkit tentang ayah Shofia. Jadi menurutku sebaiknya..."
Leona mendongak menatap Frida curiga, "sebaiknya apa bi?"
Frida nampak ragu mengatakannya. "Menikahlah!"
"Apa? Menikah? Dengan siapa? Siapa yang mau menikahi wanita yang tak jelas latar belakangnya seperti aku bi? Semua orang menganggapku bukan sebagai wanita baik-baik!" ucap Leona frustasi.
"Bukankah selama ini Henry menyukaimu? Dia juga menyayangi Shofia. Menikahlah dengannya dan buatkan akta atas namanya, aku yakin Henry tidak akan keberatan."
Leona tak menjawab. Bagaimana pun Shofia masih memiliki seorang ayah.
Dan ide Frida tidak benar. Henry bukanlah ayah Shofia, dan Leona tidak mencintai Henry.
Tapi Leona juga tidak mau mengungkit masa lalunya.
"Kita pindahkan saja Shofia ke sekolah lain."
"Uang dari mana? Biaya pendaftarannya mahal Leona. Kau ingin merepotkan Merry lagi?"
Leona kembali diam.
"Lagipula, sekolah dimana pun, persyaratan yang dibutuhkan tetap sama."
Tapi bagaimana?
Aku tidak mau Shofia dianggap anak hasil hubungan gelap. Tapi aku juga tidak mau mengungkap siapa ayahnya!
Batin Leona terus berkata-kata.
"Jangan egois Leona, pikirkanlah dulu. Kamu harus ingat, yang kau lakukan semata-mata untuk Shofia. Pikirkan masa depannya."
Leona kembali tak memberi tanggapan. Dia bingung.
Berikan aku petunjukmu..
_ _ _
Di tempat lain.
"Bagaimana, sudah ada informasi?"
"Maaf Tuan Clark, kami belum mendapatkannya." jawabnya dengan wajah menunduk.
"Dasar bodoh!" ia menggebrak meja dengan keras.
"Apa saja yang kalian lakukan selama ini, hah??"
Tidak ada yang berani menjawab.
"Sudah berapa lama kalian mencari? Jawab aku."
"........"
"Jawab!!"
Wajahnya sudah merah padam karena emosi yang sudah tidak terbendung lagi.
"Su.. sudah hampir se.. sebulan Tuan" jawab salah satu dari mereka dengan terbata.
"Dasar tidak berguna!"
"Pergi kalian, aku tidak mau melihat kalian lagi!"
Dengan tergesa-gesa mereka membungkuk hormat lalu pergi meninggalkan ruangan bosnya.
"Jason!"
"Iya Tuan."
__ADS_1
"Orang-orangmu tidak ada yang berguna."
"Maaf Tuan, saya sudah berusaha selalu mencari orang-orang yang terbaik."
"Tapi apa hasilnya, hah? Semuanya tidak ada yang becus. Mencari satu orang saja harus menunggu sampai setahun. Cari orang lain lagi yang lebih berguna. Cari di semua kota, pelosok desa bahkan ke luar negeri. Aku tidak mau tau, aku harus menemukannya secepatnya!"
"Baik Tuan, saya akan mengerahkan lebih banyak orang lagi. Saya permisi."
Jason pun membungkuk hormat dan lekas pergi menjalankan tugasnya.
Clark menjatuhkan tubuhnya pada kursi kebesarannya. Ia melonggarkan dasinya dengan kasar lalu mengacak rambutnya dengan gusar.
"Sekarang kau dimana?" gumamnya dengan nada sendu.
tok tok
"Masuk!" seru Clark pada orang yang mengetuk pintu kantornya.
"Hai kak, kenapa wajahmu kusut sekali?" tanya Royan yang baru saja masuk.
"Jangan panggil aku kakak, aku bukan kakakmu!" jawab Clark dingin.
"Oh, oke. Baiklah Tuan Clark yang sedang kacau." goda Royan dengan santainya.
"Berhenti bermain-main denganku Roy!" Clark menatap tajam.
"Apa yang kau inginkan dariku?"
"Hey, ayolah.. santai sedikit. Kau terlihat sangat tua dengan wajah sangarmu itu Clark."
"Apa kau bilang?" Clark berdiri dan mencengkram kerah baju Royan dengan kuat.
"Wow wow wow.. tenang kak, aku hanya bercanda. Kau tetap pria tertampan sejagad raya ini."
huweekk.. batin Royan
"Cepat katakan apa tujuanmu kesini? Aku tidak ingin membuang waktu denganmu." Clark menghempaskan tangannya dan kembali duduk.
"Aku ingin memberikanmu ini. Aku ingin kau menanganinya." Royan memberikan berkas dan Clark langsung menerimanya.
"Ini berkas proyek pembangunan rumah sakit dikota S?"
"Ya, benar sekali."
"Apa maksudmu dengan ini? Kau tidak sanggup memegang proyek sekecil ini, begitu?" Clark tersenyum meremehkan.
"Pekerjaanku lebih banyak dan lebih besar dibandingkan proyek di kota kecil ini. Hal seremeh ini saja kau tidak mampu? Huh, dasar payah!" ia kembali mengejek Royan.
"Hey, aku tak sepayah itu ya. Kau bisa memberikan aku tugas yang lebih besar lagi dan aku pasti bisa menyelesaikannya." tantang Royan.
"Oh ya?"
"Tentu saja kak. Tapi yang ini, kau pasti akan menyesal jika melewatkannya!"
Clark mengangkat kedua alisnya belum mengerti, "maksudmu?"
"Ya, aku tau selama ini kau sedang mencari seseorang kan?" Royan menaik turunkan alisnya.
"Dari mana kau tau?"
Royan tertawa, " tentu saja aku tau. Kau sampai berulang kali mengganti orang karena pekerjaan mereka yang tidak memberikan hasil. Tapi tanpa perintah darimu, justru aku yang menemukannya lebih dulu."
"Jangan bercanda Roy. Dimana kau menemukannya?" terlihat sekali kalau Clark sangat berantusias dengan informasi yang Royan berikan padanya.
"Santai kak, minggu depan ikutlah bersamaku ke kota S untuk meninjau proyek rumah sakit itu. Nanti akan ku beritahu disana."
"Besok, cepat pesankan tiket pesawat ke kota S untukku besok. Aku ingin kita berangkat besok!" titahnya tak bisa terbantahkan.
"Hey, jangan gila ya. Yang benar saja, kau pikir aku tidak punya pekerjaan lain apa?"
"Aku tak peduli!"
bersambung
Clark Anthony
__ADS_1
Leona