
''Clark, kita ke rumah saja jika kamu seperti ini!" ajak Leona beranjak bangun dari pangkuan Clark saat suaminya itu malah mencumbunya.
''Dirumahmu ada Shofia dan Bibi, lagipula aku sudah membooking semua tempat ini. Kamu tenang saja, sayang!" Leona terpaksa kembali duduk dipangkuannya. Clark pun kembali melanjutkan kegiatannya, namun Leona sepertinya enggan.
''Aku sangat merindukanmu, tapi sepertinya kamu tidak?" imbuhnya merasakan kecanggungan dari sang istri.
''Clark, aku tidak nyaman. Kita kerumahku saja ya?" rengeknya merayu. ''Lagipula di atas ada Merry, bagaimana kalau tiba-tiba dia turun?"
Clark menghela nafas kasar, ia bisa merasakan ketidaknyamanan sang istri. Maka ia pun tidak bisa memaksakan, "Ya sudah, kita pulang. Aku juga merindukan Shofia!"
Leona tersenyum sembari mencubit gemas pipi Clark yang cemberut.
Dengan sedikit berlari, Leona merapikan dua kancing atas kemejanya yang terbuka sambil menaiki tangga untuk berpamitan pada Merry.
Padahal kalaupun mereka membuat keributan pun, Merry tidak akan dengar. Ia terlalu sibuk menghitung keuntungannya hari ini yang sangat banyak tanpa harus mengeluarkan modal.
''Uang, uang, uang! Sering-sering saja Clark melakukan ini, hahaha!" serunya girang.
__ __ __
Shofia sangat bahagia saat melihat Ayahnya telah kembali.
Clark pun langsung menggendong dan menciumi wajah putri kecilnya yang sangat menggemaskan.
Tepat seperti dalam pikiran Clark, ketika dirinya ingin berduaan dengan sang istri, moment itu harus ia kesampingkan karena adanya Shofia diantara mereka.
Seperti malam itu, walaupun Frida sudah membujuk Shofia untuk tidur bersamanya, namun gadis kecil itu bersikeras memilih tidur sempit-sempitan bersama orang tuanya.
"Maaf ya," bisik Leona menatap suaminya sendu.
"Iya, tidak apa-apa. Tapi besok kalian harus ikut denganku. Pokoknya tidak boleh menolak!" balas Clark sama berbisiknya karena takut mengganggu putrinya yang tidur diantara mereka.
"Iya, aku janji tidak akan menolak!"
Clark tersenyum seraya mencium kening Leona lalu tidur dengan memeluk putri mereka sayang.
__ __ __
''Kita mau kemana Bunda?" tanya Shofia yang duduk dibangku penumpang ditemani Bibi Frida.
''Bunda juga belum tau sayang, Ayah bilang rahasia!" jawabnya dengan menoleh kebelakang.
Clark tersenyum dibalik kemudinya, ''Sebentar lagi kita sampai, kalian semua pasti suka!" ujarnya yakin.
Dan beberapa menit kemudian, Clark membelokkan kendaraan roda empatnya memasuki sebuah komplek perumahan.
Deretan rumah siap huni disana mampu membuat mata mereka berbinar.
Terlihat modern namun masih terasa sangat asri.
"Kita mau mengunjungi siapa?" tanya Leona saat Clark memarkirkan mobilnya didepan sebuah rumah yang sudah dijaga oleh seorang satpam.
''Turunlah, dan kita akan tau!"
Mereka menurut saja, Clark menggendong Shofia dan salah satu tangannya menggenggam tangan Leona.
Dalam hati Leona, ia sibuk menerka-nerka siapa yang akan mereka temui didalam sana.
Setelah mereka sampai tepat didepan pintu, Clark meminta Frida berdiri sejajar dengan mereka.
Dan ceklek ..
Pintu dibuka dari dalam menampakkan empat wanita berpakaian maid yang tersenyum menyambut kedatangan mereka.
__ADS_1
"Selamat datang Tuan, Nyonya, Nona dan Ibu Frida," ucap mereka serempak.
Leona dan Frida terperangah dengan sambutan mereka.
"Apa maksudnya ini?" tanya Leona bingung.
"Seperti janjiku yang memberikan tempat yang layak untuk kalian. Ini adalah rumahmu sayang, mulai hari ini kalian akan tinggal disini!" ucap Clark dengan beralih merangkul bahu istrinya lalu menoleh ke arah Frida.
"Jadi sekarang Fia tinggal disini?"
"Tentu sayang, ini juga rumahmu!"
''Yeeeyyy!!" serunya girang turun dari gendongan ayahnya dan berlari memasuki rumah.
''Pelan-pelan nona!" ucap salah satu maid mengikuti Shofia.
Dengan terus tersenyum, Clark merangkul Leona dan Bibi Frida yang berdiri disamping kanan kirinya dan menggiring mereka masuk.
''Selamat datang dirumah kalian yang baru!"
''Terima kasih Clark!" Leona memeluk suaminya dari samping.
''Apa aku juga tinggal disini?" tanya Frida ragu.
''Tentu saja Bi, Bibi keluargaku juga!"
Frida merasa terharu, walaupun ia hanya seorang pengasuh, tapi Clark dan Leon menganggapnya sebagai keluarga. Ia menyusul Shofia yang sudah berlarian kesana kemari karena senang.
Rumah itu tidak sebesar rumah mewah diperkotaan besar, namun cukup luas dan sangat nyaman.
Clark menunjukkan kamar Frida yang bersebelahan dengan kamar Shofia di lantai dua. Mengenalkan para maid yang akan membantu pekerjaan rumah dengan tugas mereka masing-masing.
Bagaimanapun, Frida sudah seperti Ibu bagi istrinya. Memperlakukan Frida istimewa bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan kesetiaannya.
Sementara Frida menemani Shofia yang sangat bersemangat bermain dikolam renang sederhana dibelakang rumah, Clark lebih bersemangat untuk menggoda istrinya.
''Apa kamu tidak ingin melihat kamar kita?" Clark memeluknya dari belakang.
Leona yang semula tengah memperhatikan Shofia dari dalampun sedikit terkejut karena kelakuan Clark yang juga menciumi leher jenjangnya.
''Clark, aku malu!" ujarnya dengan menggeliat geli.
Tanpa meminta persetujuan dari Leona, Clark menuntun tangan istrinya kesuatu tempat.
Tepat di depan pintu besar lantai dasar, Clark membukakan pintu itu lebar-lebar.
''Silahkan masuk Nyonya!" ujarnya dengan membungkuk hormat mempersilahkan istrinya masuk.
Leona tertawa, ia menyambut tangan suaminya yang terulur untuk membawanya lebih kedalam.
Kamar luas dan mewah dengan furniturenya yang elegan.
''Ini semua aku yang pilihkan. Kamu menyukainya?" tanyanya dengan kembali memeluk Leona dari belakang.
Mata indah Leona menyapu setiap sudut ruangan yang kini menjadi kamarnya.
Ternyata Clark sangat pandai memilih. Mulai dari tempat tidur, cermin rias, lemari dan semua perlengkapan kamar mandinya. Sepertinya Leona sangat suka.
"Jika kamu tidak suka, kamu boleh menggantinya sesuai keinginanmu!" ujar Clark mencium pipi Leona saat istrinya itu belum berkomentar.
''Tidak ada yang perlu diganti, aku suka semuanya!" Leona memutar tubuhnya untuk memandang sang suami.
__ADS_1
''Tapi , apa ini tidak berlebihan Clark?"
Sang suami tersenyum seraya menyibakkan rambut istrinya yang tergerai indah.
''Tidak ada yang berlebihan sayang, aku bahkan ingin yang lebih dari ini. Tapi sayang, disekitar sini hanya rumah ini yang terbaik!"
''Terima kasih, kamu memang sangat mengerti aku.'' Ujar Leona memeluk mesra suaminya.
''Tentu saja, aku tau kamu akan menolak jika jaraknya terlalu jauh dari salon dan sekolah Shofia, iya kan?"
Leona tersenyum dalam dekapan suaminya, ''Kamu memang terbaik!" ujarnya dengan memeluk Clark semakin erat.
''O iya dong! Dan jangan lupa, kamar kita ini kedap suara!" bisiknya lembut yang membuat Leona tersipu malu.
Clark pun mendapat cubitan mesra diperut datarnya.
"Kalau kamu suka, lalu mana hadiahku?"
Leona melonggarkan pelukannya dan menatap Clark dengan kening yang berkerut.
''Hadiah? Hadiah apa?" tanyanya heran.
''Ini!" ujarnya dengan menunjuk bibir menggunakan telunjuknya.
Leona yang paham pun terkekeh lalu mengalungkan tangannya dileher Clark.
''Terima kasih suamiku sayang!"
Cupp
Clark merengut saat Leona mengecup bibirnya hanya sekilas.
"Udah? Terima kasihnya cuma segitu?" protesnya dengan wajah cemberut.
Leona tersenyum dan melirikkan matanya ke arah pintu yang masih terbuka lebar.
Paham situasi, Clark langsung melepaskan istrinya dan beranjak menutup pintu dan mengucinya.
"Aku mau hadiahku sekarang!" ujar Clark sensual tepat ditelinga Leona.
Dengan malu-malu, Leona mengangguk dan disambut girang oleh sang suami.
"Emmph..." suara Leona tertahan karena serangan dadakan dari suaminya. Clark mencium, menyesap dan ******* bibir manis Leona dengan penuh gairah.
Tangan nakalnya mulai meremas dua aset kembar istrinya yang sejak semalam ingin ia sentuh.
Leona melenguh merasakan setiap sentuhan yang suaminya berikan.
Clark menggendong tubuh rampingnya dan membaringkannya di tempat tidur. Entah sejak kapan pakaian keduanya sudah terbuka.
Di atas tempat tidur mereka yang baru, Clark lebih leluasa bermain dengan sang istri.
Lenguhan dan desahan Leona yang indah tidak membuatnya khawatir dengan pendengaran orang diluar. Bahkan jika Leona menjerit pun itu bukan masalah lagi.
Namun ditengah keasyikannya memainkan bibir dan lidahnya didada sang istri, suara ketukan dipintu mengganggu aktifitasnya.
"Ayah, Bunda, ayo kita berenang!" teriak Shofia menggedor keras pintu kamar mereka.
Clark menghela nafas dan menjatuhkan tubuhnya disamping Leona. Dan sang istri hanya bisa tertawa melihat kekecewaan suaminya.
Ya, mereka lupa kalau saat ini mereka tidak sedang berdua saja.
_______________________________
jangan lupa Like Komen n vote yaaa
__ADS_1