
Malam harinya Royan tidak bisa tidur. Rencana Paula memberi kejutan untuk Clark sudah benar-benar membuatnya kelabakan.
Berulang kali ia menghubungi sang Kakak, namun ponselnya tidak kunjung aktif.
Namun ia tidak berani memberi pesan, Royan takut Kakak iparnya yang akan membacanya.
''Akhh... Sial!" rutuknya dengan meremas rambutnya frustasi.
''Apa iya aku harus kembali ke Kota S untuk mencegah Paula bertemu Clark?"
''Tapi ahh... Bagaimana dengan pekerjaanku? Clark juga akan marah kalau sampai pekerjaanku terbengkalai!"
''Tapi apa aku tega membiarkan Kakak ku mendapat masalah ini?"
''Kalau Kakak ipar menyangka Clark selingkuh lalu minta cerai bagaimana?"
''Aaakkkhhh...!!!"
Royan benar-benar dibuat pusing.
Sementara sang adik tengah frustasi, sang Kakak justru tengah menikmati malam indahnya bersama sang istri dirumah barunya. Kini mereka tidak harus menghkawatirkan adanya gangguan internal ataupun ekternal.
Clark mengatur semuanya agar aman dan terkendali.
Malam itu ia benar-benar meluapkan kerinduan dan keinginannya dengan mencumbu habis sang istri yang sangat dicintainya.
__ __ __ __
Keesokan harinya tanpa mengabari siapapun, diam-diam Royan mengikuti Paula kembali ke Kota S.
Sebisa mungkin, ia harus mencegah pertemuan antara Clark dan Paula yang pastinya akan menimbulkan masalah.
Pesawat mendarat dengan selamat. Tanpa sepengetahuan Paula, pria berpengawakan tinggi tegap seperti kakaknya itu mengikuti kemana gadis itu pergi.
Taxi yang ditumpangi Paula mengarah ke perusahaannya yang saat ini dibawah kepemimpinan Clark.
Royan merutuki dari mana Paula bisa tau alamat perusahaannya.
Haish, jangan bodoh Roy! Siapa yang tidak tau perusahaan besar milik kakakmu itu?
Gerutunya membatin.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi, dan biasanya Clark sudah berada di kantor dengan setumpuk berkas dihadapannya.
Namun sepertinya keberuntungan sedang betpihak padanya.
Menurut informasi dari asisten sang Kakak, hari ini Clark akan telat datang ke kantor. Tentu saja dengan alasan yang tidak mereka ketahui kalau sebenarnya Clark butuh istirahat lebih karena dinas malamnya bersama sang Ibu negara.
''Tapi maaf Nona, Tuan Clark belum datang!" ujar resepsionis sopan saat Paula menanyakan pimpinan mereka.
''Belum datang? Yang benar saja, ini kan sudah siang!" timpal Paula dengan melihat jam yang melingkar dilengan kirinya.
Terdengar suara tawa renyah dari arah belakang yang membuat Paula reflek menolehkan kepalanya.
''Royan?" dahi Paula berkerut.
''Wah wah wah ... Anda kasihan sekali Nona, sudah jauh-jauh tapi tidak bisa bertemu!" ejeknya tertawa sambil bertepuk tangan merasa menang.
''Kau..." tunjuknya kesal pada Royan.
''Sedang apa kau disini? Bukankah kamu baru kembali kemarin? Aaaah... Kau sengaja mengikutiku, ya?'' tuduh Paula yang memang benar begitu adanya.
''Cih, siapa juga yang mengikutimu? Besar kepala!"
Paula membulatkan matanya makin kesal dengan jawaban pria menyebalkan didepannya.
''Clark memintaku kembali, soalnya dia harus dinas ke luar negeri. Jadi, sebaiknya kau pulang saja Ke Kota A,'' dusta Royan demi menyelamatkan Kakaknya.
''Kamu pikir aku percaya? Aku akan menunggunya disini sampai Clark datang!"
Dasar keras kepala! cibir hati Royan.
Pria itu mau tak mau mengikuti Paula yang sudah lebih dulu duduk di sofa panjang yang berada di lobi.
"Sudahlah, ayo pulang saja. Tidak ada gunanya kamu tetap disini. Ayo, aku carikan hotel terbaik disini untuk kamu menginap."
Ajakan Royan malah membuat Paula curiga dengan sikapnya.
__ADS_1
Kenapa Royan begitu berusaha membuatku pergi dari sini? Apa yang dia sembunyikan?
Batin Paula.
"Tidak usah!" jawabnya sinis.
"Kamu saja yang pergi, aku akan tetap disini!" ujarnya teguh.
Royan semakin bingung, alasan apalagi yang harus ia gunakan agar Paula cepat pergi. Keadaan seperti itu malah membuatnya tidak bisa berpikir.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba.
Beberapa orang yang berlalu lalang di lobi terlihat membungkuk hormat saat seseorang mulai memasuki bangunan tinggi itu.
Mata Paula langsung berbinar melihatnya, berbeda dengan Royan yang ingin sekali membenturkan kepalanya ke lantai saat itu juga. Tapi ia takut sakit.
"Clark!!" teriak Paula yang langsung berlari dan memeluknya karena rindu.
"Paula? Kapan kau datang? Kenapa tidak mengabariku?" tanya Clark dengan membalas pelukan gadis cantik itu.
"Aku sengaja ingin memberimu kejutan. Aku sangat merindukanmu!" ucap Paula manja.
"Kalau begitu, ikutlah keruanganku!"
Paula mengangguk dan mengikuti langkah Clark dengan bergelayut manja dilengannya.
Clark tidak melihat keberadaan Royan, sedangkan Paula sudah tidak peduli adanya pria itu.
Justru Jason yang berjalan dibelakang Clark lah yang melihat adanya adik sang Tuan dengan ekspresi yang sangat aneh menurutnya.
Ada apa?
Itu arti kode Jason yang mengangkat alisnya ke arah Royan.
Dan Royan hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah seperti ingin menangis seolah tidak rela wanita itu pergi bersama kakaknya.
Jason tidak paham ekspresi seperti itu. Ia hanya mengedikkan bahu acuh lalu bergegas mengejar Tuannya.
Jason Sialan!! rutuk Royan dalam hati.
Dan yang dipeluk hanya tersenyum dengan mengusap punggung gadis itu.
''Bagaimana hasil kelulusanmu? Selena bilang kamu dapat nilai yang sangat baik,'' Clark meregangkan pelukannya dan menuntun Paula untuk duduk.
''Ya, semuanya karena kamu. Dan sekarang, aku akan menagih janji kamu saat itu!"
Clark tersenyum seraya mengacak puncak kepala Paula.
"Katakan, kamu ingin hadiah apa dariku?"
"Aku ingin menikah denganmu!"
Deg
"Menikah? Jangan bercanda Paula, itu tidak lucu!" ujar Clark tersenyum kaku dengan kecanggungannya.
"Aku serius Clark! Bukankah kamu berjanji akan memenuhi semua keinginanku?" tukas Paula dengan nada sedikit lebih tinggi.
"Tapi itu tidak mungkin Paula, aku bisa memberikan apapun yang kamu mau. Tapi bukan permintaan konyol mu itu!"
Paula berdecih dengan memalingkan wajahnya, "Konyol katamu?" matanya mulai berkaca-kaca.
"Kamu pikir yang aku lakukan selama ini semuanya demi siapa?" emosinya mulai naik. Paula tidak terima dengan tanggapan pria yang sejak dulu disukainya.
-flashback on-
Clark, Selena dan Paula sudah bersama sejak mereka kecil. Mereka sudah seperti kakak beradik yang saling menyayangi.
Persahabatan orang tua mereka memang sudah terjalin sebelum mereka lahir.
Dan hubungan itu ingin mereka kuatkan dengan menjadi ikatan keluarga.
Saat beranjak dewasa, Paula mulai menaruh hati pada Clark. Ia menyukai semua yang ada pada diri pemuda itu.
Namun harapannya seakan sirna setelah mengetahui orang tua mereka memutuskan untuk menjodohkan Clark dan Selena.
Paula teramat sedih, karena laki-laki yang disukainya akan menjadi kakak iparnya.
__ADS_1
Tapi disisi lain, meskipun sudah bersama sejak kecil, antara Clark dan Selena tidak memiliki perasaan lebih dari rasa persahabatan dan juga saudara. Hingga akhirnya mereka memilih pasangan masing-masing.
Berita itu seperti angin segar ditelinga Paula, dan ia memberanikan diri mengungkapkan perasaannya.
Tapi jawaban Clark membuatnya patah hati saat ia mendengar Clark telah menikahi seorang gadis.
Sesaat ia memang sakit hati. Tapi setelah kecelakaan yang menimpa Clark saat itu, Paula tau kalau Clark telah dikhianati.
Paula tidak menyia-nyiakan kesempatan. Setelah Clark berhasil bangkit dan sembuh total, ia kembali maju. Dukungan dari Florenza pun semaakin membuatnya bersemangat.
"Aku tidak bisa Paula!" tolak Clark kedua kalinya.
"Kenapa Kak? Lupakan wanita yang sudah menyakitimu. Beri aku kesempatan untuk mengisi hati Kakak!" rengek Paula.
Clark mendesah dengan memijit pangkal hidungnya. Desakan sang Ibunda pun membuatnya lelah.
Clark memang membenci Leona saat itu. Tapi untuk menerima cinta dari gadis yang sudah seperti adiknya sendiri juga rasanya sangat sulit.
"Belajarlah yang benar, jangan main-main terus. Selesaikan kuliahmu sampai S2, lalu pimpin perusahaan ayahmu! Buat aku bangga, dan kamu boleh meminta apapun dariku!"
Rangkaian kalimat itulah yang membuat Paula salah paham mengartikannya.
-flashback off-
"Paula, kamu sudah seperti adikku sendiri. Dan sampai kapanpun perasaan itu tidak akan pernah berubah!" ucap Clark meyakinkan dengan menggenggam tangan Paula.
"Apa tidak bisa kamu berusaha sedikit saja membuka hatimu untukku?" air matanya berderai.
"Kamu tau kan, aku sama sekali tidak suka dengan bisnis? Awalnya aku menolak mempelajari bisnis hanya untuk menggantikan tanggung jawab Selena yang memilih menjadi ibu rumah tangga. Tapi demi kamu, aku bekerja keras menyukainya agar bisa membuat kamu bangga!"
Clark mengangguk dan kembali meraih tangan Paula yang sempat gadis itu hempaskan.
"Ya, kamu sudah membuatku bangga! Dan kamu boleh meninta apapun dariku. Tapi tidak untuk permintaanmu yang itu." Ujar Clark lembut.
Paula memiringkan duduknya dan menggenggam tangan Clark semakin erat.
"Aku mohon, beri celah sedikit saja agar aku bisa masuk kedalam hatimu. Aku yakin suatu saat kamu bisa menyukaiku. Percayalah Clark, aku akan sabar menunggumu walaupun harus lebih bersabar lagi!" pintanya mengiba.
"Tidak bisa Paula!" tetap bernada lembut.
"Kenapa? Apa ada yang kurang dariku? Katakanlah, aku harus bagaimana?" rengeknya frustasi.
"Paula," Clark menenangkan gadis itu dengan menyentuh kedua bahunya yang bergetar.
"Sekarang aku sudah menikah!"
Jederrr
Mata basah Paula membulat sempurna.
"Mm ... Menikah?"
"Ya, dengan wanita yang dulu ku nikahi. Tapi pernikahanku kali ini telah resmi dimata Tuhan dan Negara. Aku sudah kembali bersamanya!"
Plakk
Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Clark.
"Bodoh! Kenapa kamu jadi bodoh Clark?" Paula menangis lagi.
"Kenapa kamu lebih memilih wanita pengkhianat itu dari pada aku?"
"Tenang dulu Paula, aku bisa menjelaskan!"
"Tidak, Aku tidak terima! Aku mencintaimu Clark! Sangat mencintaimu!"
Paula menghambur memeluk Clark sangat erat seakan tak mau kehilangan.
Dan kalimat terakhir yang Paula ucapkan, terdengar jelas oleh seorang wanita yang baru saja datang dan berdiri mematung melihat pemandangan pelukan mereka.
"Leona?" desis Clark yang melihat keberadaannya.
______________________________
Sedekahkan hadiahnya untuk Leona dong, biar dia kuat! hehehe
Like Komen Vote n Hadiah...
__ADS_1