
Maaf karena kelamaan cuti melahirkan jadinya telat up deh..
Happy reading
______________€€€_______________
Brughh
Leona membanting pintu kamarnya dengan sedikit kasar.
Frida yang melihat itu hendak menghampirinya untuk menanyakan apa yang terjadi sehingga membuat wanita yang dibesarkan olehnya itu terlihat kesal.
Namun saat Clark memasuki rumah dan menuju kamarnya dengan wajah frustasi, Frida mengurungkan niatnya.
Ia yakin, pasti Leona dan suaminya sedang ada sesuatu. Biarlah mereka menyelesaikan masalah diantara mereka sendiri, pikirnya.
"Sayang,'' Clark mencekal tangan Leona yang sudah menyentuh handle pintu kamar mandi.
''Kamu marah?"
''Pikirkan saja sendiri!" Clark kembali menahan sang istri yang ingin menghindarinya.
''Aku tau keputusanku membuatmu kecewa, tapi tolong jangan marah begini,'' bujuknya tetap menggenggam tangan Leona.
''Mau marah atau nggak, Laura akan tetap tinggal disini. Keputusan kamu gak bisa dirubah kan?"
Hasil perdebatan antara Clark, Royan dan Laura di hotel berfinis pada permintaan Laura tinggal dirumah Clark dan Leona sampai satu bulan atau sampai dirinya dinyatakan hamil.
Jika Laura benar-benar hamil, maka dia bersedia menikah dengan Roy. Tapi jika tidak, dia sangat menolak keras menikah dengan spesies sejenis Royan yang sangat menyebalkan.
''Ini hanya sementara sayang, aku tidak tega saat dia mengancam untuk bunuh diri. Aku tau itu cuma akal-akalan dia saja. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau dia akan berbuat nekad. Tolong mengertilah, dia sudah seperti adikku sendiri," pintanya dengan wajah memelas. Keputusannya tentu saja bukan tanpa alasan.
''Kalau begitu lepaskan aku!"
Clark nampak syok dengan ucapan istrinya.
"Apa maksudnya aku harus melepaskanmu? Kamu dan Shofia adalah yang terpenting untukku. Kalian milikku, tidak mungkin aku melepaskanmu!" wajahnya sudah terlihat lebih frustasi dari sebelumnya.
''Kamu ngomong apa sih? Lepasin tangan aku, aku mau pipis!"
What??
Secara reflek Clark melepaskan tangan Leona dan sedikit terlonjak saat wanitanya itu menutup pintu kamar mandi dengan cepat.
O astaga! Apa yang kupikirkan?
Harusnya dia tau kalau Leona tidak mungkin berpikir berlebihan.
Clark tersenyum lega setelah sebelumnya mengusap wajah dengan gusar.
__ __ __
"Bawa yang itu, em.. yang itu juga. Sekalian sama yang itu.''
"Hey, kau pikir aku kacung mu apa?" protes Royan saat Laura menyuruhnya membawakan barang-barangnya setelah sampai di depan rumah Leona.
"Kenapa? Gak suka? Udah sini, aku bisa sendiri. Dasar payah, bawa beginian aja ngeluh!" ejeknya yang berhasil membuat seorang Royan menjunjung harga dirinya.
Tanpa mempedulikan gadis yang menyilangkan tangan didepan dada itu, Royan berlalu melewatinya begitu saja dengan barang-barang yang merepotkannya.
Leona membukakan pintu saat tau kedatangan mereka.
__ADS_1
Laura cukup terkagum dengan rumah yang ditempati Leona. Meski bukan rumah mewah dengan harga fantastis, tapi baru masuk saja suasananya terasa nyaman.
Ia sempat berpikir kenapa Leona tidak meminta rumah mewah? Padahal Clark sangat sanggup walau harus membeli sebuah pulau.
Leona sudah menyiapkan kamar untuk Laura. Ia menjamu tamunya dengan santai dan ramah yang justru membuat Laura semakin penasaran dengan sosok Leona.
Sebenarnya Leona ini seperti apa? Dia baik atau bodoh sih? Kenapa dia sangat terbuka dengan keberadaanku. Padahalkan dengan tinggal bersamanya aku bisa punya banyak kesempatan merebut Kak Clark! Ucap batinnya.
"Kenapa masih disini? Kamu gak berniat tinggal disini juga buat ngikutin aku kan?" Laura menatap Royan tak suka.
"Aku?" tunjuknya pada diri sendiri.
Ia mendengus, "Ngapain ngkutin kamu? Aku sedang menunggu Shofia kok!"
''Shofia siapa? Pacarmu?" Ia memicingkan mata yang memang belum tau siapa Shofia.
''Ya!" jawab Roy tegas.
''Laki-laki sepertimu bisa punya pacar juga?"
''Memangnya kenapa? Kamu cemburu?"
Laura mendengus sambil membuang muka.
''Sampai akar pohon pindah ke atas juga gak bakalan cemburuin kamu!"
Royan terkekeh, ''Ya mungkin saja setelah malam kemarin, kamu jadi menyukaiku.''
Laura berdecih,''Jangan harap!"
''Kita lihat saja nanti,''
''Gak akan dan gak mungkin!"
''Tunggu Kak!" Leona berbalik saat Royan menghentikan langkahnya menyusul Laura.
''Kenapa?"
''Kakak yakin mau ngebiarin dia tinggal disini?"
Leona tersenyum melihat tatapan khawatir adik iparnya.
''Memangnya kenapa? Dia hanya gadis manja dan egois Roy, bukan psyco! Aku hanya perlu bersabar menghadapinya. Kamu jangan khawatir ya!"
''Aku hanya takut dia akan terus berusaha merebut Clark darimu Kak."
Lagi-lagi Leona tersenyum, ia mendekatkan wajahnya ke arah Royan seraya berbisik, ''Kakak mu ada urusan bisnis di Kota N, dia akan jarang pulang dalam waktu dekat ini!"
Royan tersenyum lega, setidaknya itu bisa memperkecil kesempatan Laura untuk merebut Clark.
__ __ __
''Om Roy!" teriak gadis kecil saat memasuki rumahnya.
''Shofia!" gadis kecil berseragam sekolah itu menghambur dalam pelukannya.
Binar bahagia dimata Royan menarik perhatian Laura. Pria itu memeluk dan menciumi pipi cubby gadis kecil dalam gendongannya dengan gemas.
Jadi Shofia itu anak Clark dan Leona?
Entah kenapa ia bernafas lega setelah tau Shofia itu bukanlah seorang pacar seperti yang dikatakan Roy.
__ADS_1
Eh, kenapa begitu?
Laura pun baru tau kalau Royan menyukai anak-anak. Kalau Roy saja sangat menyayangi anak itu, bagaimana dengan Clark yang menjadi Ayahnya?
Pantas saja dulu Clark hampir gila karena Leona. Laura mengakui kalau Leona memang cantik dan baik, anaknya juga sangat menggemaskan. Apalagi setelah tau kejadian sebenarnya yang terjadi antara Clark dan Leona di masa lalu.
Pria yang dicintainya itu pasti sangat bahagia bisa kembali bersama orang-orang yang dicintainya.
Masihkah gadis itu bertekad pada niatnya?
__ __ __
Beberapa hari telah berlalu.
Leona masih memperlakukan Leona dengan baik meski sering kali gadis itu mencibir setiap apapun yang Leona lakukan untuknya.
"Masakanmu tidak berkelas, kurang pas di lidahku!" namun tetap ia makan.
"Salon macam apa ini? Peralatannya juga kurang bagus. Gak se modern di negara X tempatku kuliah!" cibirnya saat dengan tidak tau malunya ia ikut ke Merryana Salon namun tetap menikmati setiap pelayanannya.
Loli serasa ingin menyumpal mulut gadis itu dengan krim creambath, jika saja Leona tidak memintanya tetap bersikap baik karena Laura sudah seperti adik bagi suaminya.
Berbeda dengan Loli, Frida malah ingin merendam gadis itu kedalam mesin cuci. Namun lagi-lagi emosinya harus ia redam karena permintaan Leona.
"Tante lagi nyari apa?" tanya Shofia saat melewati kamar Laura yang nampak kebingungan mencari sesuatu.
"Antingku yang ini hilang sebelah!" jawabnya tanpa menatap bocah kecil itu.
Shofia pun masuk kedalam kamar dan memperhatika anting yang Laura pegang.
"Heh, ngapain kamu disini?" Shofia mundur selangkah karena terkejut dengan bentakan Laura.
"Fia cuma mau bantuin tante," ucapnya gemetar.
"Bantuin?" berkacak pinggang.
''Pasti kamu ya yang mainin anting aku sampe ilang? Ngaku kamu!"
"Nggak tante!" mata Shofia berkaca-kaca melihat Laura yang menudingnya.
"Lalu siapa lagi? Tadi pagi kamu masuk kamar aku kan?" bentak Laura dengan mengguncang kedua bahu kecil Shofia.
Gadis kecil itu pagi tadi memang sempat masuk ke kamar Laura untuk membangunkannya.
Shofia pun hanya menggeleng dengan mengatupkan bibirnya yang bergetar dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
''Dasar nakal!"
Laura mendorong Shofia hingga mundur beberapa langkah membuat tubuh kecil itu hampir terjatuh ke lantai jika saja tidak ada yang menahannya.
Laura membekap mulutnya yang terperangah. Ia terkejut pada orang yang baru saja menahan tubuh Shofia.
''Ayaah...!" rengek gadis itu yang langsung mengalungkan tangannya dileher saat sang Ayah menggendongnya.
''K...Kakak, sejak kapan kau datang?"
''Sejak kau membentak putriku!"
Laura ketakutan, panik dan gemetar saat matanya ditatap tajam dan dingin oleh pria yang dicintainya.
Dia sangat tau bagaimana Clark ketika pria itu sedang tersulut emosi.
__ADS_1
Mati aku!!!
bersambung