
Brugh
Jenny membanting tasnya diatas meja. Grace yang sedang duduk santai sambil memainkan kukunya jadi terkejut. Apalagi wajah temannya yang baru datang itu sangat kusut dan juga penuh amarah.
"Kenapa sih kamu?"
Jenny mendekati Grace dan duduk disampingnya.
"Leona, wanita sialan itu selalu membuatku kesal!" jawabnya dengan menyilangkan tangan didepan dada.
Grace mendesah pelan, "Leona lagi, Leona lagi. Seberuntung apa dia kali ini?" tanyanya dengan wajah sinis.
"Tadi aku berhasil mempermalukan dia di minimarket. Tapi sialnya ada laki-laki muda dan tampan membelanya."
"Setampan apa dia?" Grace antusias.
"Laki-laki itu bukan hanya tampan, tapi dia juga seperti orang kaya!" Jenny mejelaskan.
"Waah, hebat sekali si ****** itu. Dia sangat pintar mencari mangsa."
Jenny berdecak, "Tapi apa kau tau laki-laki itu bilang apa saat aku memperingatkan dia?"
Grace menggeleng.
"Dia bilang, Leona itu kakaknya! Dia juga bilang kalau Leona itu wanita terhormat yang menyembunyikan statusnya, cuih! Bukankah selama ini yang kita tau dia hanya hidup dengan nenek tua itu aja. Dan tiba-tiba punya adik, orang kaya pula. Aneh kan?"
Grace mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari.
"Aku rasa, dia berbohong. Kalau dia kaya, mana mungkin selama ini Leona hidup miskin, tanpa status yang jelas juga! Fiks, dia bohong. Iya nggak?"
"Ya, kamu benar. Biarkan saja Leona mencari mangsa setampan apapun, Hanry pun aku sudah tidak peduli. Yg jelas pria idamanku jauh lebih tampan dari mereka. Ahh Clark, aku yakin kita akan berjumpa lagi!"
Jenny dan Grace pun tertawa bersama.
__ __ __
Frida merasa heran, baru pertama kali Shofia bertemu Royan, tapi ia sudah langsung akrab.
''Sayang, sudah sore. Mandilah dulu, nanti bisa lanjut main sama Om lagi ya!" titah Leona.
"Oke Bunda!"
Royan mengacak puncak kepala gadis kecil yang ternyata keponakannya. Shofia sendiri jadi tertawa yang membuat Royan semakin gemas padanya.
"Maafkan aku ya Kak!" gumam Royan yang membuat kening Leona berkerut.
"Maaf untuk apa? Bertemu saja baru kali ini, memangnya kapan kau berbuat salah padaku?"
Royan tersenyum lalu menunduk, "Maafkan aku karena sudah salah paham. Aku pikir dulu Kak ipar berkhianat, tapi ternyata aku salah. Awalnya aku tidak tau kenapa Clark kehilangan semangat hidupnya, dan setelah tau cerita dari sebelah pihak, aku jadi ikut tidak menyukaimu," sesal Royan.
"Ah, sudahlah. Semuanya sudah berlalu. Bukankah sekarang kamu sudah tau semuanya? Aku dan Clark sedang memulainya dari awal. Bagaimanapun kedepannya, kami sudah berjanji akan berjuang sama-sama."
Royan tersenyum lagi, "Aku ikut bahagia melihat kalian bersama lagi. Terutama Kakak ku yang galak itu, sikapnya tidak sedingin sebelum bertemu Kak ipar lagi. Aku berjanji akan ikut membantu kalian mengungkap siapa penyebab kesalah pahaman diantara kalian!" ikrarnya.
''Terima kasih Roy, terimakasih karena sudah mendukung kami, " ucap Leona dengan tersrnyum.
''Apa kamu sudah punya pacar Roy? Atau mungkin sudah berkeluarga?"
Royan berdecak malas, ''Tidak ada Kak. Aku ini pria brengsek, aku lebih suka kehidupanku yang bebas. Punya pacar itu merepotkan, apalagi punya istri," ucapnya terkekeh sendiri.
''Jangan seperti itu Roy, hidupmu tidak akan jelas arah tujuannya jika tetap hidup seperti itu!" ujar Leona menasehati.
''Aku juga pernah berpikiran untuk membangun rumahtangga Kak. Hanya saja, aku kasihan pada istriku nanti jika aku masih seperti ini. Jadi, biarkanlah aku begini saja sampai saatnya tiba. Aku masih belum siap!"
__ADS_1
Leona menghela nafas sambil menggeleng. Ia tidak punya hak untuk memaksa adik iparnya itu.
Dan percakapan mereka terhenti oleh deringan ponsel Leona.
''Clark!" sapa Leona.
"Sayang, apa anak itu masih bersamamu?" tanya suaminya.
"Maksudmu Royan? Ya, dia masih ada. Aku mengajaknya makan malam disini. Kamu ingin bicara dengannya?"
"Tidak!" jawab Clark cepat.
''Suruh dia pulang saja, dia bisa membeli makanan apapun. Tidak usah di ajak makan!"
''Hey, aku dengar ya Kak!" timpal Royan berteriak.
"Pulanglah sana, jangan dekat-dekat dengan istriku!"
''Memangnya kenapa? Dia kan kakak iparku. Dasar pelit!" cibirnya dengan mencebikkan bibir.
Sedangkan Leona hanya tertawa mendengar perseteruan dua orang dengan dua tempat yang berbeda itu.
Setelah mendengarkan celotehan Clark yang melarangnya dekat dengan Royan, akhirnya sambungan telepon pun berakhir.
''Apa Clark selalu seperti itu saat berbicara denganmu?" Leona penasaran.
"Ya begitulah, Clark itu tidak punya filter saat bicara denganku!"
Leona tertawa kecil, ''Jangan dengarkan dia Roy!"
''Iya Kak. Aku tau, walaupun Clark sering memarahiku dengan kata-kata pedas, walaupun dia lebih percaya pada Jason daripada aku, walaupun dia terlihat tidak menyukaiku. Tapi aku yakin, sebenarnya dia menyayangiku.''
Suasana tiba-tiba berubah serius.
Royan menghela nafas berat, ''Kami berdua memang putra dari Martih Anthony, tapi berbeda Ibu. Sejak dulu, Kakak tidak menyukai Mamaku, termasuk aku. Tapi tanpa menampakkan dirinya, Clark selalu ada dibelakangku saat aku kesulitan. Itu yang membuatku yakin kalau dia menyayangiku. Makanya, aku tidak pernah merasa sakit hati atas semua kata-kata pedasnya!"
Leona mengangguk paham. Dia tidak pernah tau tentang keluarga Clark jika Royan tidak menceritakannya. Suaminya selalu malas jika membahas tentang keluarganya.
''Kalau boleh tau, kenapa Tuan Martin menikah lagi?'' tanya Leona ragu.
''Itu karena Ayah menginginkan satu anak lagi, sedangkan Ibu Florenza tidak bisa memberinya keturunan lagi selain Clark, karena kondisinya yang buruk. Tapi hubungan Ibu dan Mama sangat baik, hanya saja Clark masih belum bisa menerima Mamaku!"
Leona mengusap punggung Royan memberinya kekuatan. Ternyata hubungan keluarga suaminya cukup rumit.
__ __ __
Sudah lebih dari seminggu Clark meninggalkan Leona dan Shofia.
Royan pun semakin disibukkan oleh tugas-tugas yang sengaja Clark berikan agar tidak ada waktu untuk menemui anak dan istrinya.
Customer Merryana Salon saat itu tidak terlalu ramai, bahkan pegawainya lebih banyak bersantai sambil bercanda.
Berbeda dengan Leona dan Loli yang justru sibuk di dalam ruangan Merry untuk mempersiapkan pelatihan di Kota M.
Karena ruangan Merry ada di lantai dua, mereka tidak mendengar saat teman-temannya di bawah sana sedang heboh karena kedatangan customer baru.
Seorang pria tampan nan gagah dengan balutan pakaian formal yang terlihat elegan dan semakin mempesona.
''Selamat datang Tuan, mau perawatan apa?" sambut receptionis tanpa berkedip.
Pria itu sedikit berpikir, ''Creambath!" jawabnya asal.
''Oh, baiklah. Silahkan!" wanita itu menujukkan dimana pria itu akan melakukan perawatan.
__ADS_1
''Selamat datang Tuan, saya Joan yang akan melayani anda!" ucap hairstylis sopan.
Pria itu mengerutkan keningnya, ''Aku tidak mau dia, panggilkan Leona saja!" protesnya pada receptionis yang mengantarnya.
''Maaf Tuan, tapi Leona tidak menerima customer laki-laki. Dia hanya mau memegang customer wanita saja!"
Oh, jadi dia tidak memegang laki-laki lain?
Baguslah!
"Aku tidak mau tau, harus Leona!" ia bersikeras.
"Tapi Tuan, itu akan membuat customer lain protes. Soalnya banyak yang ingin mendapatkan servis dari Leona juga!"
"Aku booking semuanya!" ucapnya tegas. Para pegawai dibuat terkejut dan sedikit takut.
"Ada apa ini?" tanya Merry yang baru saja datang. Dan ia ikut terkejut dengan kedatangan costomer dihadapannya.
"Ini Bos, Tuan ini hanya ingin Leona yang menanganinya."
"Oh, kalau begitu panggilkan Leona. Cepat,"
"Tapi Bos ... "
"Sudah, cepat panggil sana. Paksa saja kalau dia menolak!"
Merry dan Pria itu terlihat akrab namun itu membuat semua karyawannya bingung. Ada hubungan apa antara Merry dan pria itu? Pasalnya Merry tidak pernah memaksa siapapun demi customer, apalagi Leona.
"Semuanya kemarilah!" Merry mengumpulkan karyawannya. "Tempat ini sudah di booking, kita akan tutup lebih awal. Jadi kalian boleh pulang sekarang!"
"Heuhh??" semuanya bertanya-tanya. Namun mereka hanya patuh saja dan membubarkan diri.
Dari lantai dua, terlihat Leona dipaksa turun oleh temannya.
"Sudah kubilang, aku gak mau pegang customer laki-laki! Siapa sih dia, kok ngeyel banget?"
"Ini perintah Merry, aku juga tidak tau. Tapi dia sangat tampan, Leona. Kamu pasti tidak akan menolak!"
Leona mendengus kesal. Kenapa tumben sekali Merry memaksanya? Siapapun orangnya, dia hanya mau melayani pelanggan wanita saja.
"Nah, itu Leona!"
Pria itu menoleh ke arah Merry menujuk lalu tersenyum melihat kedatangan Leona.
"Hai sayang!" ucapnya dengan melambaikan tangan.
"Clark?" Leona membulatkan matanya tak percaya.
Dengan senyumnya yang mengembang, Leona menghambur memeluk pria yang dirindukannya.
"Kenapa tidak bilang kalau mau datang?" protesnya dengan memukul dada Clark manja.
"Kejutan sayang!" jawabnya dengan mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala istrinya.
"Oohh... Jadi dia suaminya Leona??"
Merry mengangguk sebagai jawaban untuk semua karyawannya yang masih bengong melihat kemesraan mereka.
______________€€€_____________
Jangan lupa like n komennya.
Terima kasih sekali jika mau bersedekah vote juga, hehehe
__ADS_1