Kalian Milikku

Kalian Milikku
Eps 18 Tak akan kulepaskan


__ADS_3

Di tempat yang berbeda.


Aula Hotel Patra.


Dhukk


Leona meringis kesakitan dengan memegangi bahu kanannya.


"Ups, aku gak sengaja. Abisnya gak keliatan sih. Tapi kamu kan emang gak pantas dilihat, iya nggak? Hahaha," dua orang wanita yang menabraknya tertawa lepas tanpa dosa.


Dimanapun mereka bertemu, kedua wanita itu selalu saja berhasil membuat emosi Leona naik. Tak mau membuat keributan, ia memilih untuk menghindar.


"Heh, ja****!" teriak wanita itu yang merasa diabaikan.


Leona berhenti melangkah dengan mengepalkan tangannya kuat. Siapa yang tidak akan sakit hati jika di sebut ja****?


Namun ia mencoba untuk tetap menahan diri karena mengingat tengah berada dikeramaian.


"Kau mau kemana?" tanyanya dengan mengejar Leona dan berhenti tepat didepannya.


"Jangan menggangguku Jenny, aku disini untuk mengikuti seminar, tidak ada waktu untuk berurusan denganmu!"


"Hey, jangan sombong kau Leona. Kau cuma wanita murahan yang dipelihara Merry. Jadi tidak usah berlagak sok di depan kami," cerca Grace.


"Biarkan saja Grace, kita lihat saja. Memangnya dia bisa apa sih selain pandai menggoda pria milik orang lain?" sambung Jenny menyindir Leona.


"Cukup Jen, ini tempat umum. Jangan menghinaku lagi, apalagi dengan tuduhan yang tidak pernah aku lakukan."


Dua wanita itu malah tertawa melihat kemarahan Leona.


"Lihatlah Grace, wanita ja**** ini memang tak tau malu!"


Leona semakin geram dengan kata-kata Jenny. Dulu, dia adalah anak buah Merryana Salon juga. Bahkan Merry memeberikan kepercayaa pada Jenny untuk menjadi tangan kanannya. Namun setelah kehadiran Leona, ia merasa posisinya telah tergeser.


Tentu saja karena Leona punya nilai lebih dalam segala hal. Semua karyawan pun lebih menyukai Leona dibanding Jenny yang sering kali bersikap kasar pada mereka.


Dan rasa tidak sukanya pada Leona bertambah lagi setelah mengetahui bahwa pria yang disukainya juga menyukai Leona yang tidak jelas asal-usulnya.


Akhirnya ia keluar dan memilih masuk salon lain agar bisa bersaing dengan Merryana Salon.


Jika saja acara tak segera dimulai, mungkin Jenny akan terus memancing emosinya. Dan Leona tidak bisa menjamin untuk terus bertahan menahan emosinya lebih lama lagi.


_ _ _


Seminar berjalan lancar. Leona yang duduk dibelakang sudut kanan, tidak langsung keluar begitu acara selesai.


Selain menghindari desak-desakan, ia juga menghindari Jenny dan Grace agar mereka pergi lebih dulu.


Jujur saja, setiap kata-kata penghinaan dari dua wanita itu selalu saja berhasil mengacaukan perasaannya.


Mungkin banyak orang yang menganggapnya bukan wanita baik-baik, tapi tidak ada yang membencinya lebih dari Jenny.


Leona menghela nafas lalu bangkit dengan menggantungkan tas slempangnya.


"Semuanya akan baik-baik saja Leona," gumamnya menyemangati diri sendiri.


Kawasan hotel sudah mulai sepi. Leona berdiri dibahu jalan menunggu bus umum melintas. Beberapa kali ia melirik jam dipergelangan tangannya, namun belum ada kendaraan umum apapun yang melewatinya.


Panas.

__ADS_1


Bahkan halte pun tak ada untuk sekedar berteduh. Sesekali ia mengusap peluh yang mulai membasahi leher dan juga keningnya.


Kakinya pun sudah terasa pegal karena terlalu lama berdiri.


"Ehh?" ia terkejut ketika tiba-tiba kepalanya di tutupi oleh sebuah jas hitam dengan aroma wangi parfum yang khas.


Pelakunya tersenyum.


"Kau? Apa yang kau lakukan disini?" Leona terkejut dengan kehadirannya.


"Aku menjemputmu pulang, apa aku salah?"


Leona segera melepas jas yang menutup kepalanya dan mengembalikan pada sang pemilik dengan kasar.


"Kau kepanasan Leona, pakailah. Tunggu disini sebentar, aku ambil mobil dulu," ucap Clark yang akan beranjak pergi setelah mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya.


"Tidak usah, aku bisa naik bus!" Leona menolak dengan tegas.


"Disini bukan kawasan umum Leona, tidak mungkin ada bus atau angkutan umum lainnya. Jalan utama juga jauh, jadi tetaplah disini tunggu aku sebentar."


"Kau pikir, aku mau pulang bersamamu?" Leona memilih berjalan kaki.


"Dasar keras kepala," gumamnya menatap punggung Leona yang menjauh.


"Tunggu Leona!" ia mengejar dan berhasil mencekal tangannya.


"Lepaskan Clark!" ia pun melepaskan tangan Leona.


"Sudah lebih dari satu jam aku menunggumu, ternyata kau sudah keluar hotel dari tadi. Dan sekarang kau mau pergi begitu saja?"


Leona memicingkan matanya, " Memangnya siapa yang menyuruhmu menungguku?"


Kenapa dia bisa tau kalau aku ada disini?


Gumamnya yang kembali meninggalkan Clark.


"Ayolah Leona, kau akan terus berjalan ke jalan utama sejauh itu? Nanti kakimu bengkak, Leona!"


"Aku tak peduli!" jawabnya ketus dengan terus melangkah. Padahal kakinya sudah terlihat gontai karena lelah.


"Oke, jika itu yang kamu mau, aku tidak punya cara lain."


Clark berjalan cepat dan berhenti tapat didepan Leona dengan sedikit berjongkok.


"Ehh, apa yang kau lakukan Clark? Cepat tirunkan aku!" teriak Leona sedikit memberontak saat Clark tiba-tiba menggendongnya.


"Diamlah, nanti kau jatuh!" ucap Clark yang tanpa ragu melangkahkan kaki dengan menggendong Leona dipunggungnya.


Tubuhnya ringan sekali, mungkin selama ini dia tidak makan dengan baik? Gumam Clark dalam hati.


"Clark, aku mohon turunkan aku, ini memalukan sekali," pinta Leona sedikit berbisik karena malu dengan tatapan orang-orang yang melihatnya.


"Kenapa harus malu? Aku tidak mau melihat wanitaku kelelahan."


Degg


Jantung Leona terasa tersentak saat mendengar kata "Wanitaku".


Apa-apaan dia memanggilku begitu?

__ADS_1


Jangan membuat aku terbuai Clark!


Racaunya dalam hati.


Leona berpikir, mungkin jika Leona pura-pura mau ikut dengannya, Clark akan menurunkanya dan pergi kembali ke hotel untuk mengambil mobil. Dan kesempatan itu akan ia gunakan untuk kabur saat Clark pergi.


"Oke oke, aku ikut denganmu. Tapi turunan aku dulu."


Clark pun tersenyum lalu menurunkannya.


"Jadi, kau mau pulang denganku?" berbinar.


"Ya, jadi kembalilah ke hotel dan cepat ambil mobilmu," titah Leona dengan melipat kedua dangannya didepan dada.


"Baiklah, tunggu sebentar!"


Leona terperangah tak menyangka karena Clark hanya melakukan panggilan diponselnya meminta supir untuk menjemput mereka.


Jadi, dia nggak ambil sendiri?


Bukankah kunci mobil ada padanya?


Oh astaga. Kalau begini, bagaimana caranya aku bisa menghindar? Leona gugup.


"Tunggu sebentar, kita duduk dulu disana!"


Karena masih sibuk dengan pikirannya sendiri, Leona tak menyadari saat Clark menuntunnya untuk duduk dibangku panjang dekat taman disekitar hotel.


"Apa yang sedang kau pikirkan, Leona?" tanya Clark seraya menggenggam tangan Leona.


Wanita yang duduk disampingnya itu pun terkejut dan segera menarik tangannya.


"Tidak ada!" jawab Leona dengan memalingkan wajahnya ke arah lain.


Terdengar Clark menghela nafas berat dan berlutut didepan Leona dengan menundukkan wajahnya yang terlihat sendu.


"Leona, maafkan aku," ucapnya lirih penuh penyesalan.


Leona malah panik.


"Apa yang kau lakukan Clark? Berdirilah!" ia menoleh ke kanan dan ke kiri memperhatikan keadaan sekitar.


"Leona, ada banyak hal yang ingin aku katakan padamu. Aku mohon, berhentilah mengacuhkan aku seperti ini!" pinta Clark dengan mendongakkan kepalanya.


Entah kenapa Leona merasa semakin kesal. Menurutnya, Clark terlalu mudah meminta maaf setelah apa yang selama ini Clark lakukan padanya.


Hatinya sudah terlanjur sakit.


"Seharusnya kau yang berhenti mengejarku Clark, aku sama sekali tidak pernah berharap kau kembali. Luka hatiku ini terlalu dalam hingga saat ini masih belum bisa terobati. Jadi kali ini biarkan aku yang memohon, jangan pernah kau kembali dalam kehidupanku!"


Leona beranjak berdiri untuk meninggalkan Clark.


"Tidak akan pernah kulakukan, Leona!" teriak Clark yang mencekal tangan Leona agar tak bisa pergi menghindarinya.


"Lepaskan!" pinta Leona dengan menekan ucapannya.


Namun yang Clark lakukan, ia semakin menarik tangan Leona agar masuk kedalam dekapannya.


"Aku tak akan melepaskanmu, Leona. Kau dan Shofia adalah milikku. Tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita. Sampai kapanpun, selamanya kalian milikku."

__ADS_1


Clark menahan tubuh Leona dengan semakin mengeratkan dekapannya.


__ADS_2