Kalian Milikku

Kalian Milikku
Eps 31 Kesempatan


__ADS_3

"Ayolah Leona, ceritakan semuanya!" desak Loli setelah dirinya dan Merry menumpahkan semua pertanyaan yang ada didalam benak mereka.


"Kalian terlalu banyak bertanya, sudahlah jangan membahas tentang pernikahanku lagi. Semuanya tidak seperti yang kalian pikirkan. Ini hanya sementara, aku hanya membutuhkan status untuk Shofia. Setelah itu, kami akan kembali berpisah."


Dua wanita yang tengah penasaran itu mendadak terdiam.


Ternyata dibelakang Leona sudah ada Clark yang mendengar semua pernyataan Leona.


Wajah tampannya terlihat sendu.


Kecanggungan pun seketika tercipta.


Leona baru menyadari kehadirannya saat kedua temannya itu mendadak diam.


Sejak kapan dia keluar kamar mandi?


Leona dibuat kikuk dengan ekspresi wajah Clark yang tidak secerah saat bersamanya di toilet tadi.


Terlihat sekali wajahnya menyimpan kekecewaan.


Clark berlalu begitu saja melewati Leona untuk menghampiri Shofia yang sedang makan bersama Frida di tempat tidurnya.


"Bagaimana sekarang nak? Sudah lebih baik?" tanya Clark dengan mengusap lembut rambut Shofia.


"Iya Ayah, Fia mau makan yang banyak biar bisa cepet pulang!" jawabnya dengan mulut penuh.


"Anak Ayah memang pintar!" puji Clark seraya mencium kening gadis kecil itu.


Leona dan yang lainnya hanya menyaksikan interaksi antara Clark dan Shofia yang terlihat begitu dekat.


Drrt drrt drrt


"Ya, Jas?" Clark menerima panggilan di ponselnya.


"....."


"Baiklah, siapkan bajuku. Aku segera kesana."


Tit


Clark mematikan ponselnya dan beralih menatap Shofia dengan senyum manisnya.


"Shofia, Ayah harus segera ke kantor sayang, ada urusan penting." Clark mengusap puncak kepalanya lembut.


"Iya Ayah, tapi Ayah kesini lagi kan?" Shofia menggenggam lengan Clark dengan kuat.


"Tentu saja sayang. Ini tidak akan lama, Ayah pasti kesini lagi."


Shofia mengangguk. Clark tersenyum seraya mencium keningnya lagi.


"Leona, aku pergi dulu. Nanti aku kembali."


"Hmm" Leona hanya bergumam.


Clark merasa kecewa dengan sikap Leona saat ini. Namun ia tetap tersenyum saat berpamitan pada Frida dan yang lainnya walaupun hanya sedikit dan terlihat dipaksakan.


Clark berpikir Leona sudah mulai luluh, tapi kenyataannya wanita itu belum berniat untuk melanjutkan pernikahan mereka.


Dirogohnya ponsel dalam saku celananya dan kembali melakukan panggilan pada sang asisten ketika ia sampai diparkiran.

__ADS_1


Namun seseorang tanpa sengaja menyenggolnya hingga ponsel yang tengah ia pegang terjatuh ke atas lantai.


"Eh, maaf!" wanita itu segera mengambil ponsel yang terjatuh karena kecerobohannya.


Waah, hp nya keren. Hp mahal ini!


Gumam wanita itu takjub dengan ponsel merk ternama di tangannya.


"Maaf, bisa kembalikan ponsel saya?"


Wanita itu tersadar, "Oh, iya!" ia segera mendongak dan menyodorkan benda pipih itu kearah pemiliknya.


"Kamu?" wanita itu menunjuk Clark dengan jari tangannya.


"Apa aku mengenalmu?" tanya Clark dengan mengerutkan keningnya.


Wanita itu segera merapikan penampilan dan menyisir rambutnya dengan jari.


"Ah, tidak. Hanya saja kita pernah bertemu. Kenalkan, namaku Jenny."


Clark menerima uluran tangan wanita itu.


"Clark," balasnya datar dan berniat segera pergi. Namun Jenny menahannya.


"Tunggu sebentar, boleh aku minta nomor ponselmu?" tanyanya tidak tau malu dengan memainkan rambutnya mencoba menggoda.


"Maaf, saya buru-buru!" Clark berlalu memasuki mobilnya tanpa meladeni permintaan Jenny.


Wanita itu menghentakkan kakinya kesal.


"Untung tampan, tapi dia membuatku semakin penasaran. Baru dilihat dari Hp dan mobilnya saja sudah keliatan kalau dia orang kaya. Ah, Clark ... Kita pasti bisa bertemu lagi," ucap Jenny percaya diri dengan menatap mobil Clark yang semakin menjauh dengan tangan bersidekap.


_ _ _ _ _


Aku belum bisa meyakinkanmu kalau aku benar-benar mencintainya.


Segala kesalahpahaman yang terjadi telah merantai pintu hatimu untuk menerimaku.


Kebodohan adalah kesalahanku.


Keterpurukan adalah kelemahanku.


Dimana aku dibutakan oleh kalimat-kalimat yang mempermainkan aku.


Membencimu bukanlah keinginanku.


Keadaan memaksaku untuk mengubur semua rasa cinta yang aku miliki.


Namun jauh dilubuk hatiku yang terdalam, aku tidak pernah berhenti mencintaimu.


Hingga kenyataan pahit membuka mataku, menyadarkan aku dari kebodohanku.


Kini, ijinkan aku menebus semua kesalahanku. Mengganti rasa sakitmu dengan kebahagiaan yang selama ini dipaksa menjauhimu.


Leona, kembalilah kepadaku.*


_ _ _


Wanita cantik yang tengah berdiri didepan jendela menatap kosong keluar sana.

__ADS_1


Digenggamnya secarik kertas yang semula terselip diseikat buket mawar merah yang dikirimkan Clark untuk dirinya.


"Sempat-sempatnya disaat sibuk di kantor malah mengirimiku bunga begini. Dasar kekanakan, norak!" cibirnya tersenyum getir.


Padahal hatinya bergetar membaca kalimat-kalimat yang Clark curahkan dalam secarik kertas itu.


"Apa yang harus aku lakukan? Sesungguhnya aku belum bisa percaya sepenuhnya. Luka itu masih membekas, pahit getirnya masih terasa. Dan sekarang dia datang menawarkan kebahagiaan untuk menebus segalanya. Tapi aku masih belum yakin. Apa aku masih bisa melanjutkan pernikahan ini?"


Leona menoleh saat Frida menyentuh bahunya.


"Entah perasaanku saja atau cuma sok tau. Tapi dari yang ku lihat, sepertinya kamu juga masih mencintai dia!" ujar Frida lembut.


Leona menunduk.


Ia bingung harus menjawab apa. Rasa sakit hatinya masih menguasai meski ia tau semua itu bukan sepenuhnya kesalahan Clark.


Mengingat begitu berat perjuangannya bertahan hidup dengan berbagai cemoohan dan hinaan. Rasanya sangat sulit, meski kenyataannya Clark pun sama menderitanya seperti yang ia rasakan selama ini.


"Berikan dia kesempatan untuk bicara dari hati ke hati. Kalian butuh waktu berdua untuk membahasnya. Setelah itu, keputusan ada padamu. Mau melanjutkan atau sebatas kebutuhan status saja, Bibi tidak akan ikut campur. Bibi akan mendukung apapun keputusanmu. Jika memang kalian tidak bisa bersama, maka berpisahlah. Tapi jika kamu masih mencintainya, silahkan mulailah dari awal."


Leona memeluk Frida dengan menitikkan air mata.


"Akan aku coba, tapi jika memang aku dan Clark tidak berjodoh, Bibi harus membantuku untuk memberi pengertian pada Shofia."


Frida meregangkan pelukannya dan menangkup wajah Leona yang sudah basah.


"Iya Leona. Apapun akan ku lakukan untukmu dan juga Shofia. Percayalah, aku akan selalu ada untukmu."


Leona kembali menghambur memeluk pengasuhnya yang sudah seperti Ibu kandungnya sendiri.


Kesetiaan Frida memang tidak bisa diragukan lagi.


_ _ _ _ _


Epilog


" Jas, ada tugas lain untukmu." Clark tiba-tiba masuk keruang kerja Jason.


"Tugas apa Tuan?" tanya sang asisten langsung berdiri dibalik meja kerjanya dengan berkas yang bertumpuk.


"Carikan aku sebuket bunga mawar yang cantik. Harus bunga yang terbaik!"


"Bunga?" Jason bingung karena memilih bunga bukanlah keahliannya.


"Iya, kau tidak dengar?"


"Maaf Tuan. Baiklah, akan saya carikan untuk Anda!"


"Bagus, kau bisa diandalkan!" ujar Clark kemudian berlalu pergi.


Haish, sedang sibuk begini harus cari bunga juga!


Sepertinya Tuan masih kurang banyak memberiku tugas!


Gerutu Jason sambil membereskan setumpuk berkas dimeja kerjanya walaupun akhirnya dia beranjak mencari toko bunga juga.


__ __ __ __ __ __


Dukung terus yaaaaaa

__ADS_1


__ADS_2