Kalian Milikku

Kalian Milikku
Eps 25 Ke Apartemen


__ADS_3

Ke esokan harinya.


"Cepatlah, kau lama sekali Leona!" teriak Clark dari dalam Lexus LCnya yang sedari tadi menunggunya didepan gang kontrakan Leona.


"Dasar tidak sabaran!" gerutu Leona dengan sedikit berlari menuju mobil yang sudah cukup lama menunggunya.


Brugh


Leona menutup pintu mobil setelah duduk disamping kursi kemudi yang diduduki sang pemilik kendaraan roda empat itu.


"Lamban!" gumam Clark sembari mulai menjalankan mobilnya dan itu masih bisa didengar Leona.


"Tidak bisakah kau bersabar sedikit? Aku perlu mandi dan juga berganti pakaian. Tentu saja membutuhkan waktu!" protes Leona.


"Kalau saja kau mengijinkanku menunggu di rumahmu, mungkin aku tidak akan merasa sejenuh ini. Bayangkan saja, lebih dari satu jam aku disini sendirian seperti orang bodoh!" balas Clark tak mau kalah.


Seperti permintaan pria itu semalam dirumah sakit, Leona mengikuti keinginan Clark untuk pergi bersamanya sebagai imbalan atas apa yang pria itu lakukan untuk putrinya.


"Lagipula, aku ingin buru-buru karena takut kamu tidak sabar dengan tujuan kita hari ini." Clark kembali menggodanya.


Cih, kenapa jadi aku? Memangnya siapa yang sebenarnya tidak sabaran?


Leona terus saja mendumal di dalam hati. Ia tidak mau terlalu banyak bicara.


Beradu mulut dengan Clark hanya akan membuatnya kalah telak.


Apalagi jika mengingat beberapa saat lalu saat mereka masih dirumah sakit.


Leona jadi malu sendiri.


--flashback--


Semalam dirumah sakit.


"Oke, deal?" Clark mengulurkan tangan kanannya.


"Deal!" jawab Leona malas seraya menyambut uluran tangan itu.


Kesepakatan mereka adalah, Leona harus ikut dengan Clark kesebuah tempat yang sudah ditentukan. Walaupun begitu, Leona belum tau kemana Clark akan membawanya pergi.


Dan setelah itu, Clark akan menganggap semuanya impas. Dia tidak akan mengungkit apapun yang sudah ia berikan untuk Shofia.


"Pulang dan beristirahatlah!" usir Leona halus dengan melepaskan tangan Clark yang seakan tak ingin melepaskan tangannya.


"Baiklah," jawab Clark terpaksa.


"Aku suka kau masih perhatian padaku."


Leona membulatkan matanya.


Siapa yang perhatian?


Kalau aku tidak bilang begitu, mana mungkin kau akan cepat pulang!


"Ya ya ya, cepatlah pulang ini sudah tengah malam. Aku juga lelah," seloroh Leona.


"Kalau kau lelah, istirahat saja. Biar aku yang menjaga Shofia!"


"Apa?" Leona terperangah.


"Bu, bukan begitu. Maksudku, aku hanya ..."


"Ayah?" gumam Shofia lirih yang terbangun dari tidurnya.


Oh astaga! Kenapa Shofia bangun?

__ADS_1


Pirasatku buruk. Gumam hati Leona sembari menggaruk keningnya yang tidak gatal.


Clark segera mendekat dan duduk ditepi tempat tidurnya, "Iya sayang, Ayah disini. Fia butuh sesuatu?" diraihnya tangan mungil itu untuk ia cium.


"Ayah, Fia mau tidur sama Ayah," pintanya yang membuat dua orang dewasa di sampingnya saling pandang.


"Tapi sayang, ... "


"Fia mau sama Ayah," gadis kecil itu menangis menghentikan Leona yang hendak memprotes.


"Iya sayang, Ayah disini tidur sama kamu ya," Clark menyeka air mata Shofia.


"Bunda juga tidur sama Fia yaa," pintanya lagi dengan memasang wajah memelasnya.


Astaga Shofia, drama apa lagi ini nak?


Gerutu Leona dalam hati.


Ah Shofia, kamu memang putriku.


Ayolah, teruslah memohon nak!


Suara hati Clark berbanding terbalik dengan hati Leona.


Dan akhirnya, mereka tidur bersama di atas tempat tidur rumah sakit yang tidak begitu lebar dengan Shofia diantara keduanya.


Tidur dengan posisi miring saling menghadap ketengah dan sempit begitu tidak nyaman. Namun lagi-lagi semua dilakukan demi Shofia.


"Berhentilah menatapku seperti itu!"


Clark hanya tersenyum melihat Leona yang ternyata menyadari sejak tadi ia menatapnya.


Segera ia menutup mata dengan memeluk Shofia yang berada di tengah mereka.


Ya Tuhan, kapan ini akan berakhir?


Leona tidur dalam gelisah. Bagaimana tidak, selain rasa tidak nyaman, ia juga di hadapkan dengan godaan wajah tampan dihadapannya.


Merasakan gerakan yang ditimbulkan Leona, Clark bisa mengerti kalau tidur dengan posisi sempit seperti itu pastilah tidak nyaman. Ia pun merasakan hal yang sama.


Namun sepertinya Clark menikmati saat-saat seperti itu.


Pagi menjelang.


Tiba-tiba saja Leona merasakan nyaman dalam tidurnya. Rasanya ia enggan untuk bangun karena terlalu nyaman.


Gerakan kecil dipipinya, membuat Leona menggeliatkan kepalanya dan semakin menelusup mencari kenyamanan.


Aroma maskulin yang ia pikir melekat di bantal gulingnya membuat Leona terlena dengan menghirupnya dalam-dalam.


"Bangun Leona!" lengannya diguncang pelan.


"Ahh... Nyaman sekali, aku gak mau bangun!" jawab Leona tetap terpejam dengan semakin memeluk erat pada sesuatu yang ia anggap sebagai bantal guling.


Namun kikikan suara tawa Shofia membuatnya sedikit demi sedikit menyadarkan pikirannya. Gulingnya pun bergerak.


Wanita setengah sadar itu mulai membuka matanya. Alangkah terkejutnya Leona saat menyadari yang ia anggap guling itu tidak lain adalah tubuh Clark.


Pria yang masih tetap terlihat tampan meski belum mandi itu ikut terkikik melihat Leona yang salah tingkah dengan buru-buru turun dari ranjang dan duduk disamping Shofia yang tengah makan di suapi Bibi Frida di atas sofa.


Malu, apalagi setelah tau ternyata sudah ada dokter dan perawat yang keluar masuk ruangan itu untuk memeriksa kondisi Shofia.


"Kenapa Bibi tidak membangunkanku?" bisik Leona dengan melirik Clark yang kini tengah menerima telpon dan masih berbaring ditempat tidur Shofia.


"Bibi tidak tega, sepertinya kamu lagi nyenyak-nyenyaknya tidur. Jadi, Bibi cuma gendong Shofia aja buat duduk disini," jawab Frida polos.

__ADS_1


"Harusnya kan Bibi gak ngebiarin aku tidur sama dia!" masih berbisik dengan wajahnya yang terlihat kesal.


Namun Frida seolah tak peduli, ia tetap fokus menyendokkan makanan yang sudah rumah sakit sediakan untuk Shofia.


Argh...sial!


Memalukan sekali!


--flashback off--


"Kenapa diam saja? Tidak ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Clark memecah keheningan dengan tetap fokus pada kemudinya.


"Tidak ada!" jawab Leona ketus dan Clark hanya manggut-manggut.


Sebenarnya banyak yang ingin ia tanyakan, tapi rasanya masih malu jika mengingat kejadian pagi tadi.


Aroma maskulin yang ia hirup ternyata aroma tubuh Clark.


Aaaaa... apa tadi aku menciumnya juga?


Tidak, tidak! Tidak mungkin Leona. Ya, sepertinya tidak mungkin!


Clark mengerutkan keningnya melihat Leona yang tiba-tiba menggelengkan kepalanya.


"Kamu kenapa? Pusing?" salah satu tangannya terulur menyentu kening Leona dan ia menepisnya.


"Ih, apaan sih? Aku gak apa-apa!" ujarnya ketus.


Clark hanya mendesah pelan dan kembali menatap jalan didepannya.


"Kita mau kemana sih?" akhirnya bertanya juga. Pasalnya sedari tadi Clark belum membahas kemana mereka akan pergi.


"Ke apartemenku," jawab Clark singkat.


Bola mata Leona membulat sempurna, "Mau apa ke apartemenmu?" tiba-tiba histeris. "Jangan bilang syaratmu itu melakukan yang tidak-tidak!" tuduhnya marah karena merasa dibodohi dengan perjanjian yang mereka sepakati semalam.


Namun Clark malah tertawa kecil, "Kenapa sepertinya kamu takut sekali kita akan melakukan yang tidak-tidak?"


Wajah Leona sudah merah padam.


"Untuk melakukan yang iya-iya saja kita masih diperbolehkan. Kenapa kamu harus setegang itu?" godanya dengan menaik-turunkan alisnya menoleh kearah Leona.


"Jangan gila kamu Clark, berhenti disini!" Leona berteriak.


Clark tergelak melihat ketakutan Leona, "Tenanglah, jangan berpikiran yang macam-macam dulu. Aku sudah menunggumu mandi dan berganti pakaian. Sekarang gantian, kamu pikir kita akan pergi dengan pakaianku yang belum ganti sejak kemarin?"


Leona tak menjawab, namun ia bisa bernapas sedikit lega mendengar penjelasan Clark. Sepertinya Clark memang tidak berniat seperti itu, ucap batinnya.


"Tapi... Kita kan masih sah sebagai suami istri didepan Tuhan. Apapun yang kita lakukan tidak akan berdosa kan?"


Clark kembali menggoyahkan ketenangannya.


"Jangan macam-macam kamu ya!" ancamnya tegas.


Kali ini Clark tertawa lebih lepas, "Aku pikir kamu menginginkannya, melihat mu tadi pagi memelukku sangat erat membuatku frustasi, Leona," ucapnya jujur.


Leona hanya mengerucutkan bibir tanpa membantahnya.


"Ah, mungkin kau malu. Padahal tadi pagi kamu sepertinya sangat menikmati tubuhku dengan terus menciumi leherku ini."


"Cukup Clark! Jangan dibahas lagi!" wajahnya bersemu malu.


Lagi-lagi Clark tertawa.


Puas rasanya menggoda Leona sampai pipi wanita cantik disampingnya itu memerah seperti kepiting rebus.

__ADS_1


__ __ __ __ __ __ __


mohon dukungannya ya


__ADS_2