Kalian Milikku

Kalian Milikku
Eps 23 Shofia Sakit


__ADS_3

"Tuan, saya dengar hari ini ada karnaval di alun-alun kota. Apa anda tidak mau melihatnya?"


Jason sedang membujuk Tuannya untuk menyegarkan pikiran.


Pasalnya, beberapa hari ini Tuannya nampak tidak bersemangat dan cenderung emosian. Bukan karena urusan pekerjaan, tapi karena masalah terakhir kali saat Leona menemuinya di kantor.


Sejak saat itu, temperamen Clark pun kembali menjadi-jadi.


"Kau pergilah, aku tidak ingin kemana-mana," jawab Clark malas. Ia tengah berbaring dikursi malas yang ada dibalkon apartemennya sambil menutup mata.


"Tapi Tuan, hari ini tidak ada jadwal apapun. Bagaimana kalau kita keluar melihatnya sebentar saja."


"Sudah ku katakan, aku tidak ingin kemana-kemana. Apa kau sudah bosan bekerja denganku, hah?" teriak Clark sedikit membangunkan tubuhnya.


"Tidak Tuan!" Jason menunduk.


"Kalau begitu, cepat pergi dari sini dan jangan kembali sebelum aku memanggilmu!" cerca Clark marah.


"Maafkan saya Tuan. Saya permisi."


Jason lekas berpamit dan meninggalkan Tuannya yang dalam keadaan mood kurang baik.


Lebih baik pergi dari pada kena amuk dia lagi! Gumam Jason saat keluar dari apartemen kelas satu milik Tuannya.


_ _ _


Di Rumah Sakit


"Bagaimana dok?" tanya Leona cemas.


"Putri anda mengalami gejala tipes Nyonya, sebaiknya dia dirawat inap dulu agar kami bisa memantaunya," jawab dokter wanita dengan menaikkan kacamatanya yang merosot.


"Iya dok, lakukan apa saja yang terbaik untuk Putri saya."


"Baik Nyonya, kalau begitu silahkan urus dulu administrasinya."


Leona terlihat bingung saat berada dibagian administrasi.


Untuk membayar deposit awal saja, uang yang dimilikinya tidak cukup.


Sempat terlintas untuk meminta bantuan pada Hanry, tapi Leona tidak mau merepotkan dan berhutang budi pada laki-laki itu.


Secara, Leona tau bagaimana perasaan Hanry kepadanya.


"Leona?" wanita yang tengah bimbang itu terlonjak kaget.


"Merry?" Leona lekas menghambur kedalam pelukannya.


"Aku mendengar kabar dari Loli katanya Shofia dibawa kesini, jadi aku langsung kemari," ucap wanita yang masih terlihat sexy di usianya yang kepala empat.


"Iya, tadi pagi aku sempat mengabarinya. Untung kau cepat datang kesini, aku sangat membutuhkan bantuanmu," Leona terlihat cemas.


Mengerti dengan sikap Leona, Merry tersenyum. Ia segera menghampiri meja administrasi.


"Biar saya saja!" Henry datang tiba-tiba dan menghentikan tangan Merry yang hendak membayarkan deposit perawatan Shofia.


"Eh, tapi ... " Merry menoleh ke arah Leona yang terlihat menggelengkan kepalanya.


"Ini adalah uang gaji Leona sendiri lho Hend," Merry terlihat gugup.


"Tidak apa-apa, biar saya saja yang membayarnya."


"Henry, tidak usah. Aku masih punya uang, aku tidak mau merepotkanmu," tolak Leona.


"Aku tidak merasa direpotkan, kamu tenang saja," Henry bersikeras. Ia segera membayarkan deposit pertama yang tidak terlalu mahal menurutnya, karena hanya di kelas ekonomi.


"Terima kasih, nanti aku akan menggantinya," ucap Leona pada akhirnya.


"Jangan sungkan, kamu gak perlu menggantinya."


Lantas, mereka pun menuju ruang rawat Shofia bersama-sama. Setelah beberapa saat, Hanry dan Merry berpamitan pulang karena tidak diijinkan terlalu banyak orang di ruang rawat inap khusus anak-anak yang ditempati empat pasien anak itu.


Leona baru saja kembali setelah membeli makanan untuknya dan juga sang Bibi.


Frida yang tengah mengusap kepala gadis kecil yang terbaring lemas dengan selang infus di tangannya itu menatap Leona yang nampak lelah.

__ADS_1


"Leona, sedari tadi Shofia terus saja mengigau memanggil Ayahnya."


Leona tertegun.


"Mungkin cuma mimpi," ucapnya malas.


"Kamu tidak memberinya kabar?"


"Untuk apa? Dia tidak perlu tau!"


Namun sampai saat malam tiba, Shofia terus saja menangis memanggi nama Ayah. Dia tidak mau makan, bahkan tidak mau disentuh oleh Bundanya sendiri.


"Fia mau sama Ayah!" Shofia selalu meracau seperti itu.


Bagaimana ini? Leona frustasi.


"Apa tidak sebaiknya kamu meminta Clark untuk datang kesini?" Frida pun ikut frustasi.


"Tapi ..." Leona bimbang.


"Demi Shofia, ingatlah semua itu demi Shofia!"


Frida benar.


Akhirnya Leona menyerah.


Melihat kondisi putrinya yang semakin memburuk membuatnya tidak ada pilihan lain.


Biasanya bersama Hanry bisa membuat Shofia senang, tapi kali ini gadis kecil itu mengacuhkan Hanry saat datang menjenguknya lagi.


Demi Shofia, Leona mengesampingkan ego dan harga dirinya.


Dengan langkah yang terlihat ragu, wanita cantik yang terlihat lusuh itu memasuki perusahaan yang sempat ricuh karena ulahnya.


Dua wanita yang berada di receptionis terkejut dengan kehadirannya. Antara takut dan juga was-was mereka memberanikan diri untuk bertanya. Bahkan security pun sudah siap dibelakangnya untuk berjaga-jaga.


Siapa tau wanita itu membuat onar lagi. Pikirnya.


"Ada apa Nona datang lagi kesini?" tanya salah satu dari mereka.


"Sepertinya wanita ini tidak seliar waktu itu," bisik teman disampingnya.


"Tunggu sebentar!" ujarnya ketus.


Sang receptionis itu segera mendial nomor melakukan penggilan pada Jason sesuai intruksi laki-laki itu tempo hari.


"Ada apa?" Jason menjawab sedikit pelan. Saat itu ia sedang berada di ruang meeting bersama Tuan dan beberapa karyawan lainnya.


Dari sambungan telepon itu dapat terdengar saat itu bos mereka sedang marah-marah. Entah itu karena ada kesalahan ataupun memang mencari-cari kesalahan agar punya alasan untuk marah.


"Tuan, Nona yang waktu itu datang lagi."


"Benarkah?" Jason terdengar antusias.


"Baiklah, suruh dia tunggu disana!" Jason seperti mendapatkan Dewi penyelamat.


Brakk


Clark menggebrak meja untuk yang kesekian kalinya.


"Bisa apa sih kalian? Hal seremeh ini saja kalian tidak becus! Kalian pikir aku menggaji kalian hanya untuk bermalas-malasan, hah??" teriaknya dengan wajah sangar.


Yang terkena semprot bosnya hanya menunduk tanpa berani menyela sedikitpun.


"Tuan!"


"Apa?" jawab Clark ketus pada Jason yang memanggilnya.


Lantas, Jason segera mendekat dan membisikkan sesuatu pada Tuannya.


Seketika raut wajah Clark berubah drastis.


"Kalau begitu cepat bawa dia kesini," ujar Clark yang langsung di angguki sang asisten dan segera pergi.


"Rapat selesai, kalian bisa pergi."

__ADS_1


Meski bingung dengan sikap bosnya, mereka tetap merasa lega karena sudah terlepas dari amukan singa jantan didepan mereka.


Dengan kompak mereka membungkuk hormat dan segera keluar dari ruangan yang beraura hitam itu.


"Nona Leona?" wanita dengan mata sendu itu menoleh. "Mari ikut saya!"


Leona berjalan mengikuti langkah Jason membawanya pergi. Dan lift yang ia naiki tidak menuju lantai yang saat itu ia datangi.


"Silahkan masuk Nona," Leona menurut.


Di ruangan besar dengan meja panjang dan kursi yang berjajar rapi itu Leona di sambut dengan senyum manis sang pemilik perusahaan.


Jason mempersilahkan Leona duduk sebelum ia beranjak pergi.


"Duduklah Leona!" Clark mengulang ucapan Jason karena Leona masih saja terdiam ditempatnya.


Perlahan Leona menarik salah satu kursi yang agak berjarak dari Clark dan mendudukinya.


"Ada apa Leona? Kau terlihat tidak sehat, apa kau baik-baik saja?" Clark cemas.


"A.. aku baik-baik saja," jawabnya terbata dengan wajah menunduk.


Apa yang membuat Leona datang padaku?


Ada apa dengan Leona, kenapa dia sangat berbeda dari biasanya?


Seketika hening, keduanya merasa canggung. Terlebih lagi mengingat terakhir kali mereka bertemu, itu semakin membuat mereka bingung untuk memulai pembicaraan.


"Emm, bagaimana kabar Shofia?" pertanyaan yang memecah keheningan itu terdengar ragu-ragu.


Ya, menyinggung masalah Shofia takut membuat Leona yang saat ini terlihat lemah menjadi marah.


Leona mendongak dengan mata yang berkaca-kaca.


"Hey, ada apa?" Clark tidak bisa menahan untuk tidak mendekati Leona dan menggenggam tangannya.


"Katakan Leona, ada apa? Apa sesutu terjadi pada Shofia?" tanyanya lembut.


Leona mengangguk pelan. Air matanya ikut meluncur bersamaan dengan wajahnya yang kembali menunduk.


Malu, sebenarnya ia sangat malu dengan keberadaannya di tempat ini. Apalagi dengan Clark yang memperlakukannya dengan lembut.


"Shofia kenapa?"


Leona terisak, "Shofia sakit sejak kemarin, dan dia membutuhkanmu!" ucapnya lirih.


Clark terperangah, "Kenapa tidak segera memberitahuku?"


"Kalau begitu kita kesana. Sudah, jangan menangis ya!" Clark menyeka air mata Leona dengan ibu jarinya.


Beberapa saat Leona terenyuh dengan sikap Clark.


Mereka berjalan beriringan saat keluar yang tentunya menyita perhatian para karyawan yang melihatnya.


Bahkan Clark membukakan pintu mobil untuk Leona.


"Kok bisa ya wanita itu pergi sama bos?"


"Iya, ya? Cantik sih, tapi lusuh gitu!"


"Tapi kalian liat gak sih? Tadi kan bos lagi marah-marah, kok sama wanita itu langsung berubah gitu ya?"


"Iya bener, wanita itu siapa ya?"


Mereka bertanya-tanya dengan menatap mobil warna hitam yang membawa dua orang yang mereka bicarakan itu pergi.


__ __ __ __ __ __


like


komen


vote


dukung yaaa

__ADS_1


__ADS_2