
Clark menghempaskan tubuh lelahnya di sofa ruang kerjanya yang beberapa waktu belakangan ini ia tinggalkan demi wanita yang dicintainya. Tak ada yang berubah, tetap tertata rapi dan bersih seperti sebelumnya.
Clark menghela nafas lega.
"Mana ponselku?" pinta Clark pada Jason yang baru saja masuk dengan membawa secangkir kopi.
"Ini Tuan!" Jason memberikan ponsel milik Clark setelah sebelumnya meletakkan kopi untuk Tuannya diatas meja.
Sang asisten pun merasa lega. Ketakutannya tidak terjadi.
Kerjasama dengan pihak Negara J berjalan lancar dan sesuai harapan mereka.
"Tunggu Jas!" cegah Clark saat asistennya pamit untuk kembali ke ruangannya.
"Iya Tuan!" Jason kembali mendekati Tuannya.
"Terima kasih atas kerja kerasmu. Aku sangat puas dan sangat bangga padamu. Bonus bulanan mu akan aku naikkan, dan menambah liburan tahunanmu. Sekarang kamu boleh istirahat dulu. Aku tau kamu pasti lelah!"
"Terima kasih Tuan!" Jason membungkuk hormat. "Tapi Anda juga pasti lelah setelah perjalanan jauh dan dilanjut meeting penting. Saya akan tetap disini untuk memenuhi kebutuhan Tuan!" tolak Jason.
"Tidak apa, setelah ini aku juga akan pulang kerumah utama. Besok sudah ada banyak pekerjaan yang menanti kita. Jadi, pulang dan beristirahatlah dulu!"
"Baik Tuan!" ucapnya patuh.
Walaupun Tuannya itu sering kali menyebalkan dan membuat tensi darahnya naik, tapi jika jiwa belas kasihannya muncul maka dia akan sangat bermurah hati.
Begitulah Clark, ia tidak akan mengabaikan orang-orang yang sudah mengabdi dan setia kepadanya.
"Leona!!" teriak Frida.
"Ponselmu berdering terus sejak tadi!'' ucap Frida yang kerepotan membawa pakaian kering dari jemuran.
''Tunggu sebentar!'' Leona balas berteriak dari dapur.
Sedikit berlari, ia menuju meja ruang tamu tempat dimana ponselnya berada.
"Halo?" sapanya lembut.
"Kamu kemana saja sayang? Apa kamu sengaja mengabaikanku?" protes seseorang diseberang sana.
Leona tersenyum, ''Maaf, tadi aku sedang memasak."
"Shofia bagaimana?"
"Dia baik-baik saja. Bagaimana dengan pertemuannya? Apa semuanya lancar?"
''Ya, semuanya lancar. Tapi ada sesuatu yang menganggu pikiranku."
"Apa itu?" Leona mengerutkan keningnya.
"Seandainya kamu ikut denganku, pasti aku tidak akan kesepian seperti ini," ucapnya sendu.
"Rasanya aku ingin segera kembali ke kota S, dimana-mana selalu bayangan kamu. Aku merindukan kamu sayang!"
"Claaark!" Leona tersipu.
''Belum sehari kita berpisah, jangan menggombal seperti itu. Kata-katamu itu sudah seperti tidak bertemu seminggu saja!" Leona terkikik geli.
"Aku serius Leona, kalau kamu tidak percaya, malam ini aku akan kembali untuk menemuimu!"
"Jangan Clark!" cegah Leona yang mendengar ucapan Clark terdengar serius.
"Selesaikan dulu urusanmu, baru kamu boleh kembali," lanjutnya dengan tersenyum kaku.
''Hmm... Baiklah. Nanti malam aku hubungi kamu lagi, pastikan Shofia sudah tertidur!"
Leona jadi bingung, "Memangnya kenapa?"
''Sudahlah, ikuti saja," kekeuh Clark. ''Akan tidak baik jika obrolan kita nanti didengar anak-anak."
Leona tertawa kecil, ''Ya ya ya, baiklah suamiku sayang!" jawab Leona malas.
__ADS_1
Clark tersenyum mendengar ucapan Leona. Dan panggilan pun berakhir setelah keduanya mengucapkan kata cinta.
Sebuah mobil mewah yang dikendarai Clark memasuki sebuah pekarangan rumah yang luas. Kedatangannya disambut bahagia oleh semua pegawai yang bekerja dirumah utama yang besar itu.
"Selamat datang Tuan Muda, saya senang Tuan Muda datang kesini," ucap kepala pelayan menyambut kedatangannya sambil membungkuk hormat. Dan Clark hanya bergumam sebagai tanggapan.
''Dimana ibuku?" tanyanya datar.
"Nyonya dikamarnya Tuan, beliau sedang beristirahat!"
Tanpa berkata-kata lagi, Clark langsung menuju kamar Ibundanya.
Ceklek
Florenza langsung mengalihkan pandangannya dari buku ke arah pintu yang tidak diketuk sebelumnya.
"Clark?" serunya dengan mata yang berbinar.
Putra kesayangannya itu mendekat lalu duduk ditepi tempat tidur Florenza dan memeluknya.
"Kenapa kamu baru pulang nak? Ibu merindukanmu!" ucapnya dengan meregangkan pelukan dan meraup wajah Clark dengan kedua tangannya.
"Bagaimana kondisi Ibu?" Clark tidak menanggapi ucapan Ibunya.
"Ibu masih saja seperti ini. Ibu kesepian nak, kembalilah kerumah utama. Ibu ingin kamu selalu disini menemani Ibu!" Pintanya penuh harap.
Clark menurunkan tangan Florenza dan menggenggamnya.
Ingin sekali ia mengatakan tentang Leona dan Shofia, tapi ia masih takut. Takut menerima kenyataan.
Sebelum ada hasil penyelidikan, Clark belum bisa percaya pada Ibunya begitu saja.
Jika kenyataannya sang ibu yang sangat disayanginya lah yang menjadi dalang kesalahpahaman mereka dulu, maka keputusan memberitahukan tentang anak istrinya adalah sebuah kesalahan.
"Maaf Bu, aku belum bisa kembali. Aku hanya bisa mengunjungimu sesekali saja." Jawabnya tenang.
Florenza sangat tau kalau putranya sangat membenci keberadaan madunya.
"Sudahlah Bu, jangan membahas wanita itu," Clark memalingkan wajahnya.
"Bukan hanya karena itu, aku juga masih punya banyak urusan dikota lain. Jadi aku tidak bisa selalu berada disisi Ibu."
"Apa karena wanita masa lalumu itu?"
Deg
Bagaimana Ibu bisa tau? tanya batinnya.
Clark menatap Florenza, "Apa maksud Ibu?" pura-pura tak paham.
"Sudahlah, Ibu juga tau kamu sedang mengejar wanita kurang ajar itu! Ibu tidak habis pikir, kenapa kamu ingin kembali bersamanya? Dia sudah menyakitimu, Nak!" raut wajah sendu Florenza sudah berganti penuh amarah.
"Cukup Bu! Ibu tau apa tentang dia? Dia tidak seperti yang Ibu pikir!"
''Berani kamu membentak Ibu hanya karena wanita murahan itu?"
Clark tertegun melihat ekspresi dari sang Ibu. Dari emosi yang wanita paruh baya itu tunjukan, kecurigaan Clark menjadi semakin kuat.
Clark tidak akan kuat jika kenyataannya dalang permasalahannya adalah Ibu kandungnya sendiri.
''Maaf bu, aku tau apa yang terbaik untuk diriku sendiri. Semoga Ibu selalu sehat!" Clark mencium kening Florenza dan beranjak pergi.
"Jangan pergi Clark!"
Sang anak tidak menoleh saat Ibunya berteriak mencegah kepergiannya.
"Claarkk!!" Florenza menangis melihat putranya pergi begitu saja demi membela wanita yang sudah menghancurkan hidup putranya.
Lagi-lagi Florenza menyalahkan Leona atas perubahan sikap Clark kepadanya.
__ADS_1
Tidak ada salahnya sama sekali jika seorang laki-laki ingin menangis.
Jika sebelumnya Clark menangis karena bahagia bertemu dengan putri dan wanita yang dicintainya, kali ini dia menitikkan air mata karena rasa kecewa pada sang Ibunda.
Hatinya ingin mengelak, bukan Ibunya lah yang membuatnya terpisah dengan wanita yang sangat dicintainya.
Tapi dari yang ia lihat saat ini, buktinya mengarah pada wanita yang sudah melahirkannya.
Malam ini Clark menghabiskan waktunya dibalkon apartemennya ditemani rokok yang entah sudah habis berapa batang.
Pikirannya masih memutar mencari tau kebenaran yang sebenarnya.
Hingga deringan ponsel membuyarkan lamunannya.
Clark tersenyum melihat siapa yang menghubunginya.
"Apa kau merindukanku sampai kau menghubungiku lebih dulu?" moodnya langsung membaik.
"Halo Ayah? Fia kangen!" suara imut yang menjawab godaannya itu membuat Clark menjadi malu.
Lantas, ia segera mengganti sambungan telepon itu menjadi panggilan video.
"Halo sayang, Ayah juga kangen. Fia sudah minum obat?" tanyanya dengan senyum mengembang.
Clark bisa melihat wajah istrinya yang ikut berbaring disamping Shofia dengan menopang kepala menggunakan tangannya.
'' Udah dong, kalau Ayah udah makan belum?"
Clark terdiam, karena terlalu banyak pikiran membuatnya tidak bernapsu sampai lupa untuk makan. Beruntungnya ia memiliki orang yang memperhatikannya.
''Sudah sayang," dustanya meyakinkan.
Obrolan anak dan ayah yang saling merindu itu berlangsung cukup lama hingga gadis kecil itu akhirnya tertidur.
''Shofia manis sekali kalau sedang tidur,'' ucap Clark saat Leona mengarahkan ponsel ditangannya kearah Shofia.
''Ya, dia sepertimu," balas Leona dengan kembali mengarahkan kamera ke wajahnya.
''Apa kau sedang menggodaku?" tanya Clark yang kini sudah rebahan ditempat tidurnya.
''Aku tidak! Ini kenyataan Clark, kamu dan Shofia memang banyak kemiripan.''
''Benarkah?''
''Huum,'' Leona mengangguk.
''Kalau begitu cium aku!"
Leona membulatkan matanya, ''Apa-apaan sih kamu?" ucapnya malu-malu.
''Ayolah sayang, aku sangat merindukanmu. Apalagi kamu terlihat sangat cantik malam ini. Rasanya aku ingin memakanmu!"
Wajah Leona langsung bersemu, ''Jangan ngaco deh kamu, sudah cepat tidur sana!"
''Ayolah sayaaaang,'' Clark memasang wajah memelas.
''Clark, ini memalukan sekali. Kita bukan anak remaja lagi lho ini."
''Terserah, yang penting aku ingin kamu menciumku walaupun dari jarak jauh!"
Leona jadi malu sendiri, percakapan unfaedah dan godaan-godaan manja bersama suaminya diseberang sana berakhir dengan menyerahnya Leona dengan menuruti semua permintaan dan keinginan suaminya.
Dasar kekanakan, seperti sedang berpacaran saja!
Tapi ... aku suka!
Gumam Leona malu-malu dengan membenamkan wajahnya diatas bantal.
- - - -
*Yang pacarnya suka minta ini dan itu saat telponan, angkat tangan!! hehehehe
Dukung terus yaaaaa*....
__ADS_1