Kalian Milikku

Kalian Milikku
Eps 38 Salah orang?


__ADS_3

Sementara Clark tengah disibukkan segudang pekerjaan di Kantor pusat Kota A, Leona pun sudah kembali dengan rutinitasnya sehari-hari.


Shofia sudah kembali sekolah, dan tentunya Leona bisa kembali bekerja.


''Cieee ... Yang lagi merinduu," goda teman-teman seprofesinya.


''Kasian banget sih masih pengantin baru udah ditinggal-tinggal, tapi lebih kasian lagi sama bantal guling yang jadi sasarannya," tawa mereka semakin menjadi-jadi.


Leona hanya memutar bola matanya malas, sejak kemarin hobi ghibah teman-temannya berganti dengan menggodanya.


''Merry, aku rasa bulan ini gaji mereka kurangi saja. Kerjaan mereka hanya menyindirku terus. Apalagi Loli, kalau perlu potong saja semua gajinya!" ucap Leona pura-pura menelepon sang pemilik salon yang hari ini tidak datang.


''Aaaa ... Leona!" rengek Loli.


''Aku kan cuma bercanda,'' ucapnya dengan mencubit gemas kedua pipi Leona.


''Ish,'' menepis tangan Loli.


''Makanya, berhenti meledekku seperti itu!"


''Hehehe, iya Leona sayang!"


Keduanya pun tertawa bersama sambil berpelukan.


''Kak Leona, aku belum liat suami Kakak. Boleh lihat fotonya gak?," rayu juniornya dengan menampilkan puppy eyes nya.


''Kamu mau tau?" gadis yang usianya lebih muda dari Leona itu mengangguk penuh semangat.


''Tapi nggak ah, nanti kamu suka!" tolak Leona dengan beranjak pergi sambil tertawa.


''Yaahh... Kakak!!" serunya kecewa.


''Kamu mau kemana?" teriak Loli saat Leona keluar dari salon.


''Minimarket!" jawabnya sambil berlalu.


Leona mulai memilih barang belanjaan yang ia perlukan sehari-hari, termasuk susu formula untuk putrinya.


''Totalnya sekian," ucap petugas kasir datar.


Leona pun merogoh dompetnya dan terkejut dengan isinya yang hanya beberapa lembar uang dengan nominal kecil.


''Tunggu sebentar!" ujar Leona yang mencari-cari lembaran uang lainnya di lipatan dompet dan juga saku celananya.


Astaga!


Aku lupa tidak membawa sisa uang gajiku kemarin!


Leona tersenyum kaku melihat ekspresi kasir wanita itu yang menatapnya jengah dengan melipat tangannya didepan dada.


"Maaf, sepertinya yang ini lain kali saja. Saya bayar untuk susunya saja dulu."


Petugas kasir itu berdecak dan menggerutu, "Kalau gak punya duit, jangan sok-sok'an belanja banyak. Jadinya kerjaan kita lagi kan buat beresin ini semua ketempatnya semula!"


"Maaf!" ucap Leona pelan. Ia merasa bersalah dan juga malu. Apalagi saat itu minimarket yang ia datangi tengah ramai. Antrian dibelakangnya juga cukup banyak.


"Wah, ada apa ini?" tanya seorang wanita yang memperhatikan petugas kasir itu nampak komat kamit menggerutu saat melayani Leona.


"Ini nih, ngambil belanjaan banyak tapi yang jadi cuma ini," jawabnya dengan mengacungkan satu box kecil susu anak-anak.


"Ck ck ck ... kalau gak ada duit, jangan banyak gaya deh!" ucap wanita itu menatap sinis ke arahnya.


Walaupun kesal, Leona tidak ingin menanggapi wanita itu.


"Kemarikan belanjaan saya!" pintanya agar bisa cepat pergi dari tempat itu.


"Heh, sombong sekali kamu!" bahu kiri Leona didorong hingga ia mundur satu langkah.


"Wanita ****** dan murahan sepertimu berani sekali mengabaikanku!"


"Cukup Jenny! Aku tidak ingin berdebat denganmu. Jangan memancing keributan, ini tempat umum!" ucap Leona dengan penekanan.


"Upss, memangnya kenapa? Biar saja mereka tau kalau kamu itu wanita miskin penggoda, yang suka merebut pasangan orang!"


Leona mengepalkan tangannya kuat, penghinaan Jenny didengar banyak orang yang sudah terlanjur terpancing keributan yang Jenny buat.

__ADS_1


"Jaga ucapanmu Jen!"


"Hahaha," ia tertawa.


"Itu kenyataannya, buktinya kamu mempunyai anak tanpa seorang ayah yang jelas!"


"Gak nyangka ya, cantik-cantik tapi kaya gitu!" bisik orang dibelakangnya.


"Iya bener itu, anaknya satu sekolah dengan anak saya!" timpal yang lain.


"Ih, kok dibolehin sih. Suruh pindah aja!"


Orang disekitarnya mulai saling berbisik. Rasanya Leona ingin menangis saat itu juga. Meskipun ia membantah ucapan Jenny, siapa yang akan percaya?


Dengan kesal ia meraih susu formula yang sudah ia bayar dan hendak pergi. Namun Jenny malah mencekalnya.


"Mau kemana kamu?"


"Lepas Jen, apa mau kamu? Belum puas menghinaku?"


"Huh," nampaknya Jenny sedang menikmati cemoohan yang ditujukan pada rivalnya.


"Lepaskan dia!" suara seorang pria muda dan tampan dengan pakaian rapi menarik semua perhatian.


Jenny saja terpukau dengan ketmpanannya, sehingga tanpa sadar melepaskan tangan Leona.


Sedangkan Leona sendiri nampak bingung dengan kehadirannya.


Pasalnya, pria itu langsung meminta kasir menghitung belanjaan Leona yang semula dibatalkan.


"Ini belanjaannya, ayo kita pulang!" ucapnya lalu menarik tangan Leona yang masih bengong belum paham situasi.


"Hey, tunggu! Kamu jangan tertipu dengan wajah sok polosnya. Dia itu wanita murahan, jangan sia-siakan uangmu hanya untuk wanita ****** itu!" teriak Jenny.


Lantas pria tampan itu berbalik dan mendekati wanita yang pembuat keributan.


"Jaga ucapan anda nona, memangnya anda siapa? Dia itu wanita terhormat yang menyembunyikan statusnya. Dan aku bukanlah korbannya, tapi aku adalah adiknya. Jadi jaga ucapan anda, sekali lagi saya mendengar anda menghina kakak saya, saya tidak segan mejebloskan anda ke penjara dengan tuduhan pencemaran nama baik!"


Jenny terperangah.


"Hey, tunggu dulu!" Leona menghentikan langkahnya saat pria itu hendak mengajaknya masuk mobil.


"Ada apa?" tanyanya polos.


"Terimakasih sebelumny, karena kamu sudah membantuku. Dan ini, aku pasti akan menggantinya."


"Ish, tidak usah. Itu tidak seberapa kak!" jawabnya santai.


"Ta, tapi maaf. Aku tidak mengenalmu, mungkin kamu salah orang. Aku tidak punya adik, dan ini pertama kalinya kita bertemu," ucap Leona kaku dan sedikit takut.


Pria tampan itu malah tertawa, "Kamu Leona kan?"


Leona terkejut.


Bagaimana dia tau namaku? tanya batinnya.


"Jangan menatapku seperti itu," protes pria itu yang membuat Leona mengerjapkan mata beberapa kali.


"Mungkin kamu tidak mengenalku, tapi aku tau semuanya tentang kakak ipar!"


"Kakak ipar??" Leona semakin tidak mengerti.


Pemuda itu pun menyimpan barang belanjaan Leona kedalam bagasi lalu meraih ponsel dari dalam saku celananya.


Dia mau menghubungi siapa?


Hatinya ingin bertanya banyak hal, tapi Leona tidak berani membuka mulutnya.


"Halo Kak!" sapanya pada seseorang diseberang sana.


"Ada apa?" suaranya terdengar malas.


"Hey kak, suami macam apa kamu meninggalkan istri tanpa memberinya uang sepeserpun. Apa sekarang kau sudah jadi miskin?"


Pertanyaan itu membuat orang diseberang sana membelalakkan matanya.

__ADS_1


Leona pun ikut terkejut, bagaimana kalau orang ini salah. Dia kan tidak mengenalnya sama sekali. Begitu pikir Leona.


"Apa yang sedang kamu lakukan Roy?" tanyanya geram.


Pria yang ternyata Royan itu malah terkikik sendiri, "Aku sedang bersama kakak ipar dan baru saja membayar semua belanjaannya. Hebat kan aku?" ujarnya membanggakan diri.


Dih, orang ini percaya diri sekali!


Aku tidak tanggung jawab kalau dia sampai salah orang! Batin Leona.


"Cepat berikan ponselmu padanya, aku ingin bicara," titah sang kakak.


"Baiklah! Kak ipar, ini suamimu ingin bicara!"


Leona menggoyangkan telapak tangannya sambil menggeleng cepat.


Suami siapa? pikirnya.


"Ayolah!"


Dengan terpaksa Leona menerima, ia juga ingin meluruskan kesalah pahaman ini.


"Ha, halo?" Leona gugup.


"Sayang?"


Clark?? Leona membulatkan matanya.


"Maafkan aku sayang, aku benar-benar lupa tidak memberimu uang. Tapi kamu tidak mendapat masalahkan?" Sesal Clark.


"Ti, tidak. Jadi dia adikmu? Dia sudah membantuku tadi."


"Dia Royan, dia bukan adikku. Untuk sementara pakai saja uangnya, apapun yang kamu butuhkan pakai saja uangnya. Sampai habis pun tidak apa-apa. Nanti Jason akan mengurus semua keuangan untukmu. Sekali lagi maafkan aku sayang."


Leona tersenyum, "Baiklah," jawab Leona.


"Jika suatu saat kamu butuh bantuan, kamu boleh minta bantuannya. Tapi perlu kamu ingat, jangan terlalu baik padanya apalagi terlalu dekat!" ujarnya posesif.


"Ish, kamu ini. Dia kan adikmu?"


"Sudah ku bilang dia bukan adikku, jangan dekat-dekat dengannya!"


Leona tertawa kecil, "Iya iya, aku mengerti."


Dan panggilanpun berakhir.


"Jadi namamu Royan? Aku tidak tau kalau Clark punya adik, dia tidak pernah menceritakan tentang kamu."


Royan mendesah pelan, "Dia memang kakak durhaka, tidak mau mengakui aku ini adiknya. Tapi selalu saja merepotkanku!" dumal pria itu yang membuat Leona tertawa.


"Tapi walaupun begitu, sepertinya hubungan kalian cukup baik."


"Yaah, begitulah. Nanti Kakak ipar juga akan mengerti bagaimana hubunganku dengan monster galak itu."


Leona tertawa lagi mendengar perkataan Royan.


"Ya sudahlah, ayo aku antar pulang. Aku ingin bertemu Shofia!"


"Kamu juga tau tentang Shofia?"


Royan berdecak, "Kakak meragukan kemampuanku? Apapun yang ingin aku tau pasti aku dapatkan, walaupun kakakku itu menutupinya. Aku kan hebat!" ucapnya dengan membusungkan dada.


"Ya, baiklah. Kamu hebat!"


Keduanya tertawa, dan perjalanan menuju rumah menjadi menyenangkan.


Ternyata ini alasan Clark sangat mencintai Leona? Aku yang baru mengenalnya saja merasa nyaman, dia baik, menyenangkan dan tentunya sangat cantik.


Sepertinya aku salah jika mencurigai Leona. Semoga saja keputusannku untuk mendukung mereka adalah tepat.


Bersambung


______________________________


Like Vote n Komen...

__ADS_1


__ADS_2