Kalian Milikku

Kalian Milikku
Eps 5 Pendekatan


__ADS_3

"Kenapa kau sendirian Shofia?"


tanya Clark dengan memangku gadis kecil itu.


"Tadi Fia ditemenin Bu Maria buat nungguin Bunda jemput, tapi Bunda belum datang juga." jawab Shofia dengan menatap wajah Clark.


Ceroboh sekali, kenapa ditinggal sendirian. Kalau anak ini hilang bagaimana?


"Baiklah, kalau begitu Ayah temani menunggu Bundamu disini."


"Ayah?"


"Heum, ada apa Shofia?" tanya Clark sambil memainkan jemari tangan Shofia.


"Selama ini Ayah kemana? Fia sedih karena teman-teman Fia bilang, Fia gak punya Ayah." raut wajah Shofia terlihat sangat murung.


Jadi selama ini Shofia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah. Berarti Bundanya tidak pernah mendekatkan dia dengan pria lain.


"Maafkan Ayah Fia, ada beberapa hal yang tidak bisa Ayah katakan padamu. Tapi mulai saat ini Ayah akan selalu ada untukmu." ucapnya dengan menyolek hidung Shofia.


"Ayah janji?"


"Ya, tentu saja Ayah berjanji."


Terlihat sekali Shofia sangat bahagia dengan kehadiran Clark. Entah benar Ayahnya atau bukan, Shofia tetap merasa bahagia ada seorang yang memeluknya seperti saat ini.


"Sambil nungguin Bundamu datang, bagaimana kalau kita beli es krim dulu. Shofia mau?"


"Mauu..!" seru Fia girang.


"Oke, kalau begitu cium Ayah dulu."


Dengan semangat Shofia mencium pipi Clark lalu mengemasi alat gambarnya.


Clark menggenggam tangan kecil Shofia dan menuntunnya ke stand penjual es krim.


Clark berinisiatif menggendong Shofia saat gadis itu kesulitan ketika ingin melihat pelayannya menyiapkan es krim pesanan mereka.


Namun setelah mereka mendapatkan eskrim dan hendak mencari tempat duduk, seseorang datang mengganggu kebersamaannya dengan Shofia.


"Lepaskan anakku!" teriaknya dengan memukuli punggung Clark menggunakan tasnya.


Deg


Jantungnya kembali berdebar.


Suara seorang wanita yang selama ini sangat ia rindukan. Kini pemilik suara itu tepat berada dibelakangnya.


Leona..


Aku tau itu kau.


Aku merindukanmu!


Tubuhnya mendadak lemas. Bahkan degupan jantungnya lebih kuat dari sebelumnya.


Bukan racauan Leona yang membuat Clark menurunkan Shofia dari gendongannya. Namun karena tangannya tak mampu lagi menahan bobot Shofia yang beratnya tak seberapa karena lemas.


Clark bisa mendengar khawatiran Leona pada putrinya. Perlahan ia berbalik dan menatap ibu dan anak yang ada dihadapannya.


"Apa kabar, Leona?"


Wanita itu mendongak. Matanya membulat dengan mulut terperangah.


"K..kau?"


Ingin rasanya Clark memeluk wanita yang dicintainya saat ini juga. Namun tatapan dingin dan penuh kebencian dari Leona membuatnya menahan diri.

__ADS_1


"Kau? Apa yang lakukan pada putriku?" tanya Leona kasar.


"Tentu saja aku ingin bertemu Shofia. Kalau dia putrimu, bukankah berarti dia juga putriku?" Clark mengucapkannya dengan tenang.


Leona mengepalkan tangannya kuat menahan amarah.


"Jangan berbicara sembarangan, kau tidak tau siapa ayah Shofia." Leona menatapnya tajam. "Ayo Shofia, kita pulang."


Saat Leona memaksa Shofia untuk pergi, gadis itu menahannya.


"Bagaimana dengan Ayah, Bunda?"


Disitu Leona merasa teramat kesal.


Beraninya dia mengaku ayah pada Shofia.


Dasar tidak tau diri.


"Lupakan sayang. Jangan dengarkan dia. Kita pulang saja."


"Tapi Bunda?"


"Shofia!!" mata gadis kecil itu berkaca-kaca. Baru kali ini Leona membentaknya.


"Cukup Leona. Apa seperti itu kau memperlakukan putriku?"


Apanya yang seperti itu?


Aku melakukannya juga karenamu!


Shofia itu anakku, bukan anakmu!


Teriak Leona dalam hati.


Clark pun mendekat dan berjongkok dihadapan Shofia.


Setelah itu Shofia mau mengikuti Leona untuk pulang.


Kau terlihat semakin cantik dan lebih dewasa, Leona. Gumam Clark dalam hati dengan menatap kepergian mereka sambil tersenyum.


Didalam bus umum menuju pulang, Leona menyembunyikan wajahnya dari Shofia saat ia tengah menangis.


Kenapa Clark muncul lagi dalam hidupnya.


Susah payah ia melupakan pria itu, dan kehadirannya bisa merusak semua usahanya.


Tidak bisa dibiarkan!


Luka yang dia toreh dulu belum sembuh. Aku tidak mau dia memberikan luka yang baru lagi.


"Bunda, kenapa Bunda marahin Ayah?" tanya Shofia saat mereka telah sampai di rumah.


"Tidak Fia, Bunda tidak marah." dustanya sambil membuka seragam Shofia dan menggantinya dengan baju santai.


"Lalu kenapa Bunda marahin Fia karena Fia sama Ayah?"


Seketika hatinya terenyuh. Leona merasa bersalah karena telalu emosi pada Clark, dia sampai lepas kontrol dan membentak putri kesayangannya.


"Maafkan Bunda sayang, Bunda menyesal. Bunda berjanji tidak akan melakukannya lagi." ucap Leona dengan memeluk Shofia.


Ini semua karena kau Clark!


Kalau saja kau tidak mempengaruhi Shofia, aku tidak akan pernah membentak Fia seperti tadi.


Seharusnya ini tak boleh terjadi. Leona tak mau Shofia bertemu dengan Clark.


Tapi kenyataannya, pria itu sendiri yang datang pada mereka.

__ADS_1


Dan suara ketukan pintu pun mengejutkan mereka.


"Ada tamu Bunda, Fia bukain ya?"


Leona tersenyum dan mengangguk, "Iya sayang."


Sementara itu, dia melanjutkan membereskan peralatan sekolah Shofia didalam kamar.


"Ayaah!!"


Teriakan girang Shofia sontak membuat Leona terkejut. Ia segera berlari keluar kamar dan menghampiri Shofia.


"Fia seneng deh Ayah datang kesini!" seru Shofia yang ternyata sudah berada dalam gendongan Clark.


"Ayah juga seneng!" Laki-laki itu berulang kali mencium pipi Shofia dengan gemas.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Leona geram.


"Aku? Tentu saja memenuhi janjiku untuk menemui putriku lagi."


Apa?


Bukannya baru tadi dia bersama Shofia? Kenapa sekarang datang kerumahku?


"Dengar ya, Shofia bukan putrimu. Lebih baik kau pergi Clark!"


Tanpa mempedulikan ucapan Leona, Clark justru langsung mengajak Shofia bermain dengan mainan baru yang ia bawa.


Shofia terlihat senang sekali. Melihat putrinya tertawa seperti itu, membuatnya tak tega jika harus mengusir Clark.


Entah kenapa interaksi kedua orang dihadapannya itu membuat Leona tenang.


"Leona, kau sudah pulang? Cepatlah kesini, kami membutuhkanmu!" teriak Loli dari pintu belakang salon Merry.


"Iya Loli, aku segera kesana!" jawab Leona yang juga berteriak.


Aku tidak mau meninggalkan Shofia. Tapi disalon sedang membutuhkanku. Bibi Frida pun belum pulang. Bagaimana ini?


"Pergilah bekerja, ada aku yang menjaga Shofia." ucap Clark yang melihat keresahan Leona.


"Tapi.."


"Kenapa? Kau takut aku menculik Shofia, hm?"


Leona mundur selangkah saat Clark mendekatinya. Namun ia tak menjawab apa-apa.


"Bukankah kau bilang dia bukan putriku? Untuk apa aku menculiknya?" imbuh Clark sambil melipat tangannya didada. Leona semakin tak bisa mengelak dengan ucapannya.


"Baiklah." Leona menyerah. " Tapi kau harus segera pergi setelah aku kembali."


"Sudahlah, cepat pergi sana!" usir Clark dengan mengibaskan tangannya seolah tak peduli.


"Shofia, Bunda kerja dulu. Kalau ada apa-apa, (Leona melirik Clark) lari lah ke salon. Oke?"


"Oke Bunda."


Dengan terpaksa Leona meninggalkan Shofia berdua saja dengan Clark.


Apa keputusanku benar meninggalkan Shofia bersama Clark?


Tapi sudahlah, biarkan mereka berdua untuk saat ini saja. Lain kali aku tak akan mengijnkannya datang.


Rasa khawatir Leona pun berangsur hilang dengan kesibukannya melayani banyak pelanggan salon yang hanya menginginkan servis tangannya.


bersambung


Kasih Like n komen itu gratis lho.. hehe

__ADS_1


__ADS_2