Kalian Milikku

Kalian Milikku
Eps 10 Dekapan kasih sayang


__ADS_3

Pedangan kaki lima yang berjajar membuat kawasan itu selalu ramai saat malam hari.


Shofia terlihat sangat bahagia menghabiskan waktu bersama Clark.


Terutama Clark sendiri, bahkan ia tak malu mengantri disebuah kedai penjual makanan lain bersama ibu-ibu saat Shofia memintanya.


Walaupun merasa risih dengan ibu-ibu yang menggodanya, tapi ia berusaha seramah mungkin demi Shofia dengan sedikit menurunkan imagenya.


Sedangkan Leona, dia hanya menahan tawa melihat Clark dari kejauhan yang kerepotan meladeni ibu-ibu yang terus menggodanya.


"Kau puas menertawakan aku?" sindir Clark setelah mendapatkan apa yang diinginkan oleh Shofia.


"Apa? Siapa juga yang menertawakanmu?" elak Leona yang masih menahan tawanya.


"Hey, tadi aku melihatnya!"


"Aku? Nggak!"


Sebelum Clark kembali protes, lantas Leona pun segera mengajak Shofia pergi sambil tertawa.


"Kalian, awas ya!" gumam Clark sambil meraih beberapa bungkus makanan yang tertinggal ditempat duduk Leona semula.


Brukk


Tanpa sengaja seseorang menabraknya dari arah berlawanan.


"Eh, maaf saya gak sengaja!" ucap wanita yang menabraknya.


Clark ingin marah, namun marah-marah disaat seperti itu hanya akan membuang-buang waktunya.


"Tidak apa, permisi!" ucap Clark singkat dan segera menyusul Leona dan juga Shofia.


"Waah, aku baru melihat pria setampan itu. Dia siapa?" tanya wanita itu pada temannya tanpa mengalihkan pandangan dari punggung Clark yang semakin menjauh.


"Iya, aku juga baru liat. Bahkan dia lebih tampan dari Henry lho!" jawab temannya membenarkan.


"Hmm, kalau Leona menginginkan Henry, akan aku biarkan. Karena sekarang aku punya target lain, dan orang itu jauh lebih keren dari Henry" ujar wanita itu dengan mata berbinar.


"Memangnya kau tau siapa dia? Lagipula, kenapa kau masih saja memikirkan tentang Leona?"


"Tentu saja, wanita murahan itu selalu saja menghalangi semua keinginanku. Merusak reputasiku di salon dan dia juga mendekati pria yang aku suka. Sekarang aku akan buktikan kalau aku bisa mendapatkan yang lebih baik. Kita lihat saja, aku akan mencari tau tentang pria itu."


"Ya ya, lakukan sesuka hatimu Jenny!" ujar Grace teman Jenny.


_ _ _


"Ini sudah malam Clark, sebaiknya kau pulang" ujar Leona mengingatkan ketika mereka telah sampai dirumah.


Clark yang baru saja meletakkan makanan bawaannya pun menoleh.

__ADS_1


"Haruskah aku pergi sekarang?" ia bersidekap dengan bersandar dimeja makan.


"Iya, sebelum Shofia mengetahuinya. Lebih baik kau pergi." Saat itu sang gadis kecil sedang mencuci tangan dan kaki dikamar mandi.


"Itu tidak benar Leona, mana mungkin aku pergi tanpa berpamitan dengannya? Nanti Shofia akan kecewa padaku."


Justru itu, aku tidak ingin Shofia semakin dekat denganmu. Apalagi sampai bergantung padamu.


"Tapi hari ini sudah cukup kau bersamanya. Kau bisa menemuinya lain kali"


"Tapi Shofia juga anakku, aku juga ingin..."


"Aku bilang lain kali Clark, aku tidak melarangmu menemuinya. Sekarang, lebih baik kau pulang dulu" ucap Leona memotong ucapan Clark.


"Ayah mau pulang ya?" tanpa sengaja Shofia mendengar percakapan mereka, matanya pun mulai berkaca-kaca. Sepertinya ia tak rela jika Ayah yang baru saja bertemu dengannya pergi meninggalkannya lagi.


"Sayang, Dia sangat sibuk. Jadi Dia harus segera pulang," dengan berjongkok Leona memberinya pengertian.


"Apa boleh Ayah menginap disini Bunda?" tatapan Shofia penuh permohonan.


Bagaikan suara petir yang terdengar di luar sana, hati Leona pun ikut bergemuruh.


Tidak!


Mana mungkin aku mengijinkannya untuk menginap?


Baru saja Leona ingin memberi putrinya alasan lain, tiba-tiba saja hujan turun begitu derasnya disertai petir dan angin kencang yang langsung menarik perhatian.


"Tapi sayang, Dia tidak akan terbiasa tidur ditempat seperti ini."


"Aku tidak keberatan Leona, mungkin kau lupa kalau dari dulu aku sudah terbiasa. Lagi pula, aku tidak sibuk."


Sontak saja Shofia kegirangan mendengarkan ucapan Clark dan langsung memeluknya.


"Bunda dengarkan? Ayah gak sibuk, jadi Fia mau tidur sama Ayah, yeey!" serunya girang sama halnya seperti yang Clark lakukan.


Leona hanya menggelengkan kepala sambil memijit pangkal hidungnya.


Akhirnya dia menyerah.


Leona merapikan kamar bibi Frida untuk ditempati Clark malam ini.


"Harusnya dia pergi, kenapa malah menginap disini? Hhaish, kau benar-benar bukan di pihakku!" Leona menggerutui hujan sambil serkacak pinggang.


"Apa yang membuatmu marah Leona?"


Leona tersentak saat hembusan nafas Clark tiba-tiba saja menerpa telinganya. Seketika wajahnya pun menjadi memerah.


"Harusnya kau tau kenapa aku marah," jawabnya dengan membuang muka.

__ADS_1


Clark hanya tersenyum melihat wajah kesal Leona sambil meneruskan kegiatan beres-beresnya.


"Kamarnya sudah siap. Hanya untuk malam ini aku mengijinkanmu menginap dan tidur bersama Shofia. Kedepannya jangan pernah berharap lagi," ucapnya dengan tegas seraya meninggalkan Clark di kamar bibi Frida.


Namun pergerakannya kalah cepat dengan Clark yang dengan tiba-tiba menarik tangannya.


"Apa kau tidak mau tidur bersama kami, Leona?" godanya dengan memeluk dan mengeratkan pinggang Leona. Tentu saja wanita cantik didepannya itu menjadi salah tingkah.


"Jangan harap! Lepaskan aku Clark!"


Ia pun melepaskan Leona.


Dengan melihat ekspresi dan tingkah laku Leona yang menggemaskan seperti itu sudah membuatnya puas.


Clark mendekap tubuh mungil gadis kecil dalam pelukannya dengan penuh kerinduan. Tak hentinya ia mengatakan kalimat kasih sayang pada Shofia meski gadis itu telah terlelap dalam pelukannya.


Maafkan aku.


Setelah semua yang terjadi, aku akan menebusnya berkali-kali lipat.


Aku berjanji.


Clark mengecup puncak kepala Shofia berulang kali dan ikut terlelap bersamanya.


Sedangkan dikamar sebelah, Leona tengah merasa resah didalam kamarnya. Takut Clark berbuat seenaknya tengah malam nanti, Leona segera mengunci pintu kamarnya.


"Ya Tuhan, semoga hari ini cepat berakhir," doa Leona sebelum ia pun masuk ke alam mimpinya.


_ _


Pagi hari, Clark merasa tidur nenyaknya terganggu. Sesekali ia mengibaskan tangan dan mengusap wajahnya meski masih terpejam.


Shofia terkikik melihat Clark yang sudah terganggu oleh dirinya.


"Bagun Ayah, apa Ayah ingin Bunda menyiram Ayah dengan air seember?" ucapnya lalu tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan.


Seketika Clark membuka mata dan mulai menata memorinya.


Ia pun tersadar kalau saat ini dia tengah bersama gadis kecil yang ia sayangi. Clark membalas Shofia dengan menggelitikinya karena sudah berani mengganggu tidurnya.


Gelak tawa mereka dari dalam kamar tak luput dari pendengaran Leona. Dengan sedikit mengintip, ia melihat interaksi dua orang yang tengah bercanda dan terlihat sangat bahagia. Shofia tertawa begitu lepas, dan tawa Clark mengingatkannya pada masa-masa dulu saat mereka masih bersama.


Apa aku akan tega membuat Shofia kehilangan kebahagian seperti itu?


Tapi ini tidak boleh terjadi, sebelum Shofia bergantung pada Clark, aku harus mencari cara untuk menjauhkan mereka.


Aku tidak ingin Shofia merasakan apa yang dulu aku rasakan!


__ __ __ __ __ __ __ __ __

__ADS_1


jangan lupa Like n Komennya gaes


__ADS_2