Kalian Milikku

Kalian Milikku
Eps 14 Cerita masa lalu part 2


__ADS_3

Mentari pagi mulai menyapa setiap makhluk hidup untuk memulai harinya.


Butiran air di ujung dedaunan masih meneteskan sisa-sisa air hujan semalam. Semilir angin pagi bersautan dengan kicauan burung di dahan pepohonan.


Perlahan seorang gadis membuka kaca jendelanya lebar-lebar. Dengan senyum yang selalu mengembang membuatnya terlihat semakin menawan. Di pandangnya sekumpulan kupu-kupu yang beterbangan di taman yang tidak begitu luas disamping rumahnya.


Seperti bunga-bunga ditamannya yang menarik perhatian kupu-kupu dan kumbang, Leona pun menarik perhatian Clark yang semula masih terbaring di tempat tidur, kini bangkit beranjak mendekatinya.


Cupp


Leona tersentak saat tiba-tiba Clark mengecup pipinya dan memeluknya dari belakang.


"Apa yang sedang kau perhatikan sayang? Kau terlihat senang sekali," mengecup lagi pipi Leona dan menjatuhkan dagunya dibahu kanan sang istri.


"Em.. aku hanya sedang melihat bunga-bunga yang bermekaran. Tapi aku tidak tau kenapa rasanya sesenang ini," jawabnya dengan menyentuh pipi Clark yang sangat dekat dengan wajahnya.


"Mungkin karena sekarang ada aku disisimu, makanya kau sangat senang," Leona terkikik geli saat Clark mulai menciumi lehernya yang memiliki banyak tanda kepemilikan.


"Hentikan Clark, geli," Clark malah semakin memeluknya erat. "Iya, iya aku akui. Aku merasa hidupku semakin bahagia setelah bersamamu," Leona memutar tubuhnya dan mengalungkan tangannya dileher Clark.


"Aku ingin selamanya bersamamu Clark. Aku nggak tau akan bagaimana jadinya aku bila tanpa kamu," ucapnya sendu.


"Aku akan selalu ada untukmu Leona. Selamanya akan mencintaimu dan menjagamu. Aku tak akan membiarkan kau kehilangan aku, karena aku akan selalu bersamamu."


Leona yang sedari tadi menatap mata Clark pun menitikkan air mata tanpa ia sadari. Dengan lembut Clark menyeka lelehan kristal di pipi Leona.


"Aku mencintaimu Clark."


"Aku lebih mencintaimu Leona."


Bibir mereka pun berpagut dengan saling mendekap erat. Menyalurkan rasa cinta satu sama lain. Meluapkan hasrat dalam hati seolah takut akan kehilangan. Tangan nakal Clark kembali tak terkendali. Ia ******* dada Leona tanpa melepaskan pagutan dibibirnya.


Hingga suara dering ponsel Clark menghentikan kegiatan pagi mereka yang baru mulai menghangat.


"Ada apa?" tanya Clark sedikit ketus.


"........."


"Apa? Kau tidak berbohong?"


".........."


"Baiklah, aku akan segera pulang!"


Clark terlihat panik, tentu saja Leona yang melihat suaminya seperti itu menjadi khawatir.


"Ada apa Clark?"


"Ibuku, dia jatuh sakit!"


Leona terkejut, dia belum bertemu dengan ibu mertuanya. Mendengar beliau sakit tentu saja ia semakin khawatir.

__ADS_1


Clark memutuskan untuk segera kembali ke rumahnya seorang diri.


Dia berjanji setelah ibunya sembuh, Clark akan membawa ayah dan ibunya untuk menjemput Leona sebagai menantu keluarganya.


Clark mencium kening Leona sangat lama sebelum ia memasuki kereta yang akan membawanya pulang. Dan sekali lagi ia memeluk Leona seakan tak rela untuk meninggalkan wanitanya.


"Sudahlah, cepat masuk. Keretanya sudah mau berangkat," dengan sedikit mendorong Clark yang enggan melepaskannya.


"Tunggu aku ya."


" Aku akan selalu menunggumu!"


Keretapun mulai bergerak lamban. Dari balik jendela, mereka saling melambaikan tangan.


Mereka tidak menyangka lambaian tangan perpisahan saat itu adalah lambaian untuk terakhir kalinya.


_ _ _


Beberapa hari setelah berpisah, mereka masih saling memberi kabar. Namun setelahnya tidak ada kabar apapun yang Leona terima. Clark benar-benar tidak bisa dihubungi.


Satu minggu, dua minggu, Leona masih bersabar. Satu bulan, Leona tetap berusaha berpikir positif.


Namun seiring berjalannya waktu, kesehatan Leona tiba-tiba menurun, bagaimana pun juga Leona tetap tidak tenang dan selalu memikirkan tentang keadaan Clark.


Tentu saja sang Ayah dan pengasuhnya Frida sudah merasa sangat khawatir dengan keadaan Leona.


Suatu hari, sebuah mobil mewah berhenti didepan rumah Leona. Seorang wanita cantik dengan pakaiannya yang elegan mengetuk pintu rumah Rafael. Sang pemilik rumah tentu terheran-heran dengan kedatangan tamu tak diundang itu.


"Saya ingin bertemu nona Leona," ucapnya angkuh.


"Saya adalah orang utusan dari keluarga Clark Anthony."


Jelas saja Leona kaget. Bagaimana mungkin orang utusan Clark berpenampilan semewah itu. Bukankah Clark hanya orang biasa?


"Perlu nona Leona ketahui, Tuan muda Clark adalah pewaris dari Global Group."


Leona semakin bingung, "Saya tidak mengerti maksud anda Nyonya?"


"Jadi, selama ini dia disini hanya untuk tugas masa percobaan sebagai karyawan biasa. Setelah semuanya selesai dan lulus, dia akan kembali untuk memimpin perusahaan."


"Dan selama pemantauan, kami tau jika Tuan muda menikahimu. Kami minta maaf atas perlakuan nakal Tuan muda. Tapi nona tenang saja, saya akan memberikan ini sebagai konpensasi," menyodorkan cek dengan nominal yang sangatlah banyak yang membuat Leona membelalakkan matanya dan terperangah.


"Apa maksudnya ini?" Leona marah.


"Saya harap, nona Leona tidak mencari Tuan muda lagi. Nyonya besar sempat sakit karena mendengar pernikahan konyol putranya. Tuan muda hanya ingin main-main sebelum ia terikat pernikahan resmi. Karena dia akan segera menikah dengan tunangannya nona Selena, salah satu putri dari pemilik perusahaan Khans Company. Jadi jangan mengharapkan dia lagi ."


DUAAARRR


Jantung Leona seakan ingin meledak.


Ia menutup mulutnya dengan tangan tak percaya. Apa benar Clark melakukan ini padanya?

__ADS_1


Apa semudah itu Clark mengingkari janji suci mereka?


"Tidak mungkin, pasti anda berbohong Nyonya!" teriaknya dengan air mata yang sudah lolos sedari tadi.


Leona mencoba menepis semua pikiran buruknya.


Namun bukti foto Clark dan seorang gadis cantik di sebuah pesta berkelas, membuktikan kemesraan mereka.


Clark memeluk Selena dari samping, dan gadis itu melingkarkan tangannya di pinggang Clark dengan mesra. Mereka terlihat sangat bahagia.


"Itu adalah acara pertunangan mereka beberapa hari lalu," ujar wanita itu.


Air mata Leona kembali luruh tak tertahankan. Dadanya terasa sakit. Hatinya terasa hancur berkeping-keping.


Tubuhnya terkulai dengan berderaian air mata. Ia seakan tak memiliki tenaga sama sekali.


Rafael yang juga ikut mendengar begitu geram dan langsung mencaci maki Clark. Rasanya ia sangat benci sebenci-bencinya pada menantu yang kurang ajar seperti Clark.


Rafael melemparkan cek yang wanita itu berikan dan segera mengusirnya dengan kasar. Sumpah serapahpun berhamburan dari mulut Rafael karena kebenciannya pada Clark yang menyakiti putri kesayangan satu-satunya itu.


"Aku sudah menduganya, laki-laki itu bukanlah orang baik. Pernikahan Leona dengannya belum diketahui banyak orang, maka aku akan tetap menikahkan Leona dengan Daniel yang jelas anak baik-baik."


Meski sudah berhari-hari, Leona masih syok. Dia belum bisa menerima kenyataan.


Ia terpuruk dan dalam keadaan sakit saat keluarga Daniel datang untuk melamarnya.


Leona hanya diam saja, menuruti apapun yang dikataan ayahnya. Hidupnya sudah terasa mati.


Daniel yang memang mencintai Leona, bisa menerima Leona apa adanya. Dia pun bersedia merawat Leona yang sakit dan meski saat ini Leona juga tidak mau berbicara dengan siapapun.


Namun, saat pertunangan mereka hampir digelar, Leona jatuh pingsan. Dokter yang memeriksanya mengatakan kalau saat ini Leona sedang mengandung.


Sontak saja keluarga Daniel merasa kecewa dan marah. Mereka memutuskan hubungan dengan keluarga Rafael begitu saja. Karena terlalu syok, Rafael pun jatuh sakit karena mendadak mendapat serangan jantung.


Dunia Leona pun terasa runtuh.


Harta yang dimiliki keluarganya habis untuk pengobatan sang ayah meski ayahnya tetap tidak bisa terselamatkan.


Rafael berpulang dengan membawa kebencian yang besar pada laki-laki bernama Clark Anthony.


Leona pun tidak bisa melanjutkan studynya.


Kuliahnya terpaksa terhenti karena kendala biaya.


"Bunda akan mejagamu nak, Bunda akan melakukan apapun untuk membahagiakanmu. Kita akan tetap melanjutkan hidup, walaupun kamu tumbuh tanpa seorang Ayah," ucap Leona dengan mengusap perutnya yang masih rata dengan lembut.


"Ayo Bibi, kita tinggalkan kota ini dan memulai hidup baru!"


Dan dengan setia, Frida selalu mendampingi Leona dalam keadaan susah maupun senang.


flashback versi Leona off

__ADS_1


__ __ __ __ __ __ __


jangan lewatkan like n komennya


__ADS_2