
"Tuan muda Royan!"
Jason memanggil Royan yang kebetulan ada di kantor Clark.
"Ada apa Jas? Aku harus menemui Clark." ucap Royan datar yang menyangka Jason akan melarangnya untuk menemui sang kakak.
"Oh, kebetulan sekali. Tadi sekertaris anda memberikan tiket pesawat untuk diberikan pada Tuan Roy. Tapi kenapa saya tidak tau Tuan Clark akan pergi juga?"
Sikap Royan terlihat mencurigakan dimata Jason. Royan melirik kanan kiri seolah mencari situasi aman.
"Jason, kemarilah!" Royan menarik asisten Clark sedikit menjauh dari tempat semula.
"Jason, aku tau selama ini Clark memintamu mencari seseorang. Dan setahun terakhir ini sudah lebih lima kali kau mengganti orang karena belum dapat hasil kan?"
Bagaimana Tuan Royan bisa tau?
"Itu benar Tuan, memangnya kenapa?" selidik Jason.
Royan terdiam sesaat, lalu menghela nafas.
"Apa kau percaya kalau aku bilang aku menemukan dia?"
"Apa anda yakin tuan?" Jason takut jika Royan hanya memancingnya untuk mengatakan siapa yang sedang Clark cari.
"Tentu saja aku yakin. Tapi masalahnya, aku bingung menjelaskannya pada Clark."
"Maksud anda?"
Royan kembali menghela nafas sambil bersandar di dinding dan melipat tangannya didada.
"Masalahnya.... orang itu punya seorang anak!"
"APA?" Jason terbelalak.
_ _ _
Di kota S
Leona menginjakkan kakinya di halaman sekolah taman kanak-kanak tempat dimana Shofia bersekolah.
Sejak ia melewati gerbang sampai ke depan kelas Shofia, tatapan tidak menyenangkan ia dapatkan dari ibu-ibu wali murid yang juga mengantarkan putra putrinya ke sekolah.
"Itu bundanya Shofia kan? Cantik ya?"
"Iya bu, cantik sih cantik. Tapi sayang, dia bukan wanita baik-baik." ujar seorang ibu dengan ekspresi mengejeknya.
"Gosip itu sebenernya bener gak sih bu?" sambung ibu lain.
"Bener bu, Shofia kan gak jelas siapa bapaknya."
"Katanya dia wanita nakal lho bu." ibu lain menambahkan bumbu-bumbu gosip.
"Masa iya sih? Cantik-cantik kok disalah gunain ya? Jijik saya liatnya."
Cibiran demi cibiran yang Leona dengar tak ia hiraukan. Sebisa mungkin ia menahan amarahnya. Biarlah, yang tau segalanya hanya Leona sendiri. Mereka hanya bisa menilai.
__ADS_1
Namun yang ia takutkan adalah, ketika Shofia bisa mengerti keadaannya saat ini. Apa yang akan gadis kecil itu pikirkan nanti?
Untuk menghindari emosinya pecah, Leona mengantarkan Shofia sampai ke kelasnya.
"Sayang, bunda harus menemui ibu guru. Kamu jangan nakal ya." ucap Leona sambil menoel hidung mungil putrinya.
"Oke bunda." jawabnya kemudian berlari menuju tempat duduknya.
Leona tersenyum dan melangkah keluar. Namun didepan pintu kelas, ia bertemu dengan orang tua Aneth teman Shofia.
"Hai Leona, apa kabar? Tumben sekali kau mengantakan Shofia ke sekolah, bibi Frida kenapa?" sapanya dengan senyum ramah.
"Eh, hai Retta. Bibi Frida tidak apa-apa, aku memang ada keperluan dengan guru Shofia." jawab Leona kaku.
"Oh, begitu?"
Leona melihat Aneth dicium oleh Retta dan suaminya sebelum masuk kelas. Sungguh pemandangan yang indah. Sepasang suami istri yang mengantarkan anaknya sekolah sebelum keduanya bekerja ke tempat masing-masing.
Dan Shofia tidak pernah merasakan kehangatan seperti itu.
"Leona, kami pergi dulu. Kapan-kapan berkunjunglah ke rumah. Aneth pasti senang, apalagi kak Henry." ucap Retta menggoda.
"Eh,, oh iya. Nanti aku dan Shofia berkunjung."
Retta dan suaminya pun berpamitan.
Ya, yang bersikap baik di sekolah ini hanya orang tua Aneth. Mungkin itu hanya karena Retta adalah adik Henry.
"Bunda?" suara lirih Shofia membuyarkan lamunannya.
"Sayang, ada apa?" Leona segera berjongkok mensejajarkan tingginya dengan sang putri. Gadis itu terlihat murung.
Deg
Pertanyaan itu seakan menghujam, menusuk tajam tepat di jantungnya.
"Aneth punya papa, temen-temen juga punya. Kenapa Fia nggak?"
Tak terasa bibir Leona bergetar. Ia tak menyangka pertanyaan yang ia takutkan itu akhirnya keluar juga dari mulut putrinya di usianya yang baru empat tahun.
Selama ini Shofia pasti selalu merasa berbeda dengan teman-temannya.
"Sayang, kamu punya ayah kok." Leona berusaha tetap tegar.
"Tapi.."
"Tapi apa bunda?" mata Shofia mulai berkaca-kaca.
Leona tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Ia sibuk menyeka air mata yang luruh begitu saja. Shofia tidak boleh melihatnya menangis. Tapi kenyataannya Shofia bukan anak bayi yang belum mengerti ibunya yang tengah bersedih.
"Jangan nangis bunda, Fia nggak minta mainan baru. Fia cuma mau ayah."
Leona semakin ingin menangis.
Keinginan anak berusia empat tahun yang dianggapnya mudah adalah sesuatu yang sangat berat untuk ibunya.
__ADS_1
"I.. iya sayang. Nanti Fia punya ayah. Sekarang kembalilah ke kelas, jd anak baik ya."
Leona mengecup kening Shofia lalu pergi menemui gurunya.
Bagaimana pun sekolah memiliki aturan dan persyaratan. Meskipun Leona memohon agar tidak perlu memberikan akta kelahiran, tetap saja pihak yayasan menolaknya.
Apalagi orang tua murid lainnya banyak yang meminta bukti kelahiran Shofia memanglah di atas pernikahan. Jika terbukti Shofia lahir diluar nikah, maka yayasan tidak mau menerima Shofia sebagai murid disana.
Aku harus bagaimana?
Apa aku harus mengikuti saran Bibi Frida untuk menikah dengan Henry?
Ya, hanya Henry yang selama ini memperlakukan aku dengan baik.
Baiklah, aku akan memulai membuka hati untuknya. Demi Shofia..
_ _ _
Kembali ke kota A
"Apa Tuan yakin orang suruhan Tuan itu mendapatkan info akurat?" tanya Jason sambil memperhatikan foto seorang gadis kecil yang diberikan Royan padanya.
"Hey, jangan remehkan orang-orangku. Kau pikir cuma anak buahmu yang bisa kerja? Nyari satu orang saja nggak ketemu." sindir Royan.
Jason hanya diam.
Dia tau kali ini anak buahnya tidak mendapatkan hasil. Jason tak menyangka kalau orang yang ia cari ada di kota sekecil itu.
"Berapa banyak yang kau tau tentang kakakku, Jas? Hampir empat tahun kamu bersamanya. Kau pasti sudah hafal kan bagaimana sifat Clark?" tanya Royan menoleh ke arah Jason.
"Benar Tuan." jawab Jason singkat.
"Ya itu sudah pasti. Bahkan Clark juga lebih percaya padamu dari pada aku kan?" Royan tersenyum miris.
"Kau bisa lihat sendiri, pekerjaan yang dia percayakan padamu jauh lebih banyak dari aku. Apa aku boleh cemburu?"
Kenapa Tuan muda Royan malah curhat padaku? Sebenarnya dia mau mengatakan apa sih?
Gumam Jason dalam batinnya. Namun ia tak berani menjawab pertanyaan Royan.
"Coba kau bayangkan Jas, seorang Clark Anthony yang sangar, pemarah, kejam dan tidak suka keributan itu bertemu dengan seorang anak kecil. Kau taukan anak kecil itu, berisik dan tidak mau diam. Apa kau tidak berpikiran dia akan menjinjing anak itu dengan satu tangannya, Jas?"
"Phfftt...." Jason menahan tertawanya.
Pikirannya mulai bermain membayangkan bagaimana sikap Clark nanti menghadapi gadis kecil yang ada dalam foto ditangannya.
"Bagus ya kalian! Cerobohnya kalian membicarakan aku sampai terdengar langsung oleh telingaku!" suara angker yang sangat mereka kenali terdengar lebih mengerikan dari biasanya.
"K..kakak?"
bersambung
__ADS_1
Royan Anthony
minta dukungannya ya....