
Beberapa saat berlalu dengan kebisuan.
Insiden yang membuat dua insan terjerembab bersama tadi membuat keduanya kembali canggung.
"Ehemm!" Clark berdehem untuk memecah keheningan.
Leona hanya melirik sekilas, dan kembali memalingkan pandangan dengan menggigit kecil ujung bibirnya.
"Kamu masih sangat menyukai bunga mawar Leona?" tanya Clark basa-basi.
"Tentu saja, dan kau tau itu," jawab Leona pelan.
Clark mengangguk paham.
"Nanti akan ku ganti yang lebih bagus."
"Iya," jawab Leona sekenanya.
Suasana kembali hening.
Kenapa Clark tidak bertanya lagi?
Aku kan bingung, harus bicara apa?
Clark mengerutkan keningnya saat melihat Leona tiba-tiba menepuk kepalanya sendiri.
"Kamu kenapa?" Clark mengusap kepala Leona yang ditepuk tadi .
"Eh, tidak apa-apa," jawabnya gugup.
"Aku bereskan ini dulu, badanku juga sudah gak nyaman. Setelah ini aku mandi dan kita kembali ke rumah sakit."
Leona mulai beranjak untuk membawa piring kotor sisa makan mereka.
"Tunggu Leona, duduklah dulu. Aku ingin bicara."
Nah, gitu dong!
Dari tadi aku menunggumu mengajakku bicara!
Leona meletakkan piring itu lagi dan kembali duduk.
"Ada apa?" tanyanya dengan menatap Clark yang terlihat ragu.
"Leona, apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya kepadaku?"
Tak ada jawaban dari Leona. Ia hanya menunduk dengan memainkan jemari tangannya.
"Aku tau, kau menerima pernikahan kita hanya terpaksa demi Shofia. Tapi aku tidak!"
Leona menoleh menatap Clark.
"Aku benar-benar ingin memperbaikai semuanya. Mengganti rasa sakit menjadi kebahagiaan. Tapi semua itu tidak akan pernah terwujud jika hanya aku yang berusaha."
"Aku membutuhkan bukti, Clark!" Leona masih menatapnya.
"Yakinkan aku jika kamu benar-benar tidak bersalah!"
Clark menyerongkan duduknya mengarah Leona.
"Akan aku buktikan Leona. Jason akan segera mengirimkan rekam medisku beberapa tahun lalu."
"Bukan hanya itu," ucap Leona cepat.
"Jujur saja aku sangat sakit hati saat mendengar kalau kau menikahiku hanya untuk bermain-main sebelum kamu terikat pernikahan sesungguhnya bersama Selena!" dadanya mulai menyesak.
"Aku berani bersumpah demi apapun, Leona. Aku tidak pernah mengatakan hal itu. Dan harus kau tau, saat itu aku masih terbaring koma dirumah sakit. Aku tidak pernah menikahi Selena, dia temanku Leona."
Clark menyeka air mata Leona yang mendadak luruh. Diraihnya kedua tangan wanita itu untuk ia genggam.
"Sejak awal aku berniat menikahimu, semuanya jujur tulus apa adanya, Leona. Hanya saja waktunya yang tidak tepat."
Leona mengakui itu, ia juga terlalu terburu-buru menerima pernikahan itu. Tidak dipungkiri, saat itu Leona memang terlalu mencintai Clark dan juga takut kehilangannya.
"Jika saja saat itu aku tidak mengalami kecelakaan, mungkin semuanya tidak akan seperti ini."
Clark melepaskan genggaman tangannya dan berpaling.
__ADS_1
"Keadaan terpurukku membuatku lemah, dengan bodohnya aku percaya kalau kau mengkhianatiku karena aku lumpuh."
"Clark!" Kini Leona yang meraih tangannya. Matanya kembali basah. Clark menoleh dan mengeratkan genggaman yang Leona berikan.
"Maafkan aku Leona, maafkan karena sudah membencimu. Padahal aku yang bersalah."
Leona menggeleng, "Tidak Clark, semua bukan sepenuhnya kesalahanmu. Kita sama-sama dipermaikan. Aku baru sadar, dibalik semua ini ada pihak yang tidak menginginkan kita bersama."
Clark tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Apa kamu mau berjuang bersamaku?"
Leona mengangguk seraya tersenyum.
"Ya, aku mau. Aku akan memberimu kesempatan. Mari kita memulainya dari awal."
Clark memeluk Leona dengan perasaan bahagia. Leona pun membalas pelukan itu, hatinya terasa lega.
"Aku mencintaimu Leona!" ucap Clark dengan mengeratkan pelukannya.
"Ak, aku ..." Clark melepas pelukannya dan menatap Leona lekat.
"Kamu sudah tidak mencintaiku?" tatapan matanya memancarkan kesedihan.
Namun Leona malah terkekeh melihat ekspresinya.
"Aku mencintaimu Clark!" Leona menangkup kedua pipinya. "Maafkan aku yang selama ini sangat membecimu!"
Mata Clark yang berkaca-kaca kini berbinar. Ia menurunkan tangan Leona dari wajahnya dan mengecupnya beberapa kali.
"Aku sudah tau, kamu tidak akan mungkin berhenti mencintai pria tampan sepertiku," Leona mencubit perut rata Clark dan pria itu langsung mencium bibir manisnya. Leona pun membalas pagutan itu.
Cinta yang selama ini terpisah, kini bisa saling mengungkapkan tanpa ada rasa kebencian.
Ya, jauh dilubuk hatinya yang terdalam, nama Clark telah terpatri kuat didasar hatinya.
Mereka tersenyum dengan saling menempelkan kening setelah melepaskan pagutan mereka.
Clark meraih tubuh Leona dan menyandarkan kepala wanita itu didada bidangnya.
Leona menggeleng, " Aku harap, pernikahan ini untuk selamanya." Ia melingkarkan tangannya diperut Clark.
"Tapi aku akan benar-benar menceraikanmu jika kamu berani mengkhianatiku!" ancamnya dengan mengeratkan pelukannya.
"Tidak akan sayang," Clark mencium puncak kepalanya. "Aku hampir mati karena kehilanganmu, Leona. Tanpa dirimu, rasanya dunia ini sudah tidak ada artinya lagi. Tidak peduli besok mentari akan berainar lagi atau tidak, yang aku inginkan hanyalah mengakhiri hidupku yang sudah tak berguna lagi. Karena kamu sudah berpaling memilih orang lain."
Leona menegakkan duduknya dan menatap wajah Clark.
"Lalu dari mana kamu tau kalau aku tidak menghianatimu?"
Clark menghela nafas, "Aku dan Daniel mempunyai kerja sama. Aku pikir, aku akan melihat Daniel membawamu kesebuah pertemuan. Tapi ternyata, istrinya adalah.orang lain. Dan dari situ Daniel yang menceritakan semuanya, sehingga satu tahun terakhir ini aku berusaha keras untuk menemukanmu lagi."
Leona menyandarkan kepalanya dibahu tegap Clark.
"Aku juga betahan hidup karena Shofia. Jika saja saat itu aku tidak mengandung, mungkin aku juga sudah mengakhiri hidupku sendiri."
"Maafkan aku Leona, aku tidak ada di saat-saat kamu membutuhkan aku. Harusnya saat itu aku ada disampingmu."
"Tuhan punya rencana lain, Clark."
"Kau benar, jika saja benihku tidak tumbuh dirahimmu, mungkin kita tidak akan bisa seperti ini lagi."
Clark mengangkat dagu Leona dan mengecup singkat bibir wanitanya.
"Apa kau pernah merindukanku?"
"Tidak!" jawab Leona cepat.
"Kenapa?" Clark memicingkan matanya.
"Karena aku membencimu!" jawab Leona dengan menyolek hidung mancung Clark.
Pria yang memeluknya itu terkekeh.
"Tapi kamu masih menyimpan cincin pernikahan kita. Bukankah itu artinya kamu masih ingin menyimpan kenangan pernikahan kita?"
Leona tersenyum, "Aku juga tidak tau, tapi ada perasaan aneh setiap kali aku memandangi cincin itu."
__ADS_1
"Ya itu artinya kamu memang tidak ingin melupakanku, Leona!"
Leona terkikik geli saat tangan Clark kembali menggelitik pinggangnya.
"Hentikan Clark! Kenapa kamu suka sekali menggelitikiku?" ujar Leona dengan memanyunkan bibirnya.
"Karena kamu tidak mau jujur padaku!" Clark mengapit pinggang Leona sampai menempel ketubuhnya.
"Yaaa, itu karena aku tidak menyadarinya, Clark" kilah Leona manja.
Clark pun mengangkat tubuh Leona agar duduk dipangkuannya.
"Kalau sekarang? Apakah sudah sadar kalau kau sangat mencintaiku?"
Leona tersenyum dan mengangguk malu-malu.
"Kalau begitu, cium aku!" titah Clark tanpa melepaskan tangannya dari pinggang ramping Leona.
"Ish, kamu selalu saja meminta cium!" protesnya dengan mencubit kedua pipi mulus Clark.
"Tanganmu jangan disini, tapi disini!" Clark memindahkan tangan Leona dari pipi ke lehernya.
Cup
Clark mengecup bibir Leona sekali.
Cup
Leona tersenyum saat kecupan yang kedua kalinya.
Dan ketiga kalinya kedua bibir mereka kembali menyatu lebih lama. Clark ******* dan menyesap bibir Leona dengan penuh hasrat.
Leona pun merasakan hal yang sama.
Kerinduan yang selama ini terpendam membuat mereka ingin merasakan sesuatu yang lebih.
Sesuatu yang sudah sangat lama tidak pernah mereka berdua lakukan.
Leona tidak menghindar saat bibir Clark beralih menciumi leher jenjangnya.
Bahkan tangannya mulai melepaskan kancing kemeja yang Leona kenakan dan melemparkannya kesembarang tempat dengan menyisakan pakaian dalam penutup kedua aset kembrnya.
Leona melenguh saat Clark beralih ke area dadanya.
Clark mulai melepaskan pengait dipunggung Leona, akan tetapi ...
Ponsel Leona berdering sangat nyaring. Mereka pun berhenti sejenak untuk melihat siapa pengganggunya?
Bibi Frida?
"Halo Bi!" sapa Leona cepat.
"Leona, cepatlah kembali. Shofia terbangun dan tiba-tiba menangis memanggil namamu. Bibi khawatir," Frida panik.
"I,iya Bi. Aku dan Clark akan segera kesana!"
"Ada apa?" tanya Clark setelah Leona mematikan sambungan teleponnya.
"Shofia tiba-tiba menangis dan mencariku. Kita harus kesana!" Leona bangkit dari pangkuan Clark.
"Ya sudah, cepat ganti baju. Kita ke rumah sakit sekarang."
"Tapi kan aku belum mandi!"
Clark menghela nafas sambil menepuk keningnya, " Tidak usah mandi, ganti pakaian dan pakai parfum saja." Memberi ide.
"Tidak apa-apa seperti itu?" Leona ragu.
"Kamu tetap cantik walaupun tidak mandi, sayang." Leona tersipu.
"Baiklah!" ia lekas berlari menuju kamar untuk berganti pakaian.
Sementara itu, Clark harus kembali berjuang menenangkan juniornya yang terbangun.
_______________________________
jangan lupa Like komen n vote ya
__ADS_1