
Hentikan Clark!
Aku mohon jangan lakukan ini padaku.
Rintih Leona dalam hati.
Merasa tak ada respon dari Leona, Clark semakin mengeratkan dekapannya. Ia semakin mengendus bahkan mulai menciumi leher jenjang wanita yang dirindukannya.
Tubuh Leona bergetar dengan sendirinya, darahnya berdesir, jantungnya berdetak lebih cepat. Tubuhnya melemas, mulutnya ingin mengatakan tidak. Tapi ternyata tubuhnya bereaksi lain.
Tidak Clark, jangan seperti ini.
Aku tidak menginginkan saat-saat seperti ini.
"Aku sangat merindukanmu, Leona" bisik Clark ditelinganya.
Hangatnya hembusan nafas Clark yang kembali menerpa telinganya semakin membuatnya meremang. Dada naik turun seirama dengan hembusan nafasnya yang mulai memburu saat tangan Clark bermain-main dipinggangnya.
Apa Leona juga merindukan saat berdua bersama Clark?
"Jangan Clark! Lepaskan aku!" Leona meronta ketika tangan Clark mulai memasuki bajunya dan mengusap perut ratanya.
Dekapan Clark pun terlepas oleh pergerakan Leona yang tiba-tiba memberontak.
Ia berbalik dan menatap pria yang dulu dicintainya dengan tatapan tajam.
"Cukup Clark, jangan melebihi batas!" ujarnya yang terlihat marah.
"Kenapa Leona? Kau tidak menginginkanku?"
"Tidak!" jawabnya tegas.
Dengan cepat Clark menarik pinggang Leona dan kembali membawanya kedalam dekapannya.
"Katakan sekali lagi, apa kau tidak menginginkanku lagi, Leona?"
Kini jarak mereka lebih dekat bahkan hidung mereka hampir bersentuhan, Leona tak mampu menyembunyikan rasa gugupnya.
Bagi Leona, hanya Clark yang mampu membuat jantungnya berdebar kencang seperti saat ini.
"Ti..tidak. Kau sudah bukan siapa-siapa lagi" jawabnya gugup dengan berusaha tegas.
"Aku tidak pernah menceraikanmu Leona!" Clark meraup wajah Leona menggunakan salah satu tangannya.
"Kau masih milikku, sampai kapanpun kau akan tetap menjadi milikku, Leona."
Tatapan mata Clark seakan menghipnotisnya. Saat itu juga Leona tak bisa berpikir apapun. Kebencian yang semula ia rasakan, tertahan begitu saja.
Baginya, Clark adalah satu-satunya pria yang pernah ia cintai. Mungkin sampai dengan saat ini.
Clark semakin mendekat dan mulai menarik tengkuk Leona dengan perlahan.
Meski tangannya yang memegang tali paperbag mengepal kuat, namun tanpa ia sadari, Leona pun reflek memejamkan kedua kelopak matanya tanpa melakukan perlawanan.
Apa Leona benar-benar tidak menginginkan Clark lagi?
"Bunda, Fia lapar!"
__ADS_1
Kedua manusia yang sedang terbuai kerinduanpun terperanjat kaget dan gelagapan ketika Shofia tiba-tiba masuk kedalam kamar. Keduanya tidak bisa menyembunyikan wajah mereka yang kini terlihat memerah.
Leona segera berjongkok didepan Shofia.
"Iya sayang maafin Bunda ya, Bunda lupa."
Seperti mendapatkan kesadarannya kembali, Leona berdiri lagi dan menyerahkan paperbag yang ia bawa kepada Clark dengan kasar.
"Pakai ini, gara-gara harus membeli pakaian untukmu, aku jadi lupa memasak," ucapnya ketus.
Leona menuntun Shofia dan membawanya keluar. Namun sebelum ia benar-benar keluar, Leona berbalik menatap Clark lagi.
"Jangan lama, karena aku membutuhkan handuk yang kau pakai itu!" ujarnya penuh penekanan.
"Siap laksanakan, Nyonya!" jawab Clark dengan hormat ala tentara sambil tersenyum.
Kau semakin menggemaskan dengan wajah kesalmu itu Leona.
Gumam Clark tanpa memudarkan senyumnya sedikit pun.
Sedangkan Leona, setelah keluar dari kamar kini ia sibuk menetralkan degupan jantungnya yang masih belum stabil seperti sebelumnya.
Setelah beberapa saat, Leona selesai mandi dan berpakaian. Ia keluar kamar dan melihat Shofia yang tengah bercanda dalam pangkuan Clark. Mereka terlihat cocok sebagai pasangan ayah dan anak.
Dengan pakaian casual yang ia belikan, Clark terlihat seperti saat lima tahun lalu sebelum identitas sebenarnya terungkap.
Clark yang sederhana dan apa adanya.
Tidak Leona, jangan terpancing ke masa lalu. Dia bukan Clark yang dulu lagi.
Racau Leona dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.
Shofia dan Clark pun menghentikan tawa mereka. "Nasi goreng di ujung jalan aja Bunda!" ujar Shofia lantang.
"Baiklah sayang, ayo kita pergi!"
Dengan semangat Shofia beranjak bangun dan menuntun tangan Clark.
"Apa dia harus ikut, Fia?" tanya Leona dengan melirikkan matanya ke arah Clark.
"Iya Bunda, kan Ayah juga belum makan" jawab Shofia polos.
"Tapi dia nggak akan terbiasa makan dipinggir jalan, sayang. Nanti dia.."
"Siapa bilang?" potong Clark.
"Aku bukan tipe pemilih makanan jika kau lupa."
Leona tak menyangkal ucapan Clark.
"Lagipula, aku juga kelaparan. Masa kau tidak berbaik hati untuk mengajakku makan?" Clark memasang wajahnya sesedih mungkin.
"Kasian Ayah, Bunda. Kita ajak juga ya" rayu Shofia yang ikut memasang wajah memelasnya dengan menggoyang-goyangkan tangan Leona.
Bagus Clark, aktingmu luar biasa.
"Baiklah, ini demi Shofia" Leona menyerah kemudian berlalu mendahului mereka.
__ADS_1
Clark dan Shofia pun bertos ria dibelakang Leona.
Mereka yang berjalan beriringan tak luput dari pandangan setiap orang yang melihatnya.
"Pasangan serasi ya, Ibunya cantik Ayahnya tampan. Lihatlah, anaknya manis sekali" bisik mereka.
Dan kini, mereka tengah duduk lesehan didepan kios yang tutup dengan hanya beralaskan tikar milik pedagang nasi goreng.
Bagi yang melihat, mereka seperti layaknya keluarga kecil yang sedang makan malam bersama.
Akhirnya hari ini datang juga, aku sangat menginginkan moment kebersamaan seperti ini. Aku, dan dua orang wanita yang aku cintai. Leona dan Shofia.
-Clark-
Harusnya malam ini aku makan bersama Henry. Kenapa malah bersama Clark?
Sungguh rencana Tuhan itu tak terduga.
-Leona-
_ _ _
Di Hotel.
"Kenapa sampai jam segini dia belum kembali?" gumam Royan yang berada di meja
makan seorang diri.
"Sedang apa dia sekarang? Tidak memberiku kabar sama sekali. Membuatku khawatir saja." gerutunya lagi sambil meraih ponselnya dan mendial nama Big Boss.
Clark yang tengah makan bersama Leona dan Shofia pun merasa terganggu. Apalagi saat melihat si penelepon itu yang ternyata adalah Royan.
"Angkatlah, suara ponselmu itu sangat mengganggu" sungut Leona yang kesal karena ponsel milik Clark sedari tadi tidak berhenti berdering.
"Baiklah, Ayah angkat telpon dulu ya sayang" ucapnya yang hanya diangguki gadis kecil itu. Dengan mengelus kepala Shofia, ia tersenyum lalu menjauh.
"Apa?" tanya Clark ketus.
"Kakak ku yang sangat tampan sedunia, kau ada dimana? Ini sudah waktunya makan malam kak." tanya Royan yang memang sedang khawatir padanya.
"Kau menggangguku hanya untuk menanyakan itu?" tanyanya dingin.
"Hey kak, aku menghkawatirkanmu!" jawab Royan gemas.
"Memangnya apa yang kau khawatirkan dari seorang Clark Anthony, hm?"
Haish, aku lupa siapa kakak ku.
"Ya ya ya, maaf Clark. Aku hanya ingin tau, kau sudah makan atau belum?"
"Kalau kau ingin tau, kau sedang menganggu acara makan malam spesialku!"
Titt
Panggilan pun diputuskan oleh sebelah pihak.
"Kau tega sekali Clark, aku mengkhawatirkanmu dan kau tidak mengkhawatirkanku. Huwaa.. kau jahat sekali!" Royan meraung seorang diri dikamar hotelnya.
__ADS_1
Like komen n vote ya
Jangan lupa masukin ke favorit kalian, ok?