Kalian Milikku

Kalian Milikku
Eps 24 Bukan Cuma-cuma


__ADS_3

Dua orang yang tengah mencemaskan orang yang sama itu memasuki rumah sakit yang tidak begitu luas.


Clark mengedarkan pandangannya, berbagai kritik ia lontarkan didalam hati.


Bahkan tempat itu luasnya lima kali lebih kecil jika dibandingkan dengan Rumah sakit yang saat ini tengah ia bangun.


Kedatangan pria tampan nan gagah diarea itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada disana.


"Masuklah!" ajak Leona.


Clark terdiam dengan melebarkan matanya, "Disini?"


"Ya, kau pikir aku akan membawamu ke ruangan orang lain begitu?"


Leona benar, mana mungkin dia mengajak Clark ke ruang inap orang lain?


Tapi masalahnya, Clark terkejut dengan kelas yang Leona ambil.


Apalagi saat masuk kedalam.


Disana bukan hanya ada Shofia dan Frida, tapi juga orang lain dengan pasien anak masing-masing.


Semua pandangan pun tertuju pada kehadirannya.


"Shofia, buka matanya nak. Coba lihat, siapa yang datang?" bisik Frida didekat telinganya.


Perlahan gadis kecil itu mengerjapkan matanya dan mendapati senyum seorang laki-laki yang sangat dirindukannya.


"Ayah?" ucapnya lirih dan bergetar. Tangannya terulur seakan ingin meraihnya.


"Iya sayang, ini Ayah!" Clark menyambut uluran tangannya dan menghambur memeluk tubuh kecil yang terbaring tak berdaya.


"Jangan khawatir, Ayah ada disini!" lanjutnya dengan mencium kening Shofia lalu menciumi tangan mungilnya beberapa kali.


"Fia kangen Ayah," matanya sayu.


Clark kembali memeluk gadis kecil yang terlihat lemah dihadapannya. "Ayah lebih merindukanmu sayang!"


Tak terasa bendungan air dimata Leona luruh begitu saja melihat mereka yang tengah melepas rindu.


Seegois itu kah aku sampai menyakiti putriku sendiri?


Frida merangkul bahu Leona dan mereka saling tatap.


Tatapan Frida seolah mengatakan,,


Lihatlah, ikatan cinta diantara Ayah dan anak itu sangat kuat, Leona!


"Ayah jangan tinggalin Fia lagi," Clark menyeka air mata yang membasahi pipi gadis kecilnya sambil tersenyum.


"Tidak sayang, Ayah tidak akan meninggalkanmu!"


Cup


Ia kembali medaratkan ciuman di kening Shofia. Leona, Frida dan juga keluarga pasien lain hanya jadi penonton melihat kedekatan mereka.


Merasa tidak nyaman dengan perhatian orang disekutarnya, Clark mengeluarkan benda pipih bermerk terkenal dari dalam saku jasnya dan mengetikkan sebuah pesan.


Beberapa saat kemudian, seorang dokter dan dua orang perawat masuk keruangan itu dengan diikuti Jason dibelakangnya.


"Semuanya sudah saya atur Tuan!" ujar Jason pada Tuannya.


"Maafkan atas ketidak nyamanannya Tuan, kami akan segera memindahkan nona Shofia," ucap sang dokter yang hanya diangguki oleh Clark.


Kenapa Shofia harus dipindahkan? batin Leona bertanya-tanya. Namun ia tak berani menanyakan apapun pada Clark.


Pemindahan pun dilakukan.


Dan saat tau ternyata Shofia di pindahkan ke ruang VIP, Leona angkat suara.


"Kenapa dipindahkan kesini Clark? Aku tidak___"

__ADS_1


"Ssttt...!" Clark memotong ucapannya.


"Jangan protes!" lanjutnya dengan mengikuti Shofia yang sudah lebih dulu dibawa kedalam.


Leona hanya mendengus kesal, tapi ia mengikuti masuk juga.


Ruangannya lebih luas dan juga bersih. Dan tentunya tidak ada pasien lain diruangan ini.


Clark melepas jasnya dan melemparnya sembarang ke atas sofa.


"Kamu suka kamarnya sayang?" tanya Clark dengan duduk ditepi ranjang seraya mencium puncak kepala Shofia.


Gadis kecil itu mengangguk lemah sambil tersenyum.


Leona pun mendekat, "Clark, aku ingin bicara!"


"Tentang apa? Jika tentang perawatan Shofia, tanyakan saja pada Jason. Dia yang melakukannya!" jawab Clark tanpa mengalihkan pandangan dari gadis kecil dalam dekapannya. Ia seakan tidak mau ada yang mengganggu waktunya saat bersama Shofia.


Leona geram karena Clark mengacuhkannya. Ia pun menoleh kearah Jason yang berdiri tak jauh dari dirinya.


"Nona tidak perlu khawatir, semua administrasi dan keperluan perawatan sudah beres. Nona hanya perlu memperhatikan Nona kecil saja."


Leona mendengus lagi dengan kembali menatap Clark yang tengah mengusap-usap kepala Shofia.


Namun seketiha hatinya terasa menghangat melihat Shofia sudah bisa tersenyum lagi. Shofia juga terlihat sangat nyaman berada disamping Clark.


Akhirnya Leona pun memilih duduk diam memperhatikan interaksi mereka saja.


Perawat masuk kedalam ruangan itu membawakan makan malam untuk Shofia. Bersamaan dengan itu, Jason pun datang membawakan makanan. Sedangkan Frida, Leona menyuruhnya pulang untuk beristirahat.


Clark masih disana, dia tidak beranjak kemana-mana sejak kedatangannya.


Leona segera mengambil alih mangkuk yang dibawa sang perawat.


"Makan dulu sayang, Bunda suapin ya?" bujuk Leona. Namun Shofia menggelengkan kepalanya.


"Jangan begitu sayang, makan dulu biar kamu cepat sembuh. Shofia gak mau ya cepet sembuh, terus jalan-jalan sama Ayah?" rayu Clark lembut.


"Tapi Ayah juga mau makan sayang, tuh udah dibawain makanan sama Om Jason," Leona menujuk makanan yang Jason simpan di atas meja sebelum ia kembali keluar.


"Tidak apa-apa, Shofia maunya sama aku. Sini!" Clark menarik kursi dan duduk disamping ranjang Shofia.


Terpaksa Leona memberikan makanan Shofia dan hendak beranjak pergi.


"Mau kemana kamu?" tanya Clark yang melihat Leona sudah memegang gagang pintu.


"Aku ingin ke kantin!" jawab Leona malas.


"Untuk apa? Jason sudah membawakan makanan untuk kita berdua."


"Tapi aku belum lapar, aku hanya ingin membeli minuman," jawabnya lagi.


"Kau tidak lihat Jason juga membawakan minuman?"


Leona melirik sebentar kemudian merotasikan matanya malas. Sejujurnya ia cemburu saat Shofia lebih memilih Clark dari pada dirinya.


"Tetaplah disini, aku lapar!" ucap Clark sambil menyuapi Shofia sedikit demi sedikit.


"Kalau begitu makan saja, biar aku saja yang menyuapi Shofia," ujar Leona dengan menyodorkan satu box makanan bertuliskan nama restoran terkenal itu pada Clark.


"Kau lupa kalau Shofia hanya ingin makan denganku?" Leona mendengus lalu berbalik lagi.


"Suapi aku!" titahnya sambil terus menyuapi Shofia dengan telaten.


Apa-apaan kau ini?


Kenapa aku harus menyuapimu?


Gerutu Leona dalam hati.


"Tunggu apa lagi, cepatlah! Aku lapar." Clark mengusap ujung bibir Shofia menggunakan tisu dengan tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Walau kesal, Leona menuruti apa yang diminta Clark. Ia berdecak lalu duduk ditepi ranjang Shofia.


"Jangan cemburu pada Shofia. Kalau kau mau, setelah Shofia selesai makan, aku akan gantian menyuapimu," godanya yang semakin membuat Leona jengkel.


Siapa juga yang ingin disuapi kamu?


Gerutunya dalam hati.


Dengan wajah cemberutnya, Leona terus menyuapkan makanan kedalam mulut Clark.


Dan nampaknya laki-laki didepannya itu tidak peduli dengan sikap Leona. Ia tetap menikmati setiap suapan yang Leona berikan dengan terus tersenyum meski wajahnya hanya menatap pada Shofia saja.


"Pulanglah Clark, ini sudah malam. Shofia juga sudah tidur," ucap Leona setelah menyelimuti putrinya dan menghampiri Clark yang tengah duduk di sofa ruangan itu sambil memeriksa beberapa laporan diponselnya.


"Mana mungkin aku meninggalkanmu menjaga Shofia sendirian," Clark meletakkan ponselnya di atas meja.


"Tidak apa-apa, kau juga pasti lelah. Pulang dan beristirahatlah. Dan terima kasih untuk semuanya," ucap Leona dengan wajah yang menunduk.


Leona merasa malu, ia pikir Clark akan melolak datang karena ia pernah melarang dengan keras agar tidak menemui Shofia lagi.


Tapi ternyata, Clark banyak membantunya. Selain masalah keuangan, Clark juga berperan penting pada kesembuhan Shofia.


Clark menyerongkan duduknya menghadap Leona dengan menopang kepala menggunakan salah satu tangannya, "Kenapa harus berterima kasih? Bukankah sudah kewajibanku sebagai seorang Ayah ingin memberikan yang terbaik untuk Putrinya?"


Leona menoleh sebentar, lalu kembali membuang muka. Ia tak mengatakan apapun untuk menyela ucapan Clark.


Dan nampaknya ide jahil dikepala Clark muncul begitu saja.


"Tapi jangan kau pikir yang aku lakukan ini hanya cuma-cuma, Leona."


Leona menoleh dengan mengerutkan keningnya dalam, "Apa maksudnya Clark?"


"Ya, tentu saja itu tidak gratis Leona. Kau tau? Untuk hari ini aku sudah mengeluarkan uang banyak dan sudah melewatkan beberapa proyek penting bernilai puluhan milyar," ucapnya mengada-ngada.


"Mana mungkin waktuku yang berharga itu aku gratiskan begitu saja!" Clark melipat tangannya didada.


Apa? Dasar manusia perhitungan!


Bukankah baru saja dia mengatakan semuanya demi Shofia?


"Huh, aku tidak menyangka kau akan perhitungan seperti ini. Kau tenang saja, aku akan membayar semuanya!" Leona kesal bukan main.


"Dengan apa kau akan menggantinya?"


Leona kembali tak bisa menjawab. Memangnya apa yang dia punya?


"Ah, sudahlah. Untuk menggantinya, kau hanya perlu ikut denganku, besok!" Clark terlihat serius.


"Kemana?" tanya Leona ketus.


"Nanti kau juga akan tau, bersabarlah!" goda Clark dengan menaik turunkan alisnya seolah Leona yang sangat menginginkannya.


Cih, dasar!


Leona merotasikan matanya malas.


Leona, yang aku lakukan tidaklah seberapa jika dibandingkan semua yang sudah kau lakukan untuk Shofia.


Aku berjanji, akulah yang akan menggati semua pengorbananmu selama ini.


Besok, kau akan mendapatkan semuanya.


Ikrar Clark dalam hati dengan menatap intens wanita yang sangat dicintainya.


__ __ __ __ __ __ __


like


komen


vote

__ADS_1


lupiyuu


__ADS_2