Kalian Milikku

Kalian Milikku
Eps 12 Selamanya Milikku


__ADS_3

Hari ini semua karyawan Merryana Salon menjenguk sang bos secara bergantian. Leona sengaja mengambil giliran terakhir agar bisa datang bersama Shofia saat putrinya sudah pulang nanti.


Di rumah sakit, Leona melihat keadaan Merry yang terlihat mulai membaik.


Bibi Frida yang memang sudah sangat berpengalaman, menjaga janda berusia kepala empat itu dengan baik.


Merry memeluk Shofia dengan erat, ia sangat merindukan gadis kecil itu.


"Tante kapan sembuhnya? Nanti Fia kenalin sama Ayah," celetuknya yang membuat Frida dan Merry terperangah kaget.


"Ayah siapa maksudnya nak?" tanya Bibi Frida dengan membungkuk ke arah Shofia.


Gadis kecil itu hanya menoleh kearah Bundanya dengan tatapan yang sama bingungnya. Untuk meminta bantuan penjelasan, mungkin begitu pikirnya.


"Maksudnya apa Leona?" kini wanita paruh baya yang merawatnya sejak kecil itu beralih bertanya kepadanya.


Leona terlihat gugup dan gelagapan. Ia tak menyangka Shofia akan membahas tentang Clark di saat seperti ini.


"I...itu, maksud Shofia adalah Clark," jawabnya ragu.


"Clark?" Frida membelalakkan matanya.


"Bagaimana mungkin? Apa yang dia lakukan pada kalian?"


Merry terlihat bingung dengan ekspresi Bibi Frida menatap Leona yang tidak seperti biasanya.


Clark itu siapa ya?


Leona belum pernah menyebut nama pria itu sebelumnya. Batin Merry.


"En.. itu, nanti akan ke ceritakan. Sebaiknya jangan membahas dia dulu."


Frida terlihat tidak suka ketika nama Clark kembali terdengar ditelinganya.


Kejadian masa lalu yang membuat Leona terpuruk membuatnya kembali merasakan kepedihan yang dulu Leona rasakan.


Bagaimana kalau dia tau semalam Clark menginap ditempatnya?


Kenapa dia tiba-tiba muncul ?


Ingin menyakiti Leona lagi? , gumamnya dalam hati.


"Ouh, Fia punya Ayah? Nanti kenalin ke Tante ya," ucap Merry pada Shofia untuk memecah kecanggungan diantara mereka.


"Oke Tante!" jawab Shofia dengan mengacungkan ibu jarinya.


"Kau berhutang penjelasan padaku, Leona," ucap Merry lagi dengan melirik Leona sebentar dan kembali bercanda dengan Shofia yang duduk disampingnya.


"Iya, tapi tidak sekarang. Nanti saja setelah kau sembuh," jawab Leona yang kemudian ikut bergabung dan menanyakan perkembangan kesehatan Merry.


_ _ _


Di Perusahaan Royan.


Aura kepemimpinan Clark begitu terpancar. Dengan menduduki kursi kebesaran bagi seorang pemimpin, Clark terlihat cukup santai menanggapi setiap laporan yang ia terima.


Ia mengkritik dengan tenang namun tegas pada kekurangan mereka dan memberi pengarahan dan penjelasan dengan lugas agar kinerja mereka semakin lebih baik. Suasana rapat pun mulai terasa lebih ringan. Dan kehadiran sang bos besar tidaklah semenakutkan yang mereka pikirkan sebelumnya.


Padahal Royan yang duduk di samping kanannya sudah merasa was-was. Ia heran, baru kali ini ia melihat Clark mampu menstabilkan mood nya dengan cepat.


Lagi-lagi sikap seorang Clark tidak bisa ia ditebak.

__ADS_1


Namun ada sesuatu yang menarik perhatian.


Clark menatap dalam pada seorang pria yang saat ini sedang berdiri menjelaskan laporan keuangan.


Siapa dia?


Sepertinya aku pernah melihatnya.


"Tunggu dulu!" ucap Clark yang menghentikan penjelasan pria tersebut.


Sontak saja suasana kembali menegang.


Ada apa ini?


Apa ada yang salah dengan laporan keuangannya? gumam mereka dalam hati.


Semua peserta rapat pun menatap ke arahnya. Tidak terkecuali Royan yang mulai merasa khawatir.


"Kau!" tunjuk Clark pada pria itu.


"Saya Tuan?" tanyanya menunjuk diri sendiri.


"Siapa namamu?"


Semua orang terkejut, tak terkecuali Royan pun sama.


"Saya Henry Tuan, apa saya membuat kesalahan?" tanyanya bingung.


Henry?


Oh ya, aku ingat. Dia adalah laki-laki yang ingin merebut wanitaku.


Oke, tidak masalah. Lagipula, aku jauh lebih tampan darinya. Kau bukan tandinganku Hanry!


Gumam Clark arogan.


"Tidak, silahkan lanjutkan!"


Mereka seakan mendapatkan oksigen kembali. Menghela nafas bersamaan sebagai tanda lega terlepas dari ancaman masalah.


Dan rapat pun selesai.


"Roy, aku ingin data lengkap staf keuangan yang tadi," titahnya pada sang adik setelah memasuki ruang kerja Royan.


"Maksudmu Hanry?"


"Tidak usah menyebut namanya, aku hanya membutuhkan data lengkapnya," jawab Clark yang tengah duduk santai di sofa dengan menyilangkan kakinya.


"Hey yang benar saja, untuk apa kau mencari tau tentang dia?"


"Rupanya sekarang kau sangat cerewet seperti seorang gadis, Roy," sindir Clark datar.


Royan tertawa, "Bukan begitu Clark, aku hanya bingung. Kenapa kau penasaran dengan staf keuangan kita?"


Clark hanya menatap Royan datar.


"Kalau begitu aku ganti tugasmu. Siapkan ruangan kerja untukku dan juga Jason!"


"Apa? Ruang kerja? Untuk Jason juga?"


" Apa kau tidak mendengarku?" dingin.

__ADS_1


"Yang benar saja Clark? Jason tidak perlu ruangan. Dia kan bertugas di kota A," tolak Royan sedikit menahan tawa.


"Aku lebih membutuhkan Jason dari pada kau," ujar Clark yang menohok Royan.


"Kan ada aku, kenapa harus Jason?" protes Royan.


"Jason asistenku, dia jauh lebih bisa di andalkan. Dan kau, bukankah baru saja kau menolak perintahku?"


Menolak perintah? Perintah yang mana? Jangan bilang ini soal Hanry.


"Hey, aku tidak menolak. Tadi aku hanya bertanya Clark. Sekarang akan aku persiapkan semua data tentang dia."


"Sudah terlambat, setelah menyiapkan ruangan untukku kau boleh kembali ke kota A," balas Clark dengan santainya.


"Apa maksudmu Clark?"


"Aku memutuskan untuk bekerja disini, dan akan menghandel perusahaan ini. Sudah saatnya kaulah yang mengurus semua perusahaan di kota A."


Royan terperangah tak percaya, "Oh ayolah Kak, jangan bercanda. Mana mungkin aku bisa mengurus perusahaan sebanyak itu?" rengek Royan memelas.


"Aku tidak ingin mendengar kalimat bantahan. Dan bukankah itu yang selama ini diinginkan ibumu?"


Royan terdiam sejenak.


"Tapi kak, aku tidak menginginkan semua itu," bantahnya sendu.


"Aku ingin hari ini semuanya beres. Dan kau segeralah kembali ke kota A." Clark pergi begitu saja tanpa mempedulikan alasan yang Royan katakan.


Pemuda yang tiga tahun lebih muda dari Clark itu hanya bisa menghela nafas kasar.


Titah seorang Clark Anthony adalah keputusan yang mutlak dan tak terbantahkan.


_ _ _


Clark memutuskan kembali ke hotel.


Ia memasuki kamarnya yang kini telah tertata rapi kembali.


Royan tidak tau jika saat ia kembali pagi tadi, Clark meluapkan amarahnya dengan mengacak-acak kamar hotelnya secara membabi buta.


Mengingat sikap Leona yang dulu manis dan manja padanya kini berbanding terbalik terlihat sangat dingin dan begitu membencinya.


Ya, semua adalah salahnya karena terlambat menyadari semuanya.


Dan mengingat senyum manis Shofia semakin membuat Clark marah dan menyalahlan dirinya sendiri.


"Bodoh! Aku sangat bodoh!" racaunya dengan wajah frustasi dan penuh penyesalan.


Namun Clark tidak mau membiarkan semuanya tetap seperti ini. Bagaimana pun ia harus membayar semua yang sudah terjadi pada Leona dan Shofia selama lima tahun ini.


"Aku akan menebus semuanya. Kali ini aku pastikan tidak akan ada yang berani memisahkan kita. Aku akan membuatmu kembali percaya padaku. Kalian harus kembali padaku. Karena Kalian Milikku!"


Maka dari itulah Clark mencoba menenangkan dirinya. Dan rencana pengalihan kekuasaan pada Royan adalah salah satu cara agar ia bisa tetap dekat dengan dua orang wanita yang ia cintai.


Kesan pertamanya di perusahaan hari ini haruslah baik. Karena demi mereka itulah, Clark memutuskan memengang perusahaan di kota S ini.


" Kalian milikku , selamanya akan menjadi milikku!"


__ __ __ __ __ __


jangan lupa Like n Komen

__ADS_1


__ADS_2