
Beberapa jam sebelumnya
Clark terlihat duduk santai saat berada didalam pesawat menuju kota S. Berbanding terbalik dengan Royan yang terlihat sangat tidak nyaman dan gelisah.
Apa yang akan Clark lakukan padanya ya? Clark mencarinya tanpa henti, jangan-jangan dia mau balas dendam.
Mungkin dulu Clark sangat mencintainya, tapi setelah kejadian itu..
Arghh.. manusia satu ini sulit sekali ditebak.
Royan frustasi dalam lamunannya.
Walaupun tidak sengaja memperhatikan, Clark tau kalau Royan sedang memikirkan banyak hal. Tapi ia tak peduli tentang apa yang Royan pikirkan .
"Karena aku sudah datang ke kota S, maka aku akan meninjau proyek yang sedang kau kerjakan." ucap Clark tanpa menoleh sedikitpun.
"I..iya, nanti aku akan menyiapkan semua laporannya."
Clark kembali diam tanpa menanggapi lagi tanggapan Royan.
Bagaimana ya?
Apa aku tanya saja?
Tapi kalau dia marah bagaimana?
Royan kembali terperangkap dalam kegalauan. Namun akhirnya dia memberanikan diri juga.
"Em, Clark!" ragu-ragu memecah keheningan.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan dari dia sampai mencarinya seperti ini?"
"Siapa yang mengijinkanmu bertanya?" tanyanya dingin.
Dugaanku benar kan?
Terlihat sekali dia tidak suka dengan pertanyaanku.
Gerutu batin Royan.
"Aku harap, kau mencarinya dengan tujuan baik. Yang lalu biarlah berlalu. Dia menikah dengan Daniel karena dia mengira kau mengkhianatinya. Jadi..."
"Apa hak mu ikut campur dengan urusanku?" Clark memotong ucapan Royan.
"Lebih baik kau persiapkan semua anak buahmu karena besok aku akan turun langsung memimpin rapat di perusahaanmu."
Perintah yang tidak dapat terbantahkan. Royan hanya mengangguk tanda mengerti. Dia tidak berani membahas perihal urusan dengan orang yang dicarinya.
Semoga semuanya baik-baik saja.
Doa Royan dalam hati.
Ternyata itu yang gelisahkannya dari tadi?
Cih.. tau apa dia tentang masalah ini?
Cibir Clark dalam hati.
Sesampainya dikota S, mereka disambut beberapa petinggi perusahaan yang sudah mendapatkan kabar tentang kedatangan mereka.
"Selamat datang Tuan, kami sangat terkejut dengan kedatangan Tuan yang tiba-tiba. Jadi mohon maaf jika sambutan kami hanya seperti ini."
__ADS_1
Clark hanya bergumam dengan ekspresi datarnya. Setelah menerima jabat tangan dari mereka, ia berjalan melewati mereka begitu saja menuju mobil yang sudah di persiapkan.
Semuanya nampak bertanya-tanya, kenapa Clark terlihat terburu-buru seperti itu?
"Kak, kau mau kemana?" teriak Royan dengan mengejar langkah kakaknya.
"Menyelesaikan urusanku." jawab Clark sambil masuk mobil dengan mengacungkan berkas informasi yang Royan berikan kepadanya.
"Mereka sudah menyiapkan hotel untukmu, tidak bisa kah kita beristirahat dulu?"
Berteriak sekencang apapun Clark tidak mungkin dengar, karena mobil yang di tumpanginya sudah melesat jauh.
"Arghh.. dia selalu seenaknya saja." gerutu Royan dengan mengacak rambutnya.
"Lalu bagaimana Tuan?" tanya salah satu bawahan Royan.
"Ya bagaimana lagi? Dia sudah pergi kan?"
Royan terlihat marah.
Mereka hanya menunduk tak berani bertanya lagi. Pasalnya tugas mereka adalah menahan Clark untuk tidak segera pergi. Kesempatan itu ingin ia gunakan untuk mencari info sebanyak mungkin.
Dan sialnya, Royan tidak ingat setiap alamat yang ada diberkas informasi itu.
Ya Tuhan, semoga Clark tidak melakukan hal yang aneh-aneh.
Royan hendak pergi, namun ia kembali sadar dengan orang-orang yang masih berdiri dibelakangnya.
"Kenapa kalian masih disini?"
"Kami menunggu perintah selanjutnya, Tuan."
"Haishh!" Royan mengusap wajahnya gusar.
"Baik Tuan!" jawab mereka bersamaan.
Royan pun memilih pergi ke hotel untuk beristirahat.
Setelah kepergian Royan, para petinggi perusahaan kalang kabut berlarian menuju mobil masing-masing untuk segera kembali ke kantor dan segera membereskan semua laporan mereka.
"Kita kemana Tuan?" tanya supir yang membawa Clark keluar dari bandara.
"Ke wilayah timur, kita ke alamat ini." jawab Clark dengan menyerahkan selembar kertas dari dalam berkas yang ia bawa.
"Ini taman kanak-kanak Tuan?" sang supir heran.
"Memangnya apa yang kau lihat dalam tulisan itu?"
"Oh iya Tuan, saya mengerti. Maaf saya yang terlalu bodoh." ucap supir merendah.
"Kalau kau bodoh, pergilah sekolah lagi." timpal Clark malas.
Astaga, bos ini pandai bercanda atau sedang menghina sih?
Kalau bukan atasanku, pasti aku sudah sakit hati. Gerutu sang supir dalam hati.
Satu jam perjalanan dari bandara, akhirnya mereka sampai di depan sebuah taman kanak-kanak dengan mana yayasan yang terpampang jelas didepanya.
"Sudah sepi Tuan, sepertinya anak-anaknya sudah pulang." ucap supirnya.
"Kau pikir aku buta? Ini sudah jam pulang sekolah, tentu saja tidak ada anak-anak."
__ADS_1
Tentu saja Tuan yang pintar mengetahuinya. Dasar saya ini memang bodoh. Lain kali saya tidak boleh banyak bicara jika tidak disuruh.
Clark turun ketika pintu mobil sudah dibukakan oleh supirnya. Ia menatap sekolah dengan halaman yang luas didepannya.
Sekolahnya lumayan. Pintar juga dia mencari sekolah untuk anaknya. Ucapnya dalam hati.
Saat matanya menyapu sekeliling sekolah, pandangannya terhenti pada seorang gadis kecil yang tengah duduk sendirian di bangku taman sambil mewarnai buku dipangkuannya.
Clark membuka kacamata hitamnya untuk memperjelas pandangannya.
Deg
Ternyata Tuhan mempertemukan kita lebih cepat dari yang ku duga.
Jantungnya mulai berdegup tak beraturan.
Perlahan ia mendekat, dan semakin dekat semakin kencang degupan jantungnya.
" Hai?" ucap Clark setelah ia berdiri tepat didepannya.
Gadis kecil itu mendongak.
Silau sinar matahari membuatnya samar melihat tubuh tinggi tegap yang ada dihadapannya.
"Om siapa?" tanyanya polos sambil menelengkan kepalanya.
Clark pun berjongkok untuk menyeimbangkan tinggi tubuhnya dengan sang gadis kecil.
"Kau Shofia kan?"
Gadis itu semakin bingung saja, "Iya. Bagaiman om bisa tau namaku?"
Kali ini Clark tersenyum, ia memberanikan diri mengusap kepala Shofia dengan lembut.
"Tentu saja aku tau, karena aku adalah... ayahmu."
"Ayah?"
Clark mengangguk sambil tersenyum.
"Benar om ini ayahku?" mata Shofia berkaca-kaca.
"Iya sayang, aku ayahmu."
"Ayaaah.." tanpa berfikir panjang atau pun takut, Shofia langsung memeluk Clark. Ia tak mempedulikan alat menggambar dipangkuannya telah berjatuhan.
Baru kali ini Clark merasakan perasaan aneh. Perasaan yang sulit ia ungkapkan saat memeluk Shofia. Rasa haru, sedih, bahagia dan juga penyesalan menjadi satu.
Tes
Air matanya jatuh begitu saja.
Seorang Clark yang tegas, kejam, suka seenaknya dan tak pernah terbantahkan dimata orang, hari ini menangis.
Dipeluknya Shofia dengan begitu erat untuk meluapkan rasa rindu yang ia pendam selama ini.
Clark menyesal.
Dia menyesali telah melewatkan begitu banyak hal. Seandainya dia tidak lambat mengetahuinya, semua sakit yang dirasakannya selama ini tidak akan pernah ia rasakan.
Akankah penderitaannya selama ini bisa terbayarkan dengan kehadiran Shofia disisinya?
__ADS_1
bersambung
Jangan pelit buat Like n komentar dong..