
Dan di kota S inilah kini Leona melanjutkan hidupnya yang hampir pupus karena keterpurukannya. Mulai menata hidup dengan menepis bayang-bayang masa lalu.
"Semuanya demi Shofia. Aku bertahan hidup hanya karena ingin melihat putriku bahagia," ucap Leona masih dengan berderaian air mata.
"Oh Leona. Aku tak menyangka, ternyata hidupmu lebih pedih dari yang kubayangkan," Merry menggenggam tangan Leona menguatkan.
"Dari itu lah aku ingin mengubur semua masa laluku. Semua itu hanya membuatku semakin terluka saat menatap Shofia. Dan aku tidak peduli saat orang-orang mengatakan aku bukanlah wanita baik-baik."
"Itu semua karena dia. Dia jahat sekali Leona, kalau aku bertemu dengannya, aku akan menggetok kepalanya dengan keras menggunakan hairdryer!" ucapnya berapi-api.
Sambil menyeka air matanya, Leona sedikit tersenyum melihat ekspresi gemas Merry.
"Lalu, bagaimana hubunganmu dengan Hanry? Apa kalian akan menikah?"
Leona mendesah pelan, " Entahlah, dulu aku pernah menolaknya, dan sekarang dia belum melamarku lagi. Lagi pula aku tidak ingin menikah."
"Atau jangan-jangan, kau masih menyimpan rasa pada mantan suamimu itu, hm?"
Leona sedikit tertawa, "Jangan bercanda, kau pikir aku ingin jatuh ke lubang yang sama begitu?" Merry terlihat lega.
"Luka yang dia torehkan teramat pedih. Aku tidak mau melakukan kesalahan yang sama. Kali ini aku tidak boleh percaya begitu saja oleh mulut manisnya," Leona tersenyum getir.
"Ya sudah, kalau begitu jangan membahas dia lagi," ucap Merry dengan mengusap bahu Leona.
"Merry, kenapa tidak kau saja dulu yang menikah, bukankah kau ingin punya seorang anak juga?" godanya dengan diakhiri tawa parau diujung kalimatnya.
"Haiya, usiaku sudah tidak memungkinkan lagi untuk hamil. Aku menikmati hidupku yang bebas seperti sekarang. Kau masih muda Leona, kau berhak bahagia. Dengan siapapun itu, kau harus mendapatkan kembali kebahagiaanmu."
Beberapa kali Merry gagal membina rumah tangga, membuatnya enggan untuk menikah lagi.
"Aku tau, tapi aku belum memikirkannya."
"Ah sudahlah, sekarang kau harus pergi menghadiri seminar menggantikan aku lagi di Hotel Patra."
"Baiklah. Oh iya, soal seminar waktu itu aku..."
"Sudah, sudah. Jangan dipikirkan. Cepatlah pergi sebelum acaranya dimulai."
Leona pun beranjak pergi setelah berpamitan pada Bibi Frida dirumahnya.
_ _ _
Sementara itu di sebuah perusahaan.
"Semuanya sudah beres Tuan, semua berkas dari kota A sudah saya siapkan di meja anda," ujar Jason yang sudah berada di kota S untuk mendampingi Tuannya.
Clark selalu puas dengan kinerja Jason, bahkan ruangan yang ia minta dari Royan pun Jason lah yang mengurusnya.
"Baguslah, aku harus pergi. Jika ada masalah mendesak, kau boleh mengubungiku. Tapi jika tidak begitu penting, urus saja olehmu. Jangan menggangguku untuk urusan satu ini."
"Baik Tuan!"
Clark hendak beranjak dari duduknya, namun ia kembali duduk saat Royan tiba-tiba masuk dengan wajah memelasnya.
__ADS_1
"Kenapa masih disini? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk kembali ke kota A?"
Namun tiba-tiba, "Huwaaaaa!!" Royan meraung sekencang-kencangnya.
Clark menarik mundur wajahnya dengan kening yang berkerut.
"Aku belum siap Kak, jangan berikan aku tugas seberat itu!" rengeknya seperti anak kecil yang sedang memprotes pada ibunya.
Clark hanya menggelengkan kepala sambil memijit pelipisnya melihat kelakuan Royan.
"Kau boleh menugaskan aku dikota mana saja, asalkan hanya memegang satu perusahaaan saja. Tapi jangan tugaskan aku dikota A, aku tidak akan sanggup!" Royan merapatkan telapak tangan didepan keningnya seperti orang yang menyembah.
"Jangan banyak protes, kau hanya memantau. Semua laporannya kau bisa kirimkan pada Jason. Mengenai pertemuan dengan rekan bisnis, aku rasa itu bukan hal yang sulit."
"Benarkah aku hanya memantau saja?" matanya mulai berbinar.
"Hmm," hanya gumaman sebagai jawaban dari Clark.
"Ahhh..." Royan bisa bernafas dengan lega. Ternyata Clark tidak membiarkannya memikul beban seberat itu. Akhirnya dia menyetujui titah mutlak dari sang kakak.
"Apa anda yakin mempercayakan semuanya pada Tuan muda Royan?"
Clark menghela nafas , "Tentu saja, sudah saatnya dia belajar menjadi penanggung jawab. Kau tenang saja, semua yang berkaitan dengan perusahaan masih tetap membutuhkan persetujuanku. Lagipula, aku sudah lama membuatnya selalu jauh dari rumah. Dia juga pasti merindukan ibunya. Jadi, kau harus tetap memantaunya."
"Baik Tuan."
Tidak ada yang lebih mengerti dirinya selain Jason sang asisten.
Sebuah Lexus LC terbaru melesat membelah jalanan dan berhenti didepan sebuah gang.
Seorang pria dengan setelan jas kerjanya keluar dan berjalan memasuki gang dan berhenti didepan sebuah rumah kontrakan yang tidak terlalu besar.
Dia tau sang pemilik sedang bekerja, tapi dia juga tau ada orang lain dirumah itu.
Tok tok tok
"Ya, sebentar!" terdengar suara sautan wanita paruh baya dari dalam rumah.
Ceklek
"Siapa ya?" tanyanya saat membuka pintu.
Dan saat itu juga ia terkejut dengan kedatangan orang yang kini didepannya.
"Apa kabar, Bibi?"
Wanita paruh baya yang tak lain adalah Frida itu terperangah.
"Untuk apa kau kemari? Pergi dari sini!"
Clark menahan pintu saat Frida berniat kembali menutupnya.
"Ijinkan aku masuk Bi. Tolong beri aku kesempatan, aku mohon!"
__ADS_1
Mendengar cerita Leona tentang kehadirannya saja sudah membuat otaknya ikut mendidih. Apalagi sekarang orang itu ada dihadapannya, Frida benar-benar tak ingin menerimanya.
"Tidak akan, pergilah!"
"Bibi, ini tidak akan lama, aku mohon!"
Kegigihan Clark yang terus memohon, akhirnya dengan berat hati Frida mengijinkannya. Walau hanya diberi waktu beberapa menit saja, Clark sudah bersyukur karena masih diberi kesempatan.
"Tapi Shofia belum pulang. Leona juga tak ada disini ataupun di tempat kerjanya," ujar Frida agak ketus.
"Aku tau. Kedatanganku memang untuk menemui Bibi."
"Duduklah."
Clark menurut.
Frida menatap Clark dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ternyata benar yang dikatakan wanita itu dulu, dari penampilannya mudah disimpulkan kalau Clark memang bukanlah dari kalangan orang biasa. Begitu pikirnya.
"Apa yang kau inginkan Clark? Setelah mencampakkan Leona, sekarang kau kembali seperti tanpa salah dan dosa. Sekarang Leona sedang menata hidupnya yang hancur karenamu. Dan sekarang kau datang untuk menghancurkannya lagi?" Frida emosi.
"Tidak Bi, justru aku mengejarnya kesini karena ingin memperbaiki semuanya."
"Apa? Memperbaiki? Huh, kau pikir sampai tahap ini Leona menghadapinya dengan mudah, hah?" Frida menatap sinis dengan melipat tangannya didepan dada.
"Apa kamu belum puas juga menyakiti dan menghancurkan hati Leona, Clark?" Frida semakin berapi-api.
"Aku tau aku salah. Tapi, bisakah Bibi menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?" ucap Clark penuh permohonan.
Apa-apaan dia bicara begitu?
Semua kan ulahnya, bagaimana mungkin dia tidak tau! batin Frida.
"Menceritakan apa? Kau sudah berlaku kejam dengan mempermainkan perasaan Leona. Pernikahan sakral yang kau anggap sebagai lelucon belaka. Apa kau tidak punya perasaan sampai tidak menyadari semua itu, Clark?"
Baru mendengar sebagian kecil itu saja hati Clark sudah bergetar.
Sebenarnya apa yang terjadi hingga dirinya dianggap sebagai laki-laki yang sangat kejam?
"Bibi, tolong ceritakan semuanya. Dari awal saat aku meninggalkan Leona sampai dengan saat ini. Tidak ada yang bisa ku tanyai selain Bibi yang selama ini bersama Leona. Tolong Bi, aku mohon!"
Entah kenapa melihat mata Clark yang berkaca-kaca membuat amarah dalam hati Frida menyurut.
Sebenarnya ada apa dengan Clark?
Kenapa dia seakan tidak tau apa-apa tentang semua yang dialami Leona selama ini?
"Baiklah, akan aku ceritakan," ucap Frida melunak.
bersambung
__ __ __ __ __ __ __ __ __
like n komen yoo..
__ADS_1