Kalian Milikku

Kalian Milikku
Eps 16 Sebenarnya adalah...


__ADS_3

Clark terdiam ditempatnya.


Ia tak mampu berkata-kata, tenggorokannya terasa tercekat. Dadanya menyesak. Hatinya ikut hancur bersama cerita yang ia dengar langsung dari Frida.


Entah sudah berapa kali ia memalingkan wajah untuk menyeka air matanya yang berjatuhan begitu saja.


Yang diceritakan Frida sudah mengobrak-abrik jiwa dan perasaannya. Membayangkan bagaimana terpuruknya wanita yang dicintainya hidup dalam keputus asaan.


Pedih.


Wanitanya bagaikan mayat hidup yang hanya bisa menitikkan air mata tanpa suara.


"Jiwanya yang seakan tak punya pengharapan apapun lagi, mungkin benar-benar sudah mati. Jika bukan karena ada kehidupan didalam rahimnya, tidak ada alasan lain untuk Leona tetap bertahan hidup sampai saat ini."


Clark semakin menenggelamkan wajahnya dibalik kedua telapak tangannya.


Rasa ingin mengulang kembali kejadian masa lalu yang membuat wanitanya begitu terluka.


"Aku bodoh! Aku sangat bodoh sudah begitu tega karena sempat membenci Leona!" racaunya yang sontak membuat Frida terkejut.


"Membenci Leona? Kenapa Clark? Apa salah Leona padamu? Kau yang meninggalkannya begitu saja, kenapa jadi kau yang membencinya?" tanya Frida sarkas.


Clark mengusap wajahnya dan menghela nafas.


"Sebenarnya, yang terjadi adalah ... "


flashback versi Clark on


Dikediaman rumah utama.


"Ibu?" panggil Clark saat memasuki sebuah kamar besar milik ibundanya, Florenza.


Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diusianya yang tak muda lagi itu segera menutup buku tebal dipangkuannya.


"Siapa kau?" tanyanya ketus tanpa beranjak sedikitpun dari tempat tidurnya.


"Oh ayolah ibu, aku merindukanmu!" Clark duduk ditepi tempat tidur dan langsung memeluknya.


"Dasar anak nakal, setelah menikahi seorang gadis tanpa memberitahuku, kau masih memanggilku ibu?" menepuk keras punggung putra kesayangannya.


Pemuda itu tersenyum malu saat melepaskan pelukannya. "Maaf Bu. Apa Ayah juga sudah tau?"


"Tentu saja, kau pikir siapa yang memberitahu ibu jika bukan dari anak buah Ayahmu?"


Lagi-lagi Clark tertawa.

__ADS_1


"Ya ya ya, kalaupun aku buang angin, Ayah juga pasti tau." Keduanya tertawa lepas.


"Aku lihat sepertinya penyakit asma Ibu tidak kambuh. Sebenarnya Ibu sakit apa? Kenapa tidak kerumah sakit saja, Bu?"


Wanita itu mendesah pelan, " Percuma, rumah sakit tidak menyediakan obat untuk penyakitku ini."


"Loh, memangnya Ibu kenapa?" Clark panik. "Kalau begitu, kita keluar negeri saja. Aku akan pastikan Ibu mendapatkan perawatan yang terbaik!"


Florenza tertawa, "Dasar anak bodoh!"


Clark mengusap lengannya yang dicubit sang ibunda.


"Calon pemimpin besar tidak mengerti hal seperti ini? Ck ck ck," Florenza menepuk keningnya sendiri sambil menggeleng.


"Ibu mu ini sakit karena terlalu merindukan putranya. Apa kau tidak mengerti juga, hm?"


Clark kembali memeluk Florenza lalu mencium keningnya.


"Maafkan aku Bu, semua kan karena tugas dari Ayah," ucap Clark dengan meraih tangan Florenza untuk ia cium.


"Iya, Ibu tau nak. Hanya saja Ibu sudah terlalu merindukanmu," ucap Florenza seraya mengusap tangan Clark yang menggenggam tangannya.


"Lalu dimana menantuku? Kenapa dia tidak bersamamu, nak?"


"Oh, itu ... Belum saatnya dia kesini. Lagipula, dia juga belum tau identitasku yang sebenarnya. Biar jadi kejutan, aku ingin Ayah dan Ibu menjemputnya untuk menikah denganku secara resmi."


"Hmm.. Kau tega sekali. Ibu sudah tidak sabar ingin sekali bertemu menantuku yang cantik itu. Siapa namanya? Em... Leona kan?" tanya Florenza dengan mata yang berbinar.


"Iya Bu," Clark tersenyum. "Tapi ..."


"Tapi kenapa?"


"Apa Ayah dan Ibu tidak marah padaku?"


Florenza tersenyum sambil mengusap lembut pipi putranya.


"Tentu saja tidak, Nak. Kami yakin, pilihanmu adalah yang terbaik untukmu. Tentang perjodohanmu dengan Selena hanyalah sebuah rencana. Keputusan ada ditangan kalian berdua. Kami tidak ingin memaksakan kalian. Apapun itu, jika bisa membuat kalian bahagia, kami pasti menyetujuinya."


"Terima kasih Ibu," Clark memeluk ibunya dengan erat.


_ _ _


"Selamat ya Clark, kau sudah menemukan wanita yang benar-benar kau cintai."


"Terima kasih Selena, aku sangat bahagia. Lalu kau sendiri bagaimana?" tanya Clark setelah meletakkan minumannya diatas meja.

__ADS_1


"Ya begitulah, Frans tidak terlalu peka padaku. Hubunganku denganya masih begitu-begitu saja. Dia terlalu sibuk dirumah sakit," jawab Selena sedikit cemberut.


Suasana pesta pernikahan teman mereka saat itu, terasa hampa bagi Selena tanpa kehadiran dr. Frans yang disukainya.


"Bersabarlah, Frans itu tidak begitu memahami wanita. Selama ini kan dia hanya pacaran dengan buku dan juga laptop," ledek Clark dengan diakhiri tawa di ujung kalimatnya.


"Ishh, kau ini!" Selena menendang kaki Clark dibawah meja.


"Hey, bagaimana Frans akan menyukaimu, kamu galak begitu!" Clark kembali tergelak saat Selena semakin kesal dengan ucapannya.


"Hey Clark, Selena kemarilah. Ayo berfoto!" panggil mempelai wanita pada mereka.


Merekapun berfoto bersama. Clark dan Selena pun mengambil foto berdua sebagai kenang-kenangan. Mereka terlihat sangat dekat dan akrab. Karena memang mereka sudah bersama sejak masih kecil.


Ponsel Clark bergetar tanda notifikasi masuk. Seketika ia membelalakkan matanya melihat pesan yang baru saja ia terima.


Ternyata, ibundanya Florenza mengirimkan sebuah foto kamar pengantin dirumah utama dengan dekorasi romantis yang ia siapkan untuk menyambut kedatangan menantunya.


Cepatlah pulang, kau harus siap-siap untuk menjemput MENANTUKU!!!!!


Tulis Florenza pada pesannya.


Clark tertawa kecil setelah membalas kata "Ok" untuk ibunya.


Clark sangat bahagia karena orang tuanya mau menerima Leona. Tanpa Clark menjelaskan, mereka sudah tau latar belakang dan kehidupan Leona melalui anak buah mereka. Sepanjang perjalanan, senyuman Clark tak luput sedikitpun dari wajah tampannya.


Tetapi tanpa terduga, tiba-tiba ada sebuah truk besar oleng dari arah berlawanan.


Clark pun terkejut dan mencoba menghindar. Namun posisinya tidak tepat.


Ia banting setir dan ...


BRAAKKK


Mercedes benznya membentur besi pembatas tepi jalan hingga tebalik.


Teriakan orang sekitarnya menjadi saksi bagaimana kerasnya hantaman kendaraan roda empat yang Clark kemudikan.


Dan darah segar pun mengalir.


Bayangan senyum manis Leona berkelebatan sesaat sebelum Clark menutup mata dan tak sadarkan diri.


__ __ __ __ __ __ __ __ __ __ __


hai semuanya, terimakasih masih setia sampai part ini.

__ADS_1


jangan lupa Like n Komen ya..


__ADS_2