
Suara dengungan sirine sebuah ambulan melengking nyaring terasa dekat hingga memekakkan telinga.
Leona mengintip dibalik jendela ruang tamunya, ternyata tetangganya mengalami kecelakaan dan tidak bisa terselamatkan.
Saat itu juga, ia mengingat sang suami yang sedang berada jauh darinya. Leona merasa cemas, dihubunginya sang suami, namun tidak ada jawaban. Bahkan beberapa saat kemudian, nomornya tidak bisa dihubungi.
Jangan berpikir macam-macam Leona, mungkin Clark sedang sibuk.
Gumamnya menghibur diri sendiri.
Sedangkan di sebuah Rumah Sakit besar di kota A, wanita paruh baya tengah menangis didepan ruang instalasi gawat darurat.
Sejak terdengar kabar putranya mengalami kecelakaan, ia lekas menuju rumah sakit.
"Kakak, tenanglah. Aku yakin Clark akan baik-baik saja," ucap Martha menenangkan Florenza. Dia adalah istri kedua Martin Anthony, ayah dari Clark. Yang tak lain adalah ibu kandung dari Royan Anthony.
"Tapi ini sudah sangat lama Martha, apa yang terjadi dengan putraku?" raung Florenza dalam pelukan Martha.
"Bersabarlah Kak!"
Setelah beberapa jam, dokterpun keluar dan membawa kabar yang tidak menyenangkan.
Clark masih bisa diselamatkan, hanya saja ia koma. Luka dikepalanya sangat parah, siapa pun tdak bisa memastikan kapan ia akan terbangun.
Terlebih lagi ada masalah dikakinya, kemungkinan Clark akan lumpuh.
Seketika tubuh Florenza merosot ke lantai. Wanita itu kembali merasakan sesak didadanya. Florenza drop, ia ikut terbaring dirumah sakit untuk menjalani pengobatan.
Sebulan telah berlalu, masih belum ada tanda-tanda Clark akan terbangun.
Florenza yang mulai membaik, mengirim anak buah suaminya mencari Leona untuk dibawa menemui Clark yang masih tak sadarkan diri.
Florenza berharap kehadiran Leona dapat membantu penyembuhan putra kesayangannya.
Istrinya pasti cemas karena Clark tidak memberinya kabar. Begitu pikirnya.
Namun kenyataanya tak seperti yang ia harapkan. Anak buahnya mengabarkan kalau Leona telah bertunangan dengan pria lain yang bernama Daniel. Dia tidak ingin menerima Clark yang tengah koma dan juga lumpuh.
Bagai dihujam pisau tepat dijantungnya. Florenza begitu terpukul mendengar kabar yang baru saja ia dengar.
Ditengah kesedihan dan kekecewaannya, Martha datang untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Kakak!" begitu ia menyapa Florenza.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanyanya dengan menggenggam tangan Florenza.
"Buruk Martha, aku sakit hati mendengar kabar bahwa istri Clark tidak mau menerimanya lagi!" Florenza kembali menangis.
"Bersabarlah Kak, mungkin gadis itu bukan yang terbaik untuk Clark."
"Ya, kau benar. Dia tidak pantas untuk Clark kesayanganku!" ucapnya dengan kemarahan.
"Kau dari mana saja Martha, kenapa baru datang?" tanya Florenza pada madunya.
"Maafkan aku Kak. Kemarin aku menghabiskan waktu dengan memanjakan diri di spa. Rasanya tubuhku kaku-kaku, jadi aku juga sedikit refreshing dengan menginap di vila kita untuk menyegarkan diri."
Florenza tersenyum, "Iya, tidak apa Martha. Kau sudah bekerja keras merawatku. Kau memang perlu melakulannya."
Mereka pun tersenyum dengan saling memeluk.
"Martha, tolong antarkan aku menemui Clark. Aku sangat merindukannya."
Meski dirumah sakit yang sama, Florenza jarang sekali menemani Clark karena kondisi kesehatannya yang juga buruk. Martin sang ayah pun jarang pulang karena terlalu sibuk dengan perusahaan.
Namun wanita paruh baya itu bersikeras ingin menemui Clark. Dan dengan terpaksa Martha menyetujuinya.
"Clark putraku," ucap Florenza lirih seraya menggenggam tangan putranya.
"Bangunlah nak, kalahkan semua kesakitan ini. Berjuanglah untuk bangkit. Buktikan pada wanita yang kau cintai bahwa kau bisa melewati semua ini. Buat dia menyesal karena sudah mencampakkanmu!" ucapnya dengan menitikkan air mata dan mengeratkan genggamannya.
"Wanita itu tidak layak untukmu. Kau sudah tak dianggap olehnya. Kau harus kuat nak, buktikan kalau kau memang kuat. Buat dia menyesal nak, buat dia menyesal!" Ibunya menangis lagi. Sakit hatinya teramat pedih.
Martha pun segera membawa Florenza kembali ke kamar rawatnya.
Dan sepeninggal Florenza, Clark merespon dengan meneteskan air disudut matanya.
Kesehatan sang ibu semakin buruk karena sampai saat ini ia tak melihat respon apapun dari putranya. Florenza putus asa, bahkan Martin memanggil dokter ahli dari luar negeri. Namun tak ada perkembangan apapun pada putranya.
Merasa sudah tak ada harapan lagi bagi Clark, Florenza pun kembali drop dan dilarikan ke luar negeri untuk pengobatan lebih lanjut.
Namun tanpa terduga, Clark terbangun.
Berita siumannya sang putra membuat kedua orang tuanya bahagia. Mereka memutuskan untuk segera kembali.
__ADS_1
Dan lagi-lagi, kejadian buruk menimpa mereka. Mobil yang mereka tumpangi saat menjemput dari bandara, mengalami kecelakaan.
Clark memang sudah sadarkan diri. Namun kenyataan pahit yang ia dengar tentang Leona membuatnya terpuruk. Dan kesedihannya bertambah karena Tuhan juga telah mengambil nyawa Ayahnya.
Hanya sang ibunda yang menemani Clark saat terpuruk dalam kelemahannya. Menyimpan duka dan kebencian pada wanita yang dicintainya. Dengan demikian, Clark berusaha keras untuk sembuh. Hampir satu tahun ia menjalani pengobatan hingga akhirnya bisa berjalan dan mulai memimpin persahaan.
Sejak saat itu, Clark berubah dingin dan kejam dimata bawahannya.
flashback versi Clark off
"Aku percaya begitu saja, tanpa harus meminta penjelasan apapun pada Leona. Aku sadar, saat itu aku adalah seorang laki-laki lemah dan lumpuh. Pantas saja jika Leona meninggalkanku. Disitulah titik terlemahku. Tak ada yang lain bisa kulakukan, selain pasrah."
Tanpa sadar, Frida pun ikut menitikkan air matanya. Ternyata yang dilalui Clark pun sama pedihnya seperti yang Leona rasakan.
Mereka sama-sama terluka.
"Kenapa bisa terjadi seperti ini? Sebenarnya tidak ada yang salah dari kalian berdua. Tapi kenapa kalian seolah sengaja diperadukan?" Frida bertanya-tanya.
"Iya Bi, setelah mendengar semuanya, aku pun berpikir demikian. Ada yang sengaja membuat kesalah pahaman antara aku dan Leona."
Frida mengangguk mulai paham, "Lalu bagaimana kau mencari Leona lagi? Bukankah sebelumnya kau membenci Leona?"
Clark menghela nafas sembari menyeka sisa-sisa air matanya.
"Setahun yang lalu, perusahaanku bekerja sama dengan perusahaan Daniel. Disitu aku berpikir akan bertemu Leona setelah sekian lama kami tak bertemu. Awalnya aku ingin mengejutkan Leona dengan statusku yang sebenarnya. Aku ingin membanggakan diri agar Leona menyesal telah mencampakkan aku untuk memilih Daniel yang tidak ada apa-apanya dibandingkan aku. Tapi ternyata kenyataannya memang lain."
Clark kembali mendesah, "Saat aku tau ternyata mereka batal menikah karena Leona hamil, disitu aku baru tau kalau berita yang aku dengar adalah sebuah kebohongan. Maka dari itu, setahun terakhir ini aku berusaha mencari Leona untuk mencari kebenaran."
Ya, selama ini Leona dan Frida hidup berpindah-pindah sampai akhirnya bertemu dengan Merry dan menetap dikota ini.
"Aku harap, yang kamu katakan bukanlah kebohongan. Leona sudah seperti anakku sendiri. Aku tidak mau hatinya terluka untuk kedua kalinya."
"Aku berjanji Bi, aku akan memperbaikai semua yang sudah terjadi. Akan ku tebus semua rasa sakit yang selama ini Leona alami."
Frida menatap Clark cemas.
"Percayalah Bi, berikan aku kesempatan. Aku akan membahagiakan Leona dan Shofia. Akan aku pastikan orang yang membuat aku dan Leona terpisah untuk mempertanggung jawabkan atas semua perbuatannya. Aku berjanji Bi."
Frida hanya terdiam. Dia masih bingung harus memberi keputusan yang seperti apa.
Bagaimana kalau orang itu adalah orang Ibumu sendiri Clark? gumam Frida dalam hati.
__ADS_1