
"Leona?"
Clark cukup terkejut dengan kehadiran wanita yang dicintainya.
"Sebuah kejutan kamu tiba-tiba datang kesini," lanjutnya setelah meminta Jason untuk keluar. Ia mendekati Leona yang masih terdiam ditempatnya.
Dan, brukkk!
Langkah Clark terhenti saat Leona tiba-tiba menjatuhkan semua paperbag yang sedari tadi ia bawa.
"Apa maksudnya ini?" Clark tersenyum getir. Pasalnya dia tau, barang-barang yang berjatuhan itu adalah pemberian darinya untuk Shofia.
"Berhenti mendekati Shofia!" ucap Leona dengan mengeratkan rahangnya kuat.
Clark tak bergeming.
"Jangan kamu pikir dengan semua ini kamu bisa mendapatkan Shofiaku?"
Kali ini pria berpengawakan tinggi tegap itu menghela nafas berat, "Semua ini aku berikan karena Shofia menyukainya. Apalagi boneka ini," ucap Clark seraya meraih boneka unicorn yang tergeletak dilantai kantornya.
"Kamu gak perlu repot-repot Clark, aku masih sanggup memberikan apa yang Shofia inginkan!" Leona menyombongkan diri meski kenyataannya tidak seperti yang ia ucapkan.
"Aku hanya ingin membuat Shofia bahagia, Leona. Tolong mengertilah, beri aku kesempatan untuk bisa bersamanya!"
Agar bisa merebutnya dan membawanya pergi dariku, begitu? dumal didalam batinnya.
"Sudahlah Clark, hentiakan semua ini. Sekali lagi aku peringatkan, jauhi Shofia. Jangan pernah menemuinya lagi! Jika kau melakukannya lagi, aku akan membawa Shofia pergi dari sini, dan akan aku pastikan, sampai kapanpun kau tidak akan pernah menemukan kami lagi!" ucap Leona dengan mengacungkan telunjuknya tepat ke arah Clark.
Brugh
Leona menutup pintu dengan kasar saat ia kelur, sampai mengejutkan orang-orang yang berada tak jauh dari ruangan bos mereka.
Dan didalam sana, Clark yang bersandar di meja kerjanya tengah memandangi boneka unicorn ditangannya dengan sendu.
"Sampai kapan kamu bersikap seperti itu padaku, Leona?" gumamnya seolah berbicara dengan wanita yang baru saja mengancamnya.
Saat Leona melewati receptionis, kedua wanita yang bertugas disana memandangnya dengan takut dan juga jijik.
"Apa?" tanya Leona ketus seraya meninggalkan mereka menuju pintu keluar.
Ternyata yang dikatakan security tadi memang benar, wanita itu galak dan juga bar-bar. Begitu pikir mereka.
Selang beberapa saat, Jason menghampiri dua wanita petugas receptionis itu.
"Lain kali jika Nona tadi datang lagi, segera hubungi saya."
"Baik Tuan!" jawab mereka kompak.
"Pasti biar bisa jaga-jaga jika wanita itu membuat onar lagi." Ucap salah satu dari mereka setelah kepergian Jason.
"Iya, aku pikir juga begitu," timpal wanita disebelahnya.
Dan di sudut lain, seseorang nampak terkejut dengan bayangan seorang wanita yang sangat ia kenali.
"Liat apa sih Hend?" temannya menepuk bahu Henry sehingga telonjak kaget.
"Oh, bukan apa-apa. Aku hanya seperti melihat wanita yang aku sukai," jawab Henry malu-malu.
__ADS_1
"Waah, sepertinya wanita itu sudah berhasil menguasai otakmu Hend," beberapa temannya tertawa melihat ekspresi Henry.
"Lagipula, untuk apa dia kesini? Kalaupun Dia mencarimu, sudah pasti dia memberi kabar kan?"
"Kau benar, untuk apa dia ke perusahaan ini? Pasti saat ini Dia sedang sibuk dengan pekerjaannya," jawab Henry.
"Cepatlah kawan, resmikan hubungan kalian. Aku takut kau jadi gila karena terlalu memikirkannya," ledekan itu kembali membuat semuanya tergelak.
"Aku pasti akan menjadi laki-laki paling bahagia jika bisa mendapatkannya. Kalian tenang saja, cepat atau lambat Dia akan menjadi milikku," ujarnya optimis.
_ _ _
Beberapa hari ini Shofia masih saja merajuk. Leona sampai kehabisan kata-kata saat membujuknya untuk makan ataupun yang lainnya.
"Ayolah sayang, sedikit saja. Nanti Bunda akan mengajakmu jalan-jalan, oke?"
"Nggak mau, Fia gak mau makan!" tolaknya dengan melipat tangannya didada sambil cemberut.
"Terus mau kamu apa sih Nak? Dari kemarin kamu gak mau makan, nanti kamu sakit!" nada bicara Leona agak tinggi.
"Fia mau makan sama Ayah!"
"Shofia!" kali ini sebuah bentakan yang keluar dari mulut Leona.
Dengan mata yang berkaca-kaca gadis kecil itu berlari menuju kamarnya.
Leona meletakkan piring di meja dan menghempaskan tubuhnya di sofa sambil memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Sudah beberapa kali kamu membentak Shofia seperti itu, lihatlah dia menangis lagi!" omel Frida kesal.
"Leona, tolong sekali ini saja dengarkan aku," Frida duduk disampingnya.
" Mendengarkan apa Bi?" suaranya terdengar lirih masih dalam posisi yang sama.
"Leona, dulu Clark meninggalkanmu bukan karena menikahi wanita lain."
Leona mendongak, "Maksud Bibi apa?"
"Kaget kan? Makanya kalau aku mau cerita tentang Clark, dengarkan dulu!"
Leona mengakui, jika Frida membahas tentang Clark, ia selalu menyela.
Dan Frida pun mulai menceritakan apa yang sudah Clark ceritakan kepadanya.
"Huh, dan Bibi percaya apa yang diceritakannya?" Leona tersenyum kecut setelah mendengar semuanya.
"Yaa, aku juga gak tau itu benar atau cuma karangan semata. Tapi setidaknya, kamu juga harus mencari tau apa yang sebenarnya terjadi, biar gak salah paham terus."
Leona mendesah pelan "Sudahlah Bi, aku tidak mau semakin terluka jika mengetahui kenyataannya yang dikatakan Clark itu cuma kebohongan."
Frida tidak bisa berbuat apa-apa, yang dikatakan Leona ada benarnya.
Bagaimana jika yang diceritakan Clark itu cuma mengada-ngada?
Ah... Membayangkannya saja sudah membuat Frida takut!
_ _ _
__ADS_1
Drrrt drrrt drrt
"Halo Hend!" sapa Leona saat ia menerima panggilan telepon di ponselnya.
"Halo Leona, akhir pekan ada karnaval di alun-alun kota. Aku ingin mengajakmu dan Shofia kesana, apa kau bisa?"
Leona menimbang-nimbang ajakan Henry,
"Em, baiklah aku bisa. Aku akan memberitahu Shofia, dia pasti senang."
Terdegar suara Henry yang amat girang dengan jawaban Leona.
"Oke, nanti aku akan menjemputmu!"
Mungkin bersama Henry, Shofia bisa sedikit melupakan Clark dan tidak merajuk lagi, pikir Leona.
_ _ _
Akhir pekan pun tiba.
Hanry sudah siap dengan rencananya hari ini. Pakaian rapi, rambut mengkilap dan juga wangi. Spesial untuk hari ini, karena untuk kesekian kalinya ia akan melamar wanita pujaan hati.
"Leona, aku datang!" ucapnya dengan tersenyum bangga di depan cermin.
Namun berbanding terbalik dengan Leona. Pagi itu ia gelisah, semalam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Terlihat dari matanya yang sembab dan berkatung, sepertinya semalam Leona banyak mengeluarkan air mata.
Tok tok tok
Frida membukakan pintu. Senyum manis merekah dari bibir Henry yang pertama kali ia lihat.
Laki-laki yang cukup tampan itu terlihat sangat siap untuk mengajak Shofia dan Leona pergi.
"Masuklah dulu!" ucap Frida setelah Henry menanyakan dua wanita yang membuatnya sangat bersemangat hari itu.
Tak berapa lama, Leona keluar kamar dengan style yang masih berantakan. Bahkan sepertinya dia belum mandi.
Hanry yang baru saja duduk pun lekas berdiri lagi. Ada rasa khawatir saat melihat kondisi Leona.
"Hanry, aku minta maaf. Sepertinya kita tidak bisa pergi hari ini," sesal Leona.
"Memangnya ada masalah apa Leona? Dan kamu kenapa seperti ini?"
Leona meremas jari-jari tangannya, "Dari semalam Shofia demam, sudah ku beri obat tapi tetap saja belum ada perubahan. Aku takut Shofia kenapa-napa Hend," matanya kembali berkaca-kaca.
"Astaga, kalau begitu ayo kita bawa kerumah sakit saja."
"Baiklah, aku ganti baju dulu!" Leona lekas berganti pakaian dan bersiap ke rumah sakit bersama Hanry.
Ahh... Hari ini bukan saat yang tepat untuk melamar Leona lagi.
__ __ __ __ __ __
like n komen dong,,
sukur-sukur ngasih vote, hehehe
ngarep
__ADS_1