
"Hai semuanya!" sapa Loli pada teman-teman seprofesinya yang saat itu memang sedang tidak terlalu ramai pelanggan.
"Ada yang mau denger berita terhangat gak?"
Ucapan Loli jelas membuat para konsumen gosip itu menjadi penasaran.
"Berita apa kak?" tanya juniornya.
"Ini tentang Leona, pokoknya kalian pasti pada kaget deh!"
"Loliii ... jangan bergosip!" ujar Merry saat melewati karyawannya yang mulai berkerumun.
"Bukan gosip Bosque, ini kabar bahagia. Harus dibagi sama temen, ya nggak?" Loli mencari dukungan. Dan temannya manggut-manggut mengiyakan ucapan Loli.
"Ah, kalian ini sama saja!" dengus Merry.
"Biarkan Leona sendiri yang ceritain semuanya, kalian lanjutkan kerja saja. Jangan kebanyakan ngobrol," iya menekan kata-katanya kearah Loli.
"Yaaah ... " seru mereka bersamaan kemudian bubar.
Gadis itu memanyunkan bibirnya kesal karena batal cerita.
_ _ _ _ _
"Bi, aku cari makan siang dulu ya. Bibi mau makan apa?" tanya Leona seraya beranjak dari tempat tidur Shofia setelah gadis kecil itu kembali tertidur.
"Em, tidak usah lah. Bibi belum lapar. Makanan yang Merry bawa saja masih banyak. Buat kamu saja," ujar Frida.
Leona menghela pelan, "Berarti aku makan sendiri dong? Ya sudahlah, aku pergi dulu."
Frida mengiyakan. Leona meraih minibagnya dan hendak keluar.
Namun belum sempat ia memegang handle pintu, pintu itu sudah terbuka lebih dulu.
"Clark?" tanya Leona heran. "Kau sudah kembali?"
Pria yang masih memakai setelan jas kerja itu mengerutkan keningnya.
"Memangnya kenapa? Aku tidak boleh kembali?" dingin.
"E ... Bukan. Hanya saja aku heran, bukankah kamu sedang bekerja?" Leona mendadak gugup.
"Urusanku sudah selesai, yang lainnya bisa diurus Jason. Aku takut Shofia terlalu lama menungguku." Jawab Clark datar.
Ya, aku lupa kalau sekarang dia itu bos.
Tapi kenapa sikapnya sekarang agak dingin padaku? Apa dia masih kesal dengan ucapanku tadi pagi?
Merasakan situasi yang mendadak kaku, Frida berinisiatif mencairkan suasana.
"Em, Clark! Kamu sudah makan siang?"
Clark menggeleng, "Belum sempat, selesai meeting aku buru-buru kembali kesini."
"Kalau begitu, pergilah makan dulu. Lagipula Shofia sedang tidur. Kebetulan Leona juga belum makan. Sekalian antar dia pulang dulu, dari kemarin kan Leona belum mandi."
Leona mendelikkan matanya ke arah Frida. Yang dikatakan Frida memang benar, tapi tidak harus mengatakan itu pada Clark juga kan? Pikirnya.
"Baiklah, itu juga kalau Leona setuju."
"Setuju kok, iya kan Leona?" desak Frida.
"I ... Iya," jawabnya terbata.
"Kalau begitu ayo pergi. Bibi, tolong jaga Shofia." Pesan Clark yang disanggupi Frida sebelum ia keluar mendahului Leona.
"Ayo Leona, cepat susul Clark. Ini waktunya kamu bicara dari hati ke hati dengan dia." Frida mendorong pelan.
"Iya Bi, tapi jangan dorong-dorong dong!" protesnya.
__ADS_1
"Udah, cepetan sana! Jangan lupa, bawa bunganya."
Leona memutar bola matanya malas sembari menerima buket bunga dari Clark yang Frida berikan kepadanya.
Selama diperjalanan Clark tidak banyak bicara. Deru mesin dan bisingnya suara klakson dari kendaraan lain lebih mendominasi.
Leona yang sedari tadi memadang keluar jendela sambil memeluk buket bunganya pun tak berani berbicara, ia sendiri bingung harus memulai dari mana.
"Mau makan dimana?" tanya Clark tanpa mengalihkan pendangan dari padatnya jalan raya.
"Leona?" panggilnya saat tak ada respon dari wanita disampingnya.
"Eh, iya?" Leona menoleh.
"Mau makan dimana?" ulangnya masih dengan ekspresi yang sama.
"Em, di kedain depan sana saja. Makanannya enak-enak!" ujar Leona yang hanya ditanggapi anggukan oleh pria yang masih memasang wajah datar disampingnya.
Dia kenapa sih?
Aku kan jadi kaku kalau dia kayak gitu terus!
Dumalnya dalam hati.
Mengingat ini adalah jam makan siang, kedai pun sedang ramai-ramainya. Mencari tempat duduk saja harus menunggu antrian.
"Apa kita akan menunggu?" tanya Clark saat mereka sudah berada didepan kedai.
"Em, gak usah deh. Kita cari tempat lain saja." Ujar wanita yang masih setia memeluk buket bunga kesukaanya. Clark bisa merasakannya ada kekecewaan dalam ucapannya.
"Aku bisa memesan tempat khusus atau membooking semuanya jika kau mau!"
"Aaa... Tidak usah. Jangan Clark!" tolaknya cepat.
"Tapi kamu maunya makanan disini kan?"
Apa-apaan sih dia?
"I.. Iya, tapi gak harus membooking semuanya. Kasian kan sama yang lain," ucap Leona yang menampakkan deretan gigi putihnya.
"Jadi bagaimana?" tanya Clark bersidekap.
"Em ... take away aja deh!" jawab Leona malu-malu.
Clark mendesah pelan, "Kalau begitu kamu mau makan apa?"
"Apa saja, semua makanan disini aku suka!"
"Baiklah, kamu tunggu saja. Biar aku yang pesankan."
Leona menurut.
Sementara Clark memesan makanan, Leona memilih kembali kedalam mobil.
Tiga puluh menit kemudian, pesanan mereka selesai. Leona sedikit kaget karena ternyata Clark membawakan banyak jenis makanan.
Perjalanan pun dilanjutkan menuju kontrakan Leona.
"Masuklah!" ujar Leona dengan membukakan pintu kontrakannya.
Dengan menenteng banyak makanan, Clark masuk dan meletakkannya di meja ruang tamu.
"Biar aku siapkan dimeja makan," ucap Leona setelah menutup pintu.
"Tidak usah, bawa piringnya saja. Aku ingin makan disini."
Leona hanya mengOh tanpa suara.
Ia meletakkan buket bunganya di sofa dan menuju dapur untuk memgambil beberapa peralatan makan.
__ADS_1
Clark meletakkan jas dan dasinya yang ia buka disandaran sofa yang ia duduki.
Menggulung lengan bajunya sampai sikut dan beranjak ke kamar mandi untuk mencuci tangan.
Saat kembali, ia melihat Leona sudah menyajikan makanan yang ia bawa keatas piring.
"Kenapa beli banyak sekali? Tidak akan habis kalau hanya untuk kita berdua."
Clark menduduki sofa bersebelahan dengan Leona.
"Aku bingung harus memesan yang mana. Karena kamu suka semuanya, jadi aku beli saja."
Leona memutar bola matanya, "Tapi kan ini pemboronsan namanya!"
"Aku tidak masalah, ini hanya hal kecil. Sesuatu yang besarpun akan aku lakukan, asalkan itu membuat kamu bahagia!"
Deg
Leona tak bisa berkata-kata.
Ia hanya berusaha menelan makanan yang tengah ia kunyah. Jangan sampai memperlihatkan kegugupan yang saat ini ia rasakan.
"Perutku kekenyangan!" ujar Leona dengan menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa.
Clark terkekeh melihatnya, "Ternyata selera makanmu masih besar seperti dulu."
"Ish, kau ini!"
"Aw, sakit Leona!" Clark tertawa sambil mengusap lengannya yang dipukul Leona.
Wanita itu mengulum senyum, setelah sejak tadi Clark bersikap dingin dan datar, sekarang sudah mulai tertawa lagi.
Dan entah kenapa, Leona sangat senang melihatnya.
"Kenapa melihatku seperti itu? Apa aku semakin tampan?"
Leona berdecih dengan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Pede! " gumamnya yang masih tertangkap oleh telinga Clark.
"Apa kamu bilang? Katakan kalau aku memang tampan!"
Clark menggelitiki pinggang Leona gemas.
"Hahaha, hentikan Clark. Geli! Hahaha"
"Ayo bilang. Kalau tidak, kamu tak akan kulepaskan!"
"Gak mau!" Leona semakin mundur menghindari gelitikan Clark, dan pada akhirnya ...
"Yaah..." Leona langsung cemberut karena tidak sengaja menduduki buket bunga miliknya.
"Kenapa?" tanya Clark menghentikan aksinya karena perubahan ekspresi Leona.
"Ini salahmu!"
"Eh ...?" Clark menggunakan tangannya sebagai tameng saat Leona memukulinya dengan buket bunga.
Kelopak mawar merah pun berhamburan keseluruh sofa yang mereka duduki.
"Iya, iya maaf Leona! Ampun!" Clark menahan tangan Leona agar berhenti.
Namun karena kesal, Leona terlalu bertenaga sehingga mendorong Clark sampai pria itu roboh diatas sofa yang bertaburkan kelopak bunga dengan posisi Leona berada tepat diatasnya.
Oh astaga!
Posisi macam apa ini?
Gumam dalam hati keduanya yang kini saling beradu pandang.
__ADS_1
_______________________________
Dukungannya manaaa???