Kalian Milikku

Kalian Milikku
Eps 44 Buka segel??


__ADS_3

Mohon maaf sebelumnya.


Bagi yang sedang bershaum, harap tidak membaca part ini pada siang hari.


Mohon di maklum, soalnya ini agak-agak hareudang.


Selamat membaca.


______________________________


''Sayang, apa sudah ada kabar dari Royan?" tanya Leona sembari membantu suaminya memakaikan dasi.


''Belum, anak itu belum menghubungiku dari semalam,'' jawabnya dengan merapikan kancing lengan kemejanya.


Leona menghela nafas pelan, ia beranjak meraih jas milik Clark yang sudah ia siapkan sebelumnya.


''Semalaman aku merasa khawatir, aku takut Paula melakukan hal yang tidak-tidak.''


Clark mengikuti gerakan Leona saat istrinya itu memakaikan jas ditubuhnya.


''Tidak usah cemas sayang, kalau terjadi sesuatu, Royan pasti menghubungiku,'' ujarnya dengan memeluk mesra pinggang wanitanya.


''Bagaimana jika kamu menghubunginya?"


Clark tersenyum seraya mengusap pipi mulus istrinya, ''Kemarin marah, sekarang kok khawatir banget sih?" godanya dengan beralih mencubit hidung mancung istrinya.


''Kamu ih!" Clark terkekeh saat tangannya ditepis. ''Setidaknya kita bisa tau bagaimana keadaan Paula sekarang!" rayunya dengan mengusap pelan kedua bahu suaminya.


Ternyata istriku sangat perhatian walaupun wanita itu menginginkan suaminya!


''Oke, aku akan menghubungi Roy. Tapi ada syaratnya!" Clark menyeringai.


Ekspresi seperti itu sudah tidak aneh lagi bagi Leona, ''Apa?" tanyanya malas.


''Beri aku satu ciuman yang spesial untuk pagi ini!"


Leona menghela nafas sembari memutar bola matanya malas.


Ia berjinjit lalu mendaratkan bibirnya di bibir sang suami. Sengaja ia lakukan sedikit lama agar suaminya tidak komplen.


''Sudah,'' ujarnya sedikit tersengal setelah melepaskan pagutan bibirnya.


Clark tersenyum penuh kemenangan, ''Sekarang wanitaku sudah pandai menggoda rupanya!"


Laki-laki tampan yang sudah rapi dengan stelan kerjanya itu kembali menyambar bibir istrinya lebih mendalam dari apa yang sebelumnya Leona lakukan.


''Clark!" Leona mendorong dada suaminya untuk sedikit membuat jarak. Kalau diteruskan, bisa ditebak hari ini Clark tidak akan masuk kantor.


''Hari ini, aku dirumah saja ya!" bisiknya lebih seperti sebuah rengekan.


Bibirnya sudah beralih menjelajahi leher jenjang nan mulus milik sang istri.


Tuh kan! tebak Leona.


"Sayang, bukankah kamu akan menghubungi Roy?" mengalihkan pembicaraan dengan kembali menahan dada sang suami. "Lagipula, kamu bilang ada meeting penting. Masa gak ke kantor?" imbuh Leona dengan menampilkan deretan gigi putihnya.


Clark berdecak kesal, namun akhirnya ia menurut juga.


"Baiklah, aku hubungi dia sekarang!"


Leona tersenyum saat suaminya itu mulai meraih ponselnya dan melakukan panggilan pada sang adik.


__ __ __ __


Di hotel tempat Paula menginap.


Royan menggeliatkan tubuh polosnya dan mengusap matanya beberapa kali.


Ia sedikit terkejut dengan keberadaan wanita cantik yang masih terpejam damai disampingnya dengan keadaan polos sama seperti dirinya.


Royan mendesah pelan, dibelainya lembut pipi gadis yang masih setia berlayar dialam mimpi.


Ada rasa bersalah setelah apa yang terjadi diantara mereka tadi malam.


''Maafkan aku Paula!"


-Flashback on-


"Paula, apa yang kamu lakukan?" bentak Royan saat melihat gadis itu sudah menanggalkan pakainannya.


"Aku mau kamu!" desisnya dengan memeluk erat tubuh Royan.

__ADS_1


Royan membiarkan gadis itu melepaskan setiap kancing kemejanya tanpa penolakan. Ia pun menutup mata menikmati sentuhan bibir Paula yang mulai menjelajahi leher dan dadanya. Namun sebisa mungkin Royan menahan tangannya untuk tidak melakukan apapun.


Ya Tuhan !


Pekiknya dalam hati.


Bagaimanapun dia adalah pria normal yang mudah terangsang dengan prilaku tak biasa dari gadis yang ingin mencumbunya.


Apalagi dengan bentuk tubuh indahnya yang hanya terbalut dibagian sensitifnya saja, membuat naluri nakalnya aktif ingin menyentuh dan merasakannya.


Keagresifan Paula membuat Royan kehilangan kendali unyuk tidak menyentuhnya. Sedikit sentuhan darinya membuat Paula seakan menginginkan lebih.


Bagaimana mungkin seorang Royan mampu menahan juniornya yang sudah menegang sedari tadi?


Suara lenguhan gadis cantik itu semakin menggoda dan tak tertahankan.


"Paula, apa kamu yakin?" bisiknya dengan membaringkan tubuh gadis itu diatas tempat tidur.


Paula mengangguk dengan mata yang terpejam, "Lakukanlah, aku mau!"


Mendapatkan lampu hijau, Royan tidak segan lagi melakukan apa yang ia mau dan ia suka. Dan ia puas, melihat Paula yang terlihat sangat menikmatinya. Royan memang pemain hebat dalam permainan yang membuat para wanita terbang melayang.


Mengingat kehidupan diluar negeri tempat Paula kuliah sangat bebas, Royan berpikir mungkin Paula sudah terbiasa dengan permainan ini sama seperti dirinya.


"Jangan salahkan aku Paula, kau yang menginginkannya!"


"Aakhh...!" Paula mengerang saat Royan melakukan penyatuan terhadap dirinya.


Dan saat itu juga Royan membelalakkan matanya tak percaya.


Astaga, kau masih tersegel Paula!


Ada rasa bersalah dan canggung, tapi rasa kenikmatan yang ia dapatkan meluruhkan semuanya.


Royan melanjutkan apa yang sudah ia lakukan.


Hingga suara erangan dari keduanya menandakan telah terjadinya pelepasan dengan sejuta kenikmatan.


"Ahh...!" Royan menjatuhkan tubuhnya disamping Paula yang ternyata sudah tertidur.


Nafasnya naik turun, permainannya kali ini terasa sangat berbeda.


Baru kali ini Royan merasakan sesuatu yang masih tersegel, dan rasanya sangat luar biasa.


"Astaga!" Royan terperanjat kaget setelah mengingat sesuatu.


"Shit! Kenapa aku bisa lupa dengan pengamannya?"


Royan mengusap wajahnya gusar, kenikmatan yang ia rasakan membuatnya lupa untuk memakai alat pengaman seperti biasanya.


-Flashback off-


Saat ini, Royan yang hanya mengenakan celananya tengah duduk disofa menatap wajah damai Paula dengan sebatang rokok disela jemarinya.


Dan lamunannya menguap ketika ponsel dalam saku celananya bergetar menampakkan nama sang Kakak dilayar depannya.


"Bagaimana dengan Paula Roy? Dia baik-baik saja?"


Suara cemas kakak ipar lah yang terdengar diujung sana.


"Em... Iya Kak, dia baik-baik saja!" jawabnya ragu. "Dia masih tidur," imbuhnya ada sedikit rasa gemetar.


"Oh, syukurlah. Apa semalam kamu menemaninya Roy?"


Sang adik menelan salivanya berat.


"I, iya. Aku menemani dan menjaganya dengan baik. Kakak jangan khawatir!" jawabnya terbata-bata.


Semalaman Royan memang menemaninya, tapi kalau menjaganya, mungkin justru Royan yang merusaknya.


"Baiklah, aku lega mendengarnya. Jaga Paula ya Roy, aku percaya padamu!"


"Iya Kak!"


Royan mengetuk-ngetuk keningnya dengan ponsel setelah panggilan berakhir.


Apa yang harus ia lakukan selanjutnya, berkata jujur atau menutupinya saja?


Arrgkh... Royan terlihat frustasi.


"Ngghh... akh!" Paula memekik setelah menggeliatkan tubuhnya saat terbangun. Ada rasa nyeri diarea sensitifnya.

__ADS_1


"Kau sudah bangun?"


Paula menatap Royan yang bertelanjang dada dengan mata terbelalak.


"Aaaaaaaa!!" teriaknya dengan menutup wajahnya menggunakan telapak tangan.


"Jangan berteriak,bodoh!" umpat Royan dengan menutup telinganya.


"Sialan Kau! Kenapa tidak memakai baju?" bentak Paula sewot.


Royan berdecak sambil berjalan mendekati Paula.


"Kamu sendiri tidak memakai baju, kenapa harus meneriaki ku?" ujarnya dengan menarik kecil selimut yang menutupi tubuh polos gadis itu.


"Aku?" Paula yang nampak baru sadar dengan keadaannya langsung berteriak histeris.


"Apa yang kamu lakukan padaku?" teriaknya menatap tajam ke arah Royan yang sudah kembali duduk.


"Aku hanya melakukan yang kamu inginkan, apa kau lupa?"


Bayangan-bayangan kejadian semalam berkelebatan di pikiran Paula.


Ya, dia ingat. Walaupun setengah sadar, tapi Paula bisa merasakan apa yang sudah terjadi padanya semalam. Dan rasa nyeri diarea sensitifnya kembali mengingatkannya saat pertama kali sesuatu memasuki dirinya.


Paula memang menginginkannya, ia tidak bisa menahan hasratnya yang sudah membuncah.


Tapi kenapa harus dengan Royan?


Paula meremas rambutnya frustasi, "Dasar kau bajingan brengsek!" umpatnya kesal dengan melempari Royan menggunakan bantal.


"Hey, tenanglah!"


"Bagaiman bisa aku tenang? Kamu sudah mengambil kesucianku!" Paula semakin membabi buta melempari Royan dengan apa saja yang ada di dekatnya.


"Kau jangan lupa Paula, kamu sendiri yang menginginkannya!" jawab Royan yang bersembunyi dibelakang sofa.


"Aku kan mabuk, bodoh! Kenapa melakukannya pada gadis mabuk? Dasar bajingan!" Paula masih terus meracau karena sudah tidak ada apa-apa lagi yang bisa ia gunakan untuk menyerang.


"Ya, aku memang salah. Tapi berhentilah menyalahkanku! Kamu sendiri yang memintanya, aku bisa berbuat apa?"


"Kamu brengsek Royan, kamu brengsek!" Paula menangis dengan menenggelamkan wajahnya diatas lututnya yang ditekuk.


"Paula!" Royan melembutkan nada bicaranya.


"Kita bisa bicarakan baik-baik!" ujarnya dengan mendekati sang gadis yang masih menangis ditempatnya.


"Apanya yang dibicarakan? Susah payah aku menjaga kesucianku hanya untuk Clark. Tapi kamu seenaknya merampas kesucianku! Kamu pikir mudah menahan godaan dunia bebas di luar negeri sana, hah?"


Royan tak menjawab.


"Aku berharap menyerahkannya pada orang yang ku cintai. Tapi apa? Yang mengambilnya justru pria brengsek sepertimu!" amarah Paula benar-benar memuncak.


''Aku tau aku brengsek! Tapi aku bisa mempertanggung jawabkan semuanya. Aku akan menikahimu!" ujar Royan menahan amarah.


''Apa?"


Paula mendongak menatap tak percaya dengan ucapan Royan.


''Memangnya siapa yang mau menikah denganmu,hah?''


Astaga, gadis ini menolak niat baikku?


"Aku juga tidak mau menikah denganmu. Tapi kalau kau hamil bagaimana?" tanyanya polos.


"Hamil?" Paula terbelalak.


"Apa kamu tidak memakai pengaman?"


"Tidak, aku lupa!" jawab Royan dengan menggaruk tengkuknya sambil tersenyum kuda.


"Aaaa... dasar bedebah bodoh! Pergi kau dari sini!" usirnya dengan emosi tingakat dewi.


"Kita bisa bicarakan baik-baik Paula!"


"PERGIIII!!"


"Iya iya iya!"


Royan pun bergegas memakai baju dan menyambar jaketnya kemudian pergi sebelum Paula mengamuk lagi.


"Awas kau Royan, aku benci padamu. Aku membencimuu!" racaunya yang sudah tak didengar Royan setelah pintu kamar hotelnya telah tertutup.

__ADS_1


_______________________________


Jangan lupa kasih dukungan dan hadiah sebanyak-banyaknya yaaa...


__ADS_2