Kalian Milikku

Kalian Milikku
Eps 3 Menemukanmu


__ADS_3

"K..kakak?"


Royan dan Jason menelan saliva dengan berat. Mereka terkejut dengan kedatangan Clark yang tiba-tiba.


Entah sejauh apa Clark mendengar percakapan mereka.


"Temui aku diruanganku. Kalau tidak, aku yakin kalian tau konsekuensinya!" ucap Clark sambil berlalu.


Suara tegas itu semakin membuat suasana menjadi tegang.


Tuhan.. apa yang akan dia lakukan padaku? Tolong selamatkan aku Tuhan!


Rapal dua orang pria dalam hati yang mengikuti langkah Clark menuju ruangannya.


"Cepat ceritakan dengan jelas apa yang kalian bicarakan tadi." ucap Clark pelan namun bernada tegas. Bahkan ia tidak menoleh sama sekali kearah dua orang yang berdiri tegang dibelakangnya.


Royan menyenggol lengan Jason hingga pria itu menoleh kearahnya.


Bagaimana ini? bahasa isyarat.


Jason hanya mengangkat kedua bahunya sebagai tanggapan.


BRAAKK


"Apa kalian tuli, hah?"


Kedua orang pria itu terkejut saat Clark menggebrak meja dengan kuat.


Jika rahang Clark sudah mengeras begitu, sudah dipastikan dia sangat marah.


"Te.. tenang dulu kak."


"Jangan panggil aku kakak!"


"Iya kak, em maksudku iya Clark."


"Jangan banyak bicara, cepat katakan!" Clark berbalik dan menatapnya tajam.


Astaga.. kenapa manusia yang satu ini menyeramkan sekali? batin Royan.


Ia menyerahkan sebuah amplop coklat dan Clark menerimanya dengan kasar.


"Itu informasi tentang orang yang kau cari."


Clark tidak menanggapi ucapan Royan. Fokusnya tertuju pada foto seorang gadis kecil yang tengah tersenyum.


Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Tangannya pun sedikit gemetar.


"Siapa dia?" tanya Clark lirih tanpa melepaskan tatapannya dari foto gadis kecil itu.


"Itu... aku..." Royan gelagapan.


"Anak siapa ini?" tatapan tajam Clark yang kembali ditujukan pada Royan lagi-lagi membuat pria yang tidak dianggap adik oleh Clark itu menelan salivanya berat.


"Sebenarnya.. aku belum menyelidikinya lebih lanjut. Makanya aku minta kita berangkat kesana minggu depan saja, aku sedang menunggu penyelidikan tentang anak siapa gadis itu sebenarnya."


"Tidak perlu, aku sudah tau. Kita berangkat sekarang."


"Tapi Tuan, kalau anda pergi, bagaimana dengan pekerjaan disini?" Jason mengingatkan.


"Kau yang urus."


"Apa?" ia terbelalak. Bagaimana pekerjaan sebegitu banyaknya harus ia yang mengerjakan semuanya?


Anda tega sekali padaku Tuan!


Jason menangis dalam hati.


Tanpa mempedulikan bagaimana ekspresi asistennya, Clark melenggang pergi meninggalkan kedua pria yang masih mematung di ruangannya.


Bagaimana Clark bisa langsung tau sebelum mendapatkan informasinya?


Apa Clark tau kalau itu anak Daniel?


Bagaimana ini, apa yang akan dia lakukan nanti? ucap Royan membatin.


"Tunggu Tuan." Jason menahan Royan yang hendak mengikuti kakaknya.


"Kenapa Jas?"

__ADS_1


"Tuan, apa anda yakin akan berangkat dengan Tuan Clark saat ini juga?"


"Bagaimana lagi? Kau tau kan, ucapan bos mu itu tidak bisa terbantahkan!"


" Lalu bagaimana dengan perusahaan?" tanya Jason memelas.


"Memangnya mau siapa lagi? Nikmati saja Jas, berjuanglah! Oke?" ucap Royan menyemangati dengan menepuk bahu Jason dua kali sebelum ia pergi.


Ahh.. Kalian berdua sama saja. Teganyaa..


Batin Jason semakin meraung.


_ __ _


Drrtt drttt


"Halo?" Leona mengangkat panggilan diponselnya.


"Leona, apa kau masih di sekolah Shofia?" tanya seseorang diseberang sana.


"Bagaimana kau tau aku ke sekolah Shofia?" tanyanya heran.


" Tadi aku ke salon Merry, Loli yang mengatakannya padaku. Aku jemput ya?"


"Oh tidak usah Henry, aku sudah dalam perjalanan pulang." Leona menolak dengan halus.


"Em.. baiklah. Nanti malam aku akan menjemput kalian untuk makan bersama. Jangan menolak ya?" Henry terdengar memohon.


"Baiklah Hend, kau bisa menjemput kami jam tujuh malam."


"Yes!! Oke, sampai jumpa Leona."


"Iya."


Leona bisa mendengar suara Henry yang girang karena kali ini ia menerima ajakan pria yang mendekatinya selama ini.


Henry, mungkin ini saatnya aku membuka hati untukmu..


Sesampainya di rumah, Leona langsung menghempaskan tubuhnya di sofa sederhana ruang tamunya.


"Bagaimana Leona?" Frida keluar dari arah dapur dan duduk disamping Leona.


Frida segera memeluk Leona dengan penuh kasih sayang. Meskipun Leona bukan anaknya, tapi rasa sayangnya melebihi seorang ibu pada anaknya.


"Jadi bagaimana rencanamu selanjutnya?"


Leona melepaskan pelukannya dan kembali bersandar di sofa.


"Mungkin yang bibi katakan kemarin memang benar. Aku harus menikah. Jadi.. aku akan berusaha membuka hati untuk Hanry. Nanti malam dia akan mengajakku dan Shofia makan malam. Dan aku sudah menyetujuinya."


"Benarkah? Itu bagus sekali. Tapi, apa kau sudah benar-benar yakin?"


Leona tak menjawab. Dari yang Frida lihat, ada gurat kesedihan diwajah Leona. Ia nampak tidak bersemangat saat membahas tentang Hanry.


"Lalu kenapa kau terlihat sedih? Mungkinkah kau masih mencintai laki-laki itu Leona?"


Seketika Leona menoleh. "Apa yang bibi katakan? Mana mungkin aku masih mencintainya! Rasa cintaku padanya sudah terkikis habis oleh kebencian. Aku tidak pernah mengharapkan dia lagi."


Entah kenapa emosi Leona langsung meledak saat membahas laki-laki masa lalunya. Tapi mata Leona yang berkaca-kaca seakan mengartikan ucapannya bukan keluar dari dalam hati.


Frida tau apa yang selama ini mengganjal dihati Leona sehingga sulit menerima laki-laki lain dihatinya. Frida tau, Leona masih mencintainya.


Di tengah keheningan yang tercipta beberapa saat tadi, mereka dikejutkan oleh Loli yang tiba-tiba masuk.


"Eh, maaf. Pintunya terbuka, jadi aku langsung masuk, hehe." Loli terlihat kaku melihat kecanggungan antara Leona dan Frida.


"Tidak apa Loli. Duduklah dulu, ada apa?" tanya Leona dengan sedikit bergeser memberi ruang pada Loli untuk duduk.


"Begini, hari ini Merry tidak enak badan. Dia memintaku mengatakan padamu untuk menggantikannya mengikuti seminar launcing produk baru dari merek terkenal hari ini."


"Sakit apa dia?" tanya Leona sambil menerima undangan seminar yang Loli bawa.


"Entahlah, mungkin dia demam karena kemarin kehujanan."


"Oh, kasihan sekali." ucap Frida khawatir. "Leona, bagaiman kalau bibi pergi kerumah Merry untuk merawatnya. Dia hanya seorang diri dirumah, pasti tidak ada yang mengurusnya."


"Iya, kasihan sekali dia. Baiklah, bibi pergi saja. Dan aku akan pergi menghadiri seminar."


"Tapi Shofia bagaiman? Bukankah seminar itu lama?" Frida mencemaskan gadia itu.

__ADS_1


"Oh, iya kenap aku gak keikiran?" Leona sedikit bimbang.


"Kalian tenang saja, kalau Shofia sudah pulang, aku dan teman-teman akan menjaganya disalon. Dia juga bisa tidur siang di kantor Merry kan?" Loli memberi ide.


"Ah, kau benar. Terima kasih Loli, tolong jaga Shofia selama aku belum kembali."


"Ahsiap, tenang saja. Percayakan padaku."


Akhirnya, setelah bersiap-siap mereka pergi dengan tujuan masing-masing.


Setelah beberapa jam mengikuti seminar, tiba-tiba ponsel Leona bergetar menandakan sebuah pesan masuk dari grup sekolah Shofia.


Kepala Sekolah : Mohon maaf kepada seluruh wali murid yang memakai jasa sekolah untuk mengantarkan anak-anak pulang, bahwasannya hari ini tidak bisa mengantarkan anak-anak pulang karena bus kami bermasalah dan sedang dalam perbaikan. Mohon kepada orang tua ataupun pengasuhnya untuk menjemput ke sekolah. Terima Kasih.


"Apa? Harus dijemput?" gumam Leona setelah membaca pesan itu.


Saat itu juga Leona panik. Seminar belum selesai, bibi Frida tidak ada dirumah. Menghubungi teman-temannya disalon juga tidak ada yang merespon. Pasti mereka sedang sibuk karena Leona tidak ada disana.


Dengan berbagai pertimbangan, Leona memilih keluar gedung seminar untuk pergi menjemput Shofia. Mungkin Merry akan kecewa karena ia tidak mendapatkan sertifikat dari merek terkenal itu. Tapi bagaiman lagi, Leona lebih khawatir terjadi apa-apa jika Shofia menunggu sendirian disekolah.


Jarak tempat seminar dan sekolah cukup jauh. Berulang kali Leona melihat jam tangannya dengan perasaan cemas.


"Berhenti pak!" seru Leona pada supir bus umum yang ia tumpangi.


Begitu turun ia langsung berlari memasuki area sekolah yang sudah nampak sepi.


"Bu Maria, Shofia diamana?" tanya Leona dengan nafas terengah-engah.


"Oh bundanya Fia sudah datang? Tadi dia duduk dibangku taman."


Leona kembali berlari kearah taman, namun tak seorang pun yang ia lihat. Leona pun kembali berlari menemui gurunya.


"Bu Maria, Shofia tidak ada."


"Benarkah? tadi saya hanya meninggalkannya sebentar karena harus ke toilet."


Oh astaga, kenapa gurunya bisa teledor begini? gerutu Leona dalam hati.


Dia semakin panik saja, tanpa mengatakan apapun lagi ia langsung berlari keluar gerbang untuk mencari Shofia. Guru-gurunya pun ikut panik dengan berpencar mencari Shofia di seluruh sudut sekolah.


"Shofia? Kamu dimana nak?"


Leona hampir kelelahan, dia sudah mencari berkeliling disekitar sekolah namun tidak menemukannya.


Tidak mungkin Shofia pulang sendiri kan?


Dia berniat menelpon seseorang untuk membantunya mencari. Namun matanya tiba-tiba menangkap seorang gadis yang sedang digendong seorang pria tak dikenali.


Dari tas yang dikenakannya, Leona tidak mungkin salah kalau itu adalah putrinya.


"Shofia!" teriak Leona dengan berlari mengejarnya.


Bhugh


Bhugh


"Lepaskan anakku!" teriaknya lagi dengan memukuli punggung pria itu menggunakan tasnya. Tapi pria itu diam saja.


"Bunda?" Shofia menoleh.


"Shofia, jangan takut nak. Bunda akan menyelamatkanmu." Leona berusaha mengambil alih Shofia dari belakang, namun pria itu tak mau melepaskan.


"Kau, lepaskan anakku atau aku panggil polisi."


Ancaman Leona berhasil membuat pria itu menurunkan Shofia dan perlahan ia berbalik menatap Leona yang berantakan sambil memeluk Shofia yang berlari ke arahnya.


"Kamu gak apa-apa nak?" Shofia menggeleng, gadis itu malah terlihat ceria.


"Apa kabar, Leona?"


Leona mendongak? Seketika matanya membulat sempurna. Ia tak menyangka kalau hari ini akan bertemu dengannya lagi.


"K..kau?"


bersambung


mohon dukungannya gaess..


jangan lupa masukin favorit yaa..

__ADS_1


__ADS_2